NovelToon NovelToon
Candy Cane

Candy Cane

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Beda Usia
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: Lunea Bubble

Candelle Luna (Candy), 19 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena… ibu tirinya takut anak kandungnya menikah dengan pria “tua, kaya, dan super pelit”.

Hasilnya?
Candy yang dikorbankan sebagai pengantin pengganti untuk Revo Bara Luneth—pria 37 tahun yang lebih dingin dari kulkas dua pintu, hemat bicara, dan hemat… segalanya.

Pernikahan ini harusnya berakhir kacau.
Tapi ternyata, gadis yang terlihat penurut itu punya lebih banyak kejutan daripada permen candy cane yang manis di luar, pedas di dalam.

"Gadis pendiam dan lembut itu… dia? Tidak mungkin." — Revo

"Astaga, hidup baru mulai, tapi sudah dilempar ke mode hard married life!" — Candy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunea Bubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan

Kabar tentang dipercepatnya pernikahan Revo dan Candy menyebar lebih cepat dari gosip tetangga. Kabar itu disambut baik oleh keluarga Adrian—terutama Ranti.

Sinar di wajah wanita itu seolah mengalahkan matahari. Senyum berseri-seri yang terus bertahan di wajahnya tampak seperti tempelan kulkas: sulit dilepas dan terlalu mencolok untuk diabaikan.

Hari demi hari dilalui keluarga Adrian dengan kesibukan. Mereka memilih mengurus pernikahan Candy sendiri. Ini adalah permintaan Adrian. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk putri pertamanya.

Adrian tahu bahwa pernikahan ini membuat putrinya tersiksa, tapi dia tidak punya pilihan.

Kesibukan serupa juga tampak jelas di kediaman Revo. Meski tidak menyiapkan pesta besar, keluarga Luneth tetap sibuk berkoordinasi dengan pihak calon mempelai wanita. Dari hal-hal kecil hingga urusan besar, semuanya dikompromikan dengan baik.

Satu per satu keluarga besar Luneth mulai berdatangan. Mansion yang dulu terasa sunyi dan terlalu luas kini perlahan berubah sempit—dan berisik.

Berlian justru sangat menikmati suasana itu. Terlebih saat cucu-cucunya tiba. Wanita itu seperti disuntik adrenalin ketika melihat tiga sosok kecil berlarian memasuki mansion.

Adik kembar Revo, Rumi dan Riora, telah menikah lebih dulu. Rumi menikah di usia dua puluh tiga tahun. Tiga tahun kemudian, Riora menyusulnya.

Rumi dikaruniai sepasang anak kembar yang kini berusia enam tahun, sementara Riora memiliki seorang putra berusia tiga tahun. Sayangnya, mereka tidak tinggal di kota yang sama. Rumi mengikuti suaminya menetap di Italia, sedangkan Riora tinggal di Paris.

Perbedaan usia Revo dengan kedua adik kembarnya tidak terlalu jauh—sekitar tujuh tahun. Karena itu, hubungan mereka bertiga terjalin hangat dan akrab.

"Cucu-cucu Nonna sudah datang," sambut Berlian dengan kedua tangan terbuka dan senyum cerah.

"Nonna!" seru ketiga cucunya bersamaan.

"Mana Nonno?" tanya Elio polos.

"Baru juga meluk Nonna, sudah cari Nonno. Hiks!" adu Berlian sambil berpura-pura sedih.

"Cup… cup… Nonna. Ada Eira yang temani Nonna," ucap Eira, saudari kembar Elio.

"Axel juga," tambah suara kecil Axel.

"Iya, iya. Nonna nggak sedih kok. Ayo masuk!" seru Berlian ceria.

Rumi dan Riora yang menunggu giliran memeluk ibunya hanya bisa memeluk udara dingin. Baru saja melangkah mendekat, Berlian sudah berlalu pergi bersama ketiga cucunya.

"Benar-benar deh si Mami," gerutu Riora kesal.

"Namanya juga nenek. Sudah punya cucu, anak dibuang," timpal Rumi.

Mereka saling pandang, lalu tertawa sebelum akhirnya berpelukan.

"Apa kabar, Kak?" tanya Riora sambil mengusap punggung Rumi.

"Sehat," jawab Rumi singkat. "Uhh, kangen banget," tambahnya sambil tersenyum.

"Udah lama banget ngga ketemu," balas Riora.

Mereka mengurai pelukan setelah melepas rindu.

"Baru juga tiga bulan yang lalu, yang," ucap Dante, suami Rumi, dengan nada ringan.

"Hai, apa kabar?" sapa Julien, suami Riora.

"Baik," jawab Dante sambil menjabat tangan Julien. "Kalian sendiri?"

"Kami baik," balas Julien. Ia lalu tersenyum tipis sebelum menambahkan, "Otw anak kedua," timpalnya sambil mengusap perut Riora yang masih datar.

Rumi refleks menutup mulut, matanya membulat, "Beneran?"

Riora mengangguk pelan, "Iya kak."

"Selamat," ucap Dante tulis, lalu memeluk Julien singkat.

"Semoga cewek ya, dek," harap Rumi.

"Amin," jawab Riora dan Julien hampir bersamaan.

"Ngomong-ngomong," Dante melirik ke sekeliling, "di mana tokoh utamanya?"

Keempat orang itu serempak mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru mansion. Namun, sosok Revo tak terlihat. Biasanya, setiap kali mereka datang, Revo selalu menjadi orang pertama yang menyambut. Kali ini, jangankan batang hidungnya—bayangannya pun tak ada.

Di saat seluruh keluarganya sibuk mengurus persiapan pernikahannya sendiri, Revo justru memilih dinas ke luar kota. Seolah ia ingin menegaskan satu hal sederhana namun dingin: Dia tidak peduli dengan pernikahan ini. Urus saja kalian semua.

Lampu temaram pub memantul di permukaan meja kayu yang lengket oleh sisa minuman. Musik pelan mengalun—cukup bising untuk menenggelamkan percakapan, tapi terlalu lirih untuk menenangkan pikiran.

Revo duduk sendirian di sudut bar.

Jasnya masih rapi, tapi kancing teratas terbuka. Segelas whiskey nyaris tak tersentuh di depannya. Tatapannya lurus ke depan, kosong—seolah kota ini hanya latar yang kebetulan lewat.

Ia ke sini bukan untuk minum. Ia hanya ingin menjauh.

Dari mansion yang terlalu ramai.

Dari pernikahan yang terlalu cepat.

Dan dari satu nama yang belakangan ini terlalu sering muncul di kepalanya—Candy.

Sejak beberapa hari terakhir, nama itu sering muncul di benaknya. Belum pernah bertemu saja, tapi namanya sudah gentayangan.

"Rev, gue mau ke toilet dulu," ujar Danny sambil bangkit. "Lu jangan kemana-mana!"

Revo tak bereaksi. Wajahnya tetap datar, seolah tidak mendengar apa pun selain pikirannya sendiri.

Danny melangkah perlahan melewati kerumunan orang yang larut dalam musik dan tawa. Lampu warna-warni berpendar kacau, membuat kepalanya sedikit pening.

Tanda toilet terlihat tak jauh di depan. Tinggal berbelok ke sudut kiri.

Lucunya, toilet pria dan wanita terletak berdampingan.

Selesai menuntaskan urusannya, Danny bergegas kembali. Namun baru beberapa langkah, seseorang menabraknya tanpa sengaja.

"Aduh, maaf! Teman saya mabuk," ujar suara seorang wanita panik.

Refleks, Danny meraih tubuh wanita yang nyaris terjatuh itu.

"Tidak apa-a—"

Ucapannya terhenti.

Darahnya serasa membeku saat melihat wajah wanita mabuk yang sedang ia topang.

Sherry.

Mantan Revo. Wanita yang pernah membuat bosnya itu sulit melepaskan masa lalu.

Kenapa dia ada di sini?

"Eh, maaf, Mas," sela wanita yang tadi bicara, buru-buru menarik tubuh Sherry dari pegangan Danny.

Danny tersentak sadar. Ia segera melepaskan Sherry dan menyerahkannya kembali ke temannya.

"Makasih," ucap wanita itu sambil memeluk Sherry erat.

Danny hanya mengangguk. Dadanya terasa sesak.

Tanpa menunda, ia merogoh ponsel dan mengetik pesan cepat untuk Bella. Bagaimanapun, Bella dan yang lain harus tahu—Sherry ada di negara ini.

Mereka sudah susah payah mendorong Revo menuju pernikahan. Kehadiran wanita itu bisa mengacaukan segalanya.

[Sayang, aku ketemu Sherry di pub. Untungnya dia mabuk, jadi belum sadar ada aku dan Revo. Aku bakal usahain bawa Revo balik ke hotel secepatnya.]

Pesan terkirim.

Danny menghela napas, lalu melangkah cepat kembali ke arah bar. Ia harus membujuk Revo pulang. Untungnya, mereka masih punya rapat besok pagi—alasan paling masuk akal untuk menarik Revo pergi dari tempat ini.

 

Sementara itu, di mansion Luneth.

Bella yang tengah membantu persiapan segera mencari Berlian begitu menerima kabar tersebut.

"Zia!" panggil Bella.

"Di sini, sayang," sahut Berlian.

Bella mendengar suaranya, tapi tidak melihat wujudnya. Ruang keluarga kini nyaris tak dikenali—dipenuhi tumpukan hadiah untuk Revo dan Candy.

"Zia di mana?" tanya Bella lagi.

"Di sudut," jawab Berlian.

Bella melangkah beberapa langkah, lalu berbelok. Benar saja, Berlian tengah sibuk memilah kado—memisahkan mana yang ditujukan untuk Revo dan Candy, dan mana yang hanya untuk Revo.

"Ternyata Zia di sini," ucap Bella lega.

"Ada apa?" tanya Berlian sambil menoleh.

Bella menyerahkan ponselnya tanpa banyak kata.

Mata Berlian langsung membulat. "Wanita itu kembali?"

Bella mengangguk cepat.

"Suruh Danny bawa Revo pulang sekarang juga!" tegas Berlian.

"Zia tahu sendiri sifat Kak Revo," ujar Bella hati-hati. "Mana mungkin dia mau diajak pulang begitu saja."

Berlian menghela napas pelan. "Kau benar."

"Jadi kita harus bagaimana, Zia?"

Berlian terdiam, memutar otak. Jika saja Revo berada di kota yang sama, ia bisa menyeret putra sulungnya itu pulang tanpa kompromi.

Sayangnya, kali ini jarak menjadi musuh.

Dan masa lalu—datang di saat yang paling tidak diinginkan.

---

Note:

Nonna (nenek, dalam bahasa Itali)

Nonno (kakek, dalam bahasa Itali)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!