Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.
Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.
Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.
Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.
Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.
Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.
Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8. berdua di kosan
"Tunggu aku disini, dan jangan coba-coba keluar dari mobil."
Chris melepaskan seatbelt nya dan keluar dari dalam mobil setelah Maya mengangguk sebagai bentuk persetujuan.
Maya melihat Chris berjalan ke depan hingga punggungnya tidak lagi terlihat.
"Chris mau ke mana, sih?" Maya bergumam kecil, dan menjadi semakin gelisah saat Chris tidak juga muncul. "Ish. Kok lama banget sih?!"
Maya duduk di kursi penumpang mobil dengan tangan bersilang di dada, bibirnya mengerucut kesal, dan pandangannya kosong menatap ke luar jendela. Maya memang tidak suka menunggu, karena baginya menunggu adalah aktivitas yang paling membosankan yang pernah ia rasakan.
Lima menit..
Sepuluh menit..
Dia mendesah keras, mencoba meredam rasa jengkel yang makin menggunung.
“Ngapain juga suruh nunggu di mobil kalau ditinggal segini lamanya,” gerutunya pelan.
Hingga beberapa saat kemudian, barulah Chris muncul kembali. Kemudian pemuda itu langsung masuk ke dalam mobil dan memasang seatbelt nya. Belum sempat Maya bertanya, Chris sudah menjelaskannya terlebih dahulu.
"Jalan menuju ke Pekiringan ditutup. Ada perbaikan jalan, dan yah.. akses jalan macet total," ucap Chris santai sambil menggerakkan putar kemudinya.
"Terus kita nggak jadi ke kafe?" tanya Maya antusias dengan mata yang berbinar.
Chris diam. Tidak langsung menjawab pertanyaan Maya. Ia lebih memilih untuk fokus melihat kondisi jalan yang ada di belakangnya lewat kaca spion. Chris ternyata sedang berusaha mengambil jalan pintas dengan memutar balik ke arah berlawanan.
"Kok diem? Nggak jadi kan? Kalau gitu, anterin aku pulang. Sekarang..." Maya kembali merengek pada Chris.
"Siapa bilang? Aku belum selesai ngomong sama kamu," balas Chris tenang.
"Ya udah. Ngomong nya sekarang aja. Disini."
"Itu hanya akan mengganggu konsentrasi ku dalam berkendara, Maya." Kembali, Chris menjawabnya dengan santai.
Maya menatap Chris lama. Lalu kembali bersuara setelah beberapa saat, "Ish! Terus kita mau ke mana?"
Kali ini gantian Chris yang terdiam.
"Kok kamu diem, sih?" Maya mulai tidak tenang dengan keterdiaman Chris.
"Kos."
"Kos?" tanyanya bingung. Maya merasakan otaknya tumpul.
Chris membalas tatapan bingung Maya dengan ekspresinya yang tak terbaca. "Tempat kosan ku, May. Disana jauh lebih tenang dan nggak akan ada yang berani gangguin kita."
...****************...
Langit mulai meredup saat Chris menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana berwarna krem kusam. Di depannya terpasang papan kecil bertuliskan 'Kosan Putra' yang catnya sudah mulai memudar. Rumah itu terlihat biasa saja, tapi bagi Maya, tempat itu menyimpan kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Chris turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Maya yang masih duduk di kursi penumpang. “Ayo turun.”
Maya menelan ludah pelan. Matanya menyapu rumah sederhana itu. Halamannya cukup luas, cukup untuk memarkirkan dua mobil.
Maya lalu turun dari mobil dengan gerakan lambat. Langkahnya terasa berat, penuh keraguan. Jujur saja, Maya enggan untuk masuk ke dalam kosan Chris. Bagaimanapun juga, kediaman Chris saat ini adalah kos yang diperuntukkan khusus untuk putra, ditambah lagi dengan lokasi yang berada di kawasan yang jarang Maya kunjungi.
Maya sendiri memang sudah cukup lama tinggal di Yogyakarta, sejak ia mulai duduk di bangku kelas 1 SMP. Meski bukan penduduk asli kota itu, suasana Jogja yang tenang dan bersahaja perlahan membuatnya jatuh hati. Kedua orang tuanya berasal dari Manado, dan kepindahan mereka ke Yogyakarta dulunya karena urusan pekerjaan ayahnya yang dimutasi ke kantor cabang di kota tersebut.
Awalnya, Maya merasa asing. Bahasa, budaya, hingga makanan semuanya berbeda jauh dari kehidupan yang ia kenal di rumah neneknya di Sulawesi. Tapi seiring waktu, ia mulai terbiasa. Bahasa Jawa halus yang dulu terdengar rumit kini setidaknya sudah bisa ia pahami, meski ia tetap berbicara dengan logat netral.
Teman-temannya di sekolah dulu sering menyebutnya anak pendatang, tapi bukan dalam nada mengejek, lebih seperti panggilan khas yang mengakui latar belakang uniknya. Rambutnya yang lurus hitam lebat dan kulitnya yang cenderung terang khas Sulawesi membuatnya mudah dikenali di antara kerumunan siswa lokal. Namun Maya tak pernah benar-benar merasa tersisih. Bersama dengan sahabatnya Putri, justru ia tumbuh menjadi pribadi yang mudah beradaptasi, memadukan kehangatan Manado dengan kelembutan khas Jogja.
Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, Maya bisa dengan mudah menunjukkan jalan dari Tugu ke arah Prawirotaman, tahu jam berapa Trans Jogja paling sepi, dan punya tempat favorit untuk makan gudeg meski lidahnya tetap lebih memilih rica-rica. Yogyakarta memang bukan tanah kelahirannya, tapi kota itu sudah menjadi rumah kedua yang membesarkan, membentuk, dan menyimpan sebagian besar kenangan remajanya. Bagi Maya, Yogyakarta adalah kota yang nyaman dengan penduduk yang begitu ramah. Dan Maya sangat menyukainya.
"Ngapain diem disitu? Ayo masuk." Chris menggandeng tangan Maya yang masih setia berdiri di depan pintu untuk masuk ke dalam kosnya.
"Jangan ditutup!" Maya berteriak keras pada Chris, saat laki-laki itu hendak menutup pintu.
"Oke." Chris mengikuti keinginan Maya untuk tidak menutup pintunya, dan hanya dibiarkan terbuka setengahnya.
Chris melepaskan jaket yang dipakainya, hingga kaos gelap bertuliskan kata umpatan kasar dalam bahasa asing, menjadi pemandangan untuk Maya.
Maldicion?
Langkah Maya melambat, ia mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Terdapat dua pintu kamar di dalamnya, dan tangga yang menuju lantai atas. Mungkin diatas sana masih banyak kamar lagi. Suara kipas angin terdengar samar dari salah satu jendela yang terbuka. Aroma khas kamar cowok, campuran parfum, debu, dan entah apa lagi, langsung menyambutnya begitu pintu terbuka. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya, bukan karena ruangan itu sendiri, tapi karena kenangan yang mendadak muncul begitu saja dari sudut pikirannya.
Ia teringat pada kunjungan pertamanya ke kosan cowok, kosan Andrew, mantan pacarnya. Waktu itu, ia masih polos dan terlalu percaya. Awalnya hanya diajak mampir sebentar, duduk sebentar, ngobrol sebentar… tapi kemudian suasananya berubah. Sentuhan Andrew yang terlalu cepat, terlalu dekat, dan terlalu memaksa masih terekam jelas dalam ingatan. Maya berhasil menghindar, namun rasa takut dan kecewa tak pernah benar-benar hilang. Sejak saat itu, ia bersumpah tak akan lagi sembarangan masuk ke ruang pribadi laki-laki.
Dan kini, ia berdiri lagi di situasi yang hampir serupa. Hanya saja, cowoknya bukan Andrew, tapi Chris, yang jauh lebih blak-blakan, lebih dominan, dan entah kenapa, lebih sulit ditebak.
Maya melirik ke arah Chris yang sedang sibuk mencari sesuatu di dalam kamar. Maya bisa melihat dari luar, kamar itu tampak biasa, ada tempat tidur dengan sprei rapi, rak buku sedikit berantakan, dan kipas angin di pojok ruangan yang berderit pelan. Tapi suasana di dalam dirinya tidak biasa.
Ia menggenggam tasnya erat, seolah itu bisa memberinya rasa aman.
Pikiran Maya beradu antara rasa percaya dan rasa trauma. Ini bukan soal Chris akan berbuat apa, tapi lebih pada ketakutan bahwa sejarah bisa saja terulang lagi dan ia tak ingin merasakan takut untuk kedua kalinya.
"Santai, Honey. Aku nggak akan berbuat macam-macam sama kamu kok," ucap Chris dengan mengulum senyum manis.
Maya mengangguk mencoba untuk tetap tenang, meski badannya sedikit bergetar.
Chris berjalan santai menghampiri Maya. Ia tidak menyadari badai kecil yang sedang berputar di dalam dada Maya.