Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Ketika keinginan Terbentur Dengan Aturan.
"Abi pulang besok dari rumah sakit," kata Shafiya
Sagara diam. Namun kali ini terlihat bahwa ia mendengar. Tidak menyela. Karena tahu Shafiya belum selesai.
"Abi meminta kita datang. Ke pesantren."
Sagara tak langsung menjawab. Tatapannya jatuh pada berkas-berkas di depannya. Seolah menimbang sesuatu yang tidak diucapkan. Jadwal yang sangat padat untuk besok.
"Tidak besok." Keputusan itu keluar. Dan Shafiya tahu itu bukan hal yang bisa ditawar.
"Lalu, kapan?"
"Saya atur." Tidak memberi kepastian. Artinya mungkin tidak dalam waktu dekat.
Shafiya menarik napas pelan. "Baiklah, saya tunggu," katanya. Ia lalu bangkit, saat hendak berbalik untuk melangkah keluar, ia menambahkan, "semoga tidak lama."
Sagara tak menjawab. Hanya melihat sekilas saat tubuh Shafiya hilang di balik pintu yang menutup rapat perlahan.
Hening kembali mengambil alih ruangan.
Sagara tidak langsung kembali pada berkas yang sejak tadi ia tekuni.
Tatapannya masih tertahan beberapa detik ke arah pintu yang baru saja tertutup itu.
“Semoga tidak lama.”
Kalimat Shafiya itu sebenarnya... tidak penting. Tapi entah kenapa, tertinggal dalam benaknya.
Masih dipikirkan untuk beberapa jenak.
Sagara kemudian menarik kembali berkas di hadapannya. Membuka halaman yang tadi sempat ia baca. Namun tidak benar-benar terbaca. Bahkan beberapa detik kemudian, ia menutupnya kembali.
Tangannya beralih pada ponsel di sisi meja. Layar menyala. Beberapa notifikasi masuk. Ia tidak membukanya.
Justru membuka jadwal pekerjaan untuk besok.
Beberapa agenda sudah tersusun rapat. Hampir tak ada celah.
Sagara kemudian memutuskan menelepon Agam--personal asisten sekaligus teman yang sangat ia percaya.
“Aku perlu lihat ulang agenda besok. Ada yang bisa di-reschedule?” Sagara langsung membuka percakapan begitu panggilan terhubung.
“Sudah ada dua yang digeser,” jawab Agam. Seringnya komunikasi mereka non formal di luar jam kantor.
“Besok kamu ada site visit ke pabrik yang kebakaran kemarin. Di Jawa Timur," lanjut Agam.
Sagara diam sejenak. Jadwal itu… luput dari perhatiannya. Hampir ia lupakan.
“Departure?” tanyanya. Nada tanya khas dunia korporat. Maksudnya jadwal keberangkatan besok.
“Pukul delapan. Tim operasional sudah standby untuk mendampingi," jawab Agam.
“Return?”
“Tergantung situasi di lapangan. Kalau--"
“Pastikan.” Sagara memotong. Ia tidak suka dengan hal-hal yang belum pasti.
Agam menarik napas tipis di ujung sana. “Estimasi kembali jam dua siang. Jam tiga, kamu ada meeting dengan perwakilan dari Singapura.”
"Ya." Sagara menutup sambungan. Besok, jadwal sangat padat. Tak bisa ditunda. Tak ada yang bisa digeser.
...
...
Pagi belum benar-benar naik, saat Agam tiba di Adinata Residence tiga. Langkahnya tenang menyusuri teras yang tinggi menuju ke pintu utama. Sedikit memicing saat menemukan dokter Raka sudah duduk di ruang depan. Tampak santai.
"Dipanggil juga?"
"Tidak. Mau numpang sarapan."
Agam duduk di sampingnya. "Aku pikir dia kambuh lagi.
Raka menggeleng. "Sejak terungkap kalau anak itu memang miliknya, dia sudah tidak pernah cauvade."
Beberapa waktu lalu, Sagara sering mengalami gejala sakit yang tak pernah berhasil didiagnosa pasti. Gejalanya mirip kehamilan simpatik. Dan itu terkonfirmasi dengan Sagara sembuh bila ada di dekat Shafiya.
Agam mengangguk. "Hal yang baik. Dia tidak pernah kambuh lagi."
"kalau pun kambuh," sambung Raka, "Yang jelas obatnya bukan lagi di tanganku."
Mereka tertawa kecil.
Terdengar langkah mendekat. Disusul munculnya Ratri. "Sudah ditunggu di ruang makan," tuturnya langsung.
Di ruang makan itu mereka tidak benar-benar sarapan. Belum.
Jam sarapan masih beberapa saat ke depan. Meja marmer panjang itu masih kosong. Hanya ada tiga cangkir kopi yang masih mengeluarkan uap tipis.
“RS Brawijaya itu serius mau kamu ambil?” Raka membuka pembicaraan, sambil menuang kopi ke cangkirnya sendiri tanpa izin.
Agam duduk santai di kursi seberang. “Bukan mau. Lagi dihitung.”
Sagara membuka tablet di depannya.
“Hitungannya sudah lewat,” katanya. “Tinggal waktu.”
Raka mendengus pelan. “Masalahnya bukan di angka.”
Sagara menoleh. “Lalu?”
“Standar mereka jauh di bawah Adinata. Kalau kamu paksa masuk, yang rusak bukan mereka. Tapi kita.”
Agam menyela, ringan. “Makanya lagi disaring. Nggak semua diambil mentah.”
Raka menggeleng. “Kamu nggak bisa ‘setengah’ ambil rumah sakit, Gam," katanya ke Agam.
Sagara menyandarkan tubuh. Tatapannya bergeser ke arah jendela.
“Kalau kita tidak ambil, kompetitor yang ambil.”
Hening sebentar.
Raka mengangkat cangkirnya. “Kadang nggak semua harus dimiliki, Sagara. Ambil yang ngasih peluang untung lebih besar." Raka terkadang terkadang cosplay sebagai pensihat.
Agam tersenyum tipis. “Dia bukan tipe yang suka lihat peluang lewat.”
Sagara berdiri.
“Ini bukan soal peluang. Ini posisi." Menegaskan landasan keputusannya. Tapi memang seringnya keputusan Sagara itu tepat.
Raka menghela napas. “Ya sudah. Tapi kalau nanti aku yang harus beresin kekacauan medisnya--" Ia belum selesai dengan kalimatnya.
“Ya memang kamu," potong Sagara.
Agam terkekeh pelan. “Nah, ini ciri khas Adinata. Otoriter."
Raka hanya bisa mendengus pelan.
Akhirnya, beberapa langkah terdengar. Dua asisten rumah berseragam rapi mendorong troli berisi hidangan sarapan. Dengan cekatan, mereka menata semuanya di atas meja.
Semuanya sudah lengkap. Tapi mereka belum memulai sarapan--seolah masih ada sesuatu yang ditunggu.
Ratri mendekat. "Tuan. Sepertinya nona tidak ikut sarapan. Ada di dapur."
"Maksud?" Pertanyaan itu datang tanpa menoleh.
"Mereka bilang, nona ingin membuat sendiri sarapannya."
Barulah Sagara menoleh sebentar. Tatapannya singkat, namun cukup untuk membuat Ratri menegakkan bahunya tanpa sadar.
“Sampai harus dia kerjakan sendiri?”
Tidak dengan nada tinggi. Juga tidak tampak marah. Tapi meninggalkan tekanan yang tak perlu dijelaskan.
Ratri menunduk sedikit. “Iya, Tuan."
"Di dapur, tidak ada yang bisa membuat sarapan yang dia suka?"
Ratri mulai menegakkan tubuhnya seraya menahan napas. Ia baru paham. Ada yang salah.
"Dan hal seperti ini." Sagara menatapnya. Tajam. "Kamu masih melapor pada saya?"
"Ba--ik Tuan. Saya tangani."
Ratri mundur dua langkah. Berbalik dan melangkah ke cepat keluar dari ruang makan.
Agam menyandarkan tubuhnya. Pandangannya sempat ke arah dapur yang sebenarnya tidak terjangkau dari tempat mereka duduk.
“Mungkin… nona Shafiya hanya ingin sesekali,” katanya ringan.
Raka mengangguk tipis. “Harusnya hal itu tidak masalah.”
Sagara menatap kedua temannya itu.
“Di rumah ini, semuanya sudah diatur. Tinggal dijalankan.”
Agam tidak menanggapi lagi.
Raka pun diam.
Dan percakapan itu… selesai di sana.
Setelah beberapa menit berlalu.
Langkah pelan terdengar dari arah dalam.
Shafiya muncul. Tidak langsung mendekat.
Ia berhenti beberapa langkah dari meja makan itu. Tetap berdiri--seolah sedang menunggu.
Ratri menyusul kemudian, dan berdiri di sisi ruangan.
Agam sempat melirik sekilas. Ada yang tak biasa. Raka juga menangkap, tapi tidak ikut bereaksi.
Sagara tetap menyelesaikan sarapannya dengan tenang. Seolah kehadiran Shafiya itu tak harus membuat sarapannya dipercepat.
Hingga akhirnya ia menandaskan sarapan itu.
Sendok diletakkan. Barulah Sagara mengangkat pandangan.
“Saya sudah selesai.”
Shafiya yang masih berdiri di tempatnya itu mengangguk tipis.
“Dua orang di dapur diberhentikan.”
Bukan bertanya. Hanya memastikan.
“Iya," jawab Sagara singkat.
Hening sebentar.
Shafiya menatapnya. Tidak menghindar.
“Karena saya?”
Nada suaranya tetap tenang.Tapi sedikit ada getaran di ujung kalimat.
"Karena mereka tidak mengerjakan tugasnya dengan baik."
"Karena saya membuat sarapan saya sendiri?" Shafiya maju setengah langkah.
"Saya tidak menggaji yang tidak mampu bekerja."
Tatap mata Sagara berlabuh ke Shafiya sekejap. Sebelum beralih pandang dengan cepat.
"Mereka mampu." Shafiya menyela dengan cepat. "Mereka bisa. Saya hanya ingin. Bukan karena tidak ada yang bisa."
Dan keinginan itu bukan hanya sekedar keinginan.
Beberapa kali Shafiya menginginkan hal yang tidak musim. Sarapan yang tak biasa. Makan yang tak biasa. Bukan yang berkelas atau mewah. Semua bentuk exklusifitas ada di rumah ini. Tersedia. Tapi yang diinginkannya justru hal yang sederhana dan tak biasa.
Karena merasa tak ingin merepotkan siapa pun, ia berinisiatif membuatnya sendiri.
Siapa sangka malah jadi tragedi.
"Di rumah ini semuanya sudah ada aturan," jawab Sagara. Ia konsisten dengan prinsip. Aturan yang sudah tertata rapi di kediamannya.
"Baik." Shafiya mengangguk.
"Saya yang salah. Saya yang melanggar aturan." Dia tak ingin menjelaskan apa pun.
Ia diam sebentar, mengambil napas pendek.
"Saya akan lebih mematuhi aturan itu. Tapi tolong, kembalikan mereka."
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣