NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penolakan Ezra

Amisha melangkah dengan mantap menuju area belakang rumah, tepat saat para asisten rumah tangga sedang bahu-membahu membersihkan taman.

“Menantuku,” panggilnya tenang.

Seketika, orang-orang di sana menoleh dan saling bertukar pandang dengan bingung. Namun tidak bagi Azizah. Ia justru meremas sapu lidi di tangannya dengan kepala yang menunduk dalam. Karena ia tahu, pasti Amisha sedang berusaha untuk membujuknya lagi.

Amisha terus melangkah hingga berhenti tepat di depan Azizah. Hal itu pun sontak membuat para pekerja lain menutup mulut dengan mata melebar.

“Azizah, aku tadi memanggilmu. Apa kau tidak mendengarnya?” tanya Amisha.

“Menantu?!” seru kelima orang di sana serempak. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.

Amisha menatap mereka satu per satu dengan tenang, “Kenapa? Apa ada yang salah dari perkataanku?”

Dewi akhirnya memberanikan diri mendekat, “Nyonya, apa Nyonya salah minum obat? Dia ini Azizah, bukan menantu Nyonya.”

Amisha menggeleng tegas, “Aku sehat, Dewi. Dia memang calon menantuku.”

Azizah tidak tahan lagi. Ia mengeluarkan buku catatannya dan menulis keputusannya dengan sangat cepat.

‘Nyonya, saya sudah menegaskan bahwa saya tidak menerima lamaran itu.’

Suasana mendadak hening. Kelima orang di sana juga mengintip tulisan Azizah dengan tegang.

“Tapi Azizah...” Amisha mendekat lagi, suaranya melembut, “Hanya kau yang pantas untuk Ezra.”

“Hah?!” Kelima orang itu kembali tersentak.

“Sebentar, Nyonya! Maksudnya... Nyonya melamar Azizah untuk Tuan Ezra?” tanya Dewi memastikan.

Amisha mengangguk mantap, “Sebagai bibinya, aku resmi memberitahumu. Nanti kau jemput ayahmu serta nenek Azizah untuk datang ke sini dan meresmikan pernikahan mereka.”

Azizah menggeleng cepat. Ia kembali menulis.

‘Nyonya, saya sudah bilang saya tidak menginginkannya. Saya tidak ingin menikah dengan Tuan Ezra. Mohon mengerti saya.’

Amisha menghela napas panjang, namun ekspresinya tidak berubah, “Yah, tapi Darel sudah menghubungi Ezra, dia akan datang ke sini.”

“Semudah itu Tuan Ezra datang, Nyonya?” tanya Iyem heran.

Amisha tersenyum penuh arti, “Tentu saja aku harus berakting seperti orang sakit. Karena itu, aku ke sini. Aku memintamu untuk menemaniku di kamar dan pura-pura merawatku.”

“Tapi kenapa bisa Azizah, Nyonya? Kenapa tiba-tiba sekali?” tanya Dewi lagi, yang membuat keempat lainnya mengangguk setuju.

“Tentu saja karena sifat Azizah.” Ia kemudian menatap wanita berhijab itu, “Aku yakin hanya Azizah yang bisa merubah sifat Ezra. Mereka akan menjadi pasangan yang serasi.”

Mendengar alasan itu, sebenarnya para pembantu lain juga setuju. Azizah memang pantas mendapat gelar istri terbaik. Terbukti saat mereka melihat pekerjaan Azizah selama di rumah itu.

“Mbak Iyem, ikut aku!”

“Baik, Nyonya. Saya akan cuci tangan terlebih dahulu.”

Amisha tersenyum, dan sebelum beranjak, ia sempat menyentuh dagu Azizah dengan gemas.

Begitu Amisha hilang dari pandangan, kelima asisten itu langsung mengerubungi Azizah.

“Azizah! Aku membawamu ke sini untuk bekerja, bukan untuk dijadikan menantu! Bagaimana kalau nenekmu di desa tahu?” cecar Dewi.

Diah menyenggol lengan Dewi, lalu menatap Azizah dengan mata berbinar, “Tapi, Zah, coba pikirkan lagi. Kau akan menjadi menantu orang kaya. Kau tidak perlu lagi capek-capek menjadi pembantu. Lagi pula tampang Tuan Ezra juga lumayan tampan.”

“Tampan tapi kelakuannya seperti iblis, buat apa?” potong Gita tajam. Ia menatap Azizah dengan simpati, “Zah, jangan mau. Tuan Ezra itu kasar. Kalau kau menikah dengannya, hidupmu pasti akan menderita.”

Lina mengangguk setuju, ia mengusap lengan Azizah dengan lembut, “Benar kata Gita. Sekarang, apa yang akan kau lakukan, Zah? Apa kau akan menuruti kemauan Nyonya?”

Azizah hanya bisa menggeleng, lidahnya kelu untuk menjawab. Rasanya ia seperti sedang dipojokkan.

Iyem yang sejak tadi diam akhirnya buka suara, “Zah, kalau kau memang ingin bebas dari semua ini, sebaiknya kau pergi saja dari rumah ini. Pulanglah ke desa sekarang juga. Kalau kau tidak ada di sini, Nyonya Amisha pasti akan menyerah dengan sendirinya.”

“Ah, tidak semudah itu, Mbak!” bantah Diah cepat, “Apa Mbak Iyem pikir Nyonya tidak punya rencana lain? Nyonya itu kalau sudah punya mau, akan dikejar sampai dapat. Kalau Azizah kabur, mungkin Nyonya akan mengerahkan orang untuk mencarinya.”

Dewi menatap keponakannya dengan penuh kekhawatiran, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan diri, “Sudah, sudah. Jangan membuat Azizah semakin takut. Pernikahan itu tidak akan terjadi kalau kedua belah pihak tidak setuju. Selain Azizah yang jelas-jelas menolak, Tuan Ezra pasti juga tidak akan setuju. Dia bahkan punya kekasih, bukan?”

Mereka semua terdiam sejenak, lalu mengangguk kompak. Setitik harapan muncul di hati mereka, bahwa kesombongan Ezra adalah satu-satunya benteng yang akan menyelamatkan Azizah dari rencana gila sang Nyonya.

......................

Sementara itu, Ezra justru sedang dilanda kebimbangan besar di kantornya. Ia sebenarnya setuju untuk pulang saat menerima telepon dari Darel, namun ingatan akan kejadian beberapa hari lagi saat Sienna dihina habis-habisan di rumahnya, membuatnya enggan untuk menginjakkan kaki di sana lagi.

“Sayang....” Sienna tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Ezra dengan senyuman nakal, “Aku membawa makan siang untukmu.” Ia mengangkat tinggi-tinggi paper bag di tangannya, lalu meletakkannya di atas meja kerja Ezra. Ia pun menyadari gurat ketidaksenangan di wajah sang kekasih, “Hm, kenapa wajahmu masam begitu?”

Ezra menghela napas, “Darel tadi menghubungiku. Katanya Mama sakit lagi. Dia memintaku pulang,” keluhnya.

“Kalau begitu, pulanglah,” jawab Sienna santai.

Ezra menatap Sienna dengan kaget, “Kau menyuruhku pulang setelah keluargaku berkali-kali menghinamu?”

Sienna tersenyum menenangkan. Ia mendekat, lalu duduk di atas paha Ezra sambil mengalungkan lengannya di leher pria itu, “Sayang, kau tahu bukan kalau aku bukanlah wanita pendendam? Aku tidak marah atau dendam pada keluargamu. Jangan sampai kau menyesal tidak menengok Mamamu. Sekarang, pulanglah,” ujar Sienna dengan nada lembut.

Ezra mengusap pipi kekasihnya itu dengan penuh rasa syukur, “Kau memang wanita pengertian. Karena itu, cintaku selalu bertambah untukmu.”

“Dasar gombal!” Sienna tertawa kecil sambil menoel hidung Ezra.

Ezra ikut tersenyum, “Bagaimana bisa wanita sebaik dirimu bisa ditolak oleh mamaku sendiri? Padahal kau adalah wanita yang paling tepat untuk menjadi pendampingku.”

“Mmm...” Sienna mengeratkan pelukannya di leher pria itu, “Suka atau tidak suka adalah hal yang relatif. Mungkin mamamu masih belum bisa melihat kebaikan dariku.”

“Kau tenang saja, saat aku pulang nanti, aku akan membujuk mama lagi. Aku berjanji akan membuat pesta pernikahan termegah yang pernah ada untukmu.”

Sienna tersenyum lebar, “Terima kasih, sayang.”

......................

Di tempat lain, Azizah duduk di kursi pantri dengan gelisah. Kepalanya terus menoleh ke belakang, ke arah koridor yang menghubungkan tangga, selalu waspada jika pria itu benar-benar muncul.

Dewi yang baru saja menyelesaikan salat Dzuhur langsung mendekat begitu melihat kegelisahan keponakannya. Ia duduk di samping Azizah.

“Zah, kau terlihat gelisah. Khawatir Tuan Ezra benar-benar datang?”

Azizah mengangguk pelan.

Dewi pun menyentuh lengan Azizah dengan lembut, “Jangan khawatir, Zah. Walaupun Tuan Ezra datang, dia tidak akan pernah setuju dengan pernikahan itu. Masih ada jalan keluar untukmu.”

Azizah kemudian menggerakkan tangannya.

‘Aku sudah mempertimbangkan untuk berhenti bekerja dari rumah ini. Menurutku, solusi yang ditawarkan Mbak Iyem sebelumnya adalah jalan keluar yang paling masuk akal.’

Dewi hanya menghela napas panjang, “Apapun keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu, Zah.”

Belum sempat Azizah membalas, Diah berlari kecil menghampiri mereka bersama Gita dan Lina.

“Azizah!” pekik Diah dengan wajah tegang, “Tuan Ezra benar-benar datang! Baru saja tiba!”

Tidak lama kemudian, suara langkah kaki yang mantap dan tegas terdengar menggema di sepanjang koridor. Kelima wanita itu serempak menoleh ke arah sumber suara, menyaksikan Ezra yang melangkah lurus menaiki tangga dengan aura yang mendominasi. Bahkan mereka menatap pria itu dengan napas yang tertahan.

“Drama akan dimulai,” bisik Gita.

Lina menatap Azizah dengan tatapan menguatkan, “Jangan takut, Zah. Kami ada untukmu.”

Perkataan tulus itu disambut anggukan mantap dari rekan-rekan lainnya. Azizah tersenyum tipis, rasa haru menyusup di tengah kecemasan yang memenuhi dadanya. Ternyata, ia tidak sendirian menghadapi semua ini.

Di lantai atas, langkah Ezra sampai di depan pintu kamar sang ibu. Ia berdiri sejenak, menarik napas panjang untuk menetralkan emosinya.

Sementara itu, Darel dan Windy sedang mengintip dari balik pintu kamar mereka saat melihat Ezra termenung di depan pintu kamar Amisha.

“Mas, aku takut sekali jika akting Mama terbongkar,” bisik Windy.

“Tidak ada jalan lain selain menghadapinya,” ucap Darel putus asa.

Namun dari ekor matanya, Ezra menangkap pergerakan adik dan adik iparnya itu. Ia merasa seperti sedang dipermainkan. Dengan gerakan kasar tanpa kesabaran sedikit pun, ia pun membuka pintu kamar di depannya.

BRAK!

Ezra masuk ke dalam kamar ibunya dengan aura intimidasi yang kuat.

Melihat itu, Darel dan Windy di seberang sana terpekik kaget.

“Apa yang terjadi, Mas?” tanya Windy panik.

Darel memejamkan mata sejenak, “Kak Ezra tahu kalau kita di sini. Kau beristirahatlah dengan Keira, aku akan menghadapi hal ini.” Darel segera keluar kamar, tidak mempedulikan panggilan Windy yang tertinggal di belakang.

Di dalam kamar, Amisha langsung tersenyum lebar saat melihat Ezra datang. Ia melirik Iyem agar membantunya bersandar. Iyem pun segera mematuhinya dengan menyusun bantal di belakang punggung Amisha.

“Senyummu terlalu lebar untuk ukuran orang sakit, Ma,” sindir Ezra.

Amisha mengerjapkan matanya berulang kali, sementara Iyem di sampingnya tampak gugup luar biasa.

“A-apa maksudmu? Mama tadi jatuh pingsan.” Amisha menyentuh keningnya dengan dramatis, “Bahkan sekarang rasanya masih berputar-putar. Benar kan, Mbak Iyem?”

Iyem menatap Ezra, “Benar, Tuan,” jawabnya lirih sambil menunduk.

Tidak lama, Darel melangkah masuk.

Ezra menoleh pada adiknya, “Lalu kenapa dia mengintipku dari kamarnya? Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?”

Merasa sandiwaranya terancam, Amisha segera menggerakkan tangannya untuk mengusir Iyem. Iyem pun membungkuk hormat lalu keluar kamar.

Amisha tersenyum ke arah Ezra, “Kalau itu... Mama tidak tahu.” Lalu ia menatap Darel, “Kenapa kau mengintip kakakmu di rumahmu sendiri, Darel? Aneh sekali.”

Ezra benar-benar sudah kehilangan kesabaran. Ia memejamkan mata sejenak, “Berhenti berbohong, Ma! Aku tahu Mama sedang merencanakan sesuatu!”

Amisha meneguk ludahnya susah, ia melirik Darel yang seakan angkat tangan karena dari awal ia memang kurang setuju dengan usulan ini. Amisha kemudian menyibakkan selimutnya, turun dari ranjang, dan berdiri tepat di depan Ezra.

Amisha menatap mata putranya, “Ezra, Mama bertanya padamu. Apa kau menyayangi Mama?”

“Pertanyaan apa itu? Aku bukan anak kecil lagi yang harus menjawab pertanyaan seperti itu.”

Amisha menghela napas, “Mama akan memberi restu padamu.”

Mendengar itu, Ezra membeku. Beberapa hari lalu ibunya jelas melarangnya menikahi Sienna.

“Benar itu, Ma?” Ezra tersenyum lebar, lalu memegang kedua bahu Amisha, “Terima kasih, Ma. Sienna pasti akan senang mendengarnya.”

“Tapi restu itu bukan untuk Sienna,” ucap Amisha.

Senyum di bibir Ezra luruh seketika. Ia menjatuhkan tangannya.

“Restu Mama untuk Azizah. Menikahlah dengannya.”

“Azizah?” Ezra merasa tidak asing dengan nama itu. Ingatannya berputar pada pembantu yang berani menamparnya beberapa hari lalu. Ia langsung menatap tajam Amisha setelah sadar.

“PEMBANTU BISU ITU MAKSUD MAMA?!” Ezra meluapkan emosinya.

Amisha mengangguk, “Mama ingin menjodohkanmu dengannya.”

Ezra mengurut keningnya sambil berkacak pinggang, “Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu, Ma! Bagaimana bisa Mama ingin aku menikahi pembantu bisu yang asal usulnya tidak jelas! Bahkan melihatnya saja aku jijik, Ma!”

“Jaga ucapanmu, Ezra! Azizah jauh lebih baik dari Sienna yang sebelumnya senang menjajakan tubuhnya di klub malam. Kekasihmu itu bahkan tidak pantas dibandingkan dengan kebaikan hati Azizah.”

“Kau salah, Ma! Sienna yang terlalu unggul daripada pembantu kampungan itu!” Ezra menyentak, “Terserah Mama ingin merencanakan apa! Tapi aku tidak setuju!”

Ezra berbalik, tapi Amisha menahan lengannya.

“Buka matamu, Nak! Kau sudah dibutakan Sienna, sampai tidak bisa melihat berlian pada diri Azizah. Percaya pada Mama, masa depanmu akan terjamin jika kau memiliki istri sholehah seperti Azizah.”

“Aku tidak butuh istri sholehah!” Ezra menyentak tangan sang ibu, hingga Amisha tersungkur ke lantai.

“MAMA!” Darel langsung merangkul tubuh ibunya, “Mama baik-baik saja?” Amisha menjawab dengan anggukan lemah.

Darel mendongak tajam pada kakaknya, “Kau boleh tidak setuju, tapi jangan pernah menyakiti Mama!”

“Kau pasti bersekongkol dengan Mama, kan? Kau juga berniat agar aku menikahi wanita bisu itu!”

“Terserah kau percaya atau tidak! Aku juga menentang permintaan Mama pada awalnya!”

“Sudah-sudah, jangan bertengkar,” lerai Amisha, lalu dibantu berdiri oleh Darel.

Amisha menatap Ezra lagi, “Mama mohon, Nak. Mama hanya menginginkan itu, apa kau tidak mau menurutinya?”

Ezra menggeleng tegas, “Tidak jika Mama ingin mengatur hidupku! Dari kecil kau dan Ayah sama saja! Kalian ingin aku hidup sesuai keinginan kalian! Dan sekarang Mama memohon dengan kalimat menyakitkan itu? Tidak, Ma! Aku tidak bisa memenuhi keinginan Mama!”

Mendengar itu, Amisha syok. Tiba-tiba dada kirinya terasa nyeri. Ia mencengkeramnya kuat dan merintih kesakitan.

“MA! ADA APA MA?!”

Namun Amisha hanya merintih dengan keringat yang mulai bercucuran.

“Sudahlah, Ma. Hentikan sandiwaramu. Mama pasti berpura-pura agar aku terpaksa menyetujuinya,” ucap Ezra keras.

Tapi Amisha menggeleng lemah, “S-sakit... S-sekali...”

“MA! MAMA!” Teriak Darel.

Melihat itu, ekspresi Ezra berubah. Wajah Amisha terlihat sangat pucat dan natural. Ia mendekati Amisha.

“Kita ke rumah sakit sekarang,” putus Ezra, lalu menggendong Amisha keluar kamar.

Windy yang mendengar kegaduhan keluar dari kamarnya, “Astaga! Mama!”

Darel menatap istrinya, “Sebaiknya kau di rumah menjaga Keira. Aku akan ke rumah sakit.” Darel kemudian berlari menyusul Ezra.

Di lantai bawah, suasana pantri yang tadinya tegang seketika berubah menjadi riuh penuh kecemasan. Azizah bersama rekan-rekannya yang sejak tadi duduk dengan gelisah, langsung menoleh tajam ke arah tangga saat mendengar derap langkah kaki yang terburu-buru.

“Astaga, Nyonya!” Iyem berdiri dari duduknya dengan wajah pucat.

Asisten rumah tangga lainnya pun refleks berdiri, menatap tangga dengan tatapan yang sama cemasnya.

“Bukannya ini hanya akting? Tapi kenapa Tuan Ezra dan Tuan Darel terlihat sangat panik?” tanya Diah.

Namun tidak ada yang bisa menjawab, karena kepanikan di wajah kedua majikannya terlihat terlalu nyata untuk sebuah sandiwara.

Dewi memejamkan mata sejenak untuk memanjatkan doa dengan tulus, “Ya Allah, lindungilah keluarga ini,” ucapnya lirih.

Sementara itu, Azizah hanya bisa berdiri mematung. Ia meremas pakaiannya sendiri demi meredam detak jantungnya yang berpacu cepat. Bayangan wajah Amisha yang pucat saat dibawa turun tadi terus terbayang di benaknya. Kali ini, ia benar-benar merasa tersesat. Ia tidak tahu lagi jalan apa yang akan menghadang hidupnya di depan sana setelah kejadian tragis itu.

1
Lilik Juhariah
bagus banget ceritanya
Lilik Juhariah
suka ceritanya
Maulidia Okta
ah.... Melow Ya Thor...
Maulidia Okta
jadi ikut mewek /Sob/
Lilik Juhariah
bismillah moga Ezra menerima pernikahan yg yg menyebut nama Allah dan disaksikan para Malaikat, lelaki sejati adalah lelaki yg tak pernah ingkar janji
falea sezi
bkin pergi aja dah males bgt di injak2 terus
falea sezi
buat si bisu di sukain cogan lain😒 biar dia cmburu
falea sezi
laki sialannn😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!