“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Hari Ayah Tanpa Ayah
Ayza membaca pesan itu.
Dan dunia seolah berhenti… tepat di detik itu. Dadanya terasa kosong. Bukan sesak. Bukan marah.
Kosong.
Jemarinya masih menggenggam ponsel itu, tapi perlahan terasa dingin. Matanya terus menatap layar, membaca ulang kalimat yang sama… seolah berharap maknanya akan berubah.
Namun tidak.
Kata-kata itu tetap di sana. Tetap sama. Tidak bisa ditafsirkan dengan cara lain.
Napasnya tertahan. Lalu keluar… pelan. Terlalu pelan. Ayza menunduk sedikit. Bahunya tak bergerak. Wajahnya tetap tenang. Terlalu tenang. Seolah… tidak terjadi apa-apa.
Namun di dalam dirinya, sesuatu yang ia tahan sejak tadi… runtuh.
Tanpa suara. Ia memejamkan mata. Satu detik. Dua detik. Lalu ponsel itu perlahan turun ke pangkuannya.
"Tidak bisa datang," gumamnya pelan, nyaris berbisik.
Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya. Sederhana. Singkat. Namun cukup untuk mematahkan satu hal kecil yang ia jaga mati-matian— harapan Alvian.
Dan entah kenapa… yang terasa paling sakit bukan karena ia sudah menduganya. Tapi karena… ia tetap berharap… pria itu akan memilih datang.
“Bagaimana aku harus memberitahu Al…?”
Pertanyaan itu berputar di kepalanya.
Ayza menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu membalas pesan itu. Namun— centang satu.
Keningnya berkerut. Hal yang… tidak pernah terjadi sebelumnya. Jemarinya langsung bergerak. Ia menekan panggilan.
Nomor tidak aktif.
Ayza terdiam. Lalu… ia tersenyum. Pahit. Sudah dua malam ini Kaisyaf tidak pulang.
Ayza kembali mengangkat ponselnya. Kali ini ia menekan nama Ridho.
Di tempat lain, ponsel di tangan Ridho bergetar.
Nama yang muncul di layar membuat rahangnya sedikit mengeras.
Bu Ayza.
Beberapa detik… ia hanya menatap layar itu. Lalu, seperti sebelumnya, ia menggeser tombol hijau.
“Pak Kaisyaf sedang banyak pekerjaan, Bu.”
Kalimat itu keluar dengan tenang. Terlalu lancar. Sudah berapa kali ia mengucapkannya… bahkan ia sendiri tidak menghitung lagi.
Di seberang sana, suara Ayza terdengar lagi. Lebih pelan. Lebih hati-hati.
“Nomor suami saya tidak aktif… apa Pak Ridho—”
“Maaf, Bu.”
Ridho langsung memotong. Tatapannya lurus ke depan.
“Kalau tidak ada keperluan lain, saya tutup teleponnya.”
Ia memutus sambungan lebih dulu.
Ponsel itu masih berada di tangannya. Layarnya perlahan gelap. Namun tatapannya… tidak ikut berpindah.
Beberapa detik berlalu. Ia menghela napas pelan. Bukan karena ragu. Tapi karena… ini bukan pertama kalinya ia memilih diam.
Ridho menutup matanya sejenak. Wajah Ayza terlintas. Lalu… wajah Kaisyaf. Dua orang yang sama-sama ia hormati. Dua orang yang… kini berdiri di sisi yang berbeda.
“Maaf, Bu…” gumamnya lirih.
Namun kali ini… bukan untuk menolak pertanyaan. Melainkan untuk sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Tangannya mengepal perlahan. Ia tahu. Semuanya. Dan justru karena itu… ia tidak bisa mengatakan apa-apa.
Di kamar, Ayza menatap layar ponselnya yang sudah gelap.
Setiap kali ia mencoba mencari jawaban… dengan menghubungi Ridho, jawabannya selalu sama—
“Pak Kaisyaf sedang banyak pekerjaan, Bu.”
Selalu itu.
Saat ia mencoba bertanya lebih jauh—
“Maaf, Bu. Kalau tidak ada keperluan lain, saya tutup teleponnya.”
Atau—
“Maaf, Bu. Saya harus ke ruang meeting.”
Atau—
“Maaf, Bu. Ada deadline yang harus saya selesaikan.”
Seolah semua jawaban itu… bukan jawaban. Tapi cara halus untuk menutupinya. Seragam. Tanpa celah.
Ayza menunduk pelan.
“Dia pasti tahu sesuatu…” gumamnya lirih. “Atau… semuanya.”
Namun yang membuat dadanya semakin sesak… bukan hanya perubahan sikap suaminya.
Melainkan, bagaimana ia harus menjelaskan kekecewaan itu... kepada anak yang masih percaya sepenuhnya.
***
Pagi itu, meja makan sudah rapi. Dua piring. Seperti beberapa hari terakhir.
Ayza menuangkan susu ke dalam gelas kecil. Tangannya bergerak pelan, teratur… seolah semuanya baik-baik saja.
Kursi di seberang meja… kosong.
Alvian duduk di kursinya. Sendok di tangannya belum bergerak. Matanya… tertuju ke kursi itu.
“Umi…”
Ayza menoleh. “Iya, Sayang?”
Alvian tidak langsung menjawab. Ia masih menatap kursi yang biasa ditempati Kaisyaf.
“Abi… gak pulang lagi?”
Pertanyaan itu keluar pelan. Hati-hati. Seolah ia sendiri takut dengan jawabannya.
Jemari Ayza sedikit mengencang di sisi meja. Namun wajahnya tetap tenang.
“Iya…” jawabnya lembut. “Abi belum pulang.”
Alvian mengangguk kecil. Sendoknya mulai bergerak. Pelan. Namun beberapa detik kemudian—
“Umi…”
Ayza kembali menoleh.
Alvian kini menatapnya. “Acara hari ini…”
Ayza menarik napas pelan. Ini bagian yang paling ia hindari. Namun tidak bisa ditunda lagi.
“Abi…” suaranya lembut, tapi terasa berat. “Hari ini tidak bisa datang, Sayang.”
Sendok di tangan Alvian berhenti. Tidak jatuh. Tidak . Hanya… berhenti. Beberapa detik.
“Oh…”
Hanya itu. Tidak ada tangis. Tidak ada protes.
Alvian menunduk. Melanjutkan makannya. Pelan. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun sejak saat itu… ia tidak lagi melihat ke kursi di seberangnya.
***
Pagi itu, halaman sekolah sudah ramai.
Beberapa anak berdiri di samping ayah mereka. Ada yang menggandeng tangan, ada yang digendong, ada juga yang tertawa sambil menunjukkan sesuatu.
Alvian berdiri di samping Ayza. Tangannya memegang ujung baju Uminya. Matanya… sibuk mencari.
“Umi…”
Ayza menoleh. “Iya, Sayang?”
Alvian menunjuk ke depan. “Itu Abi-nya Raka, ya?”
Ayza mengikuti arah jarinya. Seorang pria sedang berjongkok di depan anaknya, merapikan kerah seragam kecil itu.
“Iya,” jawab Ayza pelan.
Alvian mengangguk kecil. Beberapa detik. Lalu matanya kembali bergerak. Mencari lagi.
“Kalau itu… Abi-nya Dimas?”
“Iya.”
“Kalau yang pakai baju biru itu?”
“Iya… itu juga Abi.”
Setiap jawaban… pelan. Hati-hati. Seolah Ayza sedang menahan sesuatu agar tidak ikut runtuh.
Alvian terdiam. Tangannya masih memegang baju Ayza. Sedikit lebih erat.
“Abi… di mana, Umi?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar.
Ayza menelan ludah.
“Abi lagi banyak kerjaan,” jawabnya lembut. “Kalau tidak, Abi pasti datang.”
Alvian mengangguk.
“Iya,” ucapnya pelan. Seolah meyakinkan dirinya sendiri.
Beberapa menit berlalu.
Guru mulai memanggil anak-anak untuk berkumpul bersama ayah mereka.
“Anak-anak, yang sudah datang dengan ayahnya, silakan berbaris, ya!”
Satu per satu anak maju.
Alvian masih berdiri di tempatnya. Matanya tertuju ke arah gerbang. Setiap kali ada mobil berhenti… sorot matanya langsung menyala. Berharap itu Abi-nya.
Meski jauh di dalam hati, ia tahu, harapan itu terasa seperti sesuatu yang sulit terjadi.
Namun setiap kali yang turun bukan Kaisyaf… cahaya itu perlahan meredup. Pelan. Tapi jelas.
“Al…”
Ayza memanggil pelan.
Alvian menoleh.
“Ke sana, ya. Umi temani.”
Alvian menggeleng. “Tidak usah, Umi. Al bisa sendiri.”
Matanya sempat kembali ke arah gerbang. Sebentar saja. Seolah memberi waktu terakhir… kalau-kalau harapannya benar-benar datang. Namun tidak ada siapa pun.
Ia pun melangkah. Pelan. Berdiri di barisan. Sendiri. Di antara anak-anak yang berdiri berdampingan dengan ayah mereka.
Seorang anak di sampingnya menoleh.
“Abi kamu mana?” tanyanya polos.
Alvian diam sebentar. Matanya kembali ke arah gerbang. Lalu…
“Lagi banyak kerjaan,” jawabnya pelan. “Nyari uang buat aku dan umi.”
Anak itu mengangguk, lalu kembali sibuk sendiri.
Namun Alvian… tidak. Ia kembali menatap gerbang.
Berharap. Menunggu. Meski ia tahu harapan itu tak akan terjadi. Sampai acara dimulai.
Sampai semua ayah sudah berdiri di samping anak mereka. Sampai namanya dipanggil… dan tidak ada yang maju mendampinginya.
“Alvian?”
...🔸🔸🔸...
...“Yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan, tapi tetap berharap dia akan datang.”...
...“Kecewa yang paling dalam adalah yang tidak berani ditangisi.”...
...“Bukan tidak tahu… hanya pura-pura percaya.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Ridho berharap kamu jujur sama Ayza tentang penyakit Kaisyaf,kasihan Ayza dan Al....
Nara jadi mengerti pilihan Kaisyaf.
Reza ini mencari kesempatan lagi. Sekarang yang didekati Alvian. Benar-benar muka tembok ini orang 😄. Urat malunya sudah putus.
Pinternya Alvian - menolak ajakan Reza.
Dikasih mainan saja bilang "Gak usah" - Alvian ingat larangan dari Umi-nya, gak boleh terima apa-apa dari orang.
Jelas orang lain. Sudah menjadi orang lain.
Alvian perasaannya peka - Om di depannya orang yang kurang baik - Alvian sampai mundur walaupun cuma setengah langkah. Itu tanda penolakan.
Nara menangis. Sebagai sahabat yang pernah ditolong Kaisyaf - ia tidak ingin Kaisyaf menyerah, ngga bakal diam melihat Kaisyaf nyerah.
Nara penyemangat Kaisyaf. Nara tidak ingin Kaisyaf menyerah.
Bagi Kaisyaf ini bukan menyerah, tapi menyelesaikan.