NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

07. Menangis bersama

Dirga melajukan motornya perlahan, sebenarnya dia ingin melampiaskan emosinya dengan kebut kebutan di jalan. Tapi teringat wajah dan senyum ibunya, dia akhirnya bisa mengendalikan emosinya.

Dia sempat berpikir, kalau nanti kebut kebutan dan terjadi sesuatu yang tak di inginkan dia akan menambah beban ibunya. Ibunya pasti akan merasa sedih dan terpukul. Bukannya meringankan masalah ibunya, malah akan menambah masalah.

Dia sadar, dia anak tertua dan harus bisa melindungi ibunya. Setelah tahu dan mendengar sendiri ucapan sang ayah yang tidak mau mengakui adiknya yang baru lahir.

Tak terasa air mata jatuh di kedua pipinya. Dia bukan laki-laki cengeng, dia hanya ikut merasakan kesedihan yang ibunya rasakan.

Setelah memasuki halaman rumah, Dirga mematikan mesin motornya. Dia sengaja agar suara motornya tidak terdengar sampai ke dalam rumah. Dia ingin duduk sebentar di teras menenangkan diri, dia takut ketika bertatapan dengan ibunya tidak bisa menahan kesedihannya. Ibu dan adik-adiknya pasti akan bertanya-tanya.

Baru saja Dirga akan duduk di kursi teras , tiba-tiba terdengar suara pintu di buka seseorang dari dalam.

Kleekk..

Dirga dengan gerakan cepat menghapus sisa air matanya dengan lengan kanannya. Pandangannya beralih ke arah pintu, dan segera memasang wajah ceria , di sana ibunya sedang menatap ke arahnya.

"Ibu...kenapa keluar, apa ada yang ibu butuhkan, misalkan beli sesuatu." tanya Dirga sambil tersenyum.

" Ibu sengaja menunggumu pulang." pandangan Arista menyapu ke arah jalanan seolah mencari sesuatu.

Melihat itu hati Dirga merasa sakit. Dia tahu pasti ibunya berharap dia pulang berdua dengan ayahnya.

"Apa adek bayi udah tidur Bu. Oh..iya, ngomong-ngomong adek bayi namanya siapa, Bu. Maaf, sampai lupa nanya." kata Dirga seceria mungkin.

" Lagi main sama abang-abangnya. Namanya Hanif Setiaji."

"Wahhh...nama yang bagus sekali. Pasti ayah yang memberi nama." tebak Dirga spontan.

" Sayangnya bukan. Tantemu yang memberi nama." jawab Arista. Pandangannya tetap menyapu ke arah jalanan penuh harap.

Lagi-lagi hati Dirga serasa di cubit. Tanpa sadar telapak tangannya mengepal kuat.

" Kita masuk, Bu. Nggak baik ibu di luar, nanti masuk angin."

"Apa tadi di rumah nenek kamu nggak ketemu ayah." tanya Arista menurut saat punggungnya di rangkul putra sulungnya untuk di ajak masuk. Tapi sekali lagi kepala itu melihat ke arah belakang mencari-cari sesuatu.

" Nggak ,Bu. Tadi Dirga nggak sempat masuk ke dalam, baru sampai teras Dirga langsung pulang. Karena tadi sudah sempat gerimis,takut kehujanan di jalan."

Arista menatap putra sulungnya. Dia merasa ada yang sedang di tutup tutupi oleh anaknya. Dirga pura-pura menundukkan kepalanya sambil membetulkan ujung kaos yang dia pakai.

Dia menghindari tatapan ibunya yang mungkin sedikit curiga.

" Apa nenek kamu tidak berpesan apa-apa?."

Dirga menggelengkan kepalanya.

"Ibu kayak nggak tau aja, gimana sikap nenek. " jawab Dirga.

Arista mengangguk paham.

**********

"Apa Dirga tadi mendengar semua pembicaraan kita, Bu." Pramono masih cemas.

Bu Rahmi heran dengan sikap anaknya.

" Kenapa kamu kok, kayak takut sama anak itu. Kamu bapaknya lho, kenapa seolah-olah takut di laporin ke istrimu."

Pramono mengacak rambutnya. Dia terlihat gelisah dan cemas. Bukan karena takut di laporkan ke istrinya. Ada sesuatu hal yang hanya di ketahui oleh dirinya, putra sulung, dan istrinya.

************

" Hmmm...asyik sekali ya, kalian. Nggak ngajak-ngajak mainnya." Dirga dan Arista berdiri di pintu kamar.

Dimas dan Dityan yang tengah asyik bermain dengan adek bayinya tak menyadari dengan kehadiran Dirga dan Arista.

" Eh...ibu, mas Dirga. Hanif dari tadi nggak mau tidur." lapor Dityan.

" Ya..iya..lah. Bagaimana mau tidur, kalian gangguin terus. Oh..jadi kalian udah tau kalau namanya Hanif." kata Dirga sambil tersenyum.

" Udah...dong, kan di kasih tau sama ibu. Ternyata Tante Anisa bisa juga kasih nama adek kita nama yang bagus." kata Dimas.

"Kenapa bukan ayah sih, yang kasih nama adek bayi. Kenapa juga dari tadi belum pulang." celetuk Dityan.

Dirga melirik sekilas ke arah ibunya.

"Ayah kalian belum sempat, mungkin belum punya ide, jadi atas usul Tante Anisa adek kalian di beri nama Hanif." kata Arista sambil berjalan mendekati Hanif dan pura-pura membetulkan pakaiannya.

Dirga pun ikut mendekat. Reflek tangan kanannya mengusap punggung ibunya. Mendapatkan perlakuan seperti itu, hati Arista kembali seperti di sayat pisau.

Tanpa sadar air matanya mengalir deras. Arista kembali menangis lirih, sekuat apa pun dia menahan air matanya agar tak jatuh, nyatanya dia tak bisa.

Dirga memutar tubuh ibunya dan memeluknya dengan erat. Ke dua adiknya saling tatap, mereka bingung. Tapi seolah tak mau ketinggalan, mereka pun ikut memeluk ibunya. Walaupun mereka tak tahu duduk persoalannya.

Anisa yang sedianya malam ini mau pulang ke rumah, dan berencana pamit dengan kakaknya, karena tadi suaminya, Restu menyuruhnya pulang.Anisa yang sedianya menginap terpaksa membatalkannya. Dia merasa sedikit tenang ke tiga keponakannya sudah di rumah. Anisa hanya bisa berdiri terpaku menyaksikan adegan di depan matanya.

Rasa haru menyelimuti hatinya.Tatapanya tertumbuk pada sosok Hanif yang ternyata sudah tertidur. Tapi sepertinya tidurnya pun tak tenang, seolah ikut merasakan kesedihan keluarganya.

Atau mungkin dia sudah bisa merasakan kalau kehadirannya tidak di inginkan oleh sang ayah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!