Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.
Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.
Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.
Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Mengumpulkan informasi
Aku berusaha mengejar dua pria misterius itu, namun langkahku terhenti ketika mendengar suara Bibi Lan memanggil.
"Nona Qiuye, ada apa? Suara apa tadi?" tegur Bibi Lan terbangun setelah mendengar ada suara-suara asing dibelakang ruang istirahatnya.
"Ah tidak ada Bibi, mungkin suara-suara dari latihanku saja. Maaf ya Bibi gara-gara aku Bibi jadi terbangun," jawabku beralasan.
"Tidak apa, tapi kenapa anda belum tidur Nona, dan kenapa latihan ditengah malam begini?" tanya Bibi Lan.
"Aku tidak bisa tidur, Bi. Jadi aku mencoba latihan sebentar saja, siapa tahu setelah latihan aku mengantuk dan bisa tidur," jawabku.
"Hmm ... Baiklah Nona, tapi lekas istirahat ya. Jangan tidur terlalu larut, ingatlah besok anda harus bangun pagi-pagi sekali untuk memasak obat Nona muda," ucap Bibi Lan mengingatkan.
"Baik Bibi," balasku sambil membereskan pedangku.
"Ya sudah, Bibi kembali ke kamar ya. Kamu juga cepatlah tidur."
"Baik Bi," patuhku menatap Bibi Lan yang sudah berbalik pergi.
Lalu aku berjongkok untuk mengambil panah kecil yang masih menancap di tanah dan ingin menyimpannya. "Aku harus mencari tahu siapa pemilik panah kecil ini," gumamku lalu kembali ke kamar untuk beristirahat.
...***...
Ruang Rahasia.
Guan Yu dan Xin telah berhasil mengumpulkan beberapa informasi mengenai tabib Nan saat menyusup kedalam istana, termasuk sapu tangan yang ada di kantung baju Xin.
"Ini salinan buku yang saya baca di ruang arsip istana," ucap Xin menunjukkan selembar kertas berisikan data diri seseorang.
Guan Yu menerima kertas tersebut dan mengamati.
"Tabib Nan, bernama lengkap Nan Gong. Berasal dari desa diatas pegunungan sisi barat. Hanya ini saja?" tanya Guan Yu merasa informasi yang didapat kurang mencukupi.
"Benar, hanya informasi ini saja yang saya dapatkan di istana. Karena banyak sekali informasi lain yang tidak dituliskan dibuku arsip para tabib mengenai Tabib Nan," jawab Xin.
"Tapi Tuan, mata-mata kita berhasil menyelusuri jejak tabib Nan sebelum masuk ke istana," lanjut Xin kemudian mengeluarkan selembar kertas lain dari mata-mata kelompok Guan Yu.
"Hm.. Berikan padaku."
Xin menyerahkan informasi berupa silsilah tabib Nan, lalu menjelaskan lebih rinci mengenai data yang lainnya. "Nan Gong tinggal bersama istri tanpa anak, selain mereka yang tinggal di rumah itu, ada juga adik perempuan yang sedang hamil dan adik iparnya Nan Gong. Penghasilan keluarga mereka berasal dari berkebun sayuran dan juga tanaman herbal."
"Menurut penduduk setempat, Nan Gong pergi ke ibukota untuk menjual beberapa tanaman herbal karena penjualan di desa terus menurun. Lalu karena Nan Gong terlalu lama di ibukota dan keluarga mereka tidak mendapatkan kabar, istri Nan Gong lalu menyusul ke ibukota. Akan tetapi di tengah perjalanan menuruni gunung, istri Nan Gong meninggal," ucap Xin.
"Istrinya meninggal?"
"Ya, tidak jelas meninggalnya karena apa. Namun ada desas desus meninggalnya istri Nan Gong karena diserang hewan buas saat melewati hutan, ada pula yang menyebutkan istri Nan Gong tewas terpeleset dan jatuh ke jurang," balas Xin sesuai dengan laporan beberapa mata-mata di atas pegunungan sisi barat.
Guan Yu menghela nafasnya panjang. "Lalu bagaimana cara dia masuk ke istana?"
"Masih dalam penyelidikan Tuan," balas Xin.
"Baik, kumpulkan terus informasi mengenai Tabib Nan. Aku yakin dibuangnya putri kaisar ada hubungannya dengan tabib Nan," ucap Guan Yu.
"Baik Tuan," patuh Xin.
"Xin, istirahatlah. Biarkan aku yang melanjutkan semua ini," ucap Guan Yu.
"Baik Tuan," balas Xin lalu pergi.
Guan Yu kembali menatap sapu tangan milik Xin, mengingat kejadian perayaan pesta ulang tahun putri Xu dimana Qiuye bersikeras melarang Nona Huang agar tidak meminum sari anggur itu.
Lalu mencium aromanya dengan seksama, karena cairan tersebut sudah mengering dan Xin hanya menempelkannya sedikit saja di permukaan sapu tangan. Guan Yu segera meneteskan beberapa cairan khusus untuk mendeteksi kemungkinan adanya kandungan berbahaya seperti racun.
Seketika sapu tangan yang terkena sari anggur berubah menjadi bintik-bintik hitam dan Guan Yu memastikan bahwa benar perkataan Qiuye. Bila sari anggur tersebut mengandung racun.
"Darimana Putri Xu mendapat racun berbahaya seperti ini?"
...----------------...
Keesokan paginya.
Setelah bangun aku ingin memasak ramuan untuk nona Muda Huang, kemudian aku diantar oleh Bibi Lan dan meminta ijin kepada kepala perawat disana agar di ijinkan untuk memakai dapur khusus obat dan meminta bahan-bahan yang kurang.
"Terima kasih Bibi," ucapku kepada kepala perawat disana.
"Sama-sama, sesama perawat dan tabib kita harus saling membantu."
"Ya Bi," balasku tersenyum.
Setelah aku masuk ke dapur, Bibi Lan pamit padaku dan kembali pada nona muda Huang. Sehingga aku hanya di temani oleh Bibi Cen (kepala perawat) yang sudah berusia lanjut dan juga beberapa anak buahnya.
"Bibi Cen, apa aku boleh meminta jahe dan juga arang bambu?"
"Silahkan, Nak. Ramuan apa yang ingin kamu buat?" tanya Bibi Cen ingin tahu.
"Ramuan penawar racun untuk nona muda kami," balasku.
"Penawar racun?"
"Iya, beberapa hari yang lalu nona kami terkena racun makanan. Dan dia masih dalam pengobatanku," balasku.
"Baiklah, ini." Bibi Cen memberikan apa yang kuminta tanpa banyak bertanya.
"Terima kasih Bi," ucapku berterima kasih.
"Sama-sama ... Siapa namamu? Berapa umurmu?"
"Namaku Qiuye, usiaku lima belas tahun."
"Qiuye? Apa kau lahir di musim gugur?
"Benar Bibi," jawabku.
"Tidak disangka, kau masih sangat muda. Tapi kemampuanmu tentang obat-obatan sungguh diluar dugaan," puji Bibi Cen.
"Ah biasa saja, Bi. Kata ayah aku masih harus banyak belajar," jawabku.
"Ayahmu pasti seorang tabib yang hebat? Siapa nama Ayahmu dan kalian dari desa mana?" tanya Bibi Cen.
"Ayahku Tabib Jiang, kami dari desa selatan." balasku.
"Tabib Jiang?"
"Ya, ayahku tabib Jiang. Kata ayah dia pernah menjadi tabib di istana ini, tapi ayah berkata dia berhenti menjadi tabib istana karena ingin melanjutkan toko obat keluarga kami," balasku jujur.
"Jadi kau adalah putri tabib Jiang?"
"Ya Bibi, aku adalah putrinya tabib Jiang. Apa Bibi kenal ayahku?"
"Bukan hanya kenal, Bibi dan tabib Jiang pernah bekerja dalam satu kumpulan."
"Bekerja satu kumpulan dengan ayah? Jadi apa Bibi bisa memberitahu sesuatu? Tentang ayah atau apa saja begitu?" cecarku merasa mendapat kesempatan untuk mencari informasi.
"Iya, dulu ayahmu adalah tabib istana ini dan Bibi adalah asistennya. Dia orang baik, tapi ada suatu kejadian dimana saat enam belas tahun lalu tepatnya saat permaisuri Liu sedang mengandung putri Xu, tabib Jiang di tuduh salah mendiagnosis kehamilan permaisuri, sehingga membuat kaisar panik. Lalu ia di usir dari istana karena kejadian itu dan aku tidak pernah mendengar lagi kabarnya hingga sekarang," balas Bibi Cen. "Tapi syukurlah kalau Bibi masih bisa bertemu dengan keluarga tabib Jiang, setidaknya Bibi bisa tahu kabarnya saat ini."
"Tapi setahu Bibi, Tabib Jiang hanya punya satu putra dan anak keduanya sempat keguguran. Apa mungkin kamu anak ketiganya? Tapi bagaimana mungkin, karena semenjak keguguran anak kedua, tabib jiang pernah berkata jika istrinya tidak bisa punya anak lagi," ucap Bibi Cen melanjutkan.
...Bersambung....