NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa1999

Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Ketahuan

Saat Aluna membuka matanya yang masih terasa berat, hal pertama yang menyambut indra penglihatannya adalah wajah Gavin yang tampak muram. Dan atmosfer di dalam kamar terasa begitu mencekam.

"Dokter Anwar, tolong ulangi apa yang baru saja Anda katakan kepadanya," perintah Gavin dengan suara rendah yang menuntut.

Dokter keluarga itu berdeham canggung sebelum menjelaskan, "Ah, begini... Nona Aluna mengalami penurunan kadar gula darah yang drastis akibat tidak mendapat asupan makanan dalam waktu yang cukup lama—"

"Bukan kalimat yang itu," potong Gavin dingin.

Dokter Anwar tersentak sejenak, lalu segera meralat ucapannya dengan gugup, "Nona Aluna... saat ini sedang mengandung."

Boom!

Pikiran Aluna seketika meledak mendengar hal tersebut. Seluruh dunianya serasa runtuh. Gavin sudah tahu. Pria itu telah mengetahui rahasia terbesarnya.

Setelah dokter itu berpamitan dan melangkah keluar, Gavin tetap bergeming di sisi ranjang Aluna. Ekspresi wajahnya begitu pekat dan menggelap, seolah-olah mampu meneteskan tinta hitam.

"Aluna," panggil Gavin. Suaranya terdengar begitu dingin hingga mampu membekukan udara di sekitar mereka. "Kamu sedang mengandung, namun masih berani melakukan aksi mogok makan. Apa kamu sedang mencoba menguji batas kesabaranku?"

Jantung Aluna berdegup kencang karena ketakutan yang sangat hebat. Ia tahu betul bahwa Gavin adalah pria yang paling membenci kebohongan. Jika sampai pria itu mengendus fakta bahwa dirinya tidak hanya mengonsumsi pil kontrasepsi secara sembunyi-sembunyi, tetapi juga berniat menggugurkan janin ini, maka Gavin pasti akan membuat hidupnya jauh lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri.

"Aku... aku benar-benar tidak tahu kalau aku hamil. Seandainya aku tidak jatuh pingsan hari ini, Dokter Anwar pasti belum memberitahuku..." Aluna mencoba membela diri dengan suara bergetar.

Sebelum kalimat itu selesai, Gavin langsung mencengkeram dagu Aluna dengan kekuatan yang sangat besar, seolah-olah ia tidak akan puas sebelum meremukkan rahang gadis itu.

"Sebelum aku kehilangan sisa kesabaranku, katakan sekali lagi dengan jujur: kamu sebenarnya sudah tahu tentang kehamilan ini atau tidak?"

"Percayalah padaku... aku baru mengetahuinya hari ini!" Aluna menatap Gavin dengan sorot mata yang dipenuhi tatapan polos yang dipaksakan dan rasa takut yang mendalam.

Plak!

Dengan satu sentakan kasar, Gavin melemparkan sejumlah alat tes kehamilan beserta sebuah botol obat ke atas selimut, tepat di hadapan Aluna.

"Lalu, bagaimana kamu menjelaskan semua benda ini?"

Aluna seketika terpaku. Lidahnya mendadak terasa kelu melihat barang bukti yang kini berserakan di depannya.

Tanpa memedulikan reaksi pias Aluna, Gavin beralih menatap ke arah pintu dan berseru dingin, "Bawa pelayan itu masuk."

Beberapa orang yang berjaga di luar segera bergerak cepat. Kepala pelayan melangkah di depan, diikuti oleh dua orang penjaga yang memegangi lengan seorang pelayan muda bernama Tari yang tengah terisak dengan pelan. Saat ini, gadis malang itu tampak ketakutan setengah mati dan menatap Aluna dengan pandangan memohon pertolongan.

"Tuan Gavin, kami menemukan gelang emas milik Nona Aluna tersimpan di dalam kotak perhiasan di kamar Tari. Awalnya kami berniat membawa Tari ke kantor polisi atas tuduhan pencurian, namun ia bersikeras bahwa gelang ini adalah pemberian dari Nona Aluna." Kepala pelayan itu melangkah maju sembari menyodorkan sebuah gelang emas berukir indah.

"Dia tidak mencurinya! Aku sendiri yang memberikan gelang itu kepadanya," potong Aluna cepat. Ia segera mengambil keputusan untuk melindungi Tari agar pelayan muda itu tidak terseret lebih jauh.

Melihat tindakan Aluna, Gavin tiba-tiba menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Ia mengusap lengan Aluna, seolah mencoba menenangkan tubuh yang tengah gemetar hebat karena gugup. Namun, sorot matanya yang dipenuhi kelembutan palsu justru terasa mengerikan. "Kamu benar-benar gadis yang sangat baik."

Aluna tertegun sejenak. Dengan tubuh yang masih sedikit menggigil, ia memberanikan diri untuk bersandar pada dada Gavin dan memohon lirih, "Masalah ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Tari. Aku mohon, lepaskan dia."

Gavin mempererat dekapannya pada bahu Aluna, namun nada suaranya mendadak kehilangan seluruh kehangatan. "Benarkah demikian? Lalu, dari mana kamu mendapatkan pil kontrasepsi itu jika bukan kau yang memintanya membelikan?"

Aluna seketika membeku. Benar saja, tidak ada satu hal pun yang bisa ia sembunyikan dari cengkeraman Gavin. Ia yakin, Sisi pasti telah membocorkan segalanya kepada pria ini.

Mendengar arah pembicaraan tersebut, Tari langsung berlutut di lantai dengan tubuh gemetar hebat. "Tuan Muda, Nona Aluna yang memohon dan memaksa saya untuk membelikan obat itu. Dia mengancam akan membuat saya dipecat jika saya menolak membantunya. Saya benar-benar terpaksa melakukannya, Tuan. Mohon maafkan saya, Tuan Muda..."

Gavin menatap pelayan yang bersujud di dekat kakinya itu dengan kilat kejijikan yang kentara, lalu menjatuhkan titah dingin, "Seret dia keluar. Patahkan salah satu tangannya sebagai peringatan, lalu usir dari kediaman ini."

"Baik, Tuan Muda!"

Suara tangisan histeris Tari perlahan menjauh seiring diseretnya gadis itu keluar dari kamar. Namun, hati Aluna justru semakin membeku, seolah terperosok ke dalam gua es yang paling dalam tanpa ada tanda-tanda akan menghangat kembali.

Gavin kembali mencengkeram dagu Aluna, memaksanya untuk menatap langsung ke dalam manik matanya yang tajam. "Aluna, kamu lihat sendiri akibatnya? Inilah yang terjadi jika kamu berani bermain api dan membohongiku."

Air mata Aluna langsung menetes. Mengingat keselamatan keluarganya dan janin di rahimnya, ia terpaksa menurunkan seluruh harga dirinya. "Maafkan aku... seharusnya aku tidak berbohong kepadamu. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, Kak Gavin."

Sudah sangat lama ia tidak memanggil pria itu dengan sapaan akrab masa kecil mereka. Mendengar panggilan patuh tersebut, kilat sedingin es di mata Gavin perlahan-lahan mulai mencair.

"Mulai besok, aku akan menugaskan tim medis khusus untuk mengawasi dan menjaga kesehatanmu. Kuharap kamu selalu mengingat pelajaran hari ini dan tidak mencoba melakukan tindakan bodoh lagi."

Aluna mengangguk patuh dengan bibir yang pucat pasi. Ia menyadari bahwa dirinya tidak bisa terus bersikap keras kepala; ia harus mendapatkan kepercayaan Gavin selangkah demi selangkah agar memiliki celah untuk melarikan diri.

"Kak Gavin... sebenarnya beberapa hari ini bukan karena aku menolak untuk makan," ucap Aluna dengan nada manja yang dibuat-buat, berusaha bersikap selayaknya anak kecil yang penurut. "Tetapi karena ada seseorang yang sengaja mengangguku dan menolak memberikan aku makanan. Lihatlah wajahku, bekas tamparannya bahkan masih terasa sakit. Seumur hidupku, aku belum pernah dipermalukan seperti ini."

Gavin tertegun sejenak. Ia mengulurkan jemarinya untuk memalingkan wajah Aluna ke samping, menatap bekas kemerahan yang samar akibat tamparan Sisi dua hari yang lalu.

Setelah melalui beberapa negosiasi dan bujukan, Gavin akhirnya luluh. Pria itu menyetujui permintaan Aluna untuk tidak membiarkan sembarang pelayan mendekati area pribadinya, termasuk melarang keras Sisi untuk menginjakkan kaki ke dalam kamarnya lagi.

Begitu melihat sosok jangkung Gavin melangkah pergi meninggalkan ruangan, seluruh kekuatan di tubuh Aluna seolah terkuras habis. Ia langsung ambruk lemas di atas ranjang dengan napas yang memburu.

Keesokan harinya, kediaman mewah itu mendadak sibuk. Gavin menyewa beberapa koki profesional khusus untuk menyiapkan menu makanan bergizi seimbang demi memulihkan kondisi fisik Aluna. Seluruh pelayan di mansion keluarga Ramadhan tampak sibuk memenuhi segala instruksi sang pemilik.

Siang ini, Aluna terbangun dari tidurnya yang lelap karena sayup-sayup mendengar alunan melodi piano dari arah lantai bawah.

Didorong oleh rasa penasaran, ia melangkah turun menuju ruang musik. Namun, begitu matanya menatap ke dalam ruangan, Aluna seketika tersentak. Sosok wanita yang tengah duduk di depan piano itu mengenakan gaun yang model dan warnanya hampir persis dengan pakaian yang biasa ia kenakan.

Setelah mengamati lebih dekat dari arah belakang, Aluna menyadari bahwa wanita itu adalah Sisi.

Karena terbiasa dengan pendidikan musik yang disiplin sejak kecil, Aluna secara refleks menyahut pelan untuk mengoreksi jalannya nada, "Kamu memainkan beberapa nada dengan ketukan yang salah."

Sisi menghentikan permainannya dengan mendadak. Ia berbalik dan menatap Aluna dengan pandangan yang sarat akan kebencian yang mendalam. Sepasang matanya menyala-nyala dipenuhi amarah yang seolah ingin membakar Aluna hidup-hidup.

Jika bukan karena aduan wanita simpanan ini, bagaimana mungkin Tuan Gavin tega memberikan hukuman fisik yang begitu kejam kepadanya, hanya karena ia memberikan satu tamparan ringan pada Aluna?

Sisi menggertakkan giginya dalam diam. Ia bertekad, begitu ia berhasil mempelajari semua gerak-gerik dan taktik Aluna hingga mampu merangkak naik ke atas ranjang Tuan Muda Gavin, ia akan membalaskan seluruh rasa sakit dan dendam ini tanpa ampun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!