NovelToon NovelToon
TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: My_Sunshine

Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.

Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianat kecil

Keesokan paginya,

Tiara yang masih keras kepala kembali menolak saat Kinanti menawarkan sarapan untuknya. Ia hanya meminum segelas susu sebelum berpamitan kepada Keenan untuk berangkat ke sekolah. Seperti biasa, gadis itu tak pernah mau mencium tangan ibu sambungnya. Setiap kali Keenan menegur, Tiara selalu bersikap acuh tak acuh.

“Mbak Tiara kok nggak pernah mau makan masakan Tante Kinanti? Padahal makanannya selalu enak, lho,” ujar Daffa.

Pagi itu, bocah laki-laki tersebut menikmati sarapan nasi goreng dan telur dadar yang memang menjadi menu favoritnya.

“Mungkin dia sedang buru-buru,” jawab Kinanti sambil meletakkan sepiring irisan mangga di atas meja makan.

“Baru juga jam segini. Nggak mungkin Mbak Tiara terlambat,” sahut Daffa polos.

Kinanti hanya menanggapi dengan senyum tipis.

“Yudha mana? Apa dia belum bangun?” tanya Keenan.

“Sepertinya masih di kamar,” jawab Kinanti.

Keenan menghela nafas,

“Mentang-mentang nggak sekolah, dia jadi bermalas-malasan.”

“Kenapa Mas Yudha nggak sekolah?” tanya Daffa penasaran.

“Hari ini sekolahnya libur,” jawab Kinanti cepat.

“Guru-gurunya rapat lagi, ya?”

Kinanti mengangguk sambil tersenyum.

“Iya.”

Daffa menerima jawaban itu begitu saja. Ia kembali fokus menghabiskan sarapannya, sementara Keenan dan Kinanti saling berpandangan sejenak. Keduanya sepakat untuk tidak menceritakan alasan sebenarnya mengapa Yudha berada di rumah.

Di kamarnya, Yudha yang baru terbangun meregangkan tubuhnya. Mendengar suara percakapan dari ruang makan, ia hanya mendengus. Bayangan kejadian kemarin kembali terlintas di benaknya.

Rasa kesal yang sempat mereda kini kembali muncul. Terlebih saat mengingat bagaimana ayahnya membentaknya di depan Kinanti dan Kalila.

Rencana yang semalam ia susun bersama Tiara kembali teringat di kepalanya. Dan kali ini, ia bertekad untuk menjalankannya.

“Yudha, bangun!” seru Keenan dari depan pintu kamar.

“Iya... ini sudah bangun,” sahut Yudha dari dalam.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka. Yudha muncul dengan rambut masih berantakan dan wajah yang terlihat mengantuk.

“Mentang-mentang nggak sekolah, jam segini baru bangun. Kamu nggak shalat Subuh, ya?” tegur Keenan.

“Aku lupa pasang alarm.”

Keenan menghela nafas,

“Cepat cuci muka, lalu sarapan.”

“Aku belum lapar.”

“Sampai kapan kamu akan menolak masakan ibumu?”

Yudha menatap ayahnya datar.

“Dia bukan ibuku. Kenapa aku harus memanggilnya ibu?”

“Kamu…”

“Mas, ada yang menelepon, nih,” sela Kinanti.

Perempuan itu menunjuk ponsel Keenan yang bergetar di atas meja makan. Keenan mengurungkan niatnya melanjutkan perdebatan. Ia melangkah menuju meja makan lalu meraih ponselnya. Kinanti tak begitu memperhatikan obrolan itu, tetapi dari raut wajah suaminya, ia bisa menebak bahwa panggilan tersebut berkaitan dengan pekerjaan.

Setelah beberapa menit berbicara, Keenan mengakhiri panggilan lalu merapikan dasinya.

“Kinan, Daffa, Ayah berangkat ke kantor dulu, ya.”

Daffa yang sedang menikmati sarapannya langsung mendongak.

“Tumben Ayah berangkat sepagi ini. Mobil jemputanku saja belum datang.”

“Pagi ini ada rapat direksi, jadi Ayah harus berangkat lebih awal.”

“Orang dewasa memang suka rapat, ya?” tanya Daffa polos.

Keenan tersenyum tipis.

“Rapat itu penting untuk jalannya perusahaan. Di dalam rapat, Ayah dan rekan-rekan kerja bisa saling bertukar ide dan mencari solusi. Nanti kalau Daffa sudah besar dan masuk dunia kerja, Daffa juga akan mengerti.”

Daffa mengangguk-anggukkan kepalanya seolah benar-benar memahami penjelasan itu.

“Kinan, Mas berangkat dulu.”

Kinanti segera meraih tangan suaminya dan menciumnya dengan penuh takdzim.

“Hati-hati ya, Mas. Semoga pekerjaan Mas hari ini lancar.”

“Aamiin.”

Keenan lalu menoleh kepada putra bungsunya.

“Daffa, belajar yang rajin di sekolah. Jangan jahil sama teman-temanmu.”

Sambil tersenyum, ia merapikan rambut Daffa yang sebenarnya sudah tersisir rapi oleh Kinanti sejak selesai mandi pagi.

“Siap, Bos!” jawab Daffa mantap sambil mengangkat tangan ke pelipis seperti seorang prajurit yang sedang memberi hormat. Keenan terkekeh melihat tingkah putranya.

Setelah mengambil kunci mobil, ia melangkah meninggalkan ruang makan. Tak lama kemudian, suara mesin mobilnya terdengar menjauh dari halaman rumah.

“Tante Kinan,” panggil Daffa.

“Ya? Ada apa?” sahut Kinanti sambil menoleh.

“Maafin aku, ya.”

Kinanti mengernyit bingung.

“Minta maaf untuk apa?”

Daffa menundukkan kepala. Jemarinya memainkan garpu di atas piring yang sudah kosong.

“Kemarin... waktu Tante pertama kali datang ke rumah ini, aku sudah jahat sama Tante. Aku dorong Tante sampai hampir jatuh. Selain itu, aku juga nyiram baju Tante pakai susu cokelat.”

Kinanti terdiam sesaat, lalu tersenyum lembut.

“Tante malah sudah lupa sama kejadian itu.”

Daffa mengangkat wajahnya perlahan.

“Jadi... Tante mau maafin aku?”

“Tante sudah memaafkan Daffa jauh sebelum Daffa minta maaf.”

Mata bocah itu langsung berbinar. Senyum lebar merekah di wajahnya hingga memperlihatkan deretan gigi kecil yang rapi. Melihat ekspresi bahagia itu, Kinanti tak kuasa menahan gemas. Ia mencubit pelan pipi Daffa.

“Anak baik.”

Daffa terkekeh pelan sambil mengusap pipinya yang dicubit.

Dari balik dinding yang memisahkan ruang makan dengan lorong menuju kamar, Yudha tanpa sengaja mendengar seluruh percakapan itu.

Sejak awal, ia, Tiara, dan Daffa sudah sepakat untuk membuat Kinanti tidak betah tinggal di rumah mereka. Mereka ingin perempuan itu menyerah dan pergi dengan kemauannya sendiri.

Namun sekarang, semuanya mulai berubah. Daffa yang dulu paling keras menolak kehadiran Kinanti justru terlihat semakin dekat dengan ibu sambung mereka. Bocah itu bahkan sudah berani meminta maaf dan mengakui kesalahannya.

Perlahan, rasa kesal menjalari dada Yudha. Baginya, sikap Daffa terasa seperti sebuah pengkhianatan terhadap kesepakatan yang pernah mereka buat bersama.

"Apa Daffa sudah mulai melupakan ibu?" gumamnya.

“Pim! Pim! Pim!”

Yudha tersentak saat suara klakson terdengar dari arah halaman rumah. Itu adalah mobil antar-jemput sekolah yang biasa menjemput Daffa setiap pagi.

Bocah laki-laki itu segera menggendong tasnya lalu berlari kecil menuju teras. Yudha yang berdiri di dekat jendela semakin kesal ketika melihat Daffa menyalami Kinanti sebelum berangkat. Bahkan bocah itu sempat melambaikan tangan dengan wajah ceria sebelum masuk ke dalam mobil. Perlahan, mobil antar-jemput pun meninggalkan halaman rumah.

Setelah Daffa berangkat, Kinanti kembali ke dalam rumah. Ia membereskan meja makan lalu mencuci piring dan peralatan dapur yang kotor di wastafel.

Usai semua pekerjaan selesai, ia membuka kulkas untuk menyimpan kembali potongan mangga yang tersisa. Saat itulah ia menyadari persediaan bahan makanan mulai menipis. Sayuran tinggal sedikit. Begitu pula stok lauk untuk beberapa hari ke depan.

Setelah memastikan dapur kembali rapi, Kinanti berjalan menuju kamar Yudha.

“Yudha, Tante mau belanja dulu.”

Tak ada jawaban.

Kinanti sudah menduganya. Jangankan menjawab, sekadar menganggukkan kepala pun sering kali Yudha enggan melakukannya.

Meski begitu, ia tetap memilih berpamitan. Setidaknya, Yudha tahu ke mana ia pergi.

Beberapa menit kemudian, Kinanti keluar dari rumah sambil membawa tas belanja. Entah mengapa, kali ini ia memilih pergi ke pasar swalayan dengan menaiki angkutan umum.

Peristiwa pembegalan yang nyaris menimpanya kemarin masih menyisakan trauma di hatinya. Ia memutuskan untuk mengistirahatkan sepeda motor kesayangannya terlebih dahulu. ‘Si Biru’...begitulah ia biasa menyebut motor matic berwarna biru yang selama ini setia menemaninya ke mana-mana.

“Selamat pagi, Bu Kinan.”

Kinanti menoleh. Ternyata Bu Arum, tetangga yang rumahnya hanya berjarak beberapa rumah dari kediaman Keenan.

“Selamat pagi, Bu Arum,” balas Kinanti ramah.

“Mau ke mana pagi-pagi begini?”

“Mau belanja sayuran sama lauk, Bu.”

Bu Arum mengangguk-angguk, lalu menurunkan sedikit volume suaranya.

“Saya dengar Yudha diskors gara-gara terjaring razia pelajar yang bolos, ya?”

Kinanti tersenyum tipis. Ia berusaha menanggapi dengan tenang meski pertanyaan itu sebenarnya cukup sensitif.

“Remaja seusia Yudha memang rasa penasarannya masih tinggi, Bu. Yang penting sekarang dia sudah tahu kalau perbuatannya salah. Semoga dia bisa belajar dari kesalahan itu.”

“Iya juga sih. Semoga saja dia nggak mengulanginya lagi. Sayang banget, kan? Dia sudah kelas dua belas. Kalau sampai dikeluarkan dari sekolah hanya gara-gara sering membolos.”

“Aamiin,” ucap Kinanti tulus.

“Kalau begitu saya duluan ya, Bu.”

“Iya, hati-hati di jalan.”

Bu Arum kembali masuk ke dalam rumahnya, sementara Kinanti melanjutkan langkah menuju halte di untuk menunggu angkutan umum.

Yudha yang kini sendirian di rumah merasa leluasa melakukan apa pun yang diinginkannya, termasuk menjalankan rencana yang semalam ia susun bersama Tiara.

"Kita harus membuat seolah-olah perempuan kampungan itu sudah memasukkan laki-laki lain ke dalam rumah ini. Dengan begitu Ayah pasti murka. Ayah akan mengusirnya, bahkan mungkin langsung menceraikannya."

Kalimat Tiara semalam masih terngiang jelas di kepalanya.

“Laki-laki... tapi siapa, ya?” gumam Yudha sambil mondar-mandir di ruang tamu.

Ia berpikir keras mencari seseorang yang bisa diajak bekerja sama. Seseorang yang tidak dikenal oleh ayahnya dan bersedia menjalankan rencana itu.

Tiba-tiba sebuah ide melintas di benaknya.

“Pengamen terminal!”

Matanya langsung berbinar. Menurutnya, pengamen adalah pilihan yang tepat. Orang asing, tidak dikenal keluarga mereka, dan kemungkinan besar bersedia melakukan apa saja jika diberi imbalan yang cukup.

Yudha teringat bahwa pagi ini Kinanti pergi berbelanja tanpa membawa sepeda motor. Itu berarti wanita itu kemungkinan akan berada cukup lama di luar rumah.

“Perempuan kalau belanja biasanya lama. Aku masih punya banyak waktu,” gumamnya.

“Tapi … Pengamen itu tentu tidak akan mau melakukan sesuatu yang berisiko tanpa bayaran. Terus aku dapat uang dari mana?”

Yudha kembali memutar otak. Ia mengacak rambutnya frustasi sambil berjalan ke sana kemari. Hingga tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Ponsel lamanya. Handphone yang sudah berbulan-bulan tergeletak di dalam laci karena dianggap ketinggalan zaman sejak ia mendapat ponsel baru.

Tanpa membuang waktu, Yudha berlari menuju kamarnya. Ia membuka laci meja belajar dan menemukan benda yang dicarinya masih tersimpan rapi di sana.

Ia mengambil ponsel itu lalu menekan tombol daya. Beberapa detik kemudian layar menyala. Senyum puas langsung terukir di wajahnya. Yudha segera menyambungkan charger, lalu memotret ponsel tersebut dari berbagai sudut. Setelah itu ia mengunggahnya ke sebuah grup jual beli barang bekas.

Tak disangka, postingannya langsung mendapat banyak tanggapan. Beberapa orang mulai menawar harga. Yudha dengan sabar memilih pembeli yang menawarkan harga paling tinggi. Setelah tawar-menawar singkat, akhirnya ia sepakat menjual ponsel itu seharga lima ratus ribu rupiah.

“Penghasilan pengamen paling berapa sih sehari? Kalau aku kasih lima ratus ribu, pasti dia mau diajak bekerja sama,” gumamnya.

Setelah menentukan lokasi pertemuan dengan pembeli, Yudha memasukkan ponselnya ke dalam tas. Rasa antusias membuat dadanya berdebar.

Di benaknya, rencana itu terasa begitu sempurna. Ia membayangkan Kinanti dimarahi ayahnya. Membayangkan perempuan itu menangis lalu pergi dari rumah. Dan entah mengapa, bayangan itu membuatnya merasa puas.

Tanpa berpikir panjang lagi, Yudha mengambil kunci sepeda motor matic milik Kinanti yang biasa disimpan di laci nakas ruang tengah.

Beberapa menit kemudian, suara mesin motor terdengar meraung dari halaman rumah. Yudha melaju menuju terminal dengan penuh semangat.

Begitu terburu-buru dan sibuk memikirkan rencananya, ia sama sekali tidak menyadari satu kesalahan besar yang baru saja ia lakukan. Pintu rumah yang ia tinggalkan masih terbuka. Sementara rumah itu kini kosong tanpa seorang pun di dalamnya.

1
partini
marah" Mulu tensi tinggi gampang Kena stroke
My_Sunshine: wkkkk. umur segitu kan lagi lucu-lucunya kak😄
total 1 replies
Agunk Setyawan
ibu egois
partini
ozi boleh bikin mereka mikir tapi jangan kriminal juga
Mahesa hemmmm ada something ini
Ifana
Aku padamu pak 👍 seolah Tiara pelaku kriminal pdhl dia korban kejahatan
partini
sekolah apan itu ,,berengsek sekali
Ifana
tau gtu bikin tu nenek lampir sekarat aja thor ini udh ditolongin tp gk tau terima kasih
partini
kalau sekarat baru lah dia sadar ,,aihh Thor kasih lagi lah yg instan juga lebih parah lagi macam stroke bibirnya gitu Biar ga nyrocos jahar
My_Sunshine: iya kak... nanti dapat karma kok dia😄
total 1 replies
partini
keren Thor karma instan semua 👍👍👍
My_Sunshine
Iya, Kak. Nanti aku bakalan bikin panjang ceritanya kalau banyak yang setia ngikutin 🤗
partini
biasanya kalau minta jangn tumbuh malah tumbuh kuat pula si jabang bayinya,
partini
gantian Yudha Thor
partini
maaf terlambat Tiara yg sangat berharga bagi wanita ya itu kehormatan mu tekah si renggut pasti trauma Shok berat merasa kotor dan satu lagi semoga dapat jodoh yg menarima kamu tulus so sad
partini
wow
Agunk Setyawan
enak Tiara jadi anak sombong blagu ya ini balasan lebih sakit kan
partini
jangan di di unboxing Thor ,,itu nanti trauma bisa gila di lecehkan saja udah bikin trauma apa lagi dengan bobol kejem sekaleeeeee harusnya Yogha yg paling parah ini kan ide dia
Agunk Setyawan
ben kapok tu si Tiara blagu amat Yudha juga Ben kapok
partini
ngeri di perkaos kah
Nelita Nopitasari
ih gilaaa nggk ada rasa bersalahnya bocah setan
partini
selamat yah berhasil rencana nya,, tapi kita lihat kedepan nya akan seperti apa
partini
masuk ke pondok pesantren aja lah pak biar. berjauhan dari ortu biar mikir mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!