NovelToon NovelToon
The Architecture Of Us

The Architecture Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 : Kapal Yang Akhirnya Berlayar

Sael menekan tombol kirim. Detak jantungnya berpacu cepat.

Hanya butuh waktu kurang dari dua menit sampai ponsel di genggaman Sael bergetar. Sebuah balasan singkat masuk, namun berhasil membuat sudut bibir Sael terangkat.

[ 𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐀𝐞𝐫𝐨𝐬 ]

𝘕𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘳𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶. 𝘋𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘫𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢.

Sael segera beranjak dari ayunan, meletakkan cangkir tehnya, dan bersiap-siap. Ada rasa gugup, tapi entah kenapa rasanya menyenangkan.

Satu jam kemudian, Sael sudah mendorong pintu kaca kafe Aeros. Lonceng kecil di atas pintu berdenting halus. Malam ini pengunjung kafe tidak terlalu banyak, hanya ada beberapa pasang pelanggan di sudut ruangan.

Aeros tidak terlihat di balik meja barista, membuat Sael langsung melangkah menuju ruangan di bagian belakang kafe—tempat yang biasa Aeros gunakan untuk beristirahat atau mengecek pembukuan.

Begitu pintu diketuk dan dibuka, Sael menemukan Aeros yang tengah berdiri di dekat jendela, langsung menoleh ke arahnya. Pria itu melempar senyum hangat, seolah memang sudah menunggu kedatangan Sael.

"Hai," sapa Aeros lembut, "Tepat waktu banget. Mau minum sesuatu? Aku buatin?"

"Nggak usah, Kak. Aku ke sini cuma mau... ngomong," jawab Sael pelan. Ia menutup pintu di belakangnya,

Aeros berjalan mendekat, lalu duduk di sofa panjang dan menepuk ruang kosong di sebelahnya, mengisyaratkan Sael untuk duduk. Sael melangkah maju, namun alih-alih duduk di sofa, ia memilih berdiri tepat di depan Aeros, meremas tali tas selempangnya dengan gugup.

"Kak Aeros ingat kan, waktu di kafe minggu lalu aku bilang aku takut kalau kita terlalu buru-buru?" Sael memulai, suaranya sedikit bergetar namun tatapannya lurus menatap mata cokelat Aeros.

Aeros mendengarkan dengan saksama, mengangguk pelan.

"Akhir akhir ini ini aku banyak merenung, Kak. Aku mikirin ucapan Kakak," lanjut Sael, menarik napas dalam-dalam, menata debar jantungnya. "Tujuh tahun di luar negeri buatku kerasa cepat karena aku sibuk berobat dan kuliah. Tapi setelah tahu kalau Kakak nungguin aku selama itu dalam diam... aku sadar kalau aku egois kalau masih meragukan Kakak."

Sael mengambil langkah satu langkah lebih dekat. Ia melepaskan remasan pada tasnya, lalu perlahan mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Aeros yang berada di atas lutut pria itu.

"Dan soal perasaanku sendiri... aku sempat bingung karena kita udah lama nggak ketemu. Tapi entah kenapa aku nggak bisa bayangin, jika ada cewek lain mendekati kakak."

Rona merah muncul di pipi Sael,

"Aku sayang sama Kak Aeros. Bukan sebagai adik ke kakaknya, tapi sebagai wanita dewasa yang mau berjalan di samping Kakak. Jadi... kalau tawaran minggu lalu masih berlaku, jawabanku adalah iya. Aku mau jadi pacar Kak Aeros."

Ruangan itu mendadak hening. Sael menahan napasnya, mendadak merasa sangat bodoh dan malu setelah mengutarakan isi hatinya dengan begitu blak-blakan.

Namun, keheningan itu tidak bertahan lama. Aeros perlahan berdiri dari duduknya. Senyum tipis yang tadi menghiasi wajahnya kini berubah menjadi binar kebahagiaan yang luar biasa.

Tanpa aba-aba, Aeros maju dan membawa Sael ke dalam pelukannya. Pria itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sael,

"Makasih, Sael," bisik Aeros, suaranya terdengar serak karena bahagia.

"Tawarannya nggak akan pernah kedaluwarsa buat kamu. Makasih karena udah pulang, dan makasih karena udah milih aku."

Sael perlahan membalas pelukan itu, melingkarkan lengannya di pinggang Aeros.

Pelukan hangat yang terasa begitu manis itu perlahan melonggar. Begitu dekapan erat Aeros terlepas, keheningan langsung menyebar di ruangan.

Sael buru-buru melangkah mundur satu langkah, mendadak kehilangan keberanian yang menggebu-gebu tadi. Pikirannya baru saja memproses apa yang baru saja ia lakukan.

Wajah Sael memanas, matanya mendadak sibuk menatap ujung sepatunya sendiri. "Uh, itu... Kak... maaf ya kalau tadi aku ngomongnya kepanjangan dan agak... ya, gitu."

Aeros, yang biasanya selalu terlihat tenang, ternyata tidak jauh berbeda. Ia berdeham beberapa kali, salah tingkah sambil mengusap tengkuknya. Rambutnya agak berantakan akibat pelukan tadi, dan rona merah samar juga menghiasi telinganya.

"Nggak... nggak apa-apa, Sael. Justru aku... aku senang banget," jawab Aeros patah-patah,

"Ya... syukur deh," sahut Sael pelan. Tangannya reflek meremas tali tasnya lagi. "Terus... sekarang gimana?"

"Gimana... apanya?" Aeros balik bertanya, terlihat agak bingung karena status mereka yang mendadak berubah dari 'teman masa kecil/kakak-adikan' menjadi 'sepasang kekasih' dalam waktu kurang dari lima menit.

"Ya... hubungan kita," cicit Sael, melirik Aeros sekilas lalu kembali menunduk. "Kita ... udah pacaran?"

"Oh! Iya, benar. Kita udah pacaran," Aeros mengangguk kaku, Ia berdeham lagi, "Mau... mau duduk dulu? Capek kan berdiri terus?"

"Eh, iya boleh."

Sael berjalan kaku menuju sofa panjang dan duduk di ujung paling kanan. Aeros menyusul, ia memilih duduk di ujung paling kiri—menyisakan jarak kosong yang cukup luas di antara mereka berdua.

Sael menatap stoples kue kering di atas meja kopi, sementara Aeros menatap vas bunga kecil di sebelahnya.

"Kafenya... malam ini nggak terlalu ramai ya, Kak?" Sael mencoba memecah keheningan.

"Iya, kalau malam senin emang agak senggang," jawab Aeros cepat. "Kamu... ke sini naik apa tadi? Nggak diantar Kael?"

"Enggak, Kael lagi pergi sama temen-temennya. Aku naik taksi online."

"Oh... kenapa nggak bilang? Harusnya aku yang jemput."

"Kan tadi aku ngomongnya juga mendadak, Kak."

"Iya juga sih..."

Percakapan itu kembali terputus. Keduanya sama-sama merutuki diri sendiri di dalam hati.

Aeros melirik jarak kosong di antara mereka. Ia menarik napas panjang. Perlahan, ia menggeser duduknya mendekati Sael. Gerakannya yang tiba-tiba membuat Sael menoleh.

"Sael," panggil Aeros,

"Ya, Kak?"

Aeros mengulurkan tangannya, ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya menggenggam jemari Sael yang bertengger di atas lutut. "Maaf ya, aku malah ikutan aneh gini. Padahal ini hari paling bahagia buat aku setelah nunggu tujuh tahun."

Sael menatap tangan mereka yang bertautan, lalu perlahan membalas genggaman itu. "Sama, Kak. Aku juga merasa aneh banget," Sael jujur, diiringi senyum kecil.

Aeros melebarkan senyumnya. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap punggung tangan Sael.

"Wajar kalau aneh," kata Aeros, suaranya melembut. "Status kita berubah hanya dalam hitungan menit. Tapi, aku janji tidak akan membuatmu merasa tertekan. Kita jalani ini pelan-pelan, ya? Saling mengenal lagi sebagai dua orang dewasa, bukan cuma teman masa kecil."

Sael mengangguk kecil.

Aeros tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya sebentar, membuat Sael refleks menatapnya bingung. Namun, kebingungan itu langsung terjawab saat Aeros berdiri, berjalan ke arah meja kerjanya, dan kembali dengan sebuah kotak kecil berwarna biru dongker.

"Ini... sebenarnya mau aku kasih waktu kamu ulang tahun bulan lalu, tapi momentumnya belum pas," ujar Aeros sambil duduk kembali. Ia membuka kotak tersebut, memperlihatkan sebuah gelang perak simpel dengan liontin kecil berbentuk bintang.

"Kak..." Sael tertegun.

"Sini, aku pakaikan," pinta Aeros lembut.

Sael mengulurkan pergelangan tangan kirinya, Aeros memasangkan gelang tersebut.

"Cantik," gumam Aeros setelah berhasil mengunci pengait gelang tersebut. Matanya tidak menatap gelang itu, melainkan menatap lurus ke dalam manik mata Sael. "Pemiliknya yang cantik."

Wajah Sael kembali memanas hebat. Ia menarik tangannya sambil berdeham pelan, mencoba menyembunyikan rona merah yang pasti sudah terlihat jelas. "Kak Aeros gombalnya pintar ya sekarang. Belajar dari mana?"

Aeros tertawa renyah, sebuah tawa lepas yang membuat ketampanannya naik di mata Sael. "Tidak belajar dari siapa-siapa. Kalau di depanmu, kata-katanya keluar sendiri."

Mereka kemudian menghabiskan sisa malam itu dengan mengobrol ringan.

Hingga akhirnya, jarum jam di dinding ruangan menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.

"Sudah malam, Sael. Kamu harus pulang sebelum Kael berubah jadi monster," goda Aeros.

Sael terkekeh sambil merapikan tas selempangnya. "Iya, benar. Kalau kelamaan, bisa-bisa dia menyusul ke sini."

Aeros berdiri, lalu mengacak puncak kepala Sael dengan gemas sebelum membantunya berdiri.

****

Saat Sael pulang, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

Di atas sofa, Kael sudah duduk bersedekap dengan sepotong croissant cokelat dingin di tangan kanannya dan ponsel di tangan kirinya. Wajahnya tertekuk, menatap Sael dengan pandangan tajam.

"Bagus ya. Jam segini baru balik," cetus Kael, suaranya dibuat-buat berat. "Katanya tadi cuma mau 'ngomong sebentar' ke kafe. Ini namanya bukan sebentar, Sael!"

Sael reflek melepaskan flat shoes-nya dengan terburu-buru. "Apa sih, Kael! Berisik deh, udah malam tahu."

Kael bangkit dari sofa, berjalan mendekati kembarannya dengan mata yang menyipit curiga. Ia mulai mengitari Sael, memperhatikan gerak-gerik saudara kembarnya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Bentar, bentar..." Kael mencondongkan tubuhnya, menatap lekat-lekat wajah Sael. "Pipi merah merona... senyum-senyum sendiri kayak orang kurang waras... terus dari tadi megangin tali tas mulu. Wah, fiks!"

Kael langsung melompat mundur, menunjuk Sael dengan dramatis menggunakan sisa croissant di tangannya.

"Kamu udah jadian ya sama si cowok kulkas?!" pekik Kael tertahan, mencoba menjaga volumenya agar tidak membangunkan orang tua mereka di kamar sebelah.

Wajah Sael langsung memanas. "Kael, kecilin suaramu! Enggak... maksudnya, iya... ah, tau ah!" Sael yang panik langsung berbalik hendak kabur menuju kamarnya di lantai dua.

Namun, Kael yang memiliki refleks lebih cepat langsung menghadang tangga, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dengan cengiran khasnya.

"Nggak bisa! Nggak ada kabur-kaburan sebelum kamu cerita!" seru Kael girang. "Wah, gila! Kapalku beneran berlayar! Jadi sekarang aku resmi jadi makelar cinta paling sukses tahun ini?"

Sael menepuk jidatnya sendiri, merutuki nasibnya yang harus memiliki kembaran se-ajaib Kael. "Kael, plis deh. Aku capek, mau tidur."

"Tidur apa tidur? Palingan ntar di kamar kamu guling-gulingan di kasur sambil mikirin Kak Aeros," goda Kael, menaik-turunkan alisnya jahil. Ia lalu merangkul pundak Sael, menggiring kembarannya itu untuk duduk kembali di sofa ruang tengah. "Ayo cerita, Sael. Gimana ceritanya kamu yang minggu lalu sok-sokan minta waktu, tiba-tiba malam ini langsung nyerah?"

Sael menghela napas pasrah, tahu betul kalau Kael tidak akan melepaskannya begitu saja malam ini. Sambil memeluk bantal sofa untuk menyembunyikan wajahnya yang masih memerah, Sael akhirnya membuka suara.

"Ya... setelah aku pikirin lagi semingguan ini, perasaanku emang bukan karena euforia baru pulang," cicit Sael pelan. "Terus tadi pas ketemu... ya udah, aku bilang aja kalau aku sayang juga sama dia. Dan... Aku terima tawarannya yang minggu lalu."

Kael diam mendengarkan, senyum jahil yang tadinya menghiasi wajahnya perlahan berubah menjadi senyuman tulus yang hangat.

Kael menepuk-nepuk puncak kepala Sael dengan pelan, tanpa maksud meledek.

"Bagus deh. Pilihan kamu nggak salah, Sael," ucap Kael lembut. "Kak Aeros itu kalau sama orang lain emang kayak kulkas dua pintu, tapi kalau sama kamu, dia itu langsung meleleh kayak es krim kena matahari. Aku seneng akhirnya kamu nemu tempat pulang yang tepat."

Sael menatap Kael, merasa terharu dengan ucapan kembarannya. "Makasih ya, Kael."

"Yo, sama-sama!" Kael langsung menarik kembali tangannya dan kembali ke mode usilnya. "Tapi inget ya, karena sekarang kamu udah resmi pacaran sama bos kafe, jatah croissant cokelat gratisan buat aku harus naik jadi tiga kali seminggu! Nggak mau tahu, itu pajak makelar!"

Sael langsung melempar bantal sofa tepat ke wajah Kael sambil mendengus kesal. "Kael!!! Dasar matre!"

Tawa renyah Kael pun pecah di ruang tengah yang remang itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!