Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1-Reruntuhan Athena
Langkah kaki mereka bergema di lorong sempit Reruntuhan Athena, memecah kesunyian yang telah bertahan selama berabad-abad. Dinding batu di sini tidaklah mati, urat-urat kristal Mana berwarna biru redup berdenyut di sela-sela bebatuan, seolah mengikuti ritme detak jantung raksasa yang tengah tertidur lelap di kedalaman bumi.
"Tempat ini... seperti hidup," bisik Alice. Bulu kuduknya berdiri tegak. Sensasi ini jauh lebih intens dan organik daripada sekadar efek visual di layar monitor tahun 2105. Ia bisa merasakan tekanan udara yang naik-turun, seakan bangunan ini sedang bernapas.
"Jangan melamun, Nona Kelinci," suara Violet berbisik tepat di telinga Alice, membuat gadis itu tersentak kaget. Gadis pembunuh itu bergerak tanpa suara bagaikan bayangan. Sepasang belatinya sudah terhunus, berkilat dingin di bawah cahaya biru.
"Dinding ini suka menelan orang yang suka melamun."
Tiba-tiba, lorong di depan mereka melebar, membuka jalan menuju sebuah aula besar yang dipenuhi pilar-pilar hancur. Dari balik bayang-bayang pilar yang rebah, muncul makhluk-makhluk aneh. Mereka tampak seperti zirah ksatria kuno yang kosong, namun di dalamnya bukan tubuh manusia, melainkan gumpalan kabut hitam pekat dengan sepasang mata merah yang menyala beringas.
[ MONSTER ]
Nama: Hollow Sentinel (Anomali)
Level: 65
Status: Linked Mind (Pikiran Terhubung)
"Anomali lagi?" geram Arthur. Ia menghujamkan pedang raksasanya ke lantai batu hingga retak seribu.
"Formasi tempur! Xena, siapkan mantra area!"
"Siap! Dengan cahaya yang membara.. Aku...aku... eh, tunggu, bukunya di mana?!" Xena panik seketika, meraba-raba tasnya dengan ceroboh sementara para Hollow Sentinel mulai mengepung mereka dengan koordinasi yang sempurna.
Alice memicingkan mata. Otaknya yang terbiasa menganalisis mekanik Stelion bekerja secepat kilat. Ia segera membaca pola gerakan musuh, setiap kali satu Sentinel menyerang, yang lain akan menutupi celah pertahanannya. Sebuah sistem pertahanan yang nyaris tanpa cela.
"Arthur, jangan serang langsung! kelemahan mereka ada di sendi lutut kanan!" teriak Alice.
"Albertio, lancarkan serangan balik setelah mereka mengayunkan gada, ada jeda 1 detik di sisi kiri!"
Tanpa ragu sedikit pun, Arthur dan Albertio bergerak sesuai instruksi Alice. Arthur menahan hantaman gada raksasa dengan perisainya hingga memercikkan bunga api yang menyilaukan.
TRANNUNG!!!
Begitu monster itu terpental oleh pertahanan kokoh Arthur, Albertio segera melesat bagaikan kilat putih. Ia menebas sendi lutut monster itu dengan ketepatan bedah yang luar biasa.
KRAK! Zirah kosong itu runtuh seketika, kabut hitam di dalamnya buyar tak bersisa.
"Xena, tembakkan [Magic Missile] ke langit-langit, jatuhkan reruntuhan itu di atas mereka! lupakan buku mantramu! Ikuti kata-kataku! " perintah Alice.
"Ah! Ide bagus!" Xena mengarahkan tongkatnya ke atas.
Alice mulai membacakan mantra serangan dasar yang ia ingat di dalam game Celestia Online.
Suara Alice menggema di ruangan itu, di ikuti Xena yang meniru mantranya, bacaan mantra mereka terdengar bagai paduan suara kematian di tengah kekacauan.
"Wahai (wahai) penduduk (penduduk) langit.. (langit...) berkatilah (berkatilah) kami (kami) dengan kekuatan (dengan kekuatan) yang menghancurkan (yang menghancurkan)." ucap Alice dan Xena hampir seperempak.
Ujung tongkat Xena perlahan bersinar,
Siiiiing..!!!
lalu menembakkan sihir apir ke langit-langit reruntuhan.
Cahaya merah melesat menghantam bongkahan batu besar yang sudah retak di plafon aula. BOOM!
Reruntuhan batu masif jatuh menimpa sekumpulan Sentinel, memberikan tim mereka ruang napas yang sangat berharga.
Alice segera mengangkat tongkat kayunya, merapalkan mantra pendukung tanpa henti.
"[Mana Flow: Overdrive]!"
Gelombang energi biru mengalir dari tubuh Alice ke arah rekan-rekannya. Kelelahan yang menggelayut di pundak mereka perlahan terangkat. Arthur menjadi tak terhentikan, Albertio bergerak semakin cepat, dan Violet... Violet kini tengah "menari" di tengah kekacauan.
"Ehehe... Ehehehe.. AHAHAHAHA!!! MATI! MATII!! MATIII...!!!" teriak Violet sambil melompat-lompat di atas zirah monster yang hancur, menyayat sisa-sisa kabut hitam dengan tawa yang mengerikan.
Satu per satu monster itu lenyap menyisakan tumpukan zirah tua kosong di atas lantai dungeon.
"Kau benar-benar otak yang hebat, Alice!" seru Albertio sambil menyarungkan katananya dengan gaya elegan setelah tebasan terakhir.
Namun, kegembiraan itu terputus secara brutal. Sebuah getaran energi yang luar biasa menyapu mereka dari kegelapan lorong terdalam.
WUUUUSH...!!!!
"Aaaah...!!" Xena memegang topinya erat-erat agar tidak terbang terhempas angin panas yang tiba-tiba berhembus.
"Hoo.. Senang-senangnya masih lanjut ya?" tanya Violet dengan seringai haus darah yang tak luntur.
DUK... DUK... DUK...
Langkah kaki berat menggema. Pelan, namun penuh wibawa yang menindas. Seekor makhluk raksasa muncul dari kegelapan, kulitnya semerah darah yang membeku.
[ MONSTER ]
Nama: Salamander (Mini Dragon)
Level: 75
Status: Mengamuk (Rage)
Tanpa peringatan, Salamander itu membuka mulutnya yang lebar. Cahaya merah membara meluap dari kerongkongannya, bersiap menyemburkan kehancuran murni.
"Berdiri di belakangku!" teriak Arthur. Ia memasang posisi bertahan paling kokoh yang ia miliki.
[Perfect Shield]!
Sebuah perisai cahaya membentang luas di depan tameng fisiknya.
Detik berikutnya, Salamander melepaskan serangan napas lasernya. Cahaya merah menyilaukan menghantam perisai Arthur.
DUAAAAR...!!!
"Uuukkh....!!" Arthur meringis, otot lengan dan kakinya bergetar hebat menahan beban energi yang sanggup melelehkan baja terbaik sekalipun.
"oy... oy.. Jangan lepas tamengnya, Arthur! Kami bisa mati konyol!" ucap Albertio dengan nada tenang meski peluh dingin mengucur di deras di dahinya.
"Ahahaha... Aku penasaran darah siapa yang paling wangi kalau kita terpanggang!" timpal Violet kegirangan.
Alice memejamkan mata, memfokuskan seluruh energinya.
"[Mid Magic: Magic Protection]!"
Sebuah lapisan pelindung transparan tambahan menyelimuti tubuh Arthur. Beban berat yang dirasakan sang ksatria tiba-tiba terasa lebih ringan. Laser itu terbelah menjadi dua tepat di depan perisai Arthur, menghancurkan dinding di sisi kiri dan kanan mereka hingga menjadi abu.
ZINNNG!!!
Perlahan laser itu meredup, Salamander tampak terengah, energinya terkuras sesaat akibat serangan skala besar tadi.
"Albertio, Violet, sekarang..!" teriak Alice.
Keduanya melesat maju melewati Arthur dengan kecepatan yang luar biasa. "Terima ini, kadal merah!!" seru Albertio. [Perfect Slash]! Ia menebas kaki monster itu dengan presisi bedah.
"Ahaha.. Perlihatkan darahmu, kadal lucu..! [Shadow Slash]!" Violet menyusul dengan rentetan sayatan kilat di kaki yang lain, membuat monster raksasa itu kehilangan keseimbangan.
Di belakang mereka, Xena yang telah mendapatkan buku sihirnya, mulai merapal mantra.
Sebuah proyeksi jarum jam raksasa berwarna merah gelap muncul di belakang tubuhnya.
TUNNNG!!! Benda itu berdengung hebat.
Aura Xena berubah drastis, dingin, sunyi, dan mematikan.
"Dengan kekuatan cahaya... Aku tundukkan kehendak langit... Bawalah kehancuran bagi seluruh bentuk yang menentangku..."
Jarum jam itu berdetak pelan dari angka enam menuju dua belas. TIK..TIK..TIK..
Alice segera mengarahkan tongkatnya.
"[Mid Magic: Quick Cast]!"
Jarum itu melesat instan ke angka dua belas. Xena membuka matanya yang kini berpendar cahaya.
"[High Magic: Exa Blast]!!"
BOOM!!!
Ledakan kolosal terjadi tepat di ulu hati Salamander. Albertio terpental ke belakang sementara Violet sudah melompat mundur lebih dulu. Debu api berterbangan, menggetarkan seluruh reruntuhan. Drrreek...
Perlahan asap kian menipis, Salamander itu lenyap, menyisakan sisa-sisa bagian tubuh yang hangus di atas tanah yang menghitam.
Hening. . .
"YEEAAAH...!!" teriak mereka penuh kemenangan. Keberhasilan mengalahkan level 75 adalah pencapaian luar biasa bagi tim ini.
"itu tadi hebat sekali Alice!" seru Xena sambil melompat kegirangan.
"hmmm.. kita perlu mengambil batu sihir mereka untuk dijual di guild petualang." Violet sibuk memeriksa sisa-sisa pertempuran dengan teliti.
Tak lama kemudian, lantai di bawah kaki Alice tiba-tiba bergetar hebat. Urat-urat kristal di dinding berubah warna secara drastis dari biru menjadi merah darah yang pekat.
"Apa? ada apa ini?" bisik Violet, raut wajahnya berubah serius.
Sebuah ledakan tekanan Mana dari kedalaman aula menghantam mereka. Tekanan itu begitu kuat hingga menciptakan gelombang kejut yang melempar mereka ke segala arah. Naas bagi Alice, sebuah lubang pembuangan kuno terbuka tepat di bawah kakinya.
Arthur menancapkan pedangnya ke lantai dungeon, menahan dorongan Mana aneh tersebut.
"Uggh... Alice! Pegang tanganku!" teriak Arthur, mencoba untuk menggapai gadis itu.
Alice terlalu jauh. Ia jatuh ke dalam lubang gelap lebih cepat dari jangkauan Arthur.
Waktu berjalan melambat. . .
"ARTHURRR!" teriakan Alice bergema, kian menjauh dan mengecil, hingga akhirnya hanya suara debuman keras serta percikan air yang terdengar dari kedalaman yang tak terjangkau cahaya.
"Aliceee!!!" raung Arthur, namun ia hanya meraih udara kosong.
Alice terjatuh dalam kegelapan total. Suara teman-temannya di atas menghilang, digantikan oleh suara tetesan air yang jatuh di atas batu dingin... dan firasat bahwa sesuatu yang berat sedang menunggunya di dasar kegelapan.
cape😅