NovelToon NovelToon
Gluttony Sovereign

Gluttony Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:675
Nilai: 5
Nama Author: Xian Nying

Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.

Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.

Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.

Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.

Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 : Benang Hitam

Matahari pagi baru saja mulai muncul, cahayanya masih samar tertutup kabut tebal yang menyelimuti seluruh desa. Sinarnya yang lembut menembus celah-celah dinding bambu rumah panggung yang sudah tua dan reot itu.

Di ruangan bagian dalam, suasana terasa hangat dan riuh oleh tangis bahagia.

Carmelia berdiri di ambang pintu, matanya berkaca-kaca saat menatap ayah dan ibunya. Di atas kasur tipis yang hanya beralaskan jerami, ibunya kini duduk tegak — wajahnya yang semalam pucat pasi, dingin, dan nyaris tak bernyawa, sekarang sudah kembali ada warna darahnya. Rasa nyeri hebat yang selalu menyerang tubuhnya setiap kali fajar datang, sekarang hilang sama sekali seolah tidak pernah ada.

Ayahnya berlutut di lantai, memeluk kaki istrinya sambil menangis terharu, bersyukur sekuat tenaga. Bagi mereka, ini pasti dianggap sebagai mukjizat, pertolongan dari langit.

Tapi Carmelia tahu benar: ini bukan keajaiban yang datang dengan cuma-cuma. Ini semua berkat ramuan tanaman yang diberikan oleh pria asing itu — orang yang semalam hampir mati terbaring di halaman rumah mereka, orang yang bertindak kasar, dingin, dan tidak pernah mau berkata baik.

Meski sikapnya galak, judes, dan sedingin es, bagi Carmelia, Yudha adalah orang yang menyelamatkan nyawa ibunya, menyelamatkan nyawanya sendiri, bahkan menyelamatkan seluruh keluarga ini. Ia merasa sangat beruntung bahwa pria itu justru datang dan berhenti tepat di depan rumah mereka.

Dengan perasaan yang ringan dan lega, ia masuk ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Tapi saat tanpa sengaja ia melirik keluar lewat celah jendela, senyum di wajahnya langsung hilang seketika.

Di bawah pohon besar tempat Yudha biasa duduk, pria itu bersandar pada batang kayu. Tangannya mencengkeram kuat di bagian dada, seolah ada sesuatu di dalam sana yang sedang mencabik-cabik tubuhnya dari dalam. Seluruh tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin bercucuran sampai membasahi baju dan tanah di bawahnya. Napasnya pendek-pendek, terengah-engah, berusaha keras menahan rasa sakit yang luar biasa.

Carmelia langsung meletakkan pisau dan alat masak yang dipegangnya. Ada rasa sesak yang aneh, perasaan takut dan cemas yang tiba-tiba menyerang dadanya. Ia tahu, tanaman obat yang menyelamatkan nyawa ibunya itu pasti menuntut harga yang sangat mahal bagi pria yang memberikannya.

Tanpa ragu lagi, ia mengambil nampan kayu berisi makanan dan minuman, lalu berjalan keluar rumah menuju tempat Yudha berada.

Langkah kecilnya menginjak rumput yang masih basah oleh embun pagi. Mendengar suara langkah kaki, Yudha perlahan mengangkat kepala dan membuka matanya.

Detik itu juga, darah seakan berhenti mengalir di tubuh Carmelia.

Sepasang mata yang semalam terlihat hitam pekat, tajam, dan dingin — sekarang warnanya berubah menjadi merah darah yang menyala, terlihat liar, buas, dan mengerikan sampai-sampai udara di sekitar pohon itu terasa berubah menjadi dingin, kaku, seolah semua benda di sini akan membeku kapan saja.

Sistem Kelaparan Kiamat yang bersarang di dalam jiwa Yudha sedang mengamuk habis-habisan, menuntut makanan, menuntut energi, bahkan menuntut nyawa apa pun yang ada di dekatnya agar rasa lapar dan sakit ini segera hilang. Dan gadis kecil yang berdiri di hadapannya ini... adalah mangsa yang paling dekat, paling lemah, paling mudah untuk diambil saat ini.

Tapi Carmelia tidak lari, tidak mundur, bahkan tidak terlihat takut sedikit pun. Ia berhenti sekitar dua meter di depan Yudha, lalu menatap lurus tepat ke dalam mata merah menyala itu, berusaha menunjukkan bahwa ia datang bukan untuk menyakiti, tapi untuk berbuat baik.

"Kak... Kak Yudha..." panggilnya pelan, suaranya lembut tapi terdengar jelas di tengah keheningan pagi. "Di luar dingin sekali. Aku bawa makanan dan minuman buat Kakak..."

Saat pandangan mata mereka bertemu, saat tatapan mereka saling mengunci... rasanya seolah waktu berhenti berdetak, seluruh dunia menjadi sunyi senyap.

Yudha yang tadinya sudah siap melompat, sudah siap menyerang, sudah siap mengambil apa saja yang ia butuhkan... mendadak menjadi kaku, tidak bisa bergerak sama sekali.

Di dalam bola mata gadis kecil yang terlihat polos dan tidak bersalah ini, Yudha tidak melihat bayangan dirinya sendiri. Yang ia lihat justru sesuatu yang lain: sekelebat bayangan hitam pekat, gelap tanpa dasar, luas tak berujung, sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih kuat, dan jauh lebih mengerikan daripada sistem Kelaparan Kiamat yang selama ini ia anggap sebagai kekuatan terbesar di dunia ini.

Itu hanya berlangsung sedetik saja, sangat cepat sampai hampir Yudha pikir itu cuma halusinasi. Tapi saat itu juga, sesuatu yang gelap dan tersembunyi di dalam diri Carmelia seolah terbangun sebentar, lalu bergerak menyapu seluruh ruangan dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat mata.

Sebuah tekanan kekuatan yang mutlak, yang belum pernah Yudha rasakan selama hidupnya, langsung menekan jiwa dan tubuhnya sekuat tenaga — sampai ia merasa nyawanya ada di ujung tanduk, seolah dalam satu tarikan napas saja ia bisa lenyap begitu saja dari dunia ini.

Dugg!

Jantung Yudha berdegup kencang, liar, hampir mau meledak di dalam dadanya. Rasa lapar yang tadinya menyiksa, rasa sakit yang tadinya terasa mau merobek tubuhnya — semuanya hilang seketika, berganti dengan rasa kaget, rasa takut, dan rasa terkejut yang begitu besar sampai otak gua rasanya hampir macet, tidak bisa berpikir apa-apa lagi.

Bulu kuduknya berdiri tegak dari leher sampai ke ujung kaki. Naluri sebagai pemangsa yang selalu tajam, yang selalu bisa merasakan bahaya sebelum bahaya itu datang — sekarang berteriak keras, berteriak histeris di dalam kepalanya: BAHAYA! Jauhi anak ini SEKARANG JUGA! Dia bukan orang biasa!

Yudha menatap Carmelia dengan mata terbelalak, napasnya tertahan di tenggorokan, tidak bisa keluar masuk dengan benar.

Siapa sebenarnya bocah menyebalkan ini? batinnya bertanya dengan nada penuh rasa tidak percaya. Kenapa sistem kiamat yang selama ini haus darah, yang tidak takut apa pun, sekarang mendadak diam saja, menciut, persis seperti anjing kecil yang takut pada tuannya?

Tapi Carmelia sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Di matanya sendiri, ia hanya melihat seorang pria yang terlihat pucat, lemas, sedang menahan rasa sakit yang berat. Ia melangkah maju dua langkah lagi, meletakkan nampan makanan itu dengan hati-hati di samping Yudha, lalu menyodorkan gelas bambu berisi air minum tepat di depan pahanya.

"Aku tahu Kakak sebenarnya orang baik," katanya dengan senyum yang masih sama — senyum polos, bersih, tulus yang selalu ia tunjukkan. "Kakak boleh bersikap kasar, boleh galak, boleh tidak mau bicara... tapi tolong, jangan menyiksa diri sendiri terus-menerus. Minum dulu ya, Kak."

Yudha terdiam lama sekali. Ia melirik kain selimut yang masih ada di pahanya, lalu kembali menatap wajah dan senyum anak kecil ini. Rasa merinding dan takut di punggungnya perlahan mulai hilang, tapi yang tersisa adalah rasa waspada yang tebal, tebal sekali — lebih tebal daripada tembok es yang pernah ia bangun selama ini.

Sebuah petunjuk halus tapi jelas sudah terbuka hari ini: di balik senyum manis, di balik wajah polos, di balik sikap lembut anak kecil yang menganggapnya sebagai penyelamat... ada sesuatu yang jauh lebih gelap, jauh lebih tua, dan jauh lebih berbahaya yang sedang tidur nyenyak, menunggu waktunya.

Apa gua yang memang masih terlalu lemah dan belum sekuat yang gua kira? batinnya bertanya dengan nada sinis dan tidak percaya pada dirinya sendiri. Atau... bocah ini benar-benar menyimpan sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang bahkan gua sendiri tidak mampu mengukur atau mengerti?

Ia melirik makanan dan minuman yang ada di hadapannya, tatapannya kembali berubah menjadi tajam dan liar.

Persetan dulu sama semua rahasia dan hal aneh ini, pikirnya. Yang paling penting sekarang: gua lapar, dan gua butuh makan.

Di balik suasana pagi yang tenang dan damai ini... sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih kuat, dan jauh lebih haus daripada sistem apa pun yang ada di dunia ini, baru saja benar-benar terbangun — dan sekarang, matanya tertuju hanya pada satu sasaran: Yudha.

 

[Yudha baru saja menyadari ada sesuatu yang sangat salah dan berbahaya pada diri Carmelia, tapi rasa laparnya mendesak dia untuk tidak pergi dulu. Apakah dia akan tetap tinggal di sini dan terus membiarkan gadis kecil ini mendekat... atau dia akan segera mencari cara untuk pergi sejauh mungkin, sebelum "sesuatu" yang tersembunyi itu akhirnya menunjukkan wujud aslinya? Tulis pendapat kalian di bawah ya!]

1
We wok
sampai tamat yah/Frown/
Xian Nying: Udah Baca Emangnya Kenapa?
total 3 replies
Xian Nying
Singkat aja: CERITA INI GAK ADA OBATNYA ENAK BANGET. Karakter, alur, bahasanya, semuanya pas. Gak sabar liat Yudha makan kekuasaan, makan dunia, makan apa aja deh pokoknya. LANJUT BOS, GW DUKUNG TERUS! 🔥"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!