NovelToon NovelToon
Cegil Rusuh Dari Dunia Lain

Cegil Rusuh Dari Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Horor / Teen
Popularitas:37.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy_Ar

​"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
​Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
​Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
​Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
​Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

"Itu aku gak tahu," jawab si hantu cewek dengan polosnya, tanpa beban sama sekali.

Wajah cantiknya kembali tertekuk dengan ekspresi linglung yang super dramatis.

"Hah? Maksudnya?" Arash melongo.

Otaknya yang baru saja diperas habis-habisan oleh soal ujian matematika kelas tiga SMA mendadak macet total menerima jawaban itu.

"Astaga! Aku lupa nama aku, Masssss!" teriak hantu itu kesal,

nadanya melengking frustrasi sampai-sampai dia mengacak-ngacak rambut hitam panjangnya sendiri hingga berantakan di udara.

"Bukan cuma nama, ingatan tentang keluarga, rumah, bahkan cara aku bisa jadi transparan begini juga semuanya hilang! *Blank* total kayak kertas ujian kosong!"

Arash langsung menepuk jidatnya sendiri dengan telapak tangan kanan.

Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan kembali stok kesabarannya yang sudah menipis sejak subuh tadi.

"Ah elah, tinggal ngomong gak punya nama aja ribet banget!" gerutu Arash jengkel. "Pakai acara jentik jari segala, gue kira lo mau ngasih tahu nama lengkap beserta gelar keturunan lo."

"Eh, aku punya nama ya! Tapi itu dulu, pas aku masih punya raga fisik yang bernapas!" balas si hantu cewek tidak terima.

Dia berkacak pinggang di udara, memandangi Arash dengan tatapan sewot khas cegil tingkat akut.

"Ya terus sekarang, gimana gue manggilnya?" tanya Arash pasrah,

merujuk pada situasi merepotkan yang akan mereka hadapi mulai hari ini. Dia tidak mungkin berkomunikasi dengan isyarat batin terus-menerus.

Mendengar pertanyaan itu, raut wajah ketus si hantu cewek langsung berubah drastis dalam sekejap mata.

Jiwa ganjen dan agresifnya kembali aktif tanpa permisi.

Dia melayang mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga wajah pucatnya kembali berada tepat di depan wajah Arash.

"Gak tahu... gimana kalau panggil 'Sayang' aja? Nanti aku dijamin akan langsung datang secepat kilat!" katanya sambil tersenyum lebar,

Namun, senyuman manis itu malah terlihat mengerikan di mata Arash karena di sela-sela gigi rapi tersebut, terdapat sepasang taring kecil yang runcing dan tajam, khas milik makhluk supranatural yang belum tuntas urusan dunianya.

Arash bergidik sendiri, bulu kuduknya spontan meremajakan diri saking ngerinya melihat senyuman spek taring alam baka itu.

Dia buru-buru memundurkan kepalanya, menyandarkan punggungnya lebih dalam ke sofa lusuh rooftop demi menjaga jarak aman.

Cowok itu memutar otak, berpikir keras mencari nama panggilan yang aman, singkat, dan tidak mengandung unsur syirik ataupun gombalan gaib.

"Lala aja deh," kata Arash ketus setelah berpikir selama beberapa detik.

"Lala?" Hantu cewek itu memiringkan kepalanya ke kanan, mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk sambil memasang wajah berpikir.

"Kok Lala sih? Rasanya kayak nama Teletubbies jaman purba deh. Gak ada estetik-estetiknya banget jadi hantu jaman *now*."

"Ah elah, cuma nama doang yang penting punya nama kan? Lagian lo sendiri juga lupa nama asli lo siapa!" cibir Arash, mengibas-ngasibkan tangannya di udara seolah sedang mengusir lalat.

"Daripada gue panggil lo 'Kunti' atau 'Mbak Berbaju Hitam Tanpa Lengan', kan mendingan Lala. Lebih manusiawi buat kuping indigo gue."

"Ih, tapi kan aku mau nama yang bagus, Mas! Yang terdengar anggun, estetik, dan berwibawa kayak nama-nama *influencer* atau anak senja gitu loh!" protes roh cewek itu, merengut manja sambil melayang naik-turun dengan rusuh di depan sofa.

Arash mendengus geli melihat tingkah ajaib makhluk halus di depannya.

Sifat jahilnya yang biasa dia keluarkan untuk menjahili Alin di meja makan mendadak bangkit kembali.

"Ya siapa? Lala juga bagus tahu! Tralala lala lalaaaaa!" Arash tiba-tiba bernyanyi dengan suara sengaja dicemprengkan,

menirukan nada lagu anak-anak sambil tertawa puas melihat wajah kesal si hantu cewek.

‘’Udah pokoknya Lala, titik gak pakai koma apalagi protes. Sekali lo protes, gue panggil lo MisKun!’’

Hantu cewek yang kini resmi menyandang nama panggilan 'Lala' itu pun akhirnya merengut pasrah.

Sadar kalau dia tidak akan pernah menang berdebat melawan cowok sholeh berkharisma yang keras kepala ini, dia akhirnya mendengus pasrah dan melipat tangannya kembali di dada.

"Ya udah deh, Lala juga boleh," ketus Lala dengan nada terpaksa,

meskipun di dalam hatinya yang paling dalam (jika roh punya hati), dia merasa sedikit senang karena akhirnya ada manusia yang memberinya identitas baru di dunia yang asing ini.

"Nah, itu dong! Dari tadi kek, biar gak buang-buang waktu istirahat gue," sahut Arash puas, senyum kemenangan terukir jelas di wajah tampannya.

Dia melirik jam tangan digitalnya, menyadari bahwa waktu istirahat pertama sekolah akan segera berakhir dalam hitungan menit.

Arash segera bangkit dari sofa lusuh rooftop, merapikan letak seragam putih abu-abunya yang sempat sedikit kusut akibat drama tarik-menarik tadi.

***

Arash kembali ke kelas dengan langkah kaki yang sengaja dipercepat.

Beruntung, pintu kelas kelas 12 MIPA 2 masih terbuka lebar, menandakan guru mata pelajaran selanjutnya belum menampakkan batang hidungnya.

Begitu melangkahi ambang pintu, ketiga sahabatnya, Reno, Alvaro, dan Mike sudah berkumpul di dekat meja Arash, menatapnya dengan tatapan penuh selidik.

"Darimana aja sih lo Rash? Kita cariin dari tadi ke kantin gak ada!" sembur Reno langsung begitu Arash meletakkan pantatnya di kursi kayu.

"Sorry, tadi abis dari rooftop," jawab Arash santai, berusaha bersikap senormal mungkin sambil merapikan letak buku cetak di atas mejanya.

"Ngapain?" tanya Alvaro heran, dahinya berkerut. "Siang bolong begini ke rooftop? Mau jemur diri lo?"

"Cari angin," sahut Arash pendek dengan alasan klise andalannya.

Dia tentu tidak bisa jujur mengatakan kalau baru saja membuat kesepakatan spiritual dengan sesosok hantu cegil amnesia bernama Lala di atas sana.

Tak lama setelah itu, langkah kaki beritme tegas terdengar dari arah koridor. Suasana kelas yang tadinya riuh mendadak hening seketika.

Para siswa buru-buru kembali ke bangku masing-masing.

Seorang wanita paruh baya dengan kacamata berbingkai hitam tebal dan sanggul rambut yang amat rapi masuk ke dalam kelas. Pelajaran pun dimulai.

Arash mencoba fokus. Dia membuka buku catatannya, bersiap mendengarkan penjelasan materi kalkulus yang terkenal rumit.

Namun, saat dia baru saja akan menulis rumus di bukunya, atmosfer di sekitar mejanya mendadak berubah drastis.

Suhu udara turun drastis, disusul aroma melati dan vanilla yang menguar tipis.

Wusshhh!

Tiba-tiba, tanpa aba-aba atau ketukan pintu gaib, sosok Lala muncul tepat di depan wajah Arash!

Dia melayang dalam posisi terbalikn kepalanya di bawah, tepat beberapa sentimeter di atas meja Arash, dengan rambut hitam panjangnya yang menjuntai ke bawah, hampir mengenai buku tulisnya.

"Allahuakbar!" seru Arash kaget setengah mati.

Tubuhnya refleks tersentak ke belakang dengan sangat ekstrem.

Untung saja di belakangnya masih ada sandaran bangku kayu yang kokoh menahan bobot tubuhnya.

Kalau saja Arash duduk di kursi paling belakang tanpa sandaran, atau kehilangan keseimbangan, bisa dipastikan dirinya sudah langsung jungkel ke lantai berkeramik itu dengan sukses.

Suara teriakan Arash yang cukup lantang itu seketika memecah keheningan kelas yang sedang fokus mencatat.

Puluhan pasang mata langsung tertuju padanya. Di depan kelas, kapur tulis yang dipegang oleh sang guru berhenti bergerak.

"Arash! Kamu kenapa?!" tanya Bu Tety, suaranya menggelegar, dingin, dan penuh penekanan.

Arash menelan ludah dengan susah payah.

Jantungnya masih berdegup kencang akibat kemunculan Lala yang kelewat *jump scare* itu.

Dia membenarkan posisi duduknya yang sempat melorot, mencoba mengontrol ekspresi wajahnya yang pucat.

"Maaf Bu, hanya sedikit kaget," jawab Arash dengan suara agak bergetar, berusaha tetap sopan.

"Kaget kenapa? Apa wajah saya seram sampai kamu kaget begitu saat saya sedang menulis?!" cecar Bu Tety lagi, membalikkan badannya sepenuhnya dan berjalan beberapa langkah mendekati meja Arash.

Tatapan mata Bu Tety di balik kacamata tebalnya itu justru terasa jauh lebih seram, lebih mengintimidasi, dan lebih mematikan daripada wujud kuntilanak Lala yang sedang melayang terbalik di depannya.

Bu Tety adalah salah satu guru mata pelajaran yang sangat *killer* di SMA mereka, tipe guru yang paling ditakuti oleh seluruh siswa karena tidak segan-segan memberikan nilai merah atau hukuman berdiri di lapangan upacara bagi siapa saja yang berani membuat masalah di kelasnya.

"B-bukan begitu, Bu," Arash terbata-bata, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.

1
🍎billaacha90🍎
banyak godaan yang menghantuinya, semoga Arash bisa lulus menghadapi ujian ini😁😁🤭
🍎billaacha90🍎
kamu harus bertahan Arash kamu pasti bisa. buktikan kepada orang tua mu kamu mampu
🍎billaacha90🍎
iyaaaaaa, jadi kamu harus berani dan kuat menjalaninya Arash😁😁🤭
Rosy
gemblengannya di mulai besok saja kyai.. sekarang Arash lagi di tungguin sama hantu cegil yg lagi mau curhat 🤭🤭
Rosy
kenapa pake di perjelas segala sih mom...ngeri banget bayanginnya 😭😭😭😭
Rosy
astaghfirullah ternyata Lala lagi ngobrol sama pocong 😭😭🤣🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
yah Arash mau belajar lagi, Lala pasti merasa dibohongi 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
eh pocongnya kenapa gak bisa bebas ya 🤔
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Wah Lala nangkring sama mas pocong 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
La diajak jadian tuh 🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kau sedang cemburu kah La 🤔🤣
Halimah
Siapa lg nih pocong...Kyk y perlu disekametin jg.
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
walaupun sama² hantu,,,
si Cegil ini ternyata pilih² pasangan ya,,
😅😅
Vike Kusumaningrum 💜
Siap² Rash, Lala ngambek nanti. pasti katanya kamu menghindar dan ingkar janji 🤭
Vike Kusumaningrum 💜
🤣🤣🤣 siapa nih dulunya 🤣🤔🤭🤭
Vike Kusumaningrum 💜
pocong 🤣🤣🤣🤣🤣😭
Vike Kusumaningrum 💜
Cemburu la ? 🤣🤣🤣🤣
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
heh Lala,,knp kamu ngagetin Arash🫵🫵🫵

bisa kan,,,sapa,,

Assalamualaikum dlu😅😅😅
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
ayooohh Arash,,,banguuunnnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!