NovelToon NovelToon
Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?

Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.

​Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.

​Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.

Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 8

Pagi berikutnya, matahari kembali naik, namun kehangatan di rumah ini telah lama mati. Aku duduk di meja makan kayu jati yang mengilap, menyesap kopi hitam tanpa gula yang dibuatkan Bi Ijah.

Pahitnya kopi ini setidaknya masih lebih manis daripada kenyataan yang harus kutelan setiap harinya.

Tak lama, langkah kaki yang berat terdengar dari arah tangga. Arkan muncul dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Lingkaran hitam di bawah matanya menceritakan malam-malam tanpa tidur di paviliun yang pengap.

"Kin..." suaranya serak.

Ia duduk di kursi seberangku, kursi yang dulu selalu menjadi tempatnya bercerita tentang mimpi-mimpi besar firma arsiteknya.

Aku tidak menjawab. Aku hanya menggeser secangkir kopi ke arahnya, sebuah gestur kemanusiaan yang dingin.

Arkan menerimanya seolah-olah itu adalah anugerah terbesar, namun saat ia hendak membuka mulut untuk bicara, suara melengking dari arah belakang rumah memecah keheningan.

"Arkan! Mas! Perutku sakit! Aku tidak bisa makan nasi keras begini!" Alana muncul di pintu penghubung antara rumah utama dan paviliun. Rambutnya berantakan, dan daster sutra mahalnya kini tampak kusut.

Arkan menghela napas panjang, bahunya merosot. "Alana, tolonglah. Aku sedang bicara dengan Kinanti."

Alana tidak peduli. Ia melangkah masuk ke ruang makan, aroma parfum mahalnya kini bercampur dengan bau balsem. Ia menatap piring di depan Arkan yang berisi nasi goreng hangat buatan Bi Ijah.

"Kenapa dia bisa makan enak, sementara aku di belakang hanya diberi sisa semalam? Aku sedang hamil anakmu, Mas! Bayi ini butuh nutrisi, bukan makanan sisa!"

Aku meletakkan cangkir kopiku dengan dentingan pelan. "Bi Ijah," panggilku tenang.

Bi Ijah muncul dari dapur dengan wajah tertunduk, tidak berani menatap drama di depannya. "Iya, Non Kinanti?"

"Mulai hari ini, masaklah porsi lebih. Masakkan juga untuk Alana dan Arkan. Pastikan menunya sehat dan bergizi untuk ibu hamil," kataku datar tanpa melihat ke arah Alana.

Alana tampak terkejut, namun segera egonya mengambil alih. "Nah, dengar itu? Akhirnya kamu sadar juga kalau kamu tidak punya hak menyiksa calon anak Arkan."

Aku mengangkat wajah, menatap mata Alana yang memerah. "Jangan salah paham, Alana. Aku melakukannya karena aku punya hati nurani, bukan karena aku memaafkanmu. Aku tidak ingin ada nyawa yang menderita karena dosa orang tuanya. Tapi ingat, makanlah di meja dapur. Jangan pernah berani duduk di kursi ini. Kursi ini hanya untuk penghuni sah rumah ini."

Wajah Alana kembali memucat. Ia menatap Arkan, meminta pembelaan, namun Arkan hanya terdiam, menyesap kopinya dengan tatapan kosong.

~~

Di kantor, tekanan terhadap Arkan semakin menggila. Aku sengaja menjadwalkan rapat dewan komisaris tepat saat vendor utama menagih janji.

Arkan masuk ke ruang rapat dengan langkah tergesa, membawa revisi dokumen yang kuminta kemarin. "Ini, Kin. Semua penggelembungan sudah kuhapus. Tolong tanda tangani sekarang, vendor sudah menunggu di lobi."

Aku mengambil dokumen itu, membacanya dengan sangat teliti, sengaja memperlambat waktu. "Vendor mana, Arkan? Vendor yang bulan lalu memberimu komisi pribadi untuk membelikan Alana tas baru?"

Para staf administrasi yang ada di ruangan itu seketika menunduk, pura-pura sibuk. Arkan merasa mukanya seperti ditampar di depan umum.

"Kinanti, tolong... jangan di sini," bisik Arkan dengan nada memohon.

"Aku bicara sebagai Komisaris Utama, Arkan. Perusahaan ini berdiri di atas integritas. Jika Direktur Utama-nya saja sudah tidak punya integritas dalam kehidupan pribadi, bagaimana aku bisa percaya pada keputusannya di perusahaan?" Aku melemparkan dokumen itu kembali ke meja. "Aku akan menandatanganinya, tapi dengan satu syarat. Seluruh pengeluaran operasional kantormu harus melalui audit harian dariku. Tidak ada lagi pengeluaran tanpa bukti yang sah."

Arkan memejamkan mata, tangannya mengepal di atas meja. Ia merasa seperti singa yang telah dicabut taringnya. Karier yang ia bangun dengan darah dan air mata kini berada di bawah telapak kakiku.

Dan yang paling menyakitkan baginya adalah kenyataan bahwa ia sendiri yang memberikan kekuasaan itu kepadaku saat ia masih mencintaiku.

~~

Malam harinya, rumah kembali menjadi neraka bagi Arkan. Saat aku sedang membaca buku di ruang tengah, Arkan keluar dari paviliun dengan wajah frustrasi. Di belakangnya, Alana terus mengekor.

"Mas! Kamu harus bicara pada Kinanti! Aku tidak tahan lagi! Aku ingin pelayan khusus, aku ingin kamar utama kembali! Aku tidak mau tidur di paviliun yang dingin itu!" teriak Alana.

Arkan berbalik, matanya berkilat marah. "Diam, Alana! Kamu pikir aku punya kuasa apa sekarang? Kamu lihat sendiri, kan? Di kantor aku bukan siapa-siapa tanpa dia! Di rumah ini aku menumpang! Kamu yang bilang cinta padaku, kamu yang bilang ingin bersamaku bagaimanapun kondisinya!"

"Tapi bukan begini caranya, Mas! Dia menghina aku setiap hari dengan kebaikannya yang palsu itu! Dia memberi aku makan tapi menyuruhku makan di dapur seperti pembantu!" Alana menangis histeris, memegangi perutnya.

Arkan menoleh ke arahku yang sedang duduk tenang di sofa. Ia mendekat, berlutut di depanku. Pria yang dulu begitu angkuh itu kini berlutut di kaki istrinya sendiri.

"Kin... tolong. Aku mohon. Biarkan Alana tinggal di kamar tamu atas. Paviliun itu benar-benar tidak layak untuk orang hamil. Aku akan melakukan apa pun, Kin. Aku akan menyerahkan seluruh sisa sahamku padamu, asalkan kamu membiarkan hidupnya sedikit lebih layak."

Aku menutup bukuku perlahan. Aku menatap Arkan, lalu menatap Alana yang berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh harap dan benci.

"Kamu ingin aku membiarkan dia naik ke atas, Arkan? Ke tempat di mana kita dulu merencanakan masa depan?" aku tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat dingin di telinga mereka. "Lucu sekali. Kalian menghancurkan rumah tanggaku, merusak mimpiku, dan sekarang meminta aku memberikan kenyamanan padanya?"

"Kinanti, tolong... demi kemanusiaan," Arkan memohon lagi.

"Kemanusiaan sudah kuberikan lewat makanan di meja dapur itu, Arkan," jawabku tegas. "Jika dia ingin hidup layak seperti dulu, silakan pergi dari sini. Kembalilah ke rumah orang tuanya yang kaya itu."

Alana menjerit, "Kamu jahat, Kinanti! Kamu monster!"

Aku bangkit berdiri, menatap mereka berdua dengan tatapan menghina. "Aku bukan monster, Alana. Aku adalah hasil dari apa yang kalian ciptakan. Kalian yang menanam duri ini, jadi jangan mengeluh saat kakimu berdarah karena menginjaknya."

Aku berjalan menuju tangga, namun sebelum naik, aku berhenti. "Dan satu lagi, Arkan. Besok pagi, aku akan membawa pengacara ke kantor. Aku ingin mengubah struktur organisasi. Kamu tetap Direktur Utama, tapi kamu tidak punya wewenang mengambil keputusan finansial apa pun tanpa tanda tanganku. Selamat malam."

Hari-hari berikutnya adalah siksaan yang lambat bagi mereka. Arkan semakin terpojok. Di kantor, ia menjadi bahan pembicaraan karena setiap keputusannya harus disuapi olehku. Rekan-rekan bisnisnya mulai memandang sebelah mata karena tahu Arkan hanya seorang direktur boneka.

Setiap sore, Arkan pulang ke rumah hanya untuk disambut oleh keluhan Alana yang tidak ada habisnya. Alana semakin tertekan. Kehamilannya yang semakin besar membuatnya sensitif, dan tinggal di lingkungan yang membencinya membuat mentalnya perlahan runtuh.

Puncaknya terjadi saat suatu malam, Arkan pulang terlambat karena lembur mengerjakan revisi proyek yang sengaja kubuat sulit.

Ia menemukan Alana sedang mencoba memasak sendiri di dapur rumah utama karena lapar, namun ia malah menjatuhkan panci panas hingga kakinya melepuh.

"Mas! Sakit, Mas!" tangis Alana saat Arkan masuk.

Arkan melihat Alana yang terduduk di lantai dapur, lalu melihatku yang baru saja turun karena mendengar kegaduhan.

"Kinanti! Lihat ini! Apa kamu puas sekarang?" bentak Arkan, emosinya meledak karena kelelahan fisik dan mental.

Aku berjalan mendekat, melihat luka di kaki Alana. "Bi Ijah! Ambilkan kotak P3K," perintahku tenang.

Aku berlutut di depan Alana, mengambil kapas dan cairan antiseptik. Alana mencoba menarik kakinya, tapi aku memegangnya dengan kuat.

"Jangan bergerak, Alana. Kamu hanya akan memperparah lukanya," kataku tanpa ekspresi.

Arkan terdiam melihatku mengobati Alana. Ada sorot kebingungan di matanya. Ia tidak mengerti mengapa wanita yang begitu ia sakiti masih mau mengobati selingkuhannya.

"Kenapa, Kin? Kenapa kamu masih membantunya kalau kamu membenci kami?" tanya Arkan parau.

Aku berdiri setelah selesai membalut luka Alana. Aku menatap Arkan dengan tatapan yang sangat tajam, hingga ia harus memalingkan wajah.

"Karena aku bukan kamu, Arkan. Aku tidak menghancurkan orang lain hanya untuk memuaskan egoku. Aku mengobati dia karena dia manusia, tapi jangan harap itu berarti aku memaafkan kalian. Luka di kakinya akan sembuh dalam beberapa hari, tapi luka yang kalian torehkan di hatiku... tidak akan pernah sembuh."

Aku meletakkan kotak P3K di meja. "Bawa dia kembali ke paviliun. Besok aku akan menyuruh Bi Ijah mengantar makanannya ke sana agar dia tidak perlu ke dapur lagi. Aku tidak ingin ada drama lagi di rumahku."

Arkan menggendong Alana kembali ke paviliun dengan langkah gontai. Malam itu, untuk pertama kalinya, aku mendengar Arkan menangis di balik pintu paviliun.

Bukan tangisan kemarahan, tapi tangisan penyesalan yang mendalam. Ia sadar, ia telah membuang permata demi sebuah kerikil yang kini justru melukai kakinya.

Sedangkan Alana, ia mulai menyadari bahwa kecantikannya yang dulu ia banggakan kini tidak berguna. Di rumah ini, ia hanyalah beban bagi Arkan dan sasaran belas kasihan bagi Kinanti. Ia merindukan hidupnya yang dulu, ia merindukan harga dirinya, tapi semuanya sudah terlambat.

Aku berdiri di balkon kamar atas, menatap langit malam. Roda pembalasanku terus berputar dengan sangat halus, tanpa perlu aku mengotori tanganku dengan kekerasan. Biarlah penyesalan dan rasa bersalah menjadi api yang membakar mereka pelan-pelan dari dalam.

Besok, aku akan membuat keputusan besar di perusahaan. Aku akan memindahkan Arkan ke kantor cabang di luar kota untuk mengawasi proyek lapangan, sementara Alana harus tetap tinggal di paviliun ini tanpanya.

Aku ingin melihat, sekuat apa cinta mereka saat jarak dan kesulitan hidup mulai menghimpit.

Karena perjuanganku belum selesai. Hingga mereka benar-benar merasakan apa artinya kehilangan segalanya, aku tidak akan berhenti. Karena di rumah ini, dan di hidup ini, akulah penguasa tunggalnya.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Siti Zaid
Arkan seolah2 menyalahkan kinanti sepenuhnya..padahal dirinya yg selingkuh duluan..pun begitu juga Alana yg sudah sangat jahat pada kinanti😠
Himna Mohamad
hrs gagal thoor rencana arkan
Lee Mba Young
Waduh istri sah kalah dong nanti yg menang pelakor. jng sampai kl Arkan Dan Alana menang Aku akn berhenti Baca.
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.

berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
Siti Zaid
Kinanti yg lemah lembut dan berhati malaikat telah mati disaat kamu selingkuh dan menikahi sahabat nya..Arkan!! kamu sendiri yg menjadikan Kinanti..wanita yg tidak memiliki perasaan..semuanya salah kamu dan Alana..😡
Herdian Arya
pembalasan yang sangat setimpal, tapi Kinanti juga mati hati nuraninya, dan yang paling kasian adalah bayi itu yangharus menanggung kesalahan orang tuanya.
Lee Mba Young
lagian Arjuna juga anak haram, hasil selingkuh kan. nnti kl dewasa pasti malu tu punya ibu kandung pelakor Dan bpk tukang selingkuh. masih bagus di urus kinanti 👍.
Lee Mba Young
Aku gk ngerti Jalan pikiran arkan, dia merasa bersalah ke pelakor tp gk merasa bersalah ke istri sah.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
Lee Mba Young
Arkan ki aneh bersujud kok nek pelakor, bersujud yo nek istri sah. utek e gk beres.
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
Dew666
🎈🎈🎈🎈
Lee Mba Young
Pdhl arkan Dan Alana adlh pelaku tp merasa korban semua. aneh pas main kuda smp Alana hamil apa gk mikir sakit nya kinanti lah.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
Lee Mba Young
Syukurin mkne to Ojo selingkuh.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Lee Mba Young
Ya nikmati saja karma mu Arkan. Karma tak semanis Kurma.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.

Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.

Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
YuWie
ya harusnya kau rangkul bayik nya..walo dia adl bukti dr hasil penghianatan. klo kau kasih sayang spt ibu kandungnya kan nanti besarnya arjuna jg akan menyayangimu. cukun si al dan suamimu yg dendam padamu jgn si bayik..dan pembaca jg gak semakin ilfil sama kamu..masaknprotagonis tak punya hati.. atau jgn2 mmg kinanti adl tokoh antagonisnya 🙃
YuWie
protagonis tapi malah jadi antagonis kie si kinanti ya.. sama bayi aja tega gak bisa memisah sakit hati ke ortu dg si bayik
Lee Mba Young
Alana lo gk tobat Wes dadi pelakor. arkan juga gk merasa bersalah.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
Lee Mba Young
Alana lo gk tobat Wes dadi pelakor. arkan juga gk merasa bersalah.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
Lee Mba Young
Kinanti jng sampai lengah. pasti kan nnti Alana gk bisa nuntut balas.
apalagi Arkan gk bisa move on Dr Alana.
Dew666
💟💟💟💟
YuWie
gantian balas dendam Al..ben muter wae isine balas dendam.
YuWie
kenapa kamu gak punya anak sendiri kin.. Harta ada, dendam terbalaskan tapi apakah kamu bahagia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!