NovelToon NovelToon
Cleaning The Thorne'S Empire

Cleaning The Thorne'S Empire

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:721
Nilai: 5
Nama Author: Chi Chi chantika

Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.

Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Larangan Memegang Kemoceng

Tiga hari setelah demamnya turun, Sloane Sterling merasa seperti seekor singa yang dikurung dalam kandang berlapis emas. Baginya, berbaring di tempat tidur tanpa melakukan apa pun adalah siksaan yang lebih berat daripada harus kelaparan di jalanan London Timur. Mansion Thorne begitu luas, dan di matanya, setiap detik yang terbuang berarti satu mikron debu tambahan sedang mengendap di atas furnitur mahal Alistair.

Sloane berdiri di depan cermin besar di kamarnya, merapikan kaus putihnya yang sedikit kebesaran. Ia mengambil kemoceng bulu ayam kesayangannya dari atas meja rias, bersiap untuk melakukan "invasi kebersihan" pagi.

Baru saja tangannya menyentuh gagang kemoceng, pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan.

"Nona Sterling. Letakkan instrumen pembersih tersebut sekarang juga."

Alistair Thorne berdiri di ambang pintu. Pagi ini ia tampak sangat tajam dengan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu gelap. Namun, ekspresinya lebih kaku dari biasanya, dan tangannya memegang sebuah map dokumen yang tampak sangat resmi.

Sloane berbalik, kemocengnya tetap digenggam erat. "Alistair! Kau lagi-lagi masuk tanpa izin! Dan apa maksudmu? Aku sudah sehat! Lihat ini!" Sloane melakukan gerakan karate kecil di udara, yang justru membuatnya sedikit terhuyung karena keseimbangannya belum pulih seratus persen.

Alistair melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. "Secara medis, sel darah putih Anda baru saja memenangkan pertempuran besar. Memaksakan aktivitas fisik tingkat tinggi seperti menyedot debu atau menggeser lemari akan memicu kegagalan sistem pemulihan. Berdasarkan otoritas saya sebagai pemilik kediaman ini, saya mengeluarkan 'Larangan Memegang Kemoceng' selama dua puluh empat jam ke depan."

Sloane membelalakkan mata. "Larangan apa?! Kau bercanda?! Kau tahu apa yang terjadi kalau aku tidak bekerja? Debu-debu itu akan berpesta pora! Mereka akan menguasai mansionmu!"

"Biarkan mereka berpesta," jawab Alistair datar. "Saya sudah menyewa layanan kebersihan robotik untuk sementara waktu."

"ROBOT?! Kau menggantikanku dengan mesin plastik tanpa perasaan itu?!" Sloane berteriak, wajah manisnya memerah karena marah. "Robot tidak punya harga diri, Alistair! Mereka tidak bisa melihat noda tersembunyi di balik bingkai foto ibumu! Kau menghina profesiku!"

Alistair mendekat, mengambil kemoceng dari tangan Sloane dengan gerakan yang sangat tenang namun tidak bisa dibantah. "Ini bukan penghinaan. Ini adalah proteksi aset. Anda adalah aset terpenting di mansion ini saat ini, dan saya tidak ingin aset saya rusak karena kecerobohan kronis."

Alistair meletakkan kemoceng itu di atas lemari yang paling tinggi, tempat yang tidak bisa dijangkau Sloane tanpa bantuan tangga.

"Kau... kau jahat, Tuan Kaku!" Sloane menghentakkan kakinya. "Lalu aku harus apa seharian? Menghitung pola di wallpaper dindingmu?!"

"Anda akan mendampingi saya," kata Alistair sambil melirik jam tangannya. "Saya memiliki pertemuan strategis di ruang kerja bawah tanah. Saya membutuhkan seseorang untuk memastikan... sirkulasi udara dan ketersediaan asupan kafein. Tanpa melibatkan aktivitas fisik yang berat."

Sloane menyipitkan mata. "Kau hanya ingin mengawasiku agar aku tidak bersih-bersih, kan?"

"Analisis Anda akurat secara administratif," jawab Alistair tanpa berkedip.

Setengah jam kemudian, Sloane duduk di kursi kulit besar di sudut ruang kerja Alistair yang sangat canggih. Alistair sedang duduk di depan jajaran layar monitor, berbicara melalui headset dengan bahasa yang sangat teknis mengenai pengiriman logistik di pelabuhan Dover.

Sloane merasa sangat bosan. Ia memperhatikan Alistair dari samping. Pria itu tampak sangat fokus, rahangnya mengeras setiap kali ada masalah yang dilaporkan. Sloane baru menyadari bahwa Alistair memikul beban yang sangat berat. Memimpin ribuan orang di dunia bawah bukanlah hal yang mudah.

Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbuka. Marcus, tangan kanan Alistair yang bertubuh kekar dan memiliki bekas luka di dahi, masuk dengan wajah panik.

"Tuan Thorne, faksi Crimson Syndicate baru saja memblokade rute utara. Mereka menuntut royalti tambahan atau mereka akan membakar gudang kita di distrik ke-sembilan," lapor Marcus.

Alistair berdiri, auranya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan mematikan. "Beraninya Maximilian melanggar perjanjian damai kita. Siapkan tim taktis. Kita akan berikan tanggapan yang setimpal."

Marcus mengangguk, namun matanya melirik ke arah Sloane yang duduk di pojok. "Tuan, apakah tidak apa-apa bicara di depan... dia?"

Sloane langsung berdiri dari kursinya. "Heh, Pak Luka! Namaku Sloane! Dan jangan khawatir, aku tidak tertarik dengan urusan gangster kalian yang kotor itu! Tapi kalau kalian mau membakar gudang, pastikan abunya tidak terbang sampai ke mansion ini!"

Marcus tertegun, menatap Alistair dengan bingung. Ia belum pernah melihat ada orang yang berani memanggilnya "Pak Luka" dan tetap hidup.

Alistair memberikan isyarat agar Marcus mengabaikannya. "Nona Sterling akan tetap di sini. Marcus, lanjutkan persiapannya."

Setelah Marcus keluar, Alistair kembali ke mejanya. Ia melepaskan jas mahalnya dan, secara refleks karena pikirannya sedang kacau, ia menyampirkan jas itu di atas monitor pusat kendali yang panas.

"ALISTAIR THORNE!!!"

Alistair tersentak hebat, tangannya refleks mencari pistol di balik kemejanya. "Apa?! Apakah ada serangan siber?!"

"SERANGAN KEBODOHAN!" Sloane sudah berdiri di sampingnya, menunjuk ke arah jas di atas monitor. "Kau menaruh jas wol seharga ribuan poundsterling di atas alat elektronik yang panas?! Kau mau jasmu hangus atau monitornya yang meledak karena tidak ada sirkulasi udara?!"

Alistair menatap jasnya, lalu menatap Sloane yang kini tampak sangat bertenaga meskipun baru sembuh. "Saya... saya sedang berpikir tentang strategi perang, Sloane. Saya tidak sempat memikirkan sirkulasi udara jas."

"Strategi perang tidak akan berguna kalau kau terlihat seperti gangster gembel dengan jas yang berkerut dan bau hangus!" Sloane menyambar jas itu dengan gerakan cepat. "Gantung di tempatnya! Sekarang!"

Alistair menatap Sloane selama beberapa detik. Gadis ini baru saja berteriak padanya di tengah ancaman perang antar-geng. Anehnya, teriakan Sloane justru membuat rasa tegang di bahu Alistair sedikit berkurang.

"Baiklah," gumam Alistair. Ia mengambil jasnya dan menggantungnya dengan benar di lemari khusus di ruang kerja tersebut. "Terima kasih atas... intervensi gaya busana Anda."

Sloane mengangguk puas, kembali duduk di kursinya. "Sama-sama. Dan soal gudang yang mau dibakar itu... kalau kau butuh orang untuk membersihkan sisa-sisa pembakarannya nanti, kau tahu siapa yang harus dihubungi. Tapi harganya naik empat kali lipat karena itu adalah 'pembersihan limbah ekstrem'!"

Alistair hampir tertawa. Ia menutupi mulutnya dengan tangan, berusaha menjaga wajah kakunya. Gadis ini benar-benar tidak tahu rasa takut. Ia menganggap perang mafia sebagai potensi bisnis jasa pembersihan.

"Saya akan mempertimbangkannya dalam anggaran tahun depan," jawab Alistair kaku.

Namun, di balik percakapan lucu itu, Alistair menyadari satu hal. Dunia luar semakin berbahaya, dan Maximilian dari Crimson Syndicate dikenal sebagai pria yang tidak memiliki kode etik. Ia harus memastikan Sloane tetap berada dalam pengawasannya, meskipun itu berarti ia harus terus-menerus mendengarkan omelan tentang debu dan jaket setiap hari.

"Nona Sterling?"

"Ya, Pak Bos?"

"Setelah pertemuan ini selesai, saya akan... membantu Anda di dapur. Secara administratif, saya rasa Anda membutuhkan asupan sup hangat lagi."

Sloane tersenyum lebar, senyum yang membuat ruang kerja bawah tanah yang gelap itu terasa jauh lebih terang. "Asal kau yang mencuci piringnya setelah itu! Tanganku masih dalam mode 'cuti sakit', kau ingat?"

Alistair tidak menjawab, tapi senyum tipis di wajahnya adalah janji bahwa ia akan melakukan apa pun—termasuk mencuci piring—hanya untuk melihat Sloane tetap berisik dan galak seperti biasanya.

To be continued....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!