"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.
Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.
"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekuasaan tanpa batas
Setelah mobil Rolls-Royce hitam itu hilang dari pandangan, Aira membalikkan badannya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Langkahnya masih terasa agak berat karena rasa nyeri yang belum sepenuhnya hilang, tetapi genggaman tangannya pada kartu hitam pemberian Rayyan terasa begitu erat.
Di ruang tengah, Santi berdiri mematung dengan wajah yang dipenuhi campuran rasa syok, kesal, dan penasaran setengah mati. Dia menatap Aira dengan pandangan menuntut penjelasan. Bagaimana bisa anak tiri yang selalu dia injak-injak justru mengenal—bahkan tampak sangat dekat—dengan pemilik Wijaya Group?
Namun, Aira tidak peduli. Untuk pertama kalinya dalam hidup, dia mengabaikan tatapan tajam dan intimidasi dari ibu tirinya itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Aira berjalan melewati Santi begitu saja, menaiki anak tangga kembali menuju kamarnya di lantai dua.
Santi yang biasanya langsung memaki, kali ini hanya bisa menggigit bibir rapat-rapat. Peringatan dingin dari Rayyan sebelum pergi tadi masih terngiang jelas di telinganya, membuat nyalinya ciut seketika.
Sementara itu, di dalam mobil mewah yang sedang melaju kembali menuju gedung pusat Wijaya Group, suasana di dalam kabin terasa sangat mencekam. Rayyan Wijaya duduk bersandar dengan tatapan mata yang sedingin es. Kelembutan yang tadi dia tunjukkan pada Aira telah menguap tanpa bekas, digantikan oleh aura penguasa yang siap menghancurkan siapa saja yang mengusik miliknya.
Rayyan meraih ponselnya, lalu menekan sebuah tombol panggilan cepat ke kepala tim keamanannya.
"Pak Rayyan," suara di seberang telepon langsung menyahut dengan sigap.
"Laporkan kronologi kejadian di kelab semalam ke pihak rektorat kampus Aira," perintah Rayyan, suaranya terdengar datar namun penuh penekanan yang mematikan. "Bawa semua bukti rekaman CCTV lorong, detail minuman yang mereka cekoki ke Aira, hingga bukti bahwa mereka menyewa preman untuk menjebak gadis itu."
Rayyan terdiam sejenak, mengetukkan jari panjangnya di atas lutut sebelum melanjutkan, "Saya tidak mau melihat teman-teman yang terlibat dalam penjebakan Aira masih berkeliaran di kampus itu besok pagi. Pastikan mereka semua di-Drop Out (DO) secara tidak hormat hari ini juga. Pastikan juga nama mereka di-blacklist dari seluruh universitas di negara ini."
"Baik, Pak Rayyan. Segera kami laksanakan. Bagaimana dengan Bagas dan para preman itu, Pak?"
"Untuk para preman, serahkan ke polisi dan pastikan mereka membusuk di penjara dengan hukuman maksimal. Sedangkan untuk Bagas..." Rayyan menyipitkan matanya, memancarkan kilat balas dendam yang kejam. "...aku sendiri yang akan menghancurkan perusahaannya perlahan-lahan."
Rayyan menutup teleponnya. Dia menatap keluar jendela mobil dengan senyum dingin. Baginya, siapa pun yang berani menyentuh atau menyakiti Aira—gadis polos yang kini telah terikat takdir dengannya—harus membayar harga yang sangat mahal.
Kekuasaan seorang Rayyan Wijaya di kota ini memang tidak perlu diragukan lagi. Selain memimpin Wijaya Group yang menggurita di berbagai sektor bisnis, Rayyan juga merupakan donatur tunggal terbesar bagi universitas swasta tempat Aira menuntut ilmu. Gedung perpustakaan megah, laboratorium akuntansi tercanggih, hingga dana beasiswa tahunan, semuanya berasal dari kucuran dana sang CEO.
Oleh karena itu, begitu asisten pribadi Rayyan menginjakkan kaki di gedung rektorat dengan membawa map berisi bukti rekaman CCTV dan hasil laboratorium forensik kelab malam, pihak kampus langsung gempar. Rektor dan para jajaran dewan kehormatan kampus mendadak mengadakan rapat darurat dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Di dalam ruang rapat rektorat, suasana terasa sangat menegangkan.
"Ini adalah perintah langsung dari Pak Rayyan Wijaya," ucap asisten Rayyan, meletakkan map hitam itu di tengah meja dengan tegas. "Pak Rayyan tidak ingin melihat mahasiswa-mahasiswa bermoral bejat ini masih mengotori lingkungan kampus yang beliau danai. Mereka harus dikeluarkan hari ini juga."
Sang Rektor menyeka keringat dingin di dahinya saat membaca nama-nama mahasiswa yang terlibat dalam penjebakan Aira. Tanpa membuang waktu lebih lama dan tanpa perlu mengadakan sidang akademik yang berbelit-belit, sang Rektor langsung menandatangani surat keputusan mutlak.
Siang itu, suasana di area kantin kampus yang tadinya ramai mendadak senyap. Tiga orang mahasiswi—teman-teman sekelas Aira yang semalam menjebaknya—sedang asyik tertawa sambil menikmati makan siang mereka. Mereka bahkan sedang berbisik-bisik, menertawakan nasib Aira yang mereka duga saat ini pasti sudah hancur di tangan para preman semalam.
Brak!
Tiba-tiba, beberapa petugas keamanan kampus bersama dengan perwakilan dari dewan mahasiswa mendatangi meja mereka dengan wajah tegap dan dingin.
"Saudari sekalian, harap segera ikut kami ke ruang rektorat sekarang juga," ujar kepala keamanan kampus tanpa basa-basi.
"Lho, ada apa ya, Pak? Kami salah apa?" tanya salah satu dari mereka dengan wajah sok polos, mencoba membela diri.
"Surat Drop Out (DO) tidak hormat untuk kalian bertiga sudah keluar dan ditandatangani oleh Rektor atas perintah donatur utama kampus. Segala barang-barang kalian di loker sudah dikosongkan. Kalian dikeluarkan hari ini juga atas tindakan kriminal pembubuhan obat dan percobaan penculikan rekan mahasiswa."
Mendengar kalimat itu, wajah ketiga mahasiswi tersebut seketika memucat bagai mayat. Sendok di tangan mereka jatuh berdenting di atas meja. Rasa syok dan penyesalan yang luar biasa langsung menghantam dada mereka. Di depan ratusan mata mahasiswa lain yang menonton dengan pandangan mencemooh, mereka diseret keluar dari area kampus bagai sampah yang tidak berharga.
Mereka sama sekali tidak pernah menyangka, bahwa gadis polos bernama Aira yang selalu diam saat mereka tindas, memiliki sosok pelindung raksasa yang bisa menghancurkan masa depan mereka hanya dalam hitungan jam.