NovelToon NovelToon
Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:907
Nilai: 5
Nama Author: Ulfah_muna

Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

POV Zevran _ Beberapa Hari Sebelumnya

Kamar perawatan utama keluarga Ardevar malam itu terlalu sunyi.

Langit di luar jendela kaca membentang gelap.

Lampu-lampu kota kerajaan berkilau jauh di bawah, namun tidak ada satu pun cahaya yang mampu mengusir dingin di dalam ruangan ini.

Zevran berdiri di samping ranjang.

Tangannya menggenggam jemari ibunya yang mulai kehilangan kehangatan.

Wajah wanita itu terlihat jauh lebih pucat dari beberapa bulan lalu.

Tubuhnya melemah.

Napasnya pendek.

Namun matanya masih menyimpan cahaya yang selalu Zevran kenal.

Tegas.

Lembut.

Dan kali ini… penuh permintaan.

Adiknya sudah diminta keluar lebih dulu.

Masih terlalu muda.

Ibunya tidak ingin percakapan ini didengar siapa pun.

Bahkan keluarga dekat sekalipun.

Ini hanya untuk dirinya.

Untuk anak sulungnya.

“Nak…”

suara wanita itu lirih, hampir berbisik.

Zevran langsung sedikit menunduk agar lebih dekat.

“Iya, Ma.”

Kelopak mata wanita itu bergerak perlahan.

“Kamu masih ingat… sahabat mama?”

Jantung Zevran menegang samar.

Sahabat.

Ia tahu siapa yang dimaksud.

Wanita yang beberapa kali disebut ibunya dalam cerita lama.

Wanita yang pernah menyelamatkan hidup ibunya saat masa paling berbahaya.

“Iya, Ma.”

“Aku ingat.”

Tatapan ibunya sedikit menghangat.

“Sahabat yang pernah menolong mama…”

“yang membawa mama keluar dari tempat itu…”

Zevran mengangguk pelan.

Ia tidak pernah melupakan cerita itu.

Tentang penculikan.

Tentang bagaimana ibunya yang sedang hamil besar hampir kehilangan nyawa.

Dan tentang seorang wanita yang menolongnya kabur.

Wanita yang kemudian menjadi sahabat paling berharga dalam hidup ibunya.

Napas wanita itu terdengar lebih berat.

“Dia… punya anak perempuan.”

Zevran terdiam.

Ia tahu arah pembicaraan ini mulai menuju sesuatu yang tidak biasa.

Dan benar saja.

Wanita itu memegang tangan Zevran lebih erat.

“Namanya Mireya…”

Nama itu jatuh lembut di udara.

Seolah telah dipikirkan berkali-kali sebelum akhirnya diucapkan.

“Anak itu…”

“tolong jaga dia.”

Zevran sedikit mengernyit.

“Ma?”

Ibunya tersenyum lemah.

Senyum yang justru membuat dada Zevran terasa semakin sesak.

“Ini egois…”

“mama tahu.”

“Tapi mama tidak punya waktu lagi.”

Air mata mulai menggenang di sudut mata wanita itu.

“Mama tidak bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang…”

“kalau tidak memastikan anak sahabat mama hidup dengan baik.”

Zevran menunduk.

Tatapannya jatuh pada tangan ibunya yang begitu lemah.

“Dia sekarang hidup susah…”

“mama dengar ibunya sakit…”

“dan anak itu sendirian…”

Suara ibunya mulai bergetar.

“Zevran…”

Tatapan wanita itu berubah tajam.

Tatapan seorang ibu yang sedang menitipkan seluruh penyesalannya.

“Tolong…”

“jadikan dia keluarga.”

Ruangan mendadak terasa hening.

Zevran menahan napas.

Ia tahu apa arti kalimat itu.

Ibunya tidak sedang meminta bantuan biasa.

Ia sedang menitipkan masa depan seseorang.

Dengan cara yang paling mutlak.

Pernikahan.

“Aku ingin kamu menikahinya.”

Kalimat itu akhirnya terucap.

Pelan.

Lemah.

Namun tidak memberi ruang untuk salah paham.

Zevran terdiam cukup lama.

Lalu menatap wajah ibunya.

Di sana tidak ada paksaan.

Hanya harapan terakhir.

Keinginan egois seorang ibu yang tahu waktunya hampir habis.

Ia mengembuskan napas panjang.

Lalu menggenggam tangan wanita itu lebih erat.

“Baik, Ma.”

Tatapan ibunya bergetar.

“Aku akan menemukannya.”

“Aku akan memastikan dia hidup dengan layak.”

Senyum tipis muncul di wajah pucat itu.

Untuk pertama kalinya malam itu, wanita itu terlihat benar-benar lega.

“Anak mama…”

bisiknya lirih.

“Kamu memang selalu bisa diandalkan…”

...****************...

Pintu kamar di besar itu kini hanya tinggal kenangan. Ini mansion keluarga ku dan kamar itu adalah milik mama.

Namun suara terakhir ibu masih melekat jelas di kepala Zevran.

Seolah berbisik tepat di belakang telinganya.

jadikan dia keluarga

nikahi dia

Kalimat itu menancap seperti jarum.

Bukan hanya karena itu permintaan terakhir ibunya.

Tapi karena ibunya tahu.

Tahu tentang seseorang yang pernah mengisi ruang di hidupnya.

Atau setidaknya…

nyaris mengisi.

Zevran menutup matanya sejenak.

Napasnya keluar berat.

Ia membenci kenyataan bahwa bahkan di saat-saat terakhir, ibunya masih bisa melihat isi hatinya.

Wanita itu tahu.

Tentang kedekatannya dengan seorang perempuan.

Bukan pacar.

Belum pernah ada pengakuan.

Belum pernah ada status.

Namun mereka terlalu dekat untuk disebut orang asing.

Lebih dari teman.

Kurang dari kekasih.

Hubungan tanpa nama.

HTS, kalau orang-orang biasa menyebutnya begitu.

Mereka sering bertemu.

Makan malam.

Berbicara tentang bisnis.

Tentang hidup.

Tentang masa depan.

Wanita itu pernah berjalan di sampingnya begitu lama hingga Zevran sempat berpikir… mungkin suatu hari ia akan berada di sisi gadis ini secara resmi.

Namun ternyata tidak.

Ibunya tidak pernah menyetujui hubungan itu.

Bukan karena status.

Bukan karena latar belakang.

Tapi karena insting.

Dan insting seorang ibu sering kali terlalu tajam.

Malam demi malam, wanita itu mulai menjauh.

Pesannya semakin singkat.

Pertemuan semakin jarang.

Sampai suatu hari— ia pergi.

Tanpa penjelasan.

Tanpa kata perpisahan.

Tanpa satu alasan pun.

Menghilang begitu saja dari hidup Zevran.

Saat itu Zevran marah.

Sangat marah.

Bukan karena kehilangan.

Tapi karena ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk bertanya.

Dan kini…

beberapa hari setelah kepergian wanita itu…

ibunya memintanya menikahi perempuan lain.

Takdir yang benar-benar terasa seperti lelucon.

Zevran membuka matanya.

Tatapannya dingin.

Namun ada sedikit rasa pahit yang belum benar-benar hilang.

“Aneh…”

gumamnya pelan.

Bahkan sampai sekarang, sebagian dirinya masih ingin tahu alasan wanita itu pergi.

Namun bagian dirinya yang lain…

jauh lebih keras.

Kalau dia bisa pergi tanpa satu kata pun— maka Zevran juga tidak punya alasan untuk terus menoleh ke belakang.

Ia berdiri tegak.

Menatap pantulan dirinya di jendela kaca.

“Kalau itu keinginan terakhir Ibu…”

suaranya rendah.

“Aku akan melakukannya.”

Mungkin ini memang jawaban.

Mungkin semesta sedang menertawakan luka lama yang belum sembuh.

Atau mungkin…

ini cara hidup memaksanya untuk melangkah maju.

Dan entah kenapa…

di saat yang sama, ada secercah rasa kesal yang dingin.

kau pergi tanpa kata

dan aku akan menikah dengan wanita lain

Senyum tipis terangkat di sudut bibirnya.

Bukan senyum bahagia.

Lebih seperti senyum pahit seorang pria yang baru sadar hidupnya sedang dipermainkan.

...****************...

Malam telah turun sepenuhnya.

Kota kerajaan di bawah sana berkilau seperti lautan cahaya.

Dari lantai tertinggi Menara Ardevar, langit malam terlihat begitu dekat.

Zevran berdiri di depan jendela kaca besar di ruang pribadinya.

Satu tangan dimasukkan ke saku celana, sementara tangan lainnya memegang gelas kristal berisi wiski.

Namun pikirannya sama sekali tidak tenang.

Tanpa sadar, bayangan seorang gadis kembali muncul di benaknya.

Mireya.

Ia mengembuskan napas pendek.

Cantik.

Harus diakui.

Gadis itu memang cantik.

Bukan cantik yang dibuat-buat.

Ada sesuatu pada wajahnya yang lembut namun hidup, seperti seseorang yang tetap berusaha bersinar di tengah keadaan yang tidak berpihak.

Namun…

Zevran sedikit mengernyit.

Mengingat kembali ekspresi gadis itu saat menatapnya.

Tatapan yang terlalu terang.

Terlalu jujur.

Bahkan nyaris…

meneteskan air liur.

Sudut bibirnya bergerak tipis.

“Memalukan…”

gumamnya pelan.

Ia masih bisa mengingat jelas bagaimana gadis itu menatap wajahnya tanpa berkedip.

Seolah lupa menahan ekspresi.

Seolah dunia berhenti hanya karena melihat wajahnya.

Bulu kuduk Zevran meremang samar.

Aneh.

Sangat aneh.

Biasanya lelaki yang menatap perempuan seperti itu.

Bukan sebaliknya.

“Ini terbalik sekali…”

gumamnya lagi sambil menggeleng kecil.

“Siapa sebenarnya yang laki-laki dan yang perempuan?”

Pikiran itu justru membuatnya terkekeh pelan.

Langka sekali ada seseorang yang begitu jujur memperlihatkan reaksinya.

Biasanya semua orang di sekitarnya menutupinya dengan sopan santun.

Dengan kepentingan.

Dengan topeng.

Namun Mireya…

tidak.

Ia terlalu mudah dibaca.

Dan entah kenapa, itu justru menarik.

Suara pintu otomatis terbuka pelan.

“Maaf mengganggu, Tuan.”

Robert masuk dengan langkah tenang.

Zevran tidak menoleh.

“Hm.”

“Tadi saya sudah menyampaikan semuanya, maaf saya baru melaporkan hasil nya hari ini.”

“Gadis itu belum menerima dan juga belum menolak.”

Zevran akhirnya menoleh sedikit.

“Minta waktu?”

Robert mengangguk.

“Ya, Tuan.”

“Saya sudah memberikan kartu akses khusus untuk memasuki gedung pusat jika dia memutuskan datang ke ibu kota.”

Zevran mengangguk pelan.

Masuk akal.

Ini bukan keputusan kecil.

Meskipun jarak kota tempat Mireya tinggal cukup jauh dari ibu kota kerajaan, dengan terminal terbang modern perjalanan hanya memakan beberapa jam.

Cepat.

Sangat cepat.

Jika ia memutuskan datang…

maka itu berarti gadis itu sudah membuat pilihan.

Robert menatap atasannya sebentar.

“Menurut Anda, apakah dia akan datang?”

Ruangan hening sejenak.

Zevran kembali memandang langit malam.

Kota di bawah sana terlihat kecil.

Lampu-lampunya seperti bintang yang jatuh ke bumi.

Sudut bibirnya perlahan terangkat.

Senyum kecil.

Tipis.

Nyaris tidak terlihat.

“Besok.”

suara Zevran rendah.

Robert sedikit terkejut.

“Tuan yakin?”

Zevran tertawa kecil.

Bukan tawa keras.

Lebih seperti nada geli yang jarang keluar darinya.

“Dia akan datang besok.”

Ada keyakinan aneh dalam suaranya.

Mungkin karena ia sudah melihat sendiri bagaimana tatapan gadis itu saat mendengar biaya pengobatan ibunya.

Mungkin karena ia tahu hidup sedang mendorong gadis itu ke sudut.

Atau mungkin…

karena untuk pertama kalinya ia merasa tebakan dirinya tidak akan salah.

Robert menunduk kecil.

“Baik, Tuan.”

Setelah asistennya pergi, Zevran masih berdiri di depan jendela.

Besok.

Hari Minggu.

Hari libur.

Secara logika, tidak ada alasan baginya berada di kantor.

Namun pikirannya justru terasa tergelitik.

Ia ingin tahu.

Apakah tebakannya benar.

Apakah gadis itu cukup berani untuk datang.

Sudut bibirnya kembali terangkat.

“Lucu…”

gumamnya pelan.

“Aku bahkan rela datang di hari libur hanya untuk memastikan tebakanku.”

Dan untuk pertama kalinya… ada sesuatu yang membuat hari esok terasa sedikit menarik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!