Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.
Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.
Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.
"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.
Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJALANAN PULANG
"Istirahatlah sepuluh menit," ucap Elena akhirnya, berusaha kembali ke mode profesionalnya.
"Sepuluh menit saja? Pelit sekali istriku ini," keluh Arlon manja, tapi dia tetap memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya ke bahu Elena yang terasa kokoh sekaligus nyaman.
Elena tidak mendorongnya kali ini, dia membiarkan Arlon tertidur sebentar, sementara matanya tetap waspada menatap ke arah rimbunnya Hutan Terlarang.
Di balik ketenangan itu, Elena tahu, sesuatu yang sangat besar sedang menunggu mereka di jantung hutan, sesuatu yang mungkin akan mengubah takdir mereka selamanya.
"Siapa sebenarnya aku, Arlon?" bisik Elena sangat pelan, memastikan hanya angin yang mendengarnya.
Di luar gua, seekor burung gagak hitam terbang rendah, matanya yang merah berkilat saat melihat keberadaan mereka, lalu dengan cepat burung itu terbang kembali menjauh dari tempat itu, seolah burung itu baru saja melihat sesuatu hal yang besar.
Arlon tertidur dengan napas yang mulai teratur, kepalanya masih nyaman bersandar di bahu Elena. Namun, baru sekitar lima menit terlelap, pria itu tiba-tiba tersentak, tubuhnya gemetar hebat, dan tangannya mencengkeram lengan baju Elena dengan kuat.
"Arlon? Hei, bangun!" seru Elena menepuk-nepuk pipi Arlon dengan panik.
Arlon membuka matanya dengan napas terengah-engah, keringat dingin bercucuran di pelipisnya, matanya yang tadi sempat jernih, kini kembali meredup seolah ada kabut yang menutupinya.
"Sial... panasnya mulai datang lagi," rintih Arlon sambil mencengkeram dadanya.
Elena segera menarik tangan Arlon dan menempelkannya ke dadanya sendiri, mencoba menarik paksa panas yang bergejolak itu.
"Aku sudah bilang jangan pamer kekuatan tadi! Kamu keras kepala sekali!" ucap Elena marah dan juga khawatir
"Habisnya aku tidak tahan melihatmu mau diterkam serigala tadi," jawab Arlon dengan suara parau, mencoba memaksakan senyum meski wajahnya meringis menahan sakit.
"Aku bisa mengatasinya sendiri, Arlon! Fokus pada dirimu sendiri dulu," bentak Elena, matanya berkaca-kaca karena marah sekaligus khawatir.
Elena segera merogoh kantong kecil di pinggangnya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi air minum yang sudah dicampur dengan ramuan biru dari pria misterius waktu itu, ramuan yang akhir akhir ini sering Arlon minum.
"Minum ini, jangan banyak bicara dulu," perintah Elena tegas, memaksakan botol itu ke bibir Arlon.
Glek
Arlon meminumnya perlahan, lalu menyandarkan punggungnya kembali ke dinding batu, setelah beberapa saat, napasnya mulai stabil, meski wajahnya masih terlihat sangat lelah.
"El... kenapa kamu galak sekali sih? Padahal aku kan baru saja menyelamatkanmu, dan membantu mu mengambil bunga anggrek api itu," goda Arlon, suaranya sudah sedikit lebih kuat.
"Aku tidak butuh diselamatkan oleh pangeran yang nyaris mati setiap kali mengeluarkan kekuatannya," jawab Elena ketus sambil mengusap keringat di dahi Arlon dengan lengan bajunya.
Arlon terkekeh rendah, dia menatap Elena dengan tatapan yang membuat Elena salah tingkah.
"Tapi kamu khawatir, kan? Ngaku saja," goda Arlon, tersenyum miring.
"Aku khawatir target perlindunganku mati sebelum aku dapat emas dari pria misterius itu," elak Elena, membuang muka agar Arlon tidak melihat pipinya yang mulai memerah.
"Kupikir ciuman semalam sudah cukup membuat mu lupa dengan janji emas dari pria misterius itu," bisik Arlon nakal, menarik tangan Elena agar kembali menggenggamnya.
Elena langsung melirik tajam, tangannya sudah gatal ingin menjewer telinga pria di depannya ini.
"Satu kata lagi soal semalam, dan aku pastikan kamu tidur di luar gua ini tanpa selimut," ancam Elena, kesal.
"Galak sekali istriku ini," gumam Arlon pelan, tapi dia tidak melepaskan tangan Elena.
Arlon mengeratkan genggamannya, seolah takut Elena akan menghilang jika dia lengah sedikit saja.
Suasana kembali tenang sejenak, hanya suara gemericik air terjun di luar yang terdengar.
Elena memperhatikan Arlon yang kini tampak lebih rileks, meski tangannya masih terasa sangat panas.
"Arlon, lebih baik kita jalan sekarang, semakin lama kita di sini," ucap Elena sambil mulai membereskan barang-barangnya.
Arlon menghela napas panjang, lalu bangkit berdiri dengan bantuan pundak Elena.
"Tunggu, bunganya mana? Jangan sampai ketinggalan, capek-capek aku keluar darah naga kalau bunganya malah ketinggalan di gua," ucap Arlon, cemberut.
"Aman. Anggrek Api nya sudah aku simpan di wadah kedap udara, tapi ingat, bunganya cuma bisa bertahan segar kalau kamu tidak bikin suhu tubuhmu naik drastis lagi, jadi, tolong tahan diri," jawab Elena menepuk tas kecil di pinggangnya.
"Iya, Nyonya Arlon. Aku akan jadi pangeran yang paling anteng sedunia," ucap Arlon sambil terkekeh, meski tangannya kembali meraih jemari Elena untuk digenggam.
Mereka mulai keluar dari celah air terjun. Cahaya matahari yang masuk dari sela-sela pohon raksasa membuat suasana hutan terlihat lebih terang, tapi Elena tahu kegelapan di hutan ini tidak pernah benar-benar hilang.
"El, kenapa kamu kepikiran buat ambil bunga ini?" tanya Arlon sambil melompati genangan air.
"Maksudku, kamu bisa saja kasih ide buat ngeracuni balik Selena atau apa gitu, tapi kenapa malah bunga persembahan?" tanya Arlon, masih sangat penasaran.
"Karena kalau kita pakai racun, kita tidak ada bedanya sama dia," jawab Elena tanpa menoleh, matanya sibuk memindai semak-semak.
"Lagipula, aku mau kamu menang dengan cara yang terhormat. Biar Raja Alaric melihat kalau anaknya itu bukan sampah, tapi pewaris yang direstui alam," lanjut Elena, melirik Arlon.
Deg
Arlon tertegun sejenak, genggamannya di tangan Elena sedikit mengerat.
"Kamu... benar-benar mikirin sampai ke sana?" tanya Arlon, pelan.
"Berhenti berpikir yang tidak-tidak Arlon, kita masih di tengah hutan," jawab Elena ketus, meski sebenarnya hatinya sedikit berdesir melihat wajah Arlon.
"Lagian kamu jarang-jarang berbicara manis begitu," goda Arlon, kembali ke mode isengnya.
"Biasanya kamu ngancem-ngancem terus," lanjut Arlon, cemberut.
"Itu karena kamu memang pantas diancam," balas Elena pendek.
Tiba-tiba, Elena berhenti melangkah, dia mengangkat tangannya, memberi kode agar Arlon diam, telinganya yang tajam menangkap suara kepakan sayap yang sangat banyak dari arah depan.
"Ada apa?" bisik Arlon, ikut waspada.
"Burung gagak, banyak banget di depan," jawab Elena pelan.
Benar saja, dari balik pepohonan, muncul belasan burung gagak dengan mata merah menyala yang berputar-putar di atas kepala mereka.
Burung-burung itu tidak menyerang, tapi suara parau mereka terdengar seperti sedang memanggil sesuatu yang lebih besar.
"Arlon, tetap di belakangku, jangan lepas pegangan tanganmu!" perintah Elena sambil menghunuskan belati kembarnya.
"El, kali ini biar aku yang bantu, aku merasa energiku sudah jauh lebih stabil sekarang," ucap Arlon, matanya mulai menampakkan kilatan emas lagi.
"Nggak! Kamu simpan energi itu buat Festival nanti! Biar aku yang urus hama-hama ini," tolak Elena tegas.
Elena bergerak maju dengan cepat, dia melompat ke batang pohon, lalu melenting ke arah kerumunan burung gagak itu.
Tebasan belatinya secepat kilat, membelah udara dan menjatuhkan beberapa burung sekaligus.
Sret
Sret