NovelToon NovelToon
Pria Manis Yang Ku Benci

Pria Manis Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:214
Nilai: 5
Nama Author: ScarletWrittes

Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

“Kamu kayaknya salah paham deh; aku nggak pernah punya fans. Lagian, siapa juga yang akan sama aku; kan aku orang biasa, buat apa juga difansin.”

Alia hanya menggelindingkan matanya ke arah atas, dan tidak sadar ada papanya. Setelah itu, Alia langsung menarik Arnold tanpa berkata apa-apa.

“Kamu kenapa sih; kayaknya makin hari kamu makin agresif, dan aku semakin takut sama kamu. Bisa nggak sih kalau kamu ngapa-ngapain tuh, kasih tahu aku dulu gitu; kasih aba-aba.”

“Sst; diem, jangan berisik dulu.”

Arnold penasaran; ada apa dengan Alia. Nggak seperti biasanya dirinya seperti ini, dan tumben-tumbenan dirinya takut atas sesuatu. Apakah ada yang membuatnya takut sehingga dia seperti ini?

Arnold semakin penasaran, dan akhirnya mencoba untuk melihat; tetapi Alia meraih kedua pipi Arnold tanpa berkata apa-apa, dan itu membuat Arnold tidak bisa berbuat apa-apa.

“Kamu bisa diam aja nggak sih; kan aku udah suruh kamu diam, kenapa kamu nggak bisa banget diem?”

“Sebenarnya kamu manggil aku ‘kamu’ atau ‘gua–lu’ nih; jangan bikin aku salah paham bisa nggak?”

“Ya udah; mulai sekarang kita panggilnya ‘aku–kamu’ aja, jangan ‘gue–elu’. Tapi kalau di depan orang lain, kita tetap ‘gue–elu’ ya; paham kan?”

Arnold hanya tersenyum mendengar perkataan Alia. Nggak lama, Alia terus mendekap Arnold tanpa berkata apa-apa. Arnold, yang tidak pernah dipeluk seorang wanita kecuali mamanya, malah menikmati setiap momennya bersama Alia; tapi Alia merasa ada yang aneh dengan Arnold. Walau begitu, Alia tidak mau menegur Arnold karena dirinya juga nyaman dengan itu.

Setelah kondisi sudah aman dan papa Alia juga sudah pergi, Alia langsung melihat ke arah Arnold; tetapi Arnold malah tidur di dalam dekapan Alia.

Alia hanya tersenyum dan merasa wajah Arnold sangat lucu, sehingga dirinya tidak bisa berkata apa-apa. Tidak lama, Alia mencoba untuk menatap Arnold lebih dalam.

“Kenapa aku ganteng ya?”

Alia, yang tahu Arnold pura-pura tidur, merasa kesal dan langsung menoyor kepala Arnold.

“Gila ya; pergi sana, berat tahu. Kalau tahu pura-pura tidur, tidak mau panggil.”

Arnold hanya tersenyum, tidak berkata apa-apa. Nggak lama, mereka keluar dari ruangan itu dan ketahuan oleh papa Alia.

“Al!”

Alia kaget saat mendengar suara papanya. Tidak lama mereka berbicara di mobil papa Alia; Alia hanya diam.

“Al, kamu harus jelasin ke papa apa maksudnya ini; kenapa kamu keluar sama pria di halaman belakang sekolah kamu? Papa kecewa; papa kira selama ini kamu sekolah yang benar, ternyata kamu diam-diam pacaran tanpa seizin papa. Kamu lupa papa bilang apa ke kamu?”

“Maaf, Pa; Alia hanya temenan aja sama kakak kelas Alia; kita nggak ada apa-apa, ya kan, Kak?”

“Maaf om; saya emang pacar Alia, dan Alia emang sering belajar sama saya, om. Maafin saya, om; kalau om mau marah, marah sama saya aja, jangan sama Alia, om. Karena Alia nggak ada salah apa-apa.”

Papa Alia yang mendengar itu merasa kesal dengan sikap pria yang mendekati anaknya ini. Justru karena pria ini, papanya berselisih dengan Alia. Tidak lama, Alia mencoba menenangkan papanya.

“Pa, udah dong; Alia tahu Alia salah. Tapi kan, Alia juga tidak apa-apa pacaran; toh umur Alia cukup, Pa. Kalau tidak cukup, gimana Alia bisa pacaran? Emang papa tidak takut Alia jomblo terus? Papa suka Alia jomblo, ya?”

Papa yang mendengar Alia berkata demikian, menjadi kesal dan marah kepada Alia; seolah-olah Alia sedang menantang papanya sendiri. Walau dirinya sudah memiliki pacar, Alia jadi berani melawan papanya.

“Ya sudah; kalau emang kamu mau pacaran sama pria ini, jangan panggil papa dengan sebutan ‘papa’ kamu lagi, ya.”

Alia bingung ada apa dengan papanya; kenapa papanya begitu kejam kepadanya. Papanya membuang barang yang ia bawa untuk Alia; Alia hanya diam dan kesal dengan papanya, sembari mengepal tangan.

Arnold mencoba menenangkan Alia; tidak lama, Alia melihat ke arah Arnold, dan Arnold mencoba mendekap erat Alia, tapi Alia tidak melawan sama sekali.

“Ayo kita ke kelas, Alia; jangan buang-buang waktu kamu di sini. Daripada kamu terus marah sama papa kamu tanpa alasan yang jelas.”

“Ok.”

Alia dan Arnold pergi ke kelas bersama. Nggak lama, Alia menatap ke arah Arnold, dan Arnold langsung tersenyum kepada Alia.

“Kenapa sih harus senyum begitu; kesambet kamu?”

“Lah, maunya aku marah? Ya sudah, aku marah, ya.”

Alia tanpa sadar ketawa dengan ledekan Arnold kepadanya. Arnold yang melihat Alia senyum, tanpa sadar mengusap kepala Alia.

Alia terdiam saat Arnold melakukan hal itu, dan menatap ke arah Arnold. Arnold mencoba untuk menahan dirinya; tidak lama, akhirnya Arnold pergi dari hadapan Alia.

Arnold takut akan menyakiti Alia; sedangkan Alia malah menikmati momen yang ada saat bersama Arnold.

Alia hanya pergi ke kelas tanpa berkata apa-apa. Tidak lama, Alia hanya merenung dan terus memikirkan Arnold; entah kenapa, Alia merasa kalau dirinya ingin segera memiliki Arnold.

Pulang sekolah

Alia terus memikirkan Arnold; tapi Arnold hanya mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Handphone Alia berdering dari mamanya.

Tanpa sadar, Alia mengangkat telepon itu dengan perasaan dan tatapan kosong, sambil memikirkan Arnold.

“Halo, Alia.”

“Ya, Arnold—”

Alia kaget saat membicarakan tentang Arnold, dan saat melihat siapa lawan bicaranya, Alia langsung mengusap dada sambil menjawab kembali.

“Halo, Mama; ada apa, Ma? Kaget aku. Ada apa, Ma?”

“Kamu habis pulang sekolah ke mana?”

“Gak ke mana-mana; kenapa emang, Ma?”

Mama mulai beda nada bicaranya; Alia takut saat mamanya berbeda nada. Nggak lama, Alia langsung serius kepada mama.

“Maaf, Ma; ada apa, Ma?”

“Ayo nanti pulang sekolah mama jemput.”

“Aku udah pulang, Ma; atau mama mau langsung ketemu aja di sana?”

“Mama sudah di sini, sih; kamu naik aja ke mobil mama.”

Alia melihat kanan-kiri, mencari di mana mobil mamanya. Tidak lama, Alia naik ke mobil itu; setelah itu, Alia langsung diam sama mamanya.

“Mau ke mana kita, Al?”

“Terserah mama; Alia ikut mama aja.”

Mama mengendarai mobilnya ke arah vila yang ada di Bogor. Setelah itu, Alia bingung kenapa mama mengarahkan mobilnya ke arah vila di Bogor.

“Ma, mama ajak aku ke sini ngapain sih?”

“Yah, biar kita lebih santai aja ngomongnya. Kamu mau makan apa?”

“Makan apa aja, Ma; terserah mama. Alia ganti baju dulu, ya, Ma.”

“Ya, sayang.”

Alia pergi ganti baju. Nggak lama setelah ganti baju, ada banyak makanan. Alia merasa aneh dengan mamanya; walau bagaimanapun, sepertinya mamanya mau bicarain hal yang serius.

“Mama mau bicara apa sih sama Alia?”

“Hari ini kamu dianterin papa kamu, kan?”

“Iya; terus kenapa, Mah?”

“Papa kamu bicara apa aja sama kamu? Dan nggak papa, jujur aja sama mama; mama sih nggak bakal nggak sayang kamu, tapi mama mau dengar aja dari sisi kamu gimana.”

Alia mencoba untuk jujur, tapi kenapa susah banget, ya. Udah sampai akhirnya, Alia menghela napas panjang dan melihat ke arah mamanya.

“Jadi tadi aku dianterin papa ke sekolah; terus, barang aku ada yang ketinggalan, dan nggak sengaja papa ketemu sama calon suami aku.”

“Terus, kamu bicara apa sama papa kamu; dan gimana reaksi papa kamu pas saat ketemu calon menantunya?”

Alia sempat kaget saat mendengar mama berkata demikian; tetapi nggak tahu kenapa, hati Alia sangat senang karena disetujui oleh mamanya untuk dirinya bersama Arnold.

“Hem… papa marah karena aku sama Arnold keluar dari tempat gudang untuk bicara.”

“Kenapa kamu ke gudang sama Arnold; emang ada urusan apa?”

“Sebenarnya sih, Ma, nggak ada urusan; cuman aku sama Arnold lagi mau bicara aja. Kebetulan di sana sepi, gitu.”

Mama mulai menatap Alia dengan perasaan nggak enak; begitu juga dengan Alia. Tapi Alia harus tetap tegar di depan mamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!