NovelToon NovelToon
DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Kabar tentang Hendra Wiranata yang mencabut laporan Pak Harun menyebar lebih cepat daripada yang diperkirakan.

Tidak sampai malam, beberapa orang di lingkaran Mahendra sudah mendengarnya.

Tidak sampai pagi, beberapa pedagang pasar juga mulai tahu.

Mereka tidak tahu detailnya.

Mereka hanya mendengar bahwa Pak Harun sempat dipanggil karena warungnya dipermasalahkan, lalu tidak lama kemudian urusan itu selesai begitu saja setelah Raka datang.

Di pasar, kabar seperti itu tidak pernah berjalan lurus.

Ia berbelok.

Bertambah.

Berubah.

Ada yang bilang Raka memarahi pejabat.

Ada yang bilang pejabat itu ketakutan sendiri.

Ada yang bilang Raka hanya duduk diam, lalu semua surat dibatalkan.

Bu Lestari mendengar kabar itu dari pedagang sayur di sebelah lapaknya.

Ia tidak langsung percaya.

Tangannya tetap sibuk merapikan tomat, cabai, dan bawang di atas meja kayu kecil. Wajahnya terlihat biasa, tetapi sesekali matanya melirik ke arah jalan masuk pasar.

Sejak pagi, perasaannya tidak enak.

Bukan karena barang dagangannya sepi.

Tapi karena beberapa orang asing berdiri terlalu lama di dekat pasar.

Mereka bukan pembeli.

Bukan pedagang.

Dan bukan preman biasa.

Pakaian mereka terlalu rapi untuk ukuran orang yang datang membeli cabai pagi-pagi.

Salah satu pedagang tua berbisik, “Lestari, kau hati-hati. Dari tadi orang-orang itu lihat lapakmu terus.”

Bu Lestari menghela napas pelan.

“Aku tahu.”

“Kau ada masalah sama siapa?”

Bu Lestari tidak langsung menjawab.

Ia teringat Raka.

Teringat malam ketika para preman ingin mengacaukan pasar.

Teringat bagaimana pemuda itu berdiri di depan mereka tanpa banyak bicara, lalu membuat orang-orang kasar itu menunduk.

Sejak saat itu, Bu Lestari tahu Raka bukan pemuda biasa.

Tapi ia juga tahu, orang seperti Raka pasti menarik musuh yang tidak biasa.

Dan sekarang, mungkin musuh itu mulai mengarah kepadanya.

Belum sempat ia berpikir lebih jauh, tiga pria memasuki area pasar.

Satu orang memakai kemeja putih dan membawa map.

Dua lainnya memakai rompi petugas.

Langkah mereka lurus ke arah lapak Bu Lestari.

Para pedagang sekitar langsung memperhatikan.

Pria berkemeja putih berhenti di depan lapak, lalu membuka mapnya.

“Ibu Lestari?”

Bu Lestari menatapnya dengan tenang.

“Iya, saya.”

“Kami menerima laporan bahwa lapak Ibu tidak memiliki izin penggunaan tempat yang sah. Selain itu, ada dugaan tunggakan retribusi dan penolakan terhadap rencana penataan pasar.”

Beberapa pedagang langsung ribut kecil.

“Loh, lapak Bu Lestari sudah lama di sini.”

“Retribusi dia bayar terus.”

“Penataan pasar apa lagi?”

Pria itu mengangkat tangan.

“Kami hanya menjalankan prosedur.”

Kata itu membuat Bu Lestari langsung mengerti.

Prosedur.

Kata yang sama seperti yang dipakai untuk menekan Pak Harun.

Ia menarik napas pelan.

“Boleh saya lihat suratnya?”

Pria itu menyerahkan selembar dokumen.

Bu Lestari membacanya.

Matanya menyipit.

Ada tanda tangan.

Ada cap.

Ada bahasa resmi.

Tapi isinya terasa seperti dibuat untuk mencari alasan, bukan mencari kebenaran.

Pria berkemeja putih berkata, “Untuk sementara, lapak ini akan disegel sampai Ibu hadir dalam pemeriksaan.”

Pedagang di sebelah langsung berdiri.

“Disita begitu saja? Dia dagang buat makan!”

“Ini barang segar. Kalau ditutup sehari saja rugi!”

Salah satu petugas rompi maju dan berkata keras, “Jangan menghalangi petugas.”

Suasana pasar mulai panas.

Bu Lestari meletakkan surat itu di atas meja.

“Saya tidak menolak pemeriksaan. Tapi saya minta waktu untuk menjelaskan.”

Pria berkemeja putih tersenyum tipis.

“Nanti dijelaskan di kantor.”

Ia memberi isyarat kepada dua petugas.

Salah satu petugas mengeluarkan pita segel.

Bu Lestari langsung menahan meja dagangannya.

“Jangan sentuh barang saya.”

Petugas itu menatapnya tajam.

“Ibu menghalangi tugas?”

“Saya minta waktu.”

“Kami sudah membawa surat.”

“Surat bisa salah.”

“Yang menentukan salah atau benar bukan Ibu.”

Petugas itu menarik pita segel dan hendak menempelkannya di bagian depan lapak.

Namun sebelum tangannya menyentuh kayu meja, sebuah suara terdengar dari belakang kerumunan.

“Kalau tangan itu menyentuh lapak, kau akan pulang tanpa bisa menggenggam apa pun.”

Pasar langsung hening.

Orang-orang menoleh.

Raka berjalan masuk dari arah gerbang pasar.

Jaket hitamnya sederhana. Langkahnya tidak terburu-buru. Wajahnya tenang, tetapi matanya membuat orang-orang otomatis membuka jalan.

Bu Lestari menatapnya dengan napas tertahan.

“Raka…”

Raka berhenti di depan lapak.

Ia melihat surat di meja.

Melihat pita segel di tangan petugas.

Melihat Bu Lestari yang masih menahan meja dagangannya.

Lalu ia menatap tiga pria itu satu per satu.

Sistem berbicara.

[Target administratif kedua.]

[Hubungan: Wiranata dan Mahendra.]

[Tujuan: menekan orang yang dilindungi Tuan.]

Raka mengambil surat dari meja.

Ia membacanya sekilas.

“Hendra belum belajar.”

Pria berkemeja putih mengerutkan kening.

“Kau siapa?”

Raka menatapnya.

“Orang yang kemarin membuat tangan atasanmu gemetar.”

Wajah pria itu berubah.

Ia tahu.

Atau setidaknya pernah mendengar.

Dua petugas rompi saling pandang.

Pria berkemeja putih mencoba mempertahankan suara tegasnya.

“Ini urusan resmi. Jangan menghalangi.”

Raka melipat surat itu.

“Resmi bukan berarti benar.”

“Kami punya surat.”

Raka meletakkan surat itu kembali di meja.

“Dan aku punya mata.”

Pria itu tertawa pendek, mencoba terlihat berani.

“Mata tidak berlaku di depan hukum.”

Raka melangkah mendekat.

Pria itu mundur setengah langkah tanpa sadar.

“Kalau begitu, kita pakai cara yang berlaku di tubuhmu.”

Udara pasar mendadak berat.

Para pedagang yang tadinya ribut langsung diam.

Cabai-cabai di atas meja Bu Lestari bergetar kecil. Pita segel di tangan petugas bergerak tertiup angin yang tidak terasa oleh orang biasa.

Raka menatap petugas yang memegang pita segel.

“Siapa yang menyuruhmu menyegel lapak ini?”

Petugas itu menelan ludah.

“S-sesuai perintah kantor.”

“Nama.”

Petugas itu diam.

Raka mengangkat satu jari.

Petugas itu langsung jatuh berlutut.

Bukan karena didorong.

Bukan karena dipukul.

Lututnya seperti kehilangan hak untuk berdiri.

Orang-orang pasar mundur satu langkah dengan wajah terkejut.

Bu Lestari menutup mulutnya.

Dua pria lain langsung pucat.

Raka berkata datar, “Aku tidak punya banyak waktu.”

Petugas yang berlutut gemetar.

“Hendra Wiranata, Bang. Dari Pak Hendra. Kami cuma disuruh lanjutkan laporan.”

Pria berkemeja putih langsung membentak, “Diam!”

Raka menoleh kepadanya.

“Terima kasih sudah membuat giliranmu datang lebih cepat.”

Pria itu membeku.

Raka berjalan mendekat dan menunjuk map di tangannya.

“Buka.”

Pria itu menggenggam mapnya lebih kuat.

Raka mengulang.

“Buka.”

Satu kata itu turun seperti beban.

Tangan pria itu bergerak sendiri. Ia membuka map dengan wajah berkeringat.

Di dalamnya ada beberapa dokumen lain.

Bukan hanya untuk Bu Lestari.

Ada daftar nama pedagang kecil.

Ada catatan lapak.

Ada foto beberapa orang.

Di antara foto itu, Raka melihat Pak Harun.

Dimas.

Fadil.

Dan beberapa warga lain yang pernah berada di dekatnya.

Wajah Raka tetap tenang.

Tapi suasana pasar menjadi jauh lebih dingin.

Sistem berbicara.

[Daftar tekanan ditemukan.]

[Target bukan hanya Lestari.]

[Potensi ancaman terhadap warga biasa: tinggi.]

1
Alia Chans
keren banget plisss😖
Rayzent
menarik nih, lagi gabut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!