Senja Valencia adalah gadis introvert yang terlihat tenang, namun pikirannya tak pernah benar-benar sunyi. Overthinking menjadi bagian dari dirinya—ia banyak merasa, tapi jarang mengungkapkan.
Ia tidak menyukai keramaian dan hanya memiliki satu sahabat sejak kecil, Arelina, gadis ceria dan ekstrovert yang selalu berhasil menarik Senja keluar dari dunianya yang sepi. Bersama Arelina, sisi hangat dalam diri Senja perlahan muncul.
Hingga suatu hari, ia bertemu Keano Pradipta—pria ekstrovert yang hidupnya penuh tawa dan pertemanan. Pertemuan tak terduga itu justru membuat Keano penasaran pada Senja, gadis tenang yang menyimpan dunia luas di balik diamnya.
Dan sejak saat itu, hidup mereka mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartini Quen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKAL-AKALAN KEANO
Pagi itu, Senja bangun lebih awal dari biasanya. Sinar matahari baru saja menyelinap masuk melalui celah jendela kamarnya, menyentuh wajahnya yang tampak cerah. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, langkahnya terasa ringan. Ada semangat yang entah dari mana datangnya, membuatnya segera merapikan tempat tidur dan bersiap berangkat ke sekolah.
Di ruang depan, sang nenek sudah sibuk merapikan dagangan kecilnya. Beberapa bungkus kue dan jajanan pasar ditata rapi ke dalam keranjang bambu. Tangannya bekerja cekatan, namun pandangannya beberapa kali tertuju pada Senja yang mondar-mandir dengan wajah berseri.
Nenek mengernyit kecil.
"Tumben pagi-pagi udah siap," godanya sambil tersenyum tipis. “Biasanya nenek yang harus teriak dulu tiga kali."
Senja terkekeh pelan sambil mengikat rambutnya.
"Lagi pengen aja, Nek. Biar gak telat."
Nenek berhenti sejenak, memperhatikan cucunya lebih lama. Ada sesuatu yang berbeda. Senyum Senja pagi itu bukan senyum biasa—lebih hangat, lebih hidup.
"Kamu habis mimpi indah, ya?" tanya nenek penuh selidik.
Senja sedikit salah tingkah. Ia mengambil tasnya, pura-pura sibuk mengecek buku pelajaran.
"Enggak kok… cuma lagi semangat sekolah."
Nenek tertawa kecil, suara tawanya lembut memenuhi rumah sederhana itu.
"Kalau anak gadis tiba-tiba rajin begini, biasanya bukan cuma soal sekolah."
Senja langsung memalingkan wajahnya.
"Nenek ini… suka sekali ngeledek, memangnya sejak kapan aku tidak rajin?"
Nenek mendekat, merapikan kerah seragam Senja seperti saat ia masih kecil.
"Yang penting kamu bahagia. Nenek senang lihat kamu senyum gini."
Kalimat itu membuat Senja terdiam sesaat. Ia menatap neneknya, lalu tersenyum hangat.
"Iya, Nek. Senja juga senang."
Nenek mengangguk pelan, lalu menyerahkan sebungkus kecil kue.
"Nih, buat bekal. Jangan jajan sembarangan ya, jangan lupa kasih Arelina juga."
Senja menerimanya dengan mata berbinar.
"Makasih, siap Nek."
Saat hendak melangkah keluar rumah, nenek kembali memanggilnya.
"Senja."
"Iya?"
Nenek tersenyum penuh arti.
"Hati-hati di jalan… dan kalau ada yang bikin kamu semangat pagi-pagi begini, ajak main ke rumah sekali-kali."
Pipi Senja langsung memerah. Ia hanya mengangguk cepat sebelum buru-buru keluar rumah.
Di luar, udara pagi terasa segar. Senja menarik napas panjang, hatinya hangat tanpa alasan yang bisa ia jelaskan.
Hari itu terasa berbeda.
Dan tanpa ia sadari, seseorang sudah menjadi alasan di balik semangat paginya.
Di perjalanan menuju sekolah, Senja berjalan santai menyusuri gang kecil dekat rumahnya. Udara pagi masih sejuk, suara motor sesekali melintas, dan aroma masakan dari rumah-rumah warga memenuhi suasana.
Ponselnya bergetar.
Nama Arelina muncul di layar.
Senja langsung mengangkatnya.
"Hai, Senja! Pagi! lo mau gue jemput nggak?" suara Arelina terdengar heboh seperti biasa.
Senja tersenyum kecil sambil terus berjalan.
"Gak apa-apa, aku sendiri aja. lagian rumah kamu ke rumahku kan cukup jauh."
"Iya sih… yaudah kita ketemu di sekolah aja ya. Bye!" teriak Arelina dari seberang sana.
"Oke, Arelina cerewet," balas Senja sambil tertawa pelan sebelum menutup teleponnya.
Belum sempat ia memasukkan ponsel ke tas, satu notifikasi baru muncul dari Keano.
Jantung Senja langsung berdetak sedikit lebih cepat.
Ia membuka pesan itu.
Keano: (Selamat pagi, cantik. Coba tengok ke belakang.)
Langkah Senja otomatis berhenti.
Perlahan… ia menoleh.
Dan di sana—
Keano berdiri santai di dekat pohon besar di ujung gang rumahnya. Mengenakan seragam sekolah, tas diselempangkan di satu bahu, tangannya masuk ke saku celana. Senyumnya tipis, seolah sudah menunggu cukup lama.
Senja membeku beberapa detik.
Dia… beneran di sini, duh jangan-jangan dia cuma lewat aja, please Senja jangan geer, gak mungkin kalau Keano sengaja jemput kamu ke sini.( isi pikiran Senja)
Keano melambaikan tangan kecil.
Senyum Senja tanpa sadar muncul. Hangat. Gugup. Bahagia sekaligus.
Ia berjalan mendekat, mencoba terlihat biasa saja meski hatinya ribut sendiri.
"Kamu… ngapain di sini?" tanya Senja, pura-pura tenang.
Keano mengangkat bahu.
"Jemput lo lah"
"Jemput?” Senja mengerjap. "Kamu tahu rumahku?"
Keano terkekeh pelan.
"Ya… sedikit usaha. Masa iya gue gak jemput ke rumah orang yang udah bikin pagi gue semangat."
Pipi Senja langsung memerah.
"Kamu dari tadi nunggu?"
"Lumayan." Keano menatapnya lembut. "Worth it kok."
Senja menunduk, menyembunyikan senyum yang sulit ditahan.
Keano lalu memperhatikan wajah Senja dari dekat.
"Lo kelihatan beda pagi ini."
"Beda gimana?"
Keano mendekat ke arah telinganya dan berbisik "lebih cantik."
Senja langsung memukul ringan lengan Keano.
“Ih, gombal.”
Keano tertawa kecil.
"Serius, lo kelihatan… bahagia."
Senja tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap jalan di depan, lalu berkata pelan,
"Mungkin karena ada orang aneh yang tiba-tiba muncul di depan gang rumah."
Keano tersenyum puas.
"Berarti misi gue berhasil dong."
"Hah?"
"Bikin lo senyum pagi-pagi."
Hening sesaat.
Angin pagi berhembus lembut, membuat ujung rambut Senja bergerak pelan. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap tanpa kata.
Keano kemudian menunjuk motornya yang terparkir tak jauh dari sana.
"Berangkat bareng?"
Senja pura-pura berpikir, meski hatinya sudah mengiyakan sejak awal.
"Hm… boleh deh."
Keano langsung mengambil helm cadangan dan menyerahkannya.
"Khusus penumpang spesial."
Senja menerimanya sambil tersenyum kecil.
"Keano…"
"Iya?"
"Makasih ya… udah jemput."
Keano menatapnya sebentar sebelum menjawab pelan,
"Mulai sekarang… boleh kan gue jadi alasan lo semangat berangkat sekolah, seperti lo yang jadi alasan gue buat bangun lebih pagi."
Deg.
Senja tidak menjawab. Ia hanya naik ke motor, duduk di belakang Keano, awalnya canggung.
Tangannya ragu-ragu… sampai akhirnya perlahan ia memegang ujung jaket Keano.
Keano menoleh sedikit.
"Pegang yang bener. gue gak mau lo jatuh."
" Gak apa-apa aku pegang ini aja." Senja tetap memegang ujung jaket Keano.
Keano tersenyum kecil, sadar tanpa perlu melihat.
"Senja."
"Iya?"
" Lo kalau takut jatuh… pegangan aja, gue gak gigit kok."
Senja langsung manyun kecil di balik helm.
"Aku juga gak takut."
Belum sampai lima detik, motor melewati jalan berlubang kecil.
"Eh—!"
Refleks, tangan Senja langsung melingkar di pinggang Keano lebih erat.
Keano menahan tawa.
"Nah… gitu dong."
"Ih! Itu refleks!" protes Senja malu.
"Iya, refleks yang gue tungguin dari tadi."
Senja mencubit pelan sisi jaketnya.
"Kamu tuh ya… nyebelin."
Keano justru tertawa ringan. Suasana pagi terasa hangat, berbeda dari biasanya.
Beberapa detik mereka diam, hanya suara angin dan mesin motor yang terdengar.
Lalu Keano membuka percakapan lagi.
"Kamu udah sarapan?"
"Udah , tapi Nenek bikinin kue juga buat bekal."
"Bagus." Keano mengangguk."Gue gak suka kalau lo telat makan."
Senja sedikit terdiam.
Perhatian sederhana itu terasa… terlalu manis.
"Kamu sendiri?” tanya Senja.
Keano menghela napas dramatis.
"Belum."
Senja langsung menepuk bahunya.
"Loh?! Kenapa?"
"Nunggu di suapin."
"Hah?! Sama siapa?"
Keano sengaja memperlambat motornya sedikit.
"Sama orang yang lagi meluk aku dari belakang."
Senja langsung melepas pegangannya.
"Aku gak meluk!"
Motor sedikit oleng karena Senja buru-buru menjauh.
Keano tertawa.
"Eh eh… pegangan lagi. Bahaya."
Dengan wajah memerah, Senja akhirnya kembali memegang pinggangnya, kali ini lebih pelan.
"Kamu tuh sengaja ya bikin aku salah tingkah."
"Iya," jawab Keano santai. "Soalnya kamu lucu kalau gugup."
Senja menghela napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang sejak tadi tidak mau tenang.
Beberapa saat kemudian, mereka berhenti di lampu merah.
Keano sedikit menoleh.
"Senja."
" Hmm"
"Mulai hari ini… aku jemput kamu terus boleh?"
Senja kaget.
"Jangan nanti merepotkan?”
"Enggak." Keano menatap lurus ke depan. “Justru… aku seneng, sekali pengen kenal sama nenek lo, boleh kan?"
Lampu berubah hijau. Motor kembali melaju.
Senja diam cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan—
"Kalau aku jadi kebiasaan gimana?"
Keano tersenyum tipis.
“Ya… biarin, emang harus terbiasa."
Deg.
Senja menunduk, menyembunyikan senyumnya di balik helm.
Tak terasa gerbang sekolah sudah terlihat di depan.
Beberapa siswa mulai berdatangan. Saat motor Keano masuk ke area parkir, beberapa pasang mata langsung menoleh.
Senja langsung panik kecil.
"Keano… semua orang lihatin kita."
"Biarin aja."
Motor berhenti pelan.
Keano turun lebih dulu, lalu menoleh ke arah Senja.
Ia mengulurkan tangan.
"Turun yuk."
Senja menatap tangannya sebentar sebelum akhirnya menerimanya. Begitu kakinya menyentuh tanah, jantungnya kembali berdebar—entah karena perjalanan tadi… atau karena cara Keano menatapnya sekarang.
Keano mengambil helm dari kepala Senja.
"Selamat sampai, Nona Senja."
Senja tertawa kecil.
"Makasih, Tuan Keano."
Mereka berjalan berdampingan menuju gedung sekolah, dan tanpa mereka sadari—
beberapa teman mulai berbisik.
Hari itu, bukan hanya Senja yang datang lebih bersemangat, tapi juga keano yang merasakan harinya lebih hidup.
Yukkk teman-teman..... ikuti terus cerita nya ....