"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.
Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"
"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"
"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."
Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.
Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
Sisa-sisa ketegangan dari drama di koridor Fakultas Bisnis masih terasa menggantung di udara kampus, namun di dalam ruangan semi-pribadi di sudut kafe akademik yang terletak di dekat paviliun Hukum, suasana justru terasa begitu sunyi.
Amieyara Walker duduk dengan punggung tegak, jemari lentiknya melingkari cangkir porselen berisi teh chamomile yang sudah mulai mendingin.
Di seberang meja kaca itu, Maximilian Valerio duduk bersandar dengan santai. Satu kaki kekarnya ditopang di atas lutut yang lain, sementara sepasang mata gelapnya mengawasi setiap pergerakan di luar pintu kaca kafe dengan kewaspadaan seorang predator.
Max baru saja kembali lima belas menit yang lalu setelah "menyelesaikan" urusannya dengan Caca. Dia tidak menceritakan secara detail bagaimana dia memperlakukan adik tiri Yara itu seperti sampah di depan loker, dan Yara sendiri tidak berniat untuk bertanya.
Keheningan di antara mereka adalah bentuk saling percaya yang tidak lagi membutuhkan banyak kata.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Suara deburan langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa mendadak memecah keheningan selasar kafe. Pintu kaca digeser dengan kasar, menimbulkan bunyi berdecit yang memekakkan telinga.
Sosok pria paruh baya dengan setelan jas hitam yang kini tampak sedikit kusut melangkah masuk dengan aura kemarahan yang meluap-luap.
Tuan Walker.
Pria itu rupanya benar-benar berhasil keluar dari markas otoritas federal berkat jaminan penangguhan penahanan dari tim pengacaranya.
Alih-alih duduk tenang dimansion untuk menenangkan diri, ego dan harga dirinya yang terluka parah justru menuntun langkah kakinya menuju universitas, memburu satu-satunya orang yang dia anggap sebagai dalang dari kejatuhannya pagi ini.
"Amieyara!" bentak Tuan Walker, suaranya menggelegar di dalam ruangan kafe yang sepi, membuat beberapa mahasiswa di sudut lain seketika menoleh ketakutan.
Yara tidak tersentak. Dia bahkan tidak meletakkan cangkir tehnya dengan terburu-buru. Gerakannya teramat sangat tenang, laksana permukaan danau di malam hari.
Dia perlahan mengangkat wajah cantiknya, menatap pria yang selama belasan tahun ini dia panggil dengan sebutan 'Ayah' namun memperlakukannya tidak lebih dari sekadar barang dagangan.
"Kau... dasar anak haram tidak tahu diri!" Tuan Walker melangkah mendekat, mencengkeram pinggiran meja kaca hingga tubuhnya condong ke depan, menatap Yara dengan mata yang memerah dan urat-urat leher yang menonjol tegang.
"Kau pikir kau sudah sangat hebat setelah membawa agen-agen federal itu ke rumahku?! Kau pikir kau bisa menghancurkanku dengan lembaran kertas dokumen sialan itu?!"
Diperlakukan dan dibentak dengan begitu kasar di depan umum oleh pria yang paling dia hormati serta membuat nya trauma, Amieyara Walker sama sekali tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
Rasa trauma yang biasanya datang mencekik setiap jam dua pagi seolah menguap tak berbekas saat ini.
Mengapa? Karena di samping kiri tempatnya duduk, atmosfer ruangan mendadak turun drastis hingga ke titik beku.
Maximilian Valerio perlahan menurunkan kakinya, lalu menegakkan posisi duduknya. Gerakannya sangat lambat, namun aura membunuh yang keluar dari tubuh tegap bertatonya seketika mengunci pergerakan Tuan Walker.
Max tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun tangan kekarnya bergerak maju, menggenggam jemari Yara di atas meja dengan genggaman yang teramat sangat erat dan posesif—sebuah pesan visual yang nyata bahwa ada benteng kokoh setebal baja yang berdiri di antara Yara dan ancaman apa pun.
Yara merasakan kehangatan yang masif mengalir dari telapak tangan Max, memperkuat fondasi keberaniannya. Dia menatap lurus ke dalam manik mata Tuan Walker dengan pandangan hukum yang dingin dan mematikan.
"saya tidak berpikir aku hebat, Tuan Walker," ucap Yara, suaranya mengalun rendah, sangat stabil tanpa ada getaran ketakutan sedikit pun. "saya hanya sedang menggunakan hak jalur hukum yang sah. Dokumen yang kuberikan pada otoritas federal pagi tadi bukanlah lembaran kertas biasa. Itu adalah replika dari seluruh dosa finansial yang Anda bangun di atas penderitaan orang lain selama lima belas tahun terakhir. Dan jika Anda berada di sini sekarang hanya untuk memaki saya, saya sarankan Anda menyimpan energi Anda untuk persidangan hari Senin."
"Kau—!" Tuan Walker mengangkat tangan kanannya, tampaknya refleks ingin melayangkan tamparan keras ke wajah Yara, seperti yang biasa dia lakukan di dalam perpustakaan pribadi mansion mereka dulu ketika Yara berani menolak perintahnya.
Namun, tangan itu tidak pernah sampai.
SREET!
Sebelum telapak tangan Tuan Walker bergerak turun lebih dari beberapa sentimeter, Max sudah berdiri dari kursinya dengan kecepatan yang mengerikan. Tangan kiri Max mencengkeram pergelangan tangan Tuan Walker di udara dengan kekuatan yang begitu masif, hingga terdengar bunyi gemertak halus dari sendi tulang pria tua itu.
Tuan Walker seketika meringis kesakitan, wajahnya berubah pias saat menyadari siapa pria berusia dua puluh tahun yang kini berdiri menjulang di hadapannya dengan sepasang mata gelap yang berkilat haus darah.
"Sentuh dia dengan satu jarimu yang kotor itu, Walker..." bisik Max, suara bariton rendahnya terdengar laksana desis iblis yang keluar dari dasar neraka.
Dia meningkatkan tekanan cengkeramannya pada pergelangan tangan Tuan Walker, membuat pria itu terpaksa membungkuk menahan perih.
"Dan aku bersumpah, surat jaminan penangguhan penahananmu akan berubah menjadi surat izin pemakamanmu besok pagi."
"Tuan... Maximilian," Tuan Walker terbata-bata, keangkuhannya sebagai kepala keluarga kaya runtuh seketika di hadapan sang pewaris dinasti Valerio. "Ini... ini adalah urusan internal keluarga Walker. Gadis ini adalah anak, saya, dia telah menghancurkan bisnis saya—"
"Dia bukan lagi bagian dari sampah keluarga kalian sejak dia melangkah keluar dari rumah terkutuk itu," potong Max kejam, wajah tampannya mengeras tanpa belas kasihan. Dia mengibaskan tangan Tuan Walker dengan sentakan kasar hingga pria paruh baya itu terhuyung mundur beberapa langkah, menabrak kursi kayu di belakangnya.
Max merapikan letak jaket hitamnya, lalu kembali menggandeng tangan Yara, menarik wanita itu untuk berdiri di sampingnya. Max menatap Tuan Walker dari atas ke bawah dengan pandangan yang sarat akan penghinaan.
"Dengarkan aku, Rubah Tua," ucap Max, nadanya kembali santai namun penuh dengan intimidasi yang mutlak. "Urusan keuanganmu dengan federal adalah bagiannya Yara. Tapi urusanmu denganku baru saja dimulai jika kau berani menunjukkan wajah kusutmu lagi di depan kekasihku. Sekarang, bawa sisa-sisa harga dirimu yang murah itu keluar dari kampus ini sebelum aku menyuruh pengawal Valerio menyeretmu seperti anjing kurap di koridor luar."
Tuan Walker memegangi pergelangan tangannya yang kini memar memerah akibat cengkeraman Max. Dia menatap Max dengan rasa takut yang mendalam, lalu melirik ke arah Yara yang berdiri dengan anggun berlindung di balik pundak tegap kekasihnya.
Menyadari bahwa dia tidak lagi memiliki kekuatan politik atau fisik untuk melawan kombinasi antara kecerdasan hukum Yara dan kekuasaan mutlak dinasti Valerio, Tuan Walker hanya bisa menggertakkan giginya dalam diam.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, pria paruh baya itu berbalik dengan langkah yang gontai dan penuh kehinaan, melangkah keluar dari kafe akademik dengan sisa-sisa kesombongan yang telah hancur total.
Yara mengembuskan napas panjang setelah kepergian Tuan Walker, merasakan ketegangan di pundaknya perlahan memudar. Dia menoleh ke arah Max, mendapati pemuda itu sudah kembali menatapnya dengan binar mata yang mendadak berubah menjadi sangat lembut dan protektif.
Max mengulurkan tangannya, mengusap pipi Yara dengan ibu jarinya yang kasar. "Kau tidak apa-apa, Baby? Apakah bajingan tua itu sempat membuatmu takut?"
Yara tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang teramat sangat manis. Dia menggenggam tangan Max yang ada di pipinya. "Sama sekali tidak, Max. Selama kau ada di sampingku... aku merasa tidak ada satu pun monster dari masa laluku yang bisa menyentuhku lagi."
Max tersenyum puas mendengar pengakuan itu, lalu sebuah seringai jahil kembali terukir di bibirnya. Dia menarik Yara ke dalam pelukannya, berbisik nakal di dekat telinganya, "Baguslah kalau begitu, Baby. Karena setelah semua drama ini selesai, kau berutang satu pelukan hangat tanpa busana di apartemenmu sebagai upah karena pacarmu ini sudah bekerja keras menjadi pahlawanmu siang ini."
"Maximilian!" bentak Yara dengan wajah yang seketika merona merah padam, membuat tawa renyah Max kembali bergema memenuhi ruangan, mengusir sisa-sisa kegelapan yang sempat dibawa oleh badai fitnah hari itu.