membalas dendam atas kematian keluarga dari seorang penghianat.
bercerita tentang Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent yang telah menjadi yatim piatu, dua sosok saudara yang memiliki sifat yang berbanding terbalik Kenzie memiliki selera humor yang teramat konyol dan santai sedangkan Reinzie memiliki sifat normal dan sangat serius.
mereka berdua melakukan petualangan di dunia. Kaka beradik ini ingin membalas nyawa pada seorang penghianat yang telah membunuh orang tua mereka.
dan keduanya diseguhkan oleh petualangan yang mengubah takdir dari yang konyol menjadi sosok yang sangat di hargai serta di agungkan dan yang satunya akan menjadi seorang pendekar hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanLan.CNL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 7
...7: PUTUS ASANYA KENZIE...
...****************...
Percobaan Kenzie untuk menaklukkan jalur pendakian kini berubah menjadi sebuah pembuktian fisik yang teramat menantang dan penuh rintangan.
Sekarang Kenzie baru menyadari bahwa frasa "berlari menaiki dan menuruni gunung" yang diucapkan Arvendel bukanlah sebuah instruksi olahraga pagi biasa. Itu adalah sebuah ujian ekstrem yang dirancang dengan tingkat kesulitan luar biasa. Bagi Arvendel, setiap jengkal tanah di bukit terisolasi ini adalah alat penempa raga.
"Sial... Sebelumnya aku mengira ini bukan bagian dari latihan bela diri. Aku hanya berpikir ini sekadar berlari naik-turun gunung biasa..." gumam Kenzie dengan napas yang mulai tersengal-sengal di sela langkahnya. "Apakah master telah merencanakan jebakan medan ini sejak awal?!"
Di teras gubuk, arvendel yang mampu mendengar keluhan sang murid, dirinya tersenyum tipis sarat akan makna tersembunyi. Bocah bau kencur, batin Arvendel menilai tindakan dan sifat bawaan Kenzie yang masih kekanak-kanakan. Kamu terlalu percaya diri untuk menaklukkan menu latihan dariku. Boleh saja memiliki rasa percaya diri, namun jika porsinya berlebihan, hal itu akan bermutasi menjadi arogansi—sebuah kesombongan buta yang cepat atau lambat akan menghancurkan dirimu sendiri.
Saat ini, Kenzie benar-benar dipaksa merayap di atas gunung yang dari jauh terlihat rendah namun ternyata sangat mustahil untuk didaki dengan santai. Kenzie sama sekali tidak bisa berlari di area ini. Ia terpaksa memanjat dinding-dinding batu hitam raksasa itu satu per satu tanpa alat bantu.
Berbeda dengan para petarung bertenaga batin yang umumnya bisa melompati satu batu ke batu lain dengan meringankan tubuh, Kenzie terpaksa bergerak secara fisik menggunakan kekuatan otot jari dan lengannya yang mulai gemetar.
"Hnngg! Ini benar-benar menyiksa!" Kenzie mengerang, menahan berat tubuhnya sendiri saat memanjat celah batu yang vertikal. "Jika rintangan seperti ini juga menjadi porsi latihan Reinzie bersama Tuan Vargan... aku yakin dia pasti akan melewatinya dengan sangat mudah."
Kenzie tersenyum kecut, membandingkan dirinya sendiri dengan sang adik. Ada jurang pemisah yang besar di antara mereka berdua, dan nama jurang itu adalah bakat alami.
Kenzie tahu betul bahwa dirinya sebagai pangeran pertama tidak dianugerahi bakat bela diri instan untuk bertarung. Ia hanya memiliki kelebihan dalam hal analisis, strategi berpikir, dan penyerapan ilmu pengetahuan teoretis. Sebaliknya, Reinzie adalah anomali sejati. Adiknya itu memiliki kedua bakat tersebut secara seimbang; Reinzie adalah seorang berbakat dan jenius bela diri sekaligus anak yang cerdas dalam taktik.
Di masa lalu, Kenzie sempat berpikir bahwa ia akan dikesampingkan di dalam istana karena tidak bisa memegang pedang dengan benar. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Pihak yang diabaikan dan ditekan oleh konspirasi politik istana justru adalah Reinzie, si anak jenius.
Semua itu berakar dari kebencian para petinggi kekaisaran terhadap ibu reinzie yaitu Arcelia, ibu kandung Reinzie. ibunda Arcelia bukanlah wanita yang berasal dari empat keluarga bangsawan agung yang mengakar di lingkaran dalam istana. Tiga dari empat faksi bangsawan tersebut sangat membenci kehadiran permaisuri dan pangeran kedua itu, bahkan menganggap Reinzie sebagai keturunan yang tidak sah untuk menyentuh takhta.
Sebelum Kaisar Valerius Laurent menikahi Permaisuri Arcelia, para tetua istana menuntut dengan keras agar Kaisar mengawini putri-putri dari keluarga bangsawan mereka demi memperkuat aliansi politik. Namun, Kaisar menolak dan hanya memilih Permaisuri Yelena—ibu kandung Kenzie—sebagai satu-satunya ratu. Tindakan tegas Kaisar tentu memicu dendam tersembunyi di hati para bangsawan.
Setelah pernikahan itu, Permaisuri Yelena justru memperkenalkan sahabat karibnya, Arcelia, kepada Kaisar dan meminta sang suami untuk menikahinya. Ibu Kenzie melakukan itu dengan alasan yang sangat mulia: ia ingin Kaisar memiliki pendamping yang tulus dan tidak tertekan oleh intrik politik luar.
Namun di balik alasan itu, ada fakta medis yang menyakitkan. Ibu Kenzie mengidap penyakit bawaan sejak lahir yang membuat rahimnya rusak setelah melahirkan anak pertama. Artinya, Kenzie adalah anak pertama sekaligus anak terakhir yang bisa dilahirkan dari tubuh Permaisuri Yelena. Ia tidak akan pernah bisa hamil lagi.
Karena Arcelia adalah sahabat terbaik yang mengetahui seluruh rahasia dan kelemahan sahabatnya yelena, ia akhirnya menerima permintaan tersebut setelah pertimbangan yang sangat matang. hingga Ia bersedia menikah dengan Kaisar demi melindungi posisi Permaisuri Yelena, sekaligus memastikan agar kekaisaran tidak hancur dari dalam akibat perang dingin perebutan takhta di masa depan.
Ibu Kenzie hanya ingin menghindari pertumpahan darah antarsaudara.
Maka tidak heran jika tiga keluarga bangsawan sangat membenci eksistensi Permaisuri Arcelia dan Reinzie. Namun selama di istana, Reinzie selalu berhasil membungkam mulut congkak para bangsawan itu dengan bakat bertarungnya yang terlampau gila untuk ukuran anak seusianya.
Mengingat hal itu, Kenzie menghela napas hangat. Itulah alasan mengapa ia dan Reinzie saling menyayangi tanpa ada rasa iri. Mereka sadar bahwa mereka lahir untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing. Kenzie payah dalam fisik namun ahli dalam strategi, sedangkan Reinzie adalah ujung tombak yang tak terpatahkan. Beruntung, keluarga besar ibu Kenzie adalah satu-satunya faksi bangsawan yang tulus menyayangi dan melindungi Reinzie serta Arcelia dari balik layar.
Kenangan masa-masa indah di istana yang kini telah rata dengan tanah membuat dada Kenzie berdenyut perih. Air matanya hampir menetes, dirundung duka atas garis takdirnya yang telah hilang.
"Kalau Reinzie yang berada di posisiku... dia pasti sudah menari di atas batu-batu ini," ucap Kenzie dengan wajah yang teramat lelah, menyeka keringat yang bercampur debu di dahinya. "Tapi mau bagaimana lagi? Aku adalah Kenzie. Dan aku harus menjadi sosok yang hebat agar di masa depan, akulah yang memberikan perlindungan mutlak untuk adikku!"
Dengan sisa-sisa tekad yang membakar dadanya, Kenzie kembali memanjat. Langkah demi langkah, rintangan demi rintangan, cadas hitam berhasil ia lalui dengan mengorbankan kulit telapak tangannya yang mulai lecet dan berdarah.
Hingga akhirnya, setelah perjuangan yang menguras seluruh kapasitas fisiknya, Kenzie berhasil mencapai batas akhir batu besar. Puncak gunung kini berdiri tegak tepat di depan matanya. Kenzie mengerahkan sisa energinya, berlari kencang menuju titik tertinggi bukit tersebut.
"Haaah... Haaah... Hufft..."
Kenzie langsung ambruk dengan posisi telentang begitu menapakkan kakinya di puncak gunung. Napasnya memburu tidak beraturan, paru-parunya terasa terbakar. Namun, begitu ia membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah bawah jalur yang baru saja ia daki... pertahanan mental Kenzie seketika goyah. Rasa putus asa yang teramat pekat mendadak menghantam kesadarannya.
"Aku... aku harus menuruni gunung ini lagi?!" pekik Kenzie, menatap ngeri kearah batu raksasa dan hutan akar di bawah sana. "Melewati jalur neraka yang sama secara berulang-ulang dengan sisa tenaga seperti ini?!"
Raut wajah Kenzie berubah drastis menjadi sangat murung. Pikirannya mendadak buntu saat menyadari bahwa waktu latihannya baru berjalan dua jam penuh. Jangankan selesai, waktu tengah hari pun bahkan belum tercapai.
"Sial... aku benar-benar merasa putus asa sekarang. Sebelumnya aku terlalu meremehkan tempat ini," gumam Kenzie sembari memandangi telapak tangannya yang gemetar hebat akibat kelelahan otot. "Tapi... jika ini adalah takdir yang harus kutebus demi tumbuh menjadi orang hebat, aku akan melakukannya. Persetan dengan rasa lelah atau luka!"
Kenzie memaksakan tubuhnya untuk kembali bangkit berdiri, menepis rasa sakit di persendiannya. "Baik, mari kita mulai!"
Kenzie mulai bergerak menuruni puncak gunung. Kali ini, ia memilih untuk berlari kecil dengan sangat hati-hati, menempatkan kakinya secara presisi di atas permukaan tanah demi menghindari risiko tergelincir yang bisa berakibat cedera fatal bagian fisik.
"Uh... ini jauh lebih sulit daripada mendaki. Aku harus menjaga keseimbangan tubuhku agar tidak terpeleset jatuh," bisiknya sembari menahan ritme langkahnya menjadi sangat lambat.
Di teras gubuk, Arvendel yang mengawasi lewat proyeksi sihir menggelengkan kepalanya perlahan. Ekspresi santainya sedikit berubah.
"Anak ini tahu cara berhati-hati untuk melindungi tubuhnya," gumam Arvendel, menganalisis pergerakan muridnya. "Namun, jika ia berlari dengan ritme lambat dan ketakutan seperti itu, jiwanya tidak akan pernah mendapatkan insting murni untuk menghindari serangan mendadak dari musuh secara naluri."
Arvendel menegakkan posisi duduknya, lalu mengunci fokus batinnya. Ia membuka jalur komunikasi pikiran, mengirimkan suara baritonnya langsung ke dalam pusat kesadaran Kenzie melalui sihir telepati pikiran.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Bocah?! Bukankah instruksiku adalah berlari menaiki dan menuruni gunung? Apakah gerakan lambat seperti siput itu yang kamu sebut dengan berlari?!" gertak Arvendel, suaranya menggema tajam di dalam kepala Kenzie, sarat akan tekanan mental seorang master. "Cepat lakukan sesuai instruksiku! Percepat langkah kakimu dan jaga fokus instingmu secara bersamaan! Ingat, dilarang keras mengeluh saat latihan! Segera bergerak!"
Kenzie tersentak hebat di saat menuruni gunung, matanya membelalak kaget mendengar suara gurunya yang tiba-tiba bergaung di dalam otaknya. "T-Ternyata dari tadi Master selalu mengawasiku?!" desisnya dengan wajah syok.
Kenzie menggertakkan giginya, menatap jalur curam di bawahnya dengan perasaan campur aduk. "Hah... Apa maksud master aku harus berlari dengan cepat di jalur curam seperti ini?! Apakah dia tidak tahu kalau aku sedang berusaha agar tubuhku seimbang agar tidak jatuh terpeluncur kebawah sana?!"
Meskipun memprotes di dalam hati, gertakan telepati Arvendel berhasil memicu adrenalin di dalam tubuh Kenzie. Pangeran muda itu menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskan rem pada kedua kakinya. Ia mulai berlari turun dari atas dengan kecepatan yang jauh lebih ekstrem, bertaruh dengan gravitasi dan maut.
...****************...
setiap bab yang kalian baca berikan tanggapan kalian agar author tau apa yang kurang dari novelnya /Grievance//Whimper//Whimper/
jadi ingat untuk memberi like yaa😄..