Kisah Princess Mahreen dan Collin Lange
Mahreen Al Khalifa putri bungsu Malik dan Milly Al Khalifa adalah putri Sheikh yang suka hidup bebas tanpa aturan istana hingga Malik harus memberikan Collin Lange sebagai bodyguardnya. Tanpa keluarga Al Khalifa tahu, Collin adalah agen MI6 yang menyamar masuk ke istana Al Khalifa untuk mencari buronan internasional yang bersembunyi di Bahrain. Mahreen dan Collin bagaikan air dan minyak hingga gadis itu tahu misi sebenarnya pria tersebut. Setelah Collin menyelesaikan misinya, dia kembali ke Inggris namun Mahreen bertekad untuk mendapatkan bodyguardnya yang ternyata agen rahasia itu kembali ke dalam pelukannya.
Generasi Delapan Klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Kampus
Collin memutar terlebih dahulu sebelum sampai ke gedung apartemen Mahreen. Mobilnya diparkir sembarangan dan Mahreen bergegas masuk ke dalam gedung apartemennya, sementara Collin berdiri menghalangi Mats Tyler untuk masuk.
Mats Tyler melihat seorang pria yang siap berkelahi dengannya, berdiri di trotoar depan gedung apartemen Mahreen. Dia pun memilih pergi karena bukan sekarang waktunya menemui Mahreen. Gadis itu sudah ada pengawal baru dan itu bukan cewek!
Collin melihat Mats Tyler menggeber motornya meninggalkan lokasi. Dia masih menatap tajam ke arah motor itu pergi. Setelah di rasa aman, Collin memasukkan mobilnya ke dalam garasi bawah tanah gedung apartemen.
Setelahnya pria itu masuk ke dalam lift dan naik ke lantai tempat unit Mahreen. Gadis itu membuka pintu saat Collin memencet bel pintu dan wajahnya tampak penasaran.
"Bagaimana?" tanya Mahreen saat Collin masuk dan menutup pintu apartemennya.
"Kabur. Padahal aku sudah bersiap kalau dia berani turun," jawab Collin.
"Dia mau ngapain sih!" gerutu Mahreen.
Collin menoleh ke Mahreen. "Anda tidak takut?"
"Sama siapa? Mats? Nggak lah! Aku paling takut kalau Mommy marah terus aku kena hukuman bersih-bersih istana. Terus uangku ditahan Daddy plus kakakku yang menyebalkan itu tidak mau membantu kasih uang ke aku. Oh, plus Allah. Itu saja sih ketakutan aku," jawab Mahreen cuek.
Collin menatap datar. "Itu saja? Bagaimana jika ada orang jahat pada anda?"
Mahreen menghampiri Collin dan menyentuh wajah pria itu. Bulu-bulu halus mulai tumbuh di rahang Collin dan semuanya seperti berdiri saat tangan halus itu menyentuhnya.
"Lalu guna kamu apa Lange? Ayahku menggaji dirimu untuk melindungi aku bukan?" senyum Mahreen. "Tugasmu lah melindungi aku. Benar?"
Collin hanya diam saja sambil menatap mata hijau itu. Benar-benar aku payah menghadapi mata hijau! Mata Kayleen biru yang cenderung hijau tapi lebih ke dominasi hijau.
"Lange? Kamu melamun?" Mahreen menatap intens ke pengawalnya. "Tunggu, jangan bilang kamu memikirkan pacarmu?"
Collin hanya tersenyum smirk. "Pilihan pacar anda sangat payah, Princess!"
"Heeeiii, mana aku tahu!" balas Mahreen sambil menarik tangannya dari wajah Collin. Entah kenapa, Collin merasa kehilangan sentuhan itu.
"Sebaiknya anda tidur, Princess. Hari ini cukup melelahkan." Collin mengedikkan dagunya ke arah kamar Mahreen.
Mahreen mengangguk. "Goodnight Lange," pamitnya dengan senyum lebar.
Princess Mahreen Al Khalifa
"Goodnight Princess," jawab Collin.
Mahreen pun berjalan ke kamarnya dan Collin mulai memeriksa semua keamanan apartemen itu. Setelah dirasa aman, Collin pun masuk ke dalam kamarnya. Dia mulai mencari tahu tentang Mats Tyler dan mengira-ngira apa tujuannya mengikuti Mahreen.
***
Keesokan paginya, Mahreen keluar dari kamar pukul tujuh pagi dan segera membuat sarapan. Kebiasaan di rumah, dia harus sudah mandi dan sholat subuh saat keluar kamar di pagi hari. Di Leiden pun sama, Mahreen selalu seperti itu.
Harum kopi menyeruak di dapur minimalis khas Mahreen yang ogah ribet dan gadis itu mulai membuat sarapan. Dia tahu menyimpan nasi di dalam kulkas sebelum kena tahan masuk sel. Dengan santainya, Mahreen membuat nasi goreng resep dari sepupunya, Arletta yang chef RR's Meals.
Collin yang keluar saat mencium harum kopi masuk ke kamarnya, terkejut melihat Mahreen memasak. Harum masakan khas Asia, menyebar di apartemen itu.
"Anda ... Memasak?" tanya Collin.
"Pagi Lange. Memang kenapa?" sapa Mahreen.
"Tidak menduga saja anda bisa masak." Collin mengambil cangkir dan menuangkan kopi ke dalamnya.
"Kamu tidak tahu saja," senyum Mahreen. Dia menuangkan nasi goreng di atas dua piring. Ditambah sosis goreng, telur ceplok dan acar yang sudah dibuat serta disimpan.
"Ini baunya sangat sedap," puji Collin.
"Ayo kita makan. Kan aku ada kuliah jam sembilan pagi," ajak Mahreen.
***
Udara pagi di kota Leiden terasa dingin ketika mobil hitam milik Collin berhenti di depan kampus Leiden University. Mahreen yang duduk di kursi penumpang merapikan syal kremnya sambil menatap gedung tua khas Eropa di depannya.
“Aku masih bisa turun sendiri, Lange” ucap Mahreen dengan santai.
Collin melepas sabuk pengamannya tanpa menjawab. Tatapannya justru mengarah ke sisi lain halaman kampus, tepat pada seorang pria tinggi berjaket hitam yang sedang bersandar santai di dekat motor sport.
"Anda lihat itu siapa, Princess?" Collin mengedikkan dagunya ke arah parkiran motor.
Mahreen mengikuti kemana mata abu-abu Collin terarah.
Mats Tyler.
Pria itu tampak tersenyum begitu melihat Mahreen keluar dari mobil. Collin langsung berdiri di samping Mahreen seperti layaknya seorang bodyguard pribadi.
“Pagi, Mahreen,” sapa Mats santai. “Aku kira hari ini kamu naik sepeda lagi.”
Mahreen belum sempat menjawab ketika Collin lebih dulu bicara datar. “Dia nggak akan naik sepeda sendirian.”
Mats mengangkat alis. “Aku cuma ngajak ngobrol, bukan nyulik.”
“Belum tentu.” Collin menatap tajam ke Mats Tyler.
Mahreen memejamkan mata sejenak, mulai pusing sendiri. “Kenapa kalian berdua! Ini kampus. Ingat?” keluhnya.
Mats tertawa kecil. “Karena dia ngelihatin aku kayak polisi interpol.”
“Kalau perlu memang begitu,” jawab Collin dingin.
Beberapa mahasiswa yang lewat mulai melirik ketiganya. Kombinasi Mahreen yang cantik, Mats yang terkenal di kampus, dan Collin yang auranya seperti mafia profesional memang terlalu mencolok untuk diabaikan.
Mats mendekat satu langkah pada Mahreen sambil menyerahkan secangkir kopi hangat.
“Aku beliin caramel latte favoritmu.”
Sebelum Mahreen menerima, tangan Collin lebih dulu mengambil gelas itu.
Mats berkedip bingung.
Collin membuka tutup kopi, mencium aromanya sebentar, lalu berkata tenang, “Minimal aku harus pastikan nggak ada hal aneh di dalamnya.”
Mahreen membelalak. “Lange!”
Mahasiswa di sekitar langsung menahan tawa.
Mats menatap Collin tidak percaya. “Aku bukan penjahat.”
“Kau terlalu dekat dengan Mahreen untuk dianggap aman.”
“Ya ampun,” Mahreen mengusap wajahnya frustrasi. “Aku cuma mau kuliah. Kita sudah putus, Mats!"
Namun kekacauan belum selesai.
Seorang mahasiswi tiba-tiba berbisik cukup keras pada temannya, “Cowok dingin yang itu siapa? Ganteng banget…”
Collin tidak peduli, tapi Mats malah menyeringai puas.
“Nah, sekarang kampusmu bakal heboh gara-gara bodyguard galakmu.” Mats tersenyum licik ke Mahreen.
Mahreen langsung berjalan cepat menuju gedung fakultasnya dengan wajah datar. Collin otomatis mengikuti di belakangnya.
Sementara Mats berjalan santai di sisi lain sambil berkata, “Tenang aja, Lange. Aku cuma suka gangguin dia, bukan nyakitin.”
Collin melirik tajam.
“Itu justru masalahnya!" desisnya dingin.
***
Yuhuuu up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
#eh