Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: TANGIS DI TENGAH MALAM
Ardi tidak bisa tidur.
Jam di samping ranjang menunjukkan pukul 00:23. Dia sudah berganti posisi empat kali, mengganti bantal dua kali, memejamkan mata sampai terasa perih. Tapi pikirannya tidak mau diam.
Setiap kali dia menutup mata, yang muncul adalah wajah Maya saat mereka berciuman di dapur. Bukan sensasi bibirnya, tapi ekspresinya—campuran antara kepasrahan dan ketakutan. Seperti orang yang melompat dari tebing dan sudah tahu tidak akan bisa terbang.
Ardi membuka mata, menatap langit-langit yang gelap. Rumah ini terlalu sunyi. Dulu, ketika kecil, dia membenci kesunyian ini. Setiap Bram pergi, rumah berubah menjadi kuburan raksasa yang menelan suara. Ibunya akan duduk di ruang keluarga dengan segelas anggur, menatap kosong ke jendela, sampai Ardi menarik tangannya dan memaksanya bermain catur.
Ibunya selalu kalah. Tapi dia tersenyum. Senyum yang sama seperti senyum Maya tadi malam—senyum yang mencoba terlihat kuat padahal hancur di dalam.
Ardi bangkit dari ranjang, berjalan ke jendela. Di luar, taman belakang gelap. Pohon mangga bergoyang pelan diterpa angin malam. Lampu taman di sudut halaman masih menyala, menerangi bangku batu tempat dulu ibunya duduk membaca buku.
Dia hampir melupakan semua itu. Rumah ini, kenangan ini, luka ini. Setelah ibunya meninggal, Ardi memilih menjauh. Dia pindah ke apartemen di pusat kota, sibuk dengan kuliah dan kemudian perusahaan, membangun tembok tinggi antara dirinya dan rumah ini. Tapi sekarang dia kembali, dan rumah ini sepertinya tidak pernah berubah. Masih sunyi. Masih dingin. Masih menunggu seseorang yang tidak pernah datang.
Dari balik dinding, Ardi mendengar suara.
Pelan. Samar. Mungkin hanya angin.
Tapi dia menoleh, menajamkan pendengaran. Suara itu datang dari kamar sebelah. Kamar utama.
Ardi berjalan ke pintu, membukanya pelan. Lorong gelap, hanya diterangi lampu emergency di ujung tangga. Dia melangkah tanpa suara, mendekati pintu kamar Maya.
Suara itu semakin jelas. Bukan angin. Bukan krek khas rumah tua.
Tangis.
Bukan tangis keras yang meminta perhatian. Tangis pelan yang ditahan, yang ditekan ke dalam bantal, yang berusaha disembunyikan. Tangis yang Ardi kenal dengan sangat baik karena dia sendiri pernah menangis seperti itu—ketika ibunya meninggal, ketika Bram tidak datang ke pemakaman, ketika dia menyadari bahwa tidak ada yang akan menyeka air matanya.
Ardi berdiri di depan pintu. Tangannya terangkat, hampir mengetuk. Tapi dia ragu.
Ini kamar Maya. Istri ayahnya. Wanita yang sepuluh menit lalu dia cium di dapur. Wanita yang membuatnya lupa bahwa dia punya Sari, bahwa dia anak Bram, bahwa semua ini salah.
Dia harus kembali ke kamarnya. Harus berpura-pura tidak mendengar. Harus menjaga jarak yang tadi mereka sepakat untuk dibangun.
Tapi tangis itu—tangis itu mengingatkannya pada sesuatu yang sudah lama dia kubur. Suara ibunya yang menangis di kamar ketika Bram pergi. Suara yang tidak pernah bisa dia hentikan karena dia terlalu kecil, terlalu lemah, terlalu tidak berdaya.
Ardi mengetuk.
Pelan. Hanya satu kali.
Tangis di dalam langsung berhenti. Keheningan menggantung seperti tirai yang jatuh terlalu cepat.
“Maya,” bisik Ardi. “Aku tahu kau bangun.”
Tidak ada jawaban. Hanya suara napas yang tertahan.
“Aku tidak akan masuk kalau kau tidak mau. Tapi aku di sini.”
Dia menunggu. Hitungan detik terasa seperti jam. Di lorong yang gelap, Ardi bisa mendengar detak jantungnya sendiri—cepat, tidak karuan.
Pintu terbuka.
Maya berdiri di ambang, wajahnya setengah tertutup bayangan. Rambutnya kusut, matanya sembab, pipinya basah. Dia memakai kaos oblong longgar dan celana pendek, kakinya telanjang. Tanpa riasan, tanpa topeng, dia terlihat seperti anak kecil yang tersesat.
“Kau seharusnya tidur,” katanya. Suaranya serak.
“Aku tidak bisa.” Ardi menatapnya. “Kau menangis.”
Maya mengusap pipinya dengan punggung tangan, gerakan cepat, seperti ingin menghapus bukti. “Maaf, aku mengganggu.”
“Kau tidak mengganggu.”
Maya tidak menjawab. Dia hanya berdiri di sana, memegang gagang pintu, jari-jarinya memutih karena tekanan. Ada jarak di antara mereka—satu meter yang terasa seperti jurang.
“Apa yang terjadi?” tanya Ardi pelan.
Maya menggeleng. “Tidak ada.”
“Maya.”
Namanya keluar dari mulut Ardi dengan cara yang berbeda dari biasanya. Bukan seperti anak tiri yang memanggil ibu tiri. Bukan seperti laki-laki yang memanggil wanita yang diinginkannya. Tapi seperti seseorang yang mengenali rasa sakit yang sama.
Maya mendongak. Matanya bertemu dengan mata Ardi. Dan untuk pertama kalinya, dia tidak berpura-pura.
“Aku takut,” bisiknya.
Ardi tidak bertanya takut akan apa. Dia sudah tahu. Takut ketahuan. Takut kehilangan. Takut bahwa semua ini hanya sementara, bahwa suatu hari nanti Ardi akan sadar dan pergi, meninggalkannya sendirian di rumah besar ini seperti Bram selalu lakukan.
“Aku juga,” kata Ardi.
Maya tersenyum pahit. “Kau tidak perlu takut. Kau punya Sari. Kau punya perusahaan. Kau punya masa depan yang sudah terencana.”
“Dan kau tidak?”
Maya mengangkat bahu. Gerakan kecil yang terlihat berat. “Aku hanya wanita yang dinikahi ayahmu karena dia butuh pendamping acara bisnis. Tidak lebih.”
Ardi ingin mengatakan sesuatu. Ingin mengatakan bahwa Maya lebih dari itu. Bahwa dia melihatnya—melihat cara dia memasak dengan konsentrasi penuh, melihat cara dia tersenyum malu saat telur dadarnya tidak gosong, melihat cara dia menatap jendela ketika berpikir tidak ada yang mengamati.
Tapi kata-kata itu terasa terlalu besar untuk lorong yang gelap.
“Aku masuk sebentar,” kata Ardi. Bukan pertanyaan.
Maya tidak menjawab. Tapi dia membuka pintu lebih lebar, melangkah mundur, memberi ruang.
Kamar utama lebih besar dari kamar Ardi. Tempat tidur king size dengan seprai putih, lemari kayu jati, meja rias dengan cermin besar. Tapi terasa kosong. Tidak ada foto, tidak ada barang pribadi, tidak ada tanda bahwa ini adalah kamar seseorang yang benar-benar tinggal.
Maya duduk di tepi ranjang, tangan di pangkuan, menunduk. Ardi berdiri di dekat jendela, menjaga jarak.
“Aku tidak bisa tidur di sini,” kata Maya pelan, menatap seprai putih di depannya. “Tempat tidur ini terlalu besar. Terlalu sepi. Setiap kali aku memejamkan mata, aku merasa seperti mengapung di tengah laut.”
“Kau bisa pindah ke kamar lain.”
Maya menggeleng. “Bukan kamarnya. Ini... semuanya.” Dia mengangkat tangan, menunjuk ke langit-langit, ke dinding, ke seluruh ruangan. “Rumah ini terlalu besar untuk satu orang. Tapi aku tidak punya tempat lain.”
Ardi duduk di kursi dekat jendela, menjaga jarak yang aman. “Kau tidak pernah merasa ini rumahmu?”
Maya tertawa kecil. Tawa yang sama seperti di dapur—pahit, pendek, seperti batuk. “Bagaimana bisa? Aku di sini karena ayahmu butuh seseorang untuk menjaga rumah. Aku hanya... pengganti. Pengganti istri pertama, pengganti ibu untuk anaknya yang sudah dewasa, pengganti nyawa di rumah yang mati.”
Ardi tidak bisa membantah. Karena dia sendiri yang menciptakan narasi itu sejak awal. Maya pencari harta. Maya perusak keluarga. Maya wanita yang tidak pantas menggantikan ibunya.
Tapi sekarang, melihat Maya duduk di tepi ranjang dengan mata sembab dan bahu yang jatuh, narasi itu terasa seperti lelucon yang tidak lucu.
“Maaf,” kata Ardi.
Maya menatapnya. “Untuk apa?”
“Untuk semua yang aku pikirkan tentangmu. Tentang... kau menikahi ayahku karena uang.”
Maya tidak marah. Dia hanya menghela napas panjang, seperti sudah menduga. “Aku tidak bisa menyalahkanmu. Orang lain juga berpikir begitu.”
“Tapi itu tidak benar.”
“Benar atau tidak, itu tidak penting sekarang.” Maya menatap Ardi, matanya basah tapi tidak menangis. “Aku di sini. Aku menikah dengan ayahmu. Dan aku—aku tidak tahu apa yang terjadi antara kita, Ardi. Tapi aku tahu ini salah. Ini sangat salah.”
Ardi merasakan dadanya sesak. “Kau menyesal?”
Maya tidak menjawab segera. Dia menatap tangannya yang tergenggam di pangkuan, ibu jarinya mengusap punggung tangan yang lain, gerakan yang sama seperti saat memegang kain batik tadi siang.
“Aku menyesal karena tidak bisa berhenti,” bisiknya akhirnya.
Ardi bangkit dari kursi, melangkah mendekat. Jarak yang tadi dia jaga dengan sengaja, sekarang terasa bodoh. Dia duduk di samping Maya, di tepi ranjang yang sama, cukup dekat untuk merasakan hangat tubuhnya.
“Aku juga tidak bisa berhenti,” katanya.
Maya menoleh. Wajahnya sangat dekat, Ardi bisa melihat bulu matanya yang basah, garis halus di sudut matanya karena lelah, bibir bawah yang sedikit menggigil.
“Kita akan hancur,” bisik Maya.
“Mungkin.”
“Kita akan menyakiti banyak orang.”
“Aku tahu.”
“Tapi kau tetap di sini.”
Ardi mengangkat tangan, menyentuh pipi Maya. Kulitnya dingin, basah oleh air mata yang belum kering. Jari-jarinya mengusap perlahan, mengeringkan jejak tangis yang tidak sempat dihapus.
“Aku di sini,” katanya.
Maya menutup mata, bersandar pada telapak tangan Ardi. Untuk beberapa detik, mereka hanya duduk seperti itu—Ardi dengan tangannya di pipi Maya, Maya dengan matanya terpejam, napas mereka perlahan menemukan ritme yang sama.
“Ceritakan tentang ibumu,” bisik Maya.
Ardi terkejut. Tangan di pipi Maya berhenti bergerak. “Kenapa?”
“Karena aku ingin tahu. Karena aku ingin mengerti kenapa kau membenciku begitu lama. Karena—” Maya membuka mata, menatap Ardi dengan tatapan yang jujur, tanpa topeng. “Karena aku ingin tahu luka yang membuatmu seperti ini.”
Ardi menarik tangannya, tapi tidak menjauh. Dia menatap jendela yang gelap, mengumpulkan kata-kata yang sudah lama tidak dia ucapkan.
“Dia bunuh diri,” kata Ardi akhirnya. Suaranya datar, seperti membacakan berita.
Maya tidak bergerak. Tidak berseru kaget. Tidak berkata maaf. Dia hanya duduk di samping Ardi, diam, menunggu.
“Aku berumur empat belas tahun. Ayahku sedang di luar kota. Seperti biasa.” Ardi menarik napas, merasakan sesak di dadanya yang tidak pernah benar-benar hilang. “Aku pulang sekolah, rumah sepi. Aku pikir dia sedang tidur. Tapi pintu kamar mandi terkunci. Aku panggil, tidak ada jawaban. Aku tendang pintunya.”
Dia berhenti. Tangannya mengepal di pangkuan, kuku menekan telapak.
“Aku yang menemukannya.”
Maya tidak mengatakan apa-apa. Tapi tangannya—tanpa sadar, tanpa rencana—bergerak, menyentuh tangan Ardi yang mengepal. Jari-jarinya membuka genggaman Ardi perlahan, lalu mengait di antara jari-jari Ardi.
Ardi menggenggam balik. Kuat. Seperti pegangan terakhir.
“Setelah itu, ayahku semakin sibuk. Mungkin itu caranya menghindari rasa bersalah. Atau mungkin dia memang tidak pernah tahu caranya menjadi ayah.” Ardi menoleh ke Maya, tersenyum pahit. “Jadi ketika aku mendengar dia menikah lagi, dengan wanita yang hanya setahun lebih tua dariku, semua amarah itu keluar. Aku tidak benci kamu, Maya. Aku benci dia. Tapi kamu yang ada di depan mataku.”
Maya mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca, tapi dia tidak menangis.
“Ibuku juga meninggal,” katanya pelan. “Tapi tidak dramatis seperti itu. Dia sakit. Lama. Aku merawatnya sampai akhir. Setelah dia pergi, aku sendirian. Tidak ada saudara, tidak ada keluarga. Hanya aku dan hutang-hutang yang ditinggalkan.”
“Hutang?”
Maya mengangguk. “Biaya rumah sakit. Pengobatan. Aku pinjam ke sana kemari. Masih belum lunas sampai sekarang.” Dia tersenyum, tapi matanya kosong. “Mungkin itu sebabnya aku menerima lamaran ayahmu. Bukan karena aku mencintainya. Tapi karena aku lelah. Lelah sendiri, lelah berjuang, lelah memikirkan besok.”
Ardi memegang tangannya lebih erat. “Kau tidak mencintainya?”
Maya menatap Ardi. Lama. Matanya mencari sesuatu di wajah Ardi, mungkin kejujuran, mungkin penghakiman.
“Aku menghormatinya,” katanya akhirnya. “Dia baik padaku. Dia memberiku rumah, memberi keamanan. Tapi cinta—” dia berhenti, menelan kata-kata yang terlalu berat untuk diucapkan. “Cinta bukan sesuatu yang bisa dipaksakan.”
Ardi ingin bertanya lebih lanjut. Ingin bertanya apakah mungkin Maya mencintai orang lain. Ingin bertanya apakah orang itu—
Tapi Maya sudah bersandar, meletakkan kepalanya di bahu Ardi. Rambutnya menggelitik leher Ardi, baunya samar, seperti sabun dan sesuatu yang manis.
“Aku lelah, Ardi,” bisiknya. “Aku lelah berpura-pura kuat. Aku lelah sendirian. Aku lelah menjadi istri yang baik, menjadi ibu tiri yang baik, menjadi wanita yang tidak pernah mengeluh.”
Ardi tidak menjawab. Dia hanya membiarkan Maya bersandar di bahunya, merasakan berat tubuhnya yang ringan, mendengar napasnya yang perlahan teratur.
Di luar, angin malam berhenti. Rumah yang tadinya sunyi, sekarang terasa sunyi dengan cara yang berbeda. Bukan sunyi yang kosong, tapi sunyi yang penuh—penuh dengan kata-kata yang tidak diucapkan, dengan rahasia yang baru saja dibagikan, dengan jarak yang perlahan mencair.
“Kita harus kembali ke kamar masing-masing,” bisik Maya, tapi dia tidak bergerak.
“Iya,” kata Ardi, juga tidak bergerak.
Mereka duduk seperti itu lama. Ardi tidak tahu berapa menit atau jam. Yang dia tahu, di tengah rumah besar yang dingin ini, dengan wanita yang seharusnya menjadi ibu tirinya, dia merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sejak ibunya pergi.
Dia tidak sendirian.
“Ardi,” bisik Maya.
“Hm?”
“Apa kita monster?”
Ardi menunduk, menatap rambut Maya yang terurai di bahunya. Dia ingin mengatakan tidak. Ingin mengatakan bahwa mereka hanya manusia yang lelah dan lapar akan kehangatan. Tapi kata-kata itu terasa seperti kebohongan.
“Mungkin,” katanya akhirnya. “Tapi aku tidak peduli.”
Maya mendongak. Matanya bertemu dengan mata Ardi. Di ruangan yang gelap, dengan hanya cahaya bulan yang masuk lewat jendela, Ardi melihat sesuatu di mata Maya yang tidak bisa dia jelaskan. Bukan cinta. Bukan hasrat. Tapi pengakuan. Pengakuan bahwa mereka berdua sama-sama rusak, dan di dalam kerusakan itu, mereka menemukan sesuatu yang mirip dengan ketenangan.
Maya mengangkat tangan, menyentuh pipi Ardi. Jari-jarinya dingin, tapi lembut.
“Aku tidak ingin sendirian lagi,” bisiknya.
“Kau tidak sendiri.”
Maya tersenyum. Senyum yang tidak dipaksakan, yang membuat mata Ardi ingin menutup dan tidak pernah membuka lagi.
“Bersamaku sampai pagi,” katanya. Bukan pertanyaan.
Ardi tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya memeluk Maya, merasakan tubuhnya yang kecil dan rapuh di lengannya, merasakan detak jantungnya yang cepat, lalu perlahan melambat.
Maya bersandar di dadanya, matanya terpejam.
Ardi menatap langit-langit kamar utama, mendengar napas Maya yang mulai teratur. Di luar, langit mulai memutih di ufuk timur.
Dia tidak tidur. Tapi untuk pertama kalinya dalam malam yang panjang, dia merasa cukup.
---