NovelToon NovelToon
Lelaki Yang Terbuang

Lelaki Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Cun

namanya Mahesa Kalandra, seorang duda yang bangkrut hingga istrinya membuangnya dengar seorang anak gadis yang masih berumur lima tahun, istrinya lari dengan boss nya dan lebih nelangsanya lagi ketika orang tuanya menfitnah dengan meminjam uang di suatu pinjaman online dengan mengatas namakan identitasnya, kini dia lari di kejar rentenir hingga hidupnya nyaris berakhir, mampukah dia bangun dari keterpurukan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Cun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

memulai untuk berdiri

Dan akhirnya disinilah Mahendra bersama putri kecilnya, di sebuah rumah kost ber kamar dua dengan dapur minimalis bertetangga dengan para perantau dari berbagai kota, rumah ini dulunya adalah rumah kost keluarga Toni tetapi karena yang punya rumah butuh uang maka di belilah sama Toni, sementara Toni dan istrinya ada di Denpasar tengah kota dekat dengan pantai yang ramai wisatawan, dan Alhamdulillah nya Toni sudah punya hunian yang layak dikota maka dari itu rumah yang tak di huni itu sekarang di pinjamkan pada Mahendra untuk di tempati sementara sambil berusaha dan berfikir bisnis apa yang akan dia jalani.

"kita tinggal di sini sekarang ya nak, sabar dulu nanti kalau ayah sudah punya uang banyak kita bisa beli rumah sendiri, insyaallah semoga Allah mengabulkan". ucap nya pada sang putri.

Checil yang masih lugu itu baru saja membuka tas Barbi nya yang ternyata banyak sekali amplop yang di berikan para tetangga, Mahendra tidak menyangka tetangga mereka ternyata sangat perduli padanya.

"Ayah lihat, sekarang saja Checill udah banyak, ini buat ayah semua nanti bisa buat beli makanan untuk ayah dan Checill". Checill menyerahkan semua uang yang belum di bukanya dan masih utuh dalam amplop Mahendra menerima seakan tak percaya, kemarin sore waktu mbak Imah menata amplop² itu dalam tas Mahendra tak begitu memperhatikannya, ternyata ada sepuluh amplop yang ia terimanya dan ternyata isinya tidak sedikit.

Ada dari group RT sekitar 3 juta, group ibu² wali santri teman dari Checill terkumpul 4 juta dari pak Jan dua juta dan dari para tetangga yang telah di sembuhkan kemarin, lalu terakhir amplop coklat yang masih di labeli dari BRI.

"ini tebal banget chill, dari siapa ini nggak ada namanya?" tanya Mahendra penasaran.

"oh yang itu dari Emak Imah katanya buat pegangan kita sebelum dapat kerjaan". Anak sekecil itu sudah cerdas sekali dan ingat dengan jelas ucapan dari pengasuh yang tak pernah terima bayaran itu, Mahendra membukanya dan "ya Tuhan sepuluh juta?" gumam nya.

"ini beneran dari emak Chill?" tanya Hendra masih belum percaya.

"ya iyalah masa Checill boong, dosa tau yah boong itu". Jawab si anak seperti seorang ustadzah saja gayanya.

kemudian Hendra menelphone mbak Imah untuk memastikan kebenarannya.

"Mbak kok ngasih uang sebanyak itu pada kami, Mbak dapat uang dari mana?" tanya Hendra.

"eh mas Hendra, iya nggak apa apa, mbak ikhlas kok memberikannya darimana nya nggak penting yang pasti mas Hendra dan Checill baik baik disana, gimana sudah ada tempat tinggal?" mbak Imah malah balik bertanya, sebetulnya dia girang sekali akhirnya dapat kabar dari tetangga dudanya itu yang telah dia anggap sebagai saudara.

"sudah Mbak Alhamdulillah, ini rumah Toni yang tak di tempati jadi kami bebas menempatinya meskipun jika nanti aku sudah dapat kerjaan dan menghasilkan kan uang pasti akan ku bayar sewanya, begitu juga uangnya Mbak Imah, anggap saja aku hutang, nanti kalau aku insyaallah sudah punya hasil pasti aku juga akan kembalikan". Hendra sungguh tak enak hati menerima uang sebanyak itu dari single parent,meskinya uang sebanyak itu di tabung buat hari tuanya, Hendra tak bisa melupakan kebaikan wanita itu meskipun banyak gossip miring antara Hendra dan Mbak Imah karena terlalu akrab, orang yang suudzon pastilah mengira ada hubungan special diantara mereka berdua.

" terserah mas Hendra saja lah yang pasti aku ikhlas memberikan uang itu pada kalian terutama nduk Checill jangan sampai dia kelaparan". Mbak Imah tak tahu lagi bagaimana memberikan pengertian pada Hendra bahwa dia benar benar ikhlas memberikannya.

Uang sumbangan semuanya berjumlah dua puluh satu juta, tentu saja itu adalah jumlah yang tidak sedikit buat orang sekelas Hendra yang sederhana, setidaknya dia bisa beli alat alat dapur dan kasur serta selimut buat dia dan putrinya, selebihnya buat makan beberapa hari sebelum mendapatkan penghasilan.

Tiga hari sudah Hendra tinggal di tempat barunya Dan dia sudah pasang banner di depan kostnya, dengan tulisan "MENERIMA PIJAT DAN URUT TERUTAMA BAGI PENDERITA STROKE DAN NYERI SENDI" tetapi di hari ketiga tak satupun pasien datang berkunjung, tiba tiba ada seorang turis naik motor yang jatuh di jalan dekat rumahnya, tumitnya sampai terbalik karena terantuk sesuatu, dan lengan tangannya sobek memanjang dengan darah yang terus mengalir, karena bingung mau di bawa kemana salah satu tetangga Hendra yang menolong turis yang kecelakaan dan tengah berboncengan dengan partnernya itu membawa turis yang terluka ke tempat praktek Hendra, pertama dapat pasien seorang turis pula tentu saja Hendra sedikit panik, "mampukah aku" batinnya meragukan kemampuannya sendiri.

"Hold on sir ". Ucap Hendra yang mengira lelaki muda itu tak bisa bahasa Indonesia.

"nggak apa apa Abang, silahkan tapi ini sakit sekali". Jawab Mark nama turis dari Belanda itu padahal Hendra padahal belum memijitnya, Hendra menaruh kaki tungkai yang terbalik itu di pangkuannya dan memijat pelan, pijatan itu terasa hangat dan sejuk membuat mas turis berhenti mengaduh, dan "krakk" dengan ajaib kaki mas bule meski merah bagaikan udang rebus karena kerasnya benturan kini kembali normal, mas bule berdiri sambil tertawa tawa karena kakinya sembuh tanpa harus menunggu lama, partnernya atau entah itu istrinya yang berwajah hitam manis seperti nya warga lokal itu ikut bahagia.

"terimakasih bang, Abang nama siapa?" Tanya mas bule.

"saya Mahendra sir". jawab Hendra.

"ah jangan panggil aku sir, panggil aja mas bule, namaku Mark dan ini pacarku Nina". Hendra mengangguk, dan memberi saran setelah tadi membebat tangan mas bule Kengan kain kasa.

"hmm untuk tangannya mas Mark, silahkan di bawa kerumah sakit, itu perlu jahitan dan saya maaf tidak bisa menjahit karena saya bukan dokter". Saran Hendra dan sebelum pergi mas Mark menuliskan nominal uang di selembar cek dan Nina yang masih remaja itu tentu saja ada bahan untuk konten dengan ambil vidio dan mengunggahnya di halaman sosmednya, dan itu luar biasa efeknya, banyak orang yang penasaran dan ingin ke tempat Mahendra.

Setelah kedua pasangan non halal itu pergi ke rumah sakit untuk penanganan selanjutnya, Mahendra mengambil cek yang tadi di terimanya lalu membuka dan membaca nominalnya.

"haah sepuluh juta?" teriaknya girang, ngobati hanya segitu aja dikasih uang segini banyak, tentu saja itu belum impas jika di banding dengan jika mas bule ke rumah sakit dengan dokter ortopedi yang mungkin harus pasang pen harus di gips dan menunggu waktu lama supaya bisa aktifitas kembali.

Keesokan harinya Hendra kedatangan pasien silih berganti dan itu tentu saja berkat Nina yang mengunggah penanganan pengobatan kemarin di sosmed nya, Hendra tahu itu dari salah satu pasien darimana dia tahu tentang pengobatan ini dan jawabannya adalah atas unggahan gadis bernama Nina dengan nama sosmed nya Nina _boboyukkk.

******

1
Kristiana Subekti
ayo Karina,,,, selidiki tuh si Ririn sm suami mu sewa detektif sekalian 😁
Mbak Cun: tunggu aja kejutan selanjutnya BESTie, terimakasih telah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!