Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.
Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.
Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.
Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Setelah kesepakatan besar malam itu tercapai, sebuah rahasia besar kini resmi tersimpan rapat di antara mereka berdua. Pernikahan kontrak selama satu tahun demi melindungi Baby Ziva dan membalas kelicikan Klara menjadi benang merah yang mengikat takdir Daniel dan Shanum, tanpa ada satu orang pun di rumah itu yang tahu sandiwara di baliknya.
Keesokan harinya, suasana pagi di ruang makan kediaman mewah itu terasa hangat. Tuan Lee dan Nyonya Tania sudah duduk rapi, menikmati menu sarapan pagi yang disiapkan oleh koki rumah. Sementara itu, Shanum sengaja tetap berada di kamar atas untuk memberikan ASI eksklusif kepada Baby Ziva yang baru saja terbangun.
Daniel melangkah masuk dengan setelan kemeja rapi yang sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit. Namun, alih-alih langsung menyantap sarapannya, Daniel duduk dengan tenang, menumpukan kedua tangannya di atas meja, lalu menatap kedua orang tuanya secara bergantian dengan sorot mata yang teramat serius.
"Papah, Mamah... ada hal penting yang ingin Daniel sampaikan pagi ini," ucap Daniel, membuat pasang suami istri paruh baya itu serentak menghentikan aktivitas makan mereka.
Nyonya Tania menurunkan cangkir tehnya, menatap putranya dengan binar penasaran yang kental. "Ada apa, Sayang? Sepertinya serius sekali. Soal rumah sakit atau... soal ucapanmu kemarin di taman?"
"Soal pernikahan, Mah," jawab Daniel tegas tanpa ragu. "Daniel sudah memutuskan untuk menikah lagi dalam waktu dekat."
Mendengar kalimat itu, sepasang mata Nyonya Tania dan Tuan Lee seketika berbinar cerah. Rasa penasaran yang membuncah langsung menyelimuti hati mereka. Mereka sangat ingin tahu, siapakah sosok wanita beruntung yang akhirnya berhasil meruntuhkan dinding es di hati putra semata wayang mereka itu setelah trauma masa lalu yang begitu hebat.
"Siapa wanita itu, Daniel? Apakah dia salah satu rekan dokter mu di rumah sakit, atau anak dari kenalan Papah?" tanya Tuan Lee bertubi-tubi dengan wajah sumringah.
Daniel menarik napas pendek sebelum menjatuhkan bom waktu pagi itu. "Wanita itu adalah Shanum, Mah, Pah. Daniel akan menikahi Shanum."
Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba, Nyonya Tania dan Tuan Lee seketika melempar senyum bahagia yang teramat lebar. Rahasia kecil Nyonya Tania dan doa-doa yang ia harapkan di taman belakang tempo hari seolah terjawab instan. Keinginan terbesar mereka untuk melihat Daniel hidup bersama wanita tulus seperti Shanum akhirnya terwujud nyata.
Namun, demi memastikan pendengarannya tidak salah, Nyonya Tania memajukan tubuhnya. "Daniel... kamu serius, kan? Kamu tidak sedang bercanda atau hanya ingin menyenangkan hatinya Mamah?"
"Tidak, Mah, Pah. Untuk masalah sesakral dan seserius ini, mana mungkin Daniel bercanda," sahut Daniel dengan nada suara baritonnya yang tenang namun mengunci. "Pernikahan Daniel dan Shanum akan digelar secepatnya, secara tertutup dan sederhana. Kita harus melaksanakan akad nikah ini sebelum sidang gugatan hak asuh Ziva kembali dibuka di pengadilan."
Mendengar kelanjutan kalimat Daniel, senyum di wajah Tuan Lee dan Nyonya Tania seketika memudar, berganti dengan guratan syok yang mendalam. Atmosfer di meja makan itu kini mendadak berubah tegang.
"Tunggu... sidang hak asuh? Apa maksudmu, Daniel?" tanya Tuan Lee dengan kening berkerut dalam.
Daniel pun akhirnya membeberkan fakta busuk yang ia dapatkan kemarin. "Klara secara resmi mengajukan banding untuk merebut Ziva. Dan bukan hanya itu saja, demi memenangkan gugatan, dia menyewa pengacara licik untuk memutarbalikkan fakta. Klara berniat memfitnah Shanum di hadapan hakim, menuduh Shanum sebagai selingkuhanku saat kami masih menikah, agar nama baik Shanum tercemar dan moralitas kita dipertanyakan."
Brak!
Nyonya Tania refleks menggebrak meja makan dengan napas memburu, wajah cantiknya memerah menahan amarah yang luar biasa setelah mendengar kelicikan mantan menantunya itu.
"Kurang ajar! Benar-benar tidak tahu malu wanita ular itu!" maki Nyonya Tania dengan suara bergetar karena tidak terima. "Sudah berselingkuh dan menelantarkan darah dagingnya sendiri, sekarang dia berani-beraninya ingin mengotori nama baik gadis setulus Shanum?!"
Tuan Lee ikut mengepalkan tangannya di atas meja, rahangnya mengeras. "Papah juga tidak akan tinggal diam, Daniel. Jika pernikahan dengan Shanum adalah benteng hukum terbaik untuk melindungi cucunya Papah dan membersihkan nama baiknya Shanum dari fitnah keji itu, maka lakukanlah! Papah dan Mamah akan mendukung penuh seluruh proses pernikahan kalian secepat mungkin!"
Setelah rahasia besar mengenai rencana busuk Klara terbongkar, Nyonya Tania dan Tuan Lee langsung bergerak cepat. Mengikuti kesepakatan antara Daniel dan Shanum, mereka tidak menggelar pesta mewah di hotel berbintang, melainkan sebuah acara pernikahan yang sangat sederhana dan khidmat di kediaman mereka. Hanya sanak saudara terdekat dan beberapa saksi penting saja yang diundang.
Sementara itu, Shanum menyempatkan diri untuk pulang sejenak ke rumah Neneknya demi memberitahukan kabar besar ini kepada Bu Siti. Di dalam rumah kayu mereka yang sederhana, air mata haru Bu Siti luruh membasahi pipinya yang mulai berkerut.
"Alhamdulillah ya Allah... doa ku di setiap sepertiga malam akhirnya diijabah oleh Gusti Allah," ucap Bu Siti sembari memeluk erat cucu semata wayangnya. Ia mengusap punggung Shanum dengan penuh kasih sayang. "Nak Dokter itu orang yang sangat mulia, Shanum. Nenek titip pesan, jadilah istri yang berbakti dan jaga Baby Ziva dengan seluruh ketulusan hatimu. Selamat ya, Nduk." Shanum hanya bisa mengangguk pelan dalam dekapan sang Nenek, memendam rapat-rapat kenyataan bahwa ini adalah pernikahan kontrak demi membalas budi.
*
*
Tiga hari berlalu dengan sangat cepat bagaikan hembusan angin. Berkat koneksi dan wewenang keluarga Lee, seluruh proses administrasi berkas pernikahan di KUA selesai dalam waktu singkat. Kini, mereka hanya tinggal menunggu waktu penghulu datang untuk meresmikan ikatan tersebut.
Pagi itu, atmosfer di kediaman mewah Dokter Daniel terasa sangat berbeda. Seluruh ART, termasuk Bik Sumi dan Ningsih, tampak bekerja dengan senyum merekah dan penuh antusias. Bagi mereka, Dokter Daniel dan Shanum adalah perpaduan dua orang yang sangat baik hati, tulus, dan dinilai sangat cocok untuk bersanding bersama.
Di dalam kamar pengantin yang sudah dihias, Shanum berdiri mematung di depan pantulan cermin besar. Ia mengenakan gaun muslimah pernikahan berwarna putih bersih yang anggun, berhias payet brokat simpel namun berkelas. Riasan wajahnya yang natural membuat kecantikan alaminya terpancar sempurna. Namun, di balik keanggunan itu, sepasang tangan Shanum saling bertautan erat, dingin karena rasa gugup yang luar biasa mulai menyelimuti dadanya.
Sementara itu di kamarnya sendiri, Daniel berdiri di depan cermin sembari merapikan kerah setelan jas putih formalnya. Pria itu menarik napasnya dalam-dalam melalui hidung, lalu menghembuskannya secara perlahan untuk mengusir sisa-sisa trauma masa lalu. Tatapan matanya berubah mantap. Ia sudah membulatkan tekad untuk mengucapkan kalimat ijab kabul sebentar lagi, meresmikan Shanum sebagai istrinya, meskipun untuk saat ini status itu hanya akan berlaku di atas selembar kertas kontrak.
Ruang tamu utama kediaman Daniel kini telah disulap menjadi tempat prosesi akad nikah yang sangat indah. Dekorasi minimalis namun elegan memenuhi ruangan, didominasi oleh hamparan bunga mawar putih segar yang menebarkan aroma harum menenangkan. Di sudut ruangan, Baby Ziva tampak sangat anteng di gendongan Bik Sumi, mengenakan gaun bayi putih senada dan sama sekali tidak rewel, seolah ikut merasakan kebahagiaan yang sedang melingkupi rumah itu.
Akhirnya, momen yang mendebarkan itu tiba. Shanum melangkah turun dengan anggun, lalu duduk bersimpuh di atas karpet mewah nan empuk, tepat di sampingnya Dokter Daniel yang sudah menunggu di depan meja akad.
Sebelum penghulu memulai khotbah nikah, Nyonya Tania melangkah maju dengan mata berkaca-kaca menahan haru. Dengan tangan yang lembut, ia membentangkan selembar kain brokat kerudung putih panjang, lalu meletakkannya dengan anggun di atas kepala putra dan calon menantunya, menyatukan mereka dalam satu naungan.
Daniel sempat melirik sekilas ke arah samping melalui sudut matanya. Detik itu juga, jantung Daniel berdesir hebat. Penampilan Shanum pagi ini benar-benar sangat cantik dan bersinar bak bidadari, jauh berbeda dari penampilan sehari-harinya yang sederhana. Daniel sempat merasa nervous hingga tenggorokannya terasa kering, namun sebagai seorang pria, ia berusaha keras untuk tetap tenang dan menguasai keadaan.
Sang penghulu kemudian menjabat erat telapak tangan kanan Daniel. Suasana seketika berubah menjadi sangat sakral dan senyap.
"Saudara Daniel Lee bin Tanoe Lee, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Shanum Adzania binti Almarhum Firdaus dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
Tanpa jeda dan tanpa keraguan sedikit pun, Daniel menyambut jabat tangan itu dengan cengkeraman yang mantap, lalu mengucapkan kalimat ijab kabul dengan suara baritonnya yang lantang, tegas, dan berwibawa dalam satu tarikan napas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Shanum Adzania binti Almarhum Firdaus dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu.
"SAH!" sahut Tuan Lee, para saksi, dan keluarga yang hadir serempak.
Doa-doa segera dipanjatkan memenuhi ruangan yang penuh haru tersebut. Dengan diiringi ketukan palu hukum dan rida dari atas, kini Dokter Daniel dan Shanum telah resmi menjadi sepasang suami istri yang sah di mata agama dan negara. Sebuah benteng perlindungan kokoh kini telah resmi berdiri, siap meruntuhkan segala kelicikan Klara di persidangan nanti.
Bersambung...
shanum menahan perasaannya jangan sampai baper lagi seperti kemarin yah takutnya dokter Daniel mengatakan seperti itu hanya untuk meyakinkan hakim dan memenangkan persidangan d hak asuk ziva yah num
shanum masih gk percaya klau daniel cinta sm dia,,ayo daniel nyatakan lg perasaan mu sm shanum nanti di mobil,,biar shanum gk salah faham 🤭
Dan Sony yg mulai meragukan cinta Klara kpdnya...segera hengkang...menjauh & lepas tangan thd Klara
Biar sempurna hancurnya perempuan penuh intrik & drama itu
Cobalah utk saling jujur ttg perasaan masing²
Manatau gayung bersambut kan
Klwpun bertepuk sebelah tangan ..ya gpp...anggap uji nyali