ISTRI BERCADAR MAFIA
Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.
Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.
Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.
Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI BERCADAR MAFIA
Bab 8: Bayangan Masa Lalu dan Ujian Ketaatan.
Setelah mendapatkan izin dan hadiah buku hadits, semangat Sania kembali terangkat. Meskipun perhatian canggung Alaska membuat situasinya membingungkan, Sania melihat celah cahaya. Setidaknya, Alaska tidak lagi secara terang-terangan menentang imannya.
Sore harinya, Alaska menyerahkan sebuah amplop tertutup.
"Ini daftar sepuluh lokasi majelis taklim di kota ini yang sudah disaring tim keamananku," jelas Alaska dingin. "Mereka semua telah diverifikasi, tidak ada keterlibatan politik atau organisasi radikal. Kau pilih tiga, dan jadwalnya akan kusesuaikan. Kau akan diantar oleh Tino, dia pengawal baru yang berpakaian sipil, dia tidak akan mengganggumu. Ingat, satu jam. Tepat waktu."
Sania menerima amplop itu dengan anggukan.
"Terima kasih, Tuan Alaska."
Keesokan harinya, Sania memilih majelis yang diadakan di sebuah masjid kecil yang tidak terlalu mencolok, dipimpin oleh seorang ustazah. Ini adalah langkah pertamanya kembali ke dunia luar setelah terisolasi di "penjara emas" Alaska.
Cahaya di Tengah Kegelapan.
Mobil mewah itu berhenti agak jauh dari masjid. Tino, pengawal bertubuh besar namun berwajah ramah, membukakan pintu.
"Nyonya Sania, saya akan menunggu di warung kopi seberang. Jika ada masalah sekecil apa pun, panggil saya dengan kode ini," bisik Tino, menyerahkan sebuah alat kecil seperti earphone tersembunyi.
Sania mengangguk, merasa sedikit tidak nyaman dengan keamanan tingkat tinggi, namun ia bersyukur.
Saat Sania memasuki masjid, suasana ketenangan langsung menyambutnya. Aroma wangi dupa dan udara sejuk AC memenuhi ruang. Puluhan wanita duduk bersila, mendengarkan ceramah ustazah dengan khusyuk. Sania duduk di barisan belakang, berusaha tidak menarik perhatian.
Majelis itu membahas tentang kesabaran seorang istri menghadapi ujian rumah tangga. Sania merasa seolah ustazah itu berbicara langsung padanya. Setiap kata adalah penawar untuk luka hati dan kebingungannya.
Namun, di tengah pengajian, perhatian Sania teralihkan pada seseorang yang baru masuk dan duduk di barisan paling depan.
Seorang wanita paruh baya, anggun, dengan busana muslimah yang sangat berkelas. Wajahnya memancarkan aura lembut namun tegas. Ia adalah Nyai Ratih, istri dari Kyai Hamzah, seorang ulama besar yang sangat dihormati dan memiliki pengaruh kuat di kalangan konservatif.
Nyai Ratih terkenal karena proyek-proyek amalnya yang masif dan sering menentang keras segala bentuk maksiat, termasuk bisnis gelap seperti yang dijalankan Black Vipers. Sania mengenali nama itu dari berita.
Saat majelis selesai, Nyai Ratih berbalik dan matanya langsung tertuju pada sosok Sania yang mengenakan cadar dengan sentuhan modern. Ada kelembutan yang mendorong Nyai Ratih mendekat.
"Nak, saya jarang melihat wajah baru di majelis ini," sapa Nyai Ratih dengan senyum hangat.
"Siapa nama kamu, Nak?"
"Nama saya Sania, Nyai," jawab Sania, mencoba mempertahankan ketenangan.
"Sania. Nama yang indah. Dari mana kamu berasal?"
Sania ragu sejenak. Menyebut nama Alaska sama saja dengan menyebutkan bahwa ia berasal dari dunia yang berlawanan dengan Kyai Hamzah.
"Saya... dari luar kota, Nyai. Saya baru tinggal di sini," jawab Sania samar-samar.
Nyai Ratih meraih tangan Sania dan menggenggamnya lembut.
"Nak, wajahmu... memancarkan kesedihan yang dalam. Mata kamu terlihat lelah, tetapi di saat yang sama, memancarkan iman yang kuat. Apapun ujianmu, bertahanlah pada Allah."
"Terima kasih atas nasihatnya, Nyai," bisik Sania, merasa terharu.
Nyai Ratih adalah kehangatan yang ia rindukan.
"Jika kamu tidak keberatan, besok majelis ada di rumah kami, di kompleks pesantren. Kami membahas tentang hakikat sakinah dalam pernikahan. Datanglah, Nak. Saya merasa kita perlu berbicara lebih lanjut," ajak Nyai Ratih tulus.
Sania merasa dilema. Pergi ke pesantren Kyai Hamzah? Itu sama saja melangkah ke sarang lebah bagi Alaska. Kyai Hamzah adalah salah satu tokoh yang paling vokal menentang operasi Black Vipers secara moral.
"Saya... akan coba. Saya harus mendapat izin dari suami saya, Nyai," kata Sania jujur.
"Tentu. Restu suami adalah yang utama," ujar Nyai Ratih. "Kalau begitu, saya tunggu. Semoga Allah memudahkan urusanmu."
Sania meninggalkan masjid dengan pikiran berkecamuk. Ia bahagia mendapatkan komunitas dan nasihat, tetapi ia kini harus membawa kabar buruk pada suaminya.
Pertemuan Penuh Risiko.
Tiba kembali di mansion, Sania segera mencari Alaska. Pria itu berada di gym pribadinya, sedang berlatih tinju dengan wajah tegang.
Sania menunggu sampai Alaska selesai. Keringat membasahi tubuhnya, menampakkan otot-otot yang keras.
"Sudah kembali?" tanya Alaska, suaranya serak. Ia mengambil handuk, tidak menoleh. "Bagaimana majelismu? Menghibur?"
"Sangat menenangkan, Tuan," jawab Sania. "Saya bertemu dengan seseorang yang sangat baik di sana. Nyai Ratih, istri dari Kyai Hamzah."
Alaska berhenti mengelap keringat. Tubuhnya langsung menegang.
"Nyai Ratih?" ulang Alaska, berbalik. Matanya tajam, penuh kecurigaan. "Kau bertemu istri dari musuh bebuyutanku?"
"Bukan musuh bebuyutan, Tuan. Kyai Hamzah adalah penentang moralitas, bukan musuh bisnis Anda," koreksi Sania. "Dan Nyai Ratih sangat ramah. Ia mengundang saya untuk datang ke majelis di pesantrennya besok."
Wajah Alaska gelap. Ia melempar handuknya ke lantai.
"TIDAK AKAN!" bentak Alaska. Kemarahan lamanya kembali. "Kau pikir aku bodoh?! Kyai Hamzah itu adalah duri dalam dagingku! Dia selalu menggerakkan opini publik melawanku! Kau ingin menjadi mata-mata untuknya?! Kau ingin menempel di sayapnya dan menuntutku untuk bertobat di depan umum?!"
Sania berdiri tegak, tidak gentar.
"Tuan, itu tuduhan yang tidak adil. Saya hanya ingin belajar agama. Nyai Ratih mengundang saya dengan tulus."
"Tulus katamu?! Tidak ada yang tulus di dunia ini! Semua orang ingin memanfaatkanmu, Sania! Zaydan memujimu, dan sekarang istri Kyai Hamzah ingin merekrutmu! Kau tidak akan pergi ke pesantren itu!"
Sania mengambil napas dalam-dalam. Inilah ujiannya. Ia harus mengingatkan Alaska pada komitmennya, pada pelajaran tentang ghirah yang baru saja ia pelajari.
"Tuan Alaska, dua hari lalu Anda bertanya apa yang harus Anda lakukan untuk mendapatkan ridho saya. Anda bertanya bagaimana cara menghargai saya sebagai hamba Allah," Sania memulai, suaranya tenang, namun penuh kekuatan.
"Anda memberi saya izin untuk mencari ilmu. Sekarang, ada pintu ilmu yang terbuka, dan Anda menutupnya hanya karena ego bisnis Anda. Apakah ini cara Anda membimbing saya pada kebaikan? Apakah Anda cemburu jika saya menjadi lebih taat?"
Alaska terdiam, kata-kata Sania menamparnya lagi. Ego bisnis. Ia menyadari, ia masih memprioritaskan kekuasaan dan bisnisnya di atas kebaikan istrinya.
"Aku melarangmu karena itu berbahaya!" bela Alaska. "Aku tidak ingin kau dimanfaatkan. Kyai Hamzah sangat membenciku, Sania."
"Justru di situlah letak kebenarannya, Tuan," Sania melanjutkan. "Jika Anda benar-benar menghargai saya sebagai istri, lindungi saya dari diri Anda sendiri. Biarkan saya menjemput ilmu, dan jika Kyai Hamzah atau Nyai Ratih mencoba memanfaatkan, lindungi saya dengan menjaga lisan dan perbuatan saya. Tapi jangan halangi ketaatan saya!"
Alaska berjalan mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari cadar Sania.
"Dengar, Sania," desisnya. "Kau adalah istri seorang mafia. Kau tidak bisa memilih teman. Kau hanya boleh taat padaku. Aku akan mengizinkan majelis lain. Tapi bukan yang satu ini."
Sania memejamkan mata sesaat. Ia tidak bisa melanggar perintah suami, tapi ia tidak boleh membiarkan imannya dibatasi oleh ketakutan duniawi Alaska.
"Saya akan taat, Tuan. Saya tidak akan datang ke majelis Nyai Ratih," kata Sania, nadanya penuh kesedihan. "Tapi ingatlah janji Allah: taat pada suami tidak akan membawa istri pada surga, jika suami melarang istri menuju ketaatan. Anda melarang saya karena Anda takut pada manusia, bukan takut pada Allah."
Sania menunduk, lalu berbalik meninggalkan Alaska yang kini merasa terpukul oleh tuduhan itu. Ia kembali ke kamarnya, merasa lelah, tetapi hatinya kuat. Ia sudah mencoba. Kini ia menyerahkan hasilnya pada Allah.
Alaska melihat Sania pergi. Ia meraih sebuah punching bag dan memukulnya keras, melampiaskan frustrasi. Ia merasa terjebak. Di satu sisi, ia ingin menjadi suami yang baik menurut definisi Sania. Di sisi lain, ia harus menjaga kerajaannya dari intervensi moral Kyai Hamzah.
Ia tidak tahu bahwa Nyai Ratih, setelah bertemu Sania, telah menelepon suaminya, Kyai Hamzah.
"Suamiku, di majelis tadi aku bertemu seorang gadis bercadar. Matanya sedih, tapi sangat teguh. Aku merasa ia sedang menghadapi ujian pernikahan yang besar. Aku mengajaknya besok. Aku merasa terpanggil untuk menolongnya," kata Nyai Ratih tulus pada suaminya.
Kyai Hamzah hanya menjawab: "Semoga Allah memberkahi niatmu, istriku. Kita harus menolong hamba Allah yang sedang berjuang, siapapun suaminya."
Tanpa Alaska sadari, keputusannya untuk melarang Sania justru telah menarik perhatian dua orang paling berpengaruh di kota itu. Alaska telah menutup satu pintu ketaatan, namun telah membuka pintu yang jauh lebih berbahaya.
__Ujian ketaatan bukan pada kemudahan memilih, melainkan pada ketegasan menaati kebenaran, bahkan di bawah ancaman orang terdekat__
__Seorang suami yang melarang istrinya mencari kebaikan karena takut pada manusia, sesungguhnya sedang membangun kerajaannya di atas pasir ketakutan, bukan di atas batu keimanan__
Bersambung ....