Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Memecahkan Soal
Bab 7 Memecahkan Soal
Nadia kembali ke sekolah seperti biasa tanpa banyak drama, lalu langsung menuju ke lab komputer dengan langkah santai tapi pikirannya sudah fokus ke satu hal penting yang harus ia selesaikan hari itu. Dia bisa keluar masuk lab dengan bebas karena semua guru sudah percaya pada kemampuan dan tanggung jawab Nadia selama ini di sekolah.
Dia membuka sebuah situs yang kemarin memberikan sayembara, di mana siapa pun yang bisa memecahkan soal akan langsung direkomendasikan oleh seorang profesor untuk mengikuti olimpiade tingkat tinggi. Situs itu terbuka di layar komputer, lalu Nadia mengambil beberapa lembar kertas A4 dan mulai menyalin serta menuliskan ulang soal itu dengan serius sambil berpikir pelan.
Pak Hendrik, guru komputer, menutup ruangan lab dengan tenang karena dia tahu Nadia sedang dalam mode konsentrasi penuh, bahkan jam pelajaran pun dia alihkan ke hari berikutnya agar tidak mengganggu.
“jangan ganggu nadia,dia sedang mati matian mengharumkan nama baik sekolah” ujarnya
“terus kita ngapain pa?” tanya seorang siswa
“kita maen bola aja yuuk” ajak pak Hendrik
“ayolah pak gas keun”
Mereka akhirnya tidak jadi belajar komputer hari itu, karena semua sepakat memberi ruang untuk Nadia yang sedang berjuang memecahkan soal penting itu, bahkan mereka rela menunda pelajaran demi melihat hasilnya nanti. Suasana lab jadi lebih santai, beberapa siswa malah benar-benar keluar untuk bermain bola seperti yang diajak Pak Hendrik.
Dahi Nadia beberapa kali mengerut saat ia memecahkan soal yang cukup rumit itu, tapi ia tidak menyerah sedikit pun meskipun pikirannya terus bekerja keras tanpa henti. Akhirnya dalam waktu sekitar satu jam, soal itu berhasil ia pecahkan, lalu ia langsung mengirim foto cara penyelesaiannya ke web profesor dengan cepat dan teliti.
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi nyaring, membuat para siswa keluar dari kelas masing-masing dengan wajah lelah tapi lega, termasuk Nadia yang langsung membereskan barangnya. Nadia kemudian naik motor kesayangannya, karena saat itu ia harus bekerja paruh waktu demi mengumpulkan rupiah sedikit demi sedikit untuk masa depannya sendiri yang masih panjang.
Nadia sebenarnya masih tinggal di rumah keluarganya hanya karena alasan administrasi sekolah saja, karena ia masih membutuhkan tanda tangan orang dewasa untuk berbagai berkas penting. Dan satu-satunya yang bisa melakukan itu adalah Rangga, meski hanya sebatas tanda tangan tanpa benar-benar peduli, setidaknya masih lebih baik daripada Rani yang bahkan tidak mau melihat perkembangan Nadia sama sekali.
Sampai di sebuah bengkel mobil dan motor, Nadia langsung disambut para mekanik yang sudah mengenalnya dengan baik karena dia memang sering membantu di sana.
“nadia cepat itu bos besar marah marah terus” ujar anto pria paruh baya yang sudah belasan tahun jadi mekanik
Nadia melangkah ke tempat loker kerjanya, lalu menaruh barang-barangnya dan mengganti pakaian dengan cepat sampai akhirnya berubah menjadi seragam mekanik yang siap kerja.
“hayya nadia lama banget sih loh,,,cepat,,cepat kemari ini orang pada bodoh ha,,,enggak ada yang bisa di andelin” ujar ko amen lelaki keturunan yang memperkejakan nadia sudah sejak setahun yang lalu
Nadia melihat sebuah mobil mewah yang sedang bermasalah, beberapa mekanik tampak frustrasi karena mobil itu tidak kunjung bisa hidup meskipun sudah dicoba berkali-kali. Nadia hanya melihat sekilas saja, lalu ia langsung masuk ke bawah mobil, tangannya sangat terampil membuka baut-baut dan memeriksa setiap bagian mesin dengan tenang.
Setelah itu Nadia masuk ke kursi pengemudi, lalu mencoba menyalakan mobil tersebut dengan penuh fokus tanpa banyak bicara seperti biasanya. “brum” mobil itu akhirnya kembali menyala dengan sempurna membuat semua orang langsung terdiam beberapa detik.
“halla,,hala,,,nadia lu orang hebat banget sih,,otak lu emang encer nadia” ucap ko amen bangga “lo enggak usah sekolah aja sih nadia buang waktu aja,,meding lo kerja sama gue,,gue bayar mahal deh”
“maaf ko masih banyak yang masu saya lakukan dengan sekolah” jawab nadia datar, dia lalu merapikan kembali kunci-kunci dan membantu pekerjaan lain di bengkel seperti biasa tanpa banyak ekspresi.
Menjelang malam bengkel mulai sepi dan hampir tutup, biasanya Nadia sudah pulang sekitar jam lima, tapi hari itu ia masih bertahan karena ada pekerjaan tambahan yang harus diselesaikan.
“ko saya mau nginep di bengkel boleh ko” tanya nadia
“di rumah gue aja sih bini gue pasti seneng kalau lu nginep di rumah gue”
“disini aja ko” jawab nadia datar
Dan seperti biasa, Ko Amen tahu Nadia bukan tipe anak yang mudah dibujuk kalau sudah punya keputusan sendiri dalam pikirannya.
“ya udah lu bisa tidur di ruangan gue aja,,disana adakopi cemilan, lu bisa makan sepuasnya”
Nadia mengangguk pelan tanpa banyak kata, lalu mulai membereskan sedikit barang kerjanya sambil bersiap untuk istirahat di ruangan itu.
“ya udah gue pulang ya,,baek-baek ya disini”
…
Sementara itu di sebuah ruangan putih yang terlihat dingin dan terlalu rapi, seorang pria tua duduk bersandar dengan malas seperti orang yang sudah bosan dengan dunia. Dari ekspresinya, dia seperti tidak terlalu berharap banyak lagi dengan hasil yang masuk hari itu.
“makin hari kualitas olimpiade makin buruk ya,” gumam Prof Hengki, pria yang memang dikenal sebagai pencari anak-anak berbakat dari seluruh negeri.
Di sampingnya, seorang asisten perempuan bernama Siska berdiri sambil memegang tablet berisi data yang baru masuk. Wajahnya terlihat sedikit hati-hati karena sudah tahu mood atasannya sedang naik turun akhir-akhir ini.
“Prof, ada yang kirim jawaban, Prof,” ujar Siska sambil menyerahkan tablet itu ke arah Hengki.
Prof Hengki menerima tablet itu dengan gerakan lambat, seperti sudah tidak terlalu tertarik lagi. Sejak kemarin memang banyak yang mengirim jawaban, tapi semuanya selalu berakhir mengecewakan dan tidak sesuai harapan.
Dia membuka tablet itu, awalnya hanya melirik sekilas dengan ekspresi malas dan setengah mengantuk. Tapi beberapa detik kemudian, matanya langsung berubah fokus, alisnya naik sedikit, dan tubuhnya perlahan terdorong ke depan.
Dia mulai membaca ulang langkah-langkah penyelesaian yang dikirimkan, lalu tanpa sadar menuliskannya kembali di kertas kecil di sampingnya. Semakin dia membaca, semakin jelas kalau ini bukan jawaban biasa.
“hahaha…” Prof itu tiba-tiba tertawa keras, membuat ruangan putih itu terasa lebih hidup dari sebelumnya. “Akhirnya aku menemukan jenius yang sesungguhnya.”
Siska yang kaget langsung menoleh cepat, lalu mencoba menenangkan suasana karena tahu Prof Hengki jarang sekali bereaksi seperti itu.
“Prof, hati-hati nanti encok Anda kambuh lagi,” ujar Siska sambil setengah khawatir.
“Ah, sudahlah,” jawab Prof Hengki sambil masih tersenyum sendiri. “Siska, besok antar aku ke alamat ini.”
Dia lalu menyerahkan kembali tablet itu ke Siska dengan tatapan yang masih penuh semangat, sesuatu yang sudah lama tidak terlihat dari dirinya sejak dia mulai kehilangan harapan pada para peserta sebelumnya
libas saja mereka si pecundang