NovelToon NovelToon
Belunggu Pernikahan

Belunggu Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:21.6k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"

Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.

Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Arlan baru saja akan membanting tubuhnya ke kursi kerja ketika ponselnya bergetar hebat. Sebuah panggilan dari nomor yang sangat ia kenal ,asisten pribadi ibunya.

"Halo? Ada apa? Mama sudah sampai?" tanya Arlan dengan nada memburu.

"Tuan Arlan, Nyonya Widya sudah mendarat. Tapi beliau meminta saya menyampaikan bahwa beliau tidak akan ke rumah utama. Nyonya langsung menuju vila Puncak bersama Dion. Nyonya meminta Anda segera ke sana sore ini ."

Dahi Arlan berkerut mendengar ucapan asisten mamanya itu,karena tak biasa nya wanita yang melahirkan nya itu ke villa di puncak.

" Baiklah..."

Di sisi lain Maya baru saja keluar dari ruang meeting . Maya baru saja keluar dari ruang meeting di salah satu hotel di pusat kota Bandung. Kepalanya terasa agak pening setelah berjam-jam berkutat dengan angka dan strategi pemasaran bersama tim dari klien. Namun, saat ia merapikan berkas-berkasnya ke dalam tas.

Ia merogoh ponsel dari saku blusnya, berniat menghubungi Arlan untuk memberi tahu bahwa rapat pertamanya berjalan lancar. Namun, belum sempat ia mencari kontak suaminya, sebuah pesan WhatsApp dari nomor Clara masuk.

" Kak Maya,aku sedang di cafe depan kantor hotel kalian meeting, aku menunggu kalian makan siang."

Maya menghela nafas ,ia lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas dan lupa untuk menghubungi suaminya .

Maya melangkah keluar dari lobi hotel dengan tas kerja yang tersampir di pundaknya. Hembusan angin Bandung yang sejuk sedikit mengurangi rasa pening di kepalanya, namun pikirannya tetap terasa penuh. Memikirkan Clara yang mendadak berada di dekat sini membuatnya sedikit heran, tapi ia juga merasa lega karena tidak perlu melewatkan makan siang sendirian.

Ia berjalan menyeberangi jalan raya menuju kafe estetik berkonsep kaca yang terletak persis di depan hotel tempatnya rapat tadi. Begitu mendorong pintu kaca kafe, aroma kopi yang kuat langsung menyambutnya. Mata Maya menyapu sekeliling ruangan dan dengan cepat menemukan sosok adik Devan tersebut.

Clara duduk di sudut dekat jendela, melambaikan tangan dengan ceria begitu melihat Maya masuk.

"Kak Maya! Di sini!" seru Clara setengah berbisik agar tidak mengganggu pengunjung lain.

Maya tersenyum tipis dan melangkah menghampiri meja. "Hei, Clara. Kok bisa ada di Bandung? Bukannya kemarin kamu bilang ada jadwal kuliah di Jakarta?"

"Ah, dosennya mendadak ada seminar, Kak. Terus pas aku tahuksk Devan ada proyek di Bandung hari ini, aku langsung nekat ikut naik kereta tadi pagi. Bosan tahu di rumah terus," gerutu Clara manja sembari menyodorkan menu ke hadapan Maya. "Kak Maya mau pesan apa? Aku sudah pesankan ice americano kesukaan Mas Devan, dia masih di dalam hotel ya?"

"Iya, Pak Devan masih mengobrol sebentar dengan pihak vendor di dalam. Sebentar lagi juga menyusul," jawab Maya sembari memesan makanan pada pelayan yang datang.

Sembari menunggu makanan dan kedatangan Devan, Maya bersandar pada kursinya. Kelelahan fisik setelah rapat berjam-jam membuat fokusnya agak menurun, hingga ia benar-benar melupakan niat awalnya untuk mengirimkan pesan atau menelepon Arlan. Di benaknya, Arlan pasti sedang sibuk memimpin rapat di kantor Jakarta, sama seperti biasanya.

Arlan sudah berganti pakaian yang lebih santai namun raut wajahnya sama sekali tidak santai. Setelah menutup telepon dari asisten ibunya, ia langsung menyambar kunci mobilnya dan melangkah lebar-lebar keluar dari ruang kerja tanpa memedulikan tatapan heran dari para stafnya.

"Dafa! Batalkan semua jadwalku sore ini. Aku ada urusan darurat yang harus diselesaikan sekarang juga," ucap Arlan setengah berbisik namun penuh penekanan saat melewati meja sekretarisnya.

"Tapi Tuan, satu jam lagi ada pertemuan dengan investor dari Singapura," sahut Dafa panik sembari mengejar langkah bosnya.

"Jadwal ulang besok pagi. Katakan aku sakit atau apa saja, terserah kamu!" bentak Arlan tanpa menghentikan langkahnya menuju lift khusus eksekutif.

Di dalam lift yang bergerak turun, dada Arlan naik turun tidak teratur. Mengapa ibunya mendadak membawa Dion langsung ke vila Puncak? Dan memanggil juga ke Villa.

Begitu pintu lift terbuka di area parkir bawah tanah, Arlan langsung masuk ke dalam mobil SUV hitamnya. Ia menghidupkan mesin dan mengemudikan mobilnya membelah kemacetan Jakarta dengan kecepatan di atas rata-rata, menuju ke arah Bogor.

Mobil Arkan memasuki halaman sebuah Villa yang terlihat begitu mewah di antara villa lainnya. Saat keluar dari mobilnya ia melihat sang ibu sudah berdiri di teras dengan tangan yang terlipat di dada.

" Ada apa mama memanggil Arlan tiba-tiba ke Villa..?" Tanya Arlan saat sudah berdiri di depan ibunya.

Widya tidak langsung menjawab. Ia menatap putra tunggalnya dengan tatapan yang sulit diartikan perpaduan antara kekecewaan mendalam, amarah, dan beban berat yang harus ia pikul sebagai kepala keluarga besar Dirgantara. Keheningan di antara mereka berdua terasa begitu mencekam, hanya diiringi oleh desau angin Puncak yang dingin bertiup menerpa pepohonan di sekitar vila.

"Masuk, Arlan. Tidak elok bicara di luar seperti ini," ujar Widya dengan suara rendah yang sarat akan penekanan.

Arlan mengikuti langkah ibunya masuk ke dalam ruang tengah vila yang bernuansa kayu hangat. Namun, kehangatan ruangan itu sama sekali tidak bisa mengurangi rasa dingin yang menjalar di tengkuk Arlan. Di atas salah satu sofa panjang, terlihat Dion yang sedang tertidur pulas, masih mengenakan jaket tebalnya.

"Ma, katakan langsung. Ada apa sebenarnya? Kenapa harus di vila ini? Dan kenapa Mama membawa Dion langsung dari bandara ke sini tanpa pulang ke rumah utama?" tanya Arlan beruntun, mencoba menahan debaran jantungnya yang kian berpacu liar.

Widya membalikkan badannya, menatap Arlan lurus-lurus. "Mama membawa Dion ke sini karena Mama tidak ingin anak sekecil dia mendengar apa yang akan kita bicarakan. Dan tentang mengapa harus di vila ini..."

Widya menghela napas berat, lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari dalam tasnya dan melemparkannya ke atas meja kaca di hadapan Arlan.

"Buka dan lihat sendiri, Arlan. Jangan pernah mencoba membohongi Mama lagi," ucap Widya dingin.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Arlan meraih amplop tersebut. Begitu ia membuka isinya, selembar foto hasil ultrasonografi (USG) beserta dokumen medis berbahasa Jepang dari salah satu rumah sakit di Tokyo terjatuh di atas meja. Di sana tertera dengan jelas nama pasien. Farah. Dan yang membuat darah Arlan berdesir hebat adalah keterangan usia kandungan yang tertulis di sana ,delapan minggu.

"Mama bertemu wanita itu di Tokyo, Arlan. Tepat sebelum Mama memutuskan untuk pulang ke Indonesia," lanjut Widya, suaranya mulai bergetar menahan amarah. "Dia sedang memeriksakan kandungannya. Dua bulan, Arlan... Delapan minggu! Waktu yang sangat akurat dengan malam terkutuk yang kamu habiskan di hotel itu!"

"Ma! Aku sudah katakan berkali-kali, malam itu aku dijebak! Aku tidak melakukan apa pun dengannya!" Arlan membela diri setengah frustrasi, suaranya meninggi. "Ini pasti siasat licik orang-orang yang ingin menjatuhkan posisiku!"

"Dijebak atau tidak, janin yang ada di dalam rahim gadis itu memiliki darah daging Dirgantara!" bentak Widya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Dokter keluarga kita di Tokyo sudah memeriksa dokumen itu, dan hasilnya valid! Mama tidak bisa membiarkan keturunan keluarga kita telantar di negeri orang, Arlan. Tapi di sisi lain, bagaimana dengan Maya? Bagaimana kamu akan menjelaskan ini pada istrimu?!"

Arlan mencengkeram rambutnya dengan kedua tangan, merasa dunianya benar-benar runtuh berantakan. Tepat di saat ia mengira telah berhasil membungkam semua skandal dan menyelamatkan pernikahannya di Jakarta, ibunya justru membawa bom waktu ini langsung ke hadapannya.

"Di mana... di mana wanita itu sekarang, Ma?" tanya Arlan parau, suaranya terdengar hancur.

Widya menatap anaknya dengan tatapan tajam. " Dia di dalam kamar ,mama fikir sebaiknya dia tinggal di sini untuk sementara waktu. Tapi ingat, Arlan, rahasia ini tidak akan bisa kamu sembunyikan selamanya dari Maya. Cepat atau lambat, istrimu akan tahu bahwa ada wanita lain yang sedang mengandung anakmu."

Arlan terdiam seribu bahasa. Ia menatap foto USG di atas meja dengan pandangan kosong. Di kepalanya, bayangan wajah manis Maya yang tersenyum padanya pagi tadi langsung melintas, mengoyak lubuk hatinya yang paling dalam. Ia tahu, sekali saja Maya mengendus keberadaan Farah, maka detik itu juga ia akan kehilangan wanita yang paling dicintainya.

"Di dalam kamar?!" Arlan mengulang ucapan ibunya dengan setengah berteriak. Kepalanya mendadak berdenyut pening. Ia menatap ke arah lorong kamar dengan pandangan tidak percaya. "Ma, Mama gila? Membawa dia ke Indonesia dan menyembunyikannya di sini? Ini sama saja memelihara bom waktu di dalam rumah kita sendiri!"

"Jaga bicaramu, Arlan!" Widya memotong dengan nada ketus, matanya berkilat marah. "Mama melakukan ini justru untuk melindungimu dari skandal publik. Kalau dia tetap di Tokyo dan pihak pers di sana mencium berita ini, hancur semua saham Dirgantara Group! Di sini, Mama bisa memantaunya dan memastikan bayi itu aman sampai lahir."

Arlan terduduk lemas di sofa tunggal, tepat di seberang Dion yang masih mendengkur halus. Ia menyugar rambutnya ke belakang dengan frustrasi. Napasnya memburu, memikirkan betapa rapatnya jaring-jaring masalah yang kini melilitnya. Di satu sisi, ia sangat ingin mendepak Farah sejauh mungkin dari hidupnya. Namun di sisi lain, otoritas ibunya yang mutlak dan bukti medis di atas meja membuatnya tidak berkutik.

"Lalu bagaimana dengan Maya, Ma?" tanya Arlan lirih, suaranya terdengar begitu putus asa. "Dia sedang di Bandung sekarang. Dia tidak tahu apa-apa. Kalau dia pulang dan tahu wanita ini ada di sini..."

"Itu tugasmu sebagai suami untuk menyelesaikannya," jawab Widya dingin, tanpa menunjukkan simpati sedikit pun. "Kamu yang memulai kekacauan ini, maka kamu yang harus menanggung risikonya."

" Tidak..Ma..wanita itu tidak bisa tinggal di Villa ini. Minggu depan aku janji ke Maya untuk membawanya ke villa ini bersama Dion untuk liburan."

" Lalu dimana kamu akan membawa Farah...?" Widya terlihat begitu frustasi dan kesal dengan semua kejadian ini.

"Aku akan membawanya besok pagi ke apartemen Dafa,dia akan tinggal di sana dan Dafa bisa mengawasinya sekalian."

" Kamu ingin dia tinggal bersama Dafa..?"

"Tidak, Ma... di depan apartemen Dafa ada satu unit kosong milik perusahaan yang belum disewakan. Farah akan tinggal di sana sendiri, dan Dafa bisa mengawasinya dari dekat tanpa memicu kecurigaan siapa pun," potong Arlan cepat, mencoba memberikan solusi yang menurutnya paling aman saat ini.

Widya tampak menimbang-nimbang usulan putranya. Tangannya memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. "Apartemen ya? Setidaknya di sana privasinya lebih terjaga daripada di vila yang sewaktu-waktu bisa didatangi Maya. Baiklah, besok pagi-pagi sekali bawa dia dari sini sebelum fajar. Mama tidak mau ada pelayan vila yang melihat pergerakan kalian."

Arlan mengangguk lemah, setidaknya ia punya waktu sedikit untuk bernapas dan menjauhkan "bom waktu" itu dari jangkauan Maya minggu depan.

1
Yeni Wahyu Widiasih
jadi bingung.. itu farah kn ada yg bayar buat jebak arlan.. kok sekarang kaya dia korban yg tersakiti
Agunk Setyawan
iyo mbulet trus aneh padahal Farah kan jebak Arlan ko seakan" Farah korbanya bener g jelas ceritanya
Yeni Wahyu Widiasih: lagianbsi mamax arlan kok kaya dukung pelakor
total 1 replies
mama
nah kan ada dalangnya dibalik kehancuran rmh tangga arlan,dan utk km darah jgn sok2 n jdi korban km sendiri yg ikut adil dalam rencana busuk paman mu buat jebak arlan..sok2 jdi wanita yg pling tersakiti..basi sm semua ekting mu..
mama
kok cerita ny dr kmr itu2 aj gk ad kepastian ny..lama2 agak mbulet ni cerita
Lily
cepat selesaikan thor. aku Gedeg sma mama c Arlan juga
mama
bukanny kmrin darah ada yg nyuruh buat ngejebak arlan,.kok sekarang kyk di yg jd korban.. aneh sekali farah,sok2 n juga dia juga korban.. pdhl ini rencana seseorang yg nyuruh biar arlan hancur.. gitu kan cerita ny kmri
eni maryani
knapa GK ada kejelasan dr Farah ttg MLM itu trs orang yg nyuruh jg.
tau" lgsung diterima trs yakin aja KLO beneran anak arlan
Haryati Atie
cerita bagus ka 💪 semangat up nya .
Haryati Atie
bru juga lurus hubunggan nya udah ada badai lagi .
Lee Mba Young
Pokok nya Arlan Dan Farrah hrs hancur. atau gk bayi nya gk lahir dng selamat Wes 👍
Lee Mba Young
nunggu Arlan Dan pelakor Farrah hancur. semoga bayi nya cacat atau gk mati saja Wes drpd lahir Dr ibu pelakor.
falea sezi
lanjut g sbar nunggu cerai dan arlan hancur dan lacur Farrah hancur
falea sezi
🤣🤣 jalang berkedok korban ya farah ini dr awal. lu jalang yg ngejebak skg belagak korban perkosaan lacur emank🤭
falea sezi
maya sok jual mahal😒😒 janda aja lu sok
falea sezi
🤣 kapok kau arlan uda ma jalang aja yg ngandung anak mu cocok kok sampah sama. sampah😒
falea sezi
urus cerai may devan singgle. cocok tuh🤭
falea sezi
cerai aja laki tukang selengki🤭
falea sezi
anak tai😒 emak lu noh di. penjara
falea sezi
laki egois😒
Cookies
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!