NovelToon NovelToon
Back To Us, Zehar & Alesha

Back To Us, Zehar & Alesha

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meminta Nomor Baru

Jam dinding di lobi hotel menunjukkan pukul sepuluh lewat sepuluh menit malam. Pintu ruang makan malam akhirnya terbuka lebar, dan tamu‑tamu undangan mulai keluar satu per satu, disertai suara percakapan santai dan tawa ringan yang menandakan acara telah berjalan lancar dan memuaskan.

Zehar yang sejak tadi berdiri di dekat pintu keluar segera memberi isyarat kepada timnya untuk tetap waspada, sementara pandangannya secara alami tertuju mencari satu sosok yang paling ia nantikan.

Tak lama kemudian, Alesha muncul di antara kerumunan terakhir. Wajahnya tampak sedikit lelah setelah berjam‑jam berbicara dan bernegosiasi, namun senyumnya tetap terjaga dengan anggun saat berpamitan dengan para tamu.

Begitu selesai mengantar tamu terakhir, ia berdiri sejenak di tepi lorong, menunggu Dinda yang sedang mengurus berkas‑berkas penting di meja resepsionis.

Zehar menarik napas panjang, menenangkan detak jantung yang tiba‑tiba berpacu lebih cepat dari biasanya. Ia memastikan tidak ada halangan tugas yang tersisa, lalu melangkah mendekat dengan langkah yang tenang namun mantap.

“Selamat malam lagi, Bu Alesha,” sapa Zehar dengan nada yang lebih santai dibandingkan saat mereka bertemu tadi malam.

Alesha terkejut sejenak, lalu berbalik dan melihat Zehar berdiri di belakanhnya. Cahaya lampu lobi yang lembut menyinari wajah pria itu, membuatnya tampak lebih tenang dan tidak lagi terlihat kaku seperti sebelumnya.

“Selamat malam, Pak Zehar. Acara berjalan dengan lancar, terima kasih banyak atas pengawasan ketat dari tim Bapak,” jawab Alesha sopan, namun ada sedikit kehangatan yang terselip dalam ucapannya.

“Tidak perlu berterima kasih, itu memang sudah menjadi tugas kami,” jawab Zehar sambil menatap matanya lekat‑lekat.

Ia ragu sejenak, lalu memutuskan untuk langsung menyampaikan apa yang selama ini mengganjal pikirannya.

“Ada satu hal yang ingin saya tanyakan secara pribadi, jika Ibu Alesha berkenan untuk menjawabnya.”

Alesha menautkan alisnya sedikit, penasaran.

“Silakan saja, tidak ada pertqnyaan yang perlu disembunyikan jika itu bukan hal yang buruk.”

Zehar menelan ludah sebentar, lalu mengucapkan pertanyaan itu dengan suara yang jelas dan tegas, meski nadanya terasa agak gugup.

“Selama tujuh tahun ini… apakah kehidupan pribadimu sudah berubah? Maksud saya, apakah saat ini kamu sudah memiliki pendamping hidup?”

Pertanyaan itu terdengar lugas dan terus terang, membuat Alesha tertegun sejenak. Wajahnya yang tadinya tenang kini menjadi sedikit memerah, namun ia tetap menatap lurus ke mata Zehar.

Ia mengerti makna di balik pertanyaan itu, ia tahu Zehar kini ingin memastikan apakah masih ada ruang baginya untuk kembali masuk ke dalam hidup wanita itu.

Setelah hening beberapa detik, Alesha menggeleng pelan dan menjawab dengan nada lembut namun pasti.

“Belum. Sampai saat ini, saya masih sendiri. Belum ada siapa pun yang mengisi posisi itu selama ini.”

Jawaban itu seolah melepaskan beban berat yang selama ini tergantung di dada Zehar. Sebuah senyum tipis namun tulus terukir di bibirnya, dan tatapan matanya terasa lebih terang serta penuh harapan.

Rasa gengsi dan keraguannya perlahan luntur, digantikan oleh keberanian yang muncul dengan sendirinya.

“Syukurlah, saya senang mendengarnya,” ucap Zehar jujur, tanpa berusaha menyembunyikan perasaannya lagi. “Kalau begitu, bolehkah saya meminta satu hal lagi?”

“Apa itu?” tanya Alesha dengan rasa ingin tahu yang semakin besar.

“Bolehkah saya meminta nomor ponselmu yang sekarang. Nomor lama yang dulu pernah saya simpan sudah tidak aktif lagi sejak bertahun‑tahun silam. Saya ingin memiliki jalur komunikasi yang benar dan terhubung langsung denganmu,” jelas Zehar terus terang.

“Saya tidak bermaksud mengganggu kesibukanmu, tapi saya ingin memulai langkah baru. Sebagai teman, atau setidaknya sebagai orang yang ingin tahu kabarmu secara teratur.”

Alesha terdiam sejenak, merasakan jantungnya berdebar kencang namun kali ini bukan karena rasa takut atau bingung, melainkan karena rasa lega dan harapan yang tiba‑tiba hadir.

Ia menatap Zehar, melihat ketulusan yang terpancar dari sorot matanya, sama seperti ketulusan yang ia kenal bertahun‑tahun yang lalu. Perlahan, senyum tipis terukir juga di bibirnya.

“Baiklah,” jawabnya pelan namun tegas. “Tuliskan saja nomornya.”

Alesha sebenarnya hapal benar dengan nomor ponselnya sendiri, tapi karena gugup ia memilih mengambil ponsel dari dalam tasnya, membacanya dari sana lalu menyebutkan satu per satu deretan angka nomor ponsel barunya.

Zehar segera mencatatnya dengan teliti di dalam buku catatan kecil yang selalu ia bawa, lalu menutupnya dengan hati‑hati seolah itu adalah barang paling berharga malam itu.

“Saya akan menghubungimu nanti,” ucap Zehar sambil menyimpan kembali buku catatannya ke dalam saku seragam.

“Dan saya berjanji, tidak akan menghubungi jika tidak ada keperluan yang jelas, kecuali hanya sekadar menanyakan kabar.”

“Tidak apa‑apa, Pak Zehar.” balas Alesha lembut. “Saya juga ingin tahu bagaimana kabarmu ke depannya.”

Saat itu Dinda datang menghampiri sambil membawa tas dokumen.

“Bu, semuanya sudah beres. Kita bisa pulang sekarang.”

Alesha mengangguk, lalu menoleh kembali ke arah Zehar.

“Saya harus pulang dulu. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya malam ini.”

“Silakan, hati‑hati di jalan. Mari, Saya akan mengantar Ibu Alesha untuk memastikan sampai ke pintu depan aman,” jawab Zehar dengan senyum yang lebih lebar.

Ia berjalan mendampingi Alesha dan rombongannya hingga ke pintu utama, berdiri tegak mengawasi hingga mobil sedan hitam yang menjadi kendaraan Alesha melaju perlahan keluar dari halaman parkir dan menghilang di tikungan jalan raya.

Hingga saat itu, Zehar masih berdiri di tempatnya, memegang saku bajunya tempat buku catatan itu disimpan, dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan tenang dibandingkan saat ia baru datang ke tempat itu malam ini.

Setelah memastikan semua tugas pengamanan selesai sepenuhnya dan memberi laporan terakhir ke kantor pusat, Zehar melangkah masuk ke dalam mobil patroli yang akan membawanya pulang ke asrama dinas.

Begitu duduk di kursi kemudi, ia segera mengeluarkan ponsel pribadinya, membuka menu daftar kontak, dan mengetikkan nomor yang baru saja ia dapatkan.

Ia menyimpannya dengan nama yang sederhana, nama yang sudah lama tidak ia tulis, namun selalu terukir jelas di dalam hatinya selama tujuh tahun perpisahan itu.

Sementara itu, di dalam mobil yang melaju menuju kediamannya, Alesha juga tidak bisa menahan senyum kecil yang terukir di bibirnya.

Ia memegang ponselnya, merasakan ada perubahan kecil namun jelas di dalam hatinya. Rasa ragu yang sempat ia rasakan kini perlahan tergantikan oleh perasaan yang lebih hangat.

Ia sadar, pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, dan langkah yang baru saja mereka ambil adalah awal dari perjalanan yang mungkin tidak akan mudah, namun setidaknya kini pintu yang tertutup rapat selama bertahun‑tahun itu mulai terbuka kembali sedikit demi sedikit.

Malam itu, dua hati yang pernah terpisah kini memiliki jembatan penghubung baru. Zehar sudah berani mengambil langkah awal, dan ia bertekad untuk menjaga kesempatan ini sebaik mungkin, tidak akan membiarkan masa lalu terulang kembali membuat mereka terpisah lagi.

1
Siti Sarfiah
cinta yg lama hilang akhirnya tersambung kembali👍💪
Siti Sarfiah
lancar kan urusannya kalau mengalah dari egois lanjutkan lagi cinta yg terputus dan perbaiki kembali
Siti Sarfiah
maju pakpol , buang jauh" egomu bisa nyesal kalau d ambil orang
Siti Sarfiah
itulah sama" egois🤭💪
Siti Sarfiah
pakpol yg buang" waktu , bilang saja ingin mengenang masa lalu😄👍
Siti Sarfiah
cinta lama bersemi kembali😍👍💪
Siti Sarfiah
dengan bertugasnya AKP zehar d daerah yg d tuju akan aman selalu👍💪
Siti Sarfiah
mantap ibu Dirut yg jenius👍
Elisabeth Ratna Susanti
semoga pak Zehar beneran tulus ya
Rosella
udh, 🙏
kalah saing kmu erhan
Rosella
baguss
Rosella
Zaskia sadar krna di bayarin tuh utang, coba kalau ga d bayarin, apa masih Nerima Zehar 😏
Rosella
sepakat din🙏
Rosella
keren juga Dinda 😍.
real sahabat ini mah😍
Elisabeth Ratna Susanti
harus tetap tegak berdiri 👍🥰
Rosella
aku paling suka karakter Zehar. apa yang dia ucapkan pasti positif. keren thor.
kalau bisa up banyak y. plis 🙏
Rani: tengkyu.

siapp,😍
demi readers rela up banyak kok😍
total 1 replies
Rosella
sudah pasti terpecah belah lah. gila aja anak sendiri di jadikan bahan untuk balas Budi.😏
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
ibu aja yg nikah sama erhan noh. kehormatan apaan, ngorbanin anak
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
egois bnget si ibu
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
idih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!