bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.
sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.
namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?
novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan untuk Rubah
Tiga hari berlalu sejak insiden di kantin.
Alessandra tidak mendekati gadis kacamata keriting itu. Tidak menawarkan bantuan. Tidak berbicara. Tapi matanya tidak pernah berhenti mengamati.
Dia tahu gadis itu bernama Mira. Kelas XII MIPA 3. Peringkat 10 besar. Tidak punya teman dekat. Selalu membawa tiga buku tebal ke mana-mana. Dan setiap jam istirahat, dia selalu duduk di pojok kantin paling ujung dan jauh dari keramaian.
Tapi pojok itulah yang menjadi target.
Setiap hari, Mira di-bully. Tidak selalu fisik tapi kata-kata, ejekan, kadang makanan atau minuman yang "tidak sengaja" tumpah di buku catatannya. Pelakunya selalu berbeda. Tapi Alessandra melihat pola yang sama.
Mereka semua dekat dengan Saskia.
Bukan anggota geng Fiona. Bukan anak-anak populer. Tapi siswa-siswa biasa yang tiba-tiba berani melakukan kekejaman. Seperti ada yang memberi mereka izin. Seperti ada yang menjamin bahwa mereka tidak akan dihukum.
Dan di balik semua itu, Saskia tersenyum.
Hari keempat, setelah jam pelajaran selesai.
Alessandra berjalan ke perpustakaan. Biasanya tempat ini sepi di sore hari dan hanya beberapa siswa yang mengerjakan tugas atau membaca novel. Tapi hari ini, suasana berbeda.
Dari kejauhan, dia mendengar suara isak tangis.
Mira.
Alessandra tidak terburu-buru. Dia berjalan dengan langkah tenang, melewati rak-rak buku, hingga sampai di sudut paling belakang dekat jendela.
Mira berdiri di antara dua rak, tubuhnya bergetar. Di depannya, tiga siswi berdiri dengan senyum sinis. Salah satunya adalah Vega si tertinggi dari insiden kantin.
"Lo pikir lo bisa lapor ke guru, ya?" ucap Vega dengan suara rendah mengancam. "Guru gak akan percaya sama kutu buku kayak lo."
"A—aku tidak lapor..." Mira menggigit bibir.
"Tapi lo ngomong sama wali kelas, kan? Lo cerita tentang gue!"
"Tidak... aku hanya bilang bukuku hilang..."
"Bohong!" Gadis di samping Vega mendorong bahu Mira hingga dia tersandung dan hampir jatuh.
Buku-buku Mira berserakan di lantai. Kacamatanya jatuh lagi dan kali ini lensanya retak di sudut.
"Sialan," ucap Vega sambil menginjak salah satu buku Mira. "Lo cuma sampah. Gak ada yang akan bela lo. Ingat itu."
Mereka tertawa, lalu berbalik untuk pergi.
Dan mereka melihat Alessandra.
Vega terperanjat. Wajahnya berubah pucat dalam sekejap.
"V—Valeria..."
Dua temannya ikut membeku. Mereka tahu reputasi Alessandra. Mereka tahu apa yang terjadi pada Fiona. Pada Raka. Pada siapa pun yang berani melawan gadis ini.
Tapi Alessandra tidak berkata apa-apa.
Dia hanya berdiri di sana, memegang buku The Art of War di dada kirinya. Wajahnya datar. Matanya menatap Vega dengan dingin tapi bukan dingin yang marah. Dingin yang kosong. Seperti melihat serangga yang tidak layak dibunuh.
Vega mundur selangkah. "Lo... lo mau laporin gue?"
Alessandra tetap diam.
"Mau jadi pahlawan, hah? Lo pikir lo—"
"Ibu jari kaki kirimu bergerak ke dalam setiap kali kau berbohong," potong Alessandra dengan suara datar. "Kau berbohong sekarang. Kau takut. Tapi kau mencoba terlihat berani. Itu tidak berhasil."
Vega tersentak. Dia tidak sadar ibu jari kakinya bergerak. Tapi begitu Alessandra menyebutnya, dia bisa merasakan kebiasaan itu.
"K—kenapa lo peduli sama cewek ini? Dia bukan siapa-siapa."
Alessandra merapikan kacamatanya.
"Aku tidak peduli padanya. Aku peduli pada polanya. Kau mengintimidasi yang lemah karena kau tahu tidak ada yang akan membela mereka. Tapi suatu hari, kau akan menemui orang yang lebih kuat darimu. Dan pada hari itu, tidak ada yang akan membelamu juga."
Vega tidak bisa menjawab.
"Pergi," ucap Alessandra.
Vega dan kedua temannya tidak menunggu perintah kedua. Mereka berlari meninggalkan perpustakaan, melewati rak-rak buku, menghilang di balik pintu.
Perpustakaan kembali sunyi.
Mira masih berdiri di antara rak buku, wajahnya basah, tangannya gemetar memegang kacamata yang retak.
Dan Alessandra... berbalik untuk pergi.
"T—tunggu..."
Alessandra berhenti. Tidak menoleh.
"Kenapa... kenapa kamu bantu aku?"
"saya tidak membantu kamu."
"Tapi ka—"
"saya hanya mengamati pola. Kau adalah korban. Vega adalah pelaku. Saskia adalah dalang di balik layar. Itu pola yang perlu dicatat. Bukan untuk diselamatkan."
Mira terdiam.
"Tapi..." suara Mira hampir tidak terdengar. "kamu tidak bilang siapa-siapa. kamu tidak lapor guru. Kenapa?"
Alessandra akhirnya menoleh.
Wajahnya masih dingin. Tapi matanya untuk sepersekian detik terlihat lebih lembut. Hampir tidak terlihat.
"Karena melapor ke guru hanya solusi sementara. Saskia akan tetap bermain di belakang layar. Vega akan mencari korban lain. Satu-satunya cara untuk menghentikan ini adalah memotong kepala ularnya."
"Kepala ular?"
"Saskia."
Mira membelalak. "T—tapi dia... dia kelihatan baik..."
"Aura baik tidak selalu mencerminkan hati yang baik." Alessandra merapikan kacamatanya. "Dia ahli dalam topeng. Tapi saya juga ahli dalam melihat di balik topeng."
Dia berbalik lagi.
"Ada yang bisa kau lakukan untuk membantu dirimu sendiri, Mira."
"A—apa?"
"Catat. Setiap kali kau di-bully, catat waktunya, tempatnya, nama pelakunya, dan apa yang mereka katakan. Juga, jika ada saksi. Bukti tertulis lebih kuat dari ingatan."
Mira mengangguk pelan.
"Dan mulai besok, bawa alat perekam kecil di sakumu. Rekam setiap interaksi dengan mereka. Suara tidak bisa dibantah."
"A—aku tidak punya alat perekam..."
Alessandra berhenti sejenak. Lalu, dari tasnya, dia mengeluarkan sebuah pena hanya pena biasa dengan klip emas. Dia meletakkannya di rak terdekat.
"Itu pena perekam. Tekan klipnya dua kali untuk mulai merekam. Tekan sekali untuk berhenti. Hasil rekaman akan tersimpan di dalamnya, dan bisa ditransfer ke komputer via USB."
Mira menatap pena itu, lalu menatap Alessandra. "Ini... ini barang mahal..."
"Aku punya banyak." Alessandra sudah berjalan menjauh. "Gunakan dengan bijak. Dan jangan beri tahu siapa pun bahwa kau mendapatkannya dariku."
"Tapi... kenapa kamu peduli? kamu bilang kamu tidak peduli."
Alessandra berhenti di ambang pintu.
"Karena aku juga pernah jadi korban. Dulu, sebelum aku kuat. Tidak ada yang membantuku saat itu. Aku berjanji pada diriku sendiri, jika suatu saat aku punya kekuatan... aku akan membantu dengan caraku sendiri. Bukan dengan menjadi pahlawan. Tapi dengan memberi alat pada korban untuk melindungi diri mereka sendiri."
Mira tidak bisa berkata apa-apa.
Mata Alessandra menatap Mira untuk terakhir kalinya.
"Jaga dirimu, Mira. Dan ingat: orang yang paling lemah sekalipun bisa menjadi paling berbahaya jika dia punya bukti."
Dia pergi.
Mira berdiri lama di antara rak-rak buku, memegang pena perekam di tangannya yang gemetar.
Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, dia merasa tidak sendirian.
Di luar perpustakaan, Alessandra berjalan menuju parkiran.
Langit sore berwarna jingga. Angin berembus pelan, membawa aroma daun kering.
Dia tidak menyesal memberi Mira pena perekam itu. Bukan karena dia ingin menjadi baik. Tapi karena Mira adalah bidak dalam permainan Saskia dan setiap bidak yang bisa dimenangkan adalah keuntungan.
Biarkan Mira mengumpulkan bukti, pikirnya. Saat bukti cukup, aku akan menghancurkan Saskia tanpa perlu mengotori tanganku.
Keadilan yang sempurna.
Itu yang aku inginkan.
Tapi di dalam hati, ada suara kecil yang berkata lain.
Atau mungkin... kau hanya ingin seseorang tidak mengalami apa yang kau alami dulu.
Alessandra mengabaikan suara itu.
Dia memasang helm, menghidupkan mesin Ducatinya, dan melesat meninggalkan sekolah.
Malam itu, di rumah Sunjaya.
Alessandra sedang membaca buku di kamarnya ketika cincin di jari kelingkingnya bergetar.
Kinan.
"Ada apa, Kinan?"
"Nona, saya berhasil mendapatkan informasi tentang Mira."
"Lanjutkan."
"Mira Astrid. Kelas XII MIPA 3. Ayahnya adalah jurnalis investigasi terkenal di Acelia. Beberapa tahun lalu, ayahnya mencoba membongkar kasus perdagangan organ ilegal yang melibatkan pejabat tinggi. Tapi sebelum buktinya dirilis, ayahnya meninggal dalam kecelakaan mobil. Mira dan ibunya ditinggalkan tanpa apa pun. Ibunya sakit-sakitan. Mira bersekolah di sini dengan beasiswa prestasi."
Alessandra mengerutkan kening.
"Yang lebih menarik, Nona... kasus perdagangan organ itu diduga terkait dengan jaringan yang sama dengan... keluarga Sunjaya."
Diam.
"Nona? Masih di sana?"
"Masih." Suara Alessandra dingin. "Jadi Mira bukan korban acak. Dia target spesifik."
"Sepertinya begitu, Nona. Saskia mungkin tahu siapa Mira. Dan dia sengaja memerintahkan Vega untuk menindasnya, mungkin untuk memaksanya keluar dari sekolah atau... lebih buruk."
"Atau untuk mencari tahu apakah Mira menyimpan bukti-bukti ayahnya."
"Itu kemungkinan besar, Nona."
Alessandra merapikan kacamatanya.
"Kinan, lacak semua yang berhubungan dengan kasus ayah Mira. Dan cari tahu hubungan antara Saskia dan jaringan perdagangan organ itu."
"Baik, Nona. Tapi... apakah Nona yakin ingin terlibat sedalam ini? Ini bukan lagi masalah bully sekolah. Ini kasus besar."
Alessandra tersenyum kecil. Senyum yang tidak hangat.
"Aku sudah terlibat sejak hari pertama aku memakai wajah ini, Kinan. Tidak ada jalan mundur."
"...Baik, Nona. Saya akan bekerja secepat mungkin."
Hubungan terputus.
Alessandra menatap langit-langit kamar Allegra.
Saskia bukan sekadar adik angkat yang licik. Dia bagian dari jaringan kriminal yang lebih besar. Dan keluarga Sunjaya... mungkin juga bagian dari jaringan itu.
Tanda mawar di dahi mereka. Pengendalian. Boneka.
Siapa dalang sebenarnya?
Dia menutup mata.
Waktu akan menjawab.
Tapi semakin dalam aku menyelidiki, semakin aku merasa... bahwa aku bukan hanya menemukan misteri keluarga Allegra.
Tapi juga menemukan musuh lamaku.
Musuh yang selama ini kucari.
[perlu diberitahukan bahwa Valeria Alessandra merupakan nona muda Wijaya dengan umur 23 tahun, dia sudah terbiasa menggunakan bahasa formal seperti saya-anda, aku-kamu. Jadi jika tiba-tiba gue-lo, berarti dia sedang membiasakan diri. Untuk chapter 25 keatas, mungkin akan dibuat sesuai gue-lo yg sudah menyesuaikan dirinya sebagai Valeria Allegra yang merupakan gadis SMA]