Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.
Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.
Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
Kevin berlari setengah tersungkur keluar dari ruangan utama. Dengan napas yang ngos-ngosan dan wajah pucat pasi seperti habis melihat hantu, ia langsung menghampiri meja kerjanya Ananda.
Ananda yang sedang mengetik sesuatu di komputernya seketika menghentikan gerakannya. Ia mengernyitkan dahi, terkejut melihat ekspresi wajah Kevin yang tampak begitu mengenaskan.
"Na... Ananda... Gawat! Kau sebenarnya kasih laporan apa sama Tuan Tristan?" tanya Kevin dengan suara bergetar, kedua tangannya bertumpu pada meja Ananda untuk menopang tubuhnya yang lemas.
Ananda menatap Kevin dengan tenang.
"Itu laporan dari Mbak Riska di bagian Divisi Keuangan. Memangnya kenapa, Pak?"
"Kacau! Kau sempat koreksi dulu tidak sebelumnya?!" cecar Kevin panik.
Ananda menggelengkan kepalanya dengan santai. "Tidak. Saya pikir laporan itu bersifat rahasia dan harus langsung diserahkan kepada atasan, lagipula saya kan masih karyawan baru di perusahaan ini."
Mendengar jawaban datar itu, Kevin semakin geram atas apa yang dianggapnya sebagai ketololan fatal dari sekretaris baru ini. Ia menepuk jidatnya sendiri. "Kau ini benar-benar teledor! Sekarang ikut dengan ku. Tuan Tristan marah besar! Laporan yang kau bawa tadi sudah dilempar dan semuanya berserakan di lantai!"
Kevin mengira Ananda akan langsung menangis atau memohon ampun seperti karyawan-karyawan lainnya. Namun, ia salah besar. Mendengar Tristan mengamuk, Ananda sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau gentar sedikit pun. Baginya, pria arogan seperti Tristan Bratadikara tidak bisa dibiarkan bertindak semena-mena begitu saja. Ia sudah kenyang diinjak-injak di masa lalu, dan sekarang ia tidak akan sudi lagi merunduk di hadapan pria itu, meskipun ia harus menanggung risiko terburuk, yaitu dipecat di hari pertamanya bekerja.
Dengan dagu terangkat dan langkah yang penuh percaya diri, Ananda berjalan melewati Kevin menuju pintu ruangan Tristan yang seolah telah memancarkan asap kegelapan yang pekat.
Brak!
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Ananda menerobos masuk ke dalam ruangan mewah itu. Pintu yang terbuka kasar itu membuat Tristan yang sedang menahan amarah sedikit tersentak atas sikap berani, bahkan cenderung lancang, dari sekretaris barunya.
Ananda berdiri tegak di tengah ruangan, menatap lurus ke dalam manik mata tajam milik Tristan tanpa ada keraguan.
"Kenapa Tuan memanggil saya? Apakah saya telah membuat kesalahan?" tanya Ananda dengan suara yang lantang dan tegas.
Mendengar nada bicara yang menantang dan tidak ada ketakutan sama sekali dari wanita di hadapannya, darah Tristan seketika mendidih. Kecongakan nya sebagai pimpinan tertinggi diusik. Dengan rahang mengeras penuh amarah, ia beranjak dari tempat duduknya, melangkah maju, lalu memukul meja kerjanya dengan keras.
Brak!
"Kau... berani sekali padaku, hah?!" bentak Tristan dengan suara yang menggelegar, menatap tajam wanita cantik yang kini berani menantang kekuasaannya.
Ananda sama sekali tidak bergeming. Gertakan keras dan pukulan meja dari Tristan yang biasanya sanggup membuat nyali karyawan lain menciut, tidak mempan baginya. Ia justru melangkah maju, menatap lurus ke dalam manik mata tajam pria itu dengan binar keberanian yang menyala-nyala.
Ananda mengalihkan pandangannya sejenak ke arah lantai, menatap nanar lembaran-lembaran dokumen yang berserakan di sekitar sepatunya, lalu kembali menatap Tristan.
"Jadi, seperti ini sikap Tuan Tristan yang terhormat terhadap karyawan barunya?" ucap Ananda, menekankan setiap kata dengan intonasi yang tenang namun menusuk.
Deg!
Tristan tertegun. Jantungnya berdesir aneh. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, ada seorang wanita terlebih lagi seorang karyawan baru yang berani menantang kekuasaannya dengan begitu lantang.
Tristan menyipitkan matanya, berusaha mengembalikan keangkuhannya.
"Kau... sudah bosan hidup, hah? Kau tidak takut aku pecat?!"
Mendengar ancaman itu, sudut bibir Ananda terangkat. Ia menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sarat akan ejekan, seolah menganggap remeh gertakan sang CEO.
"Saya tidak akan pernah takut jika saya tidak melakukan kesalahan apa pun, Tuan," sahut Ananda tegas. "Saya karyawan baru di sini, dan saya mengantarkan laporan itu ke ruangan ini atas perintah dari senior. Jadi, letak kesalahan saya di mana, Tuan Tristan yang terhormat?"
Deg!
Dada Tristan bergemuruh hebat saat mendengar untaian kalimat itu. Entah mengapa, penekanan pada frasa "Tuan Tristan yang terhormat" dan sorot mata berapi-api itu mendadak memicu kilasan memori masa lalu. Sosok gadis cupu yang dulu sering ia tindas mendadak membayangi benaknya. Rasa familiar yang kuat itu membuat Tristan seketika terdiam.
Kehilangan kata-kata, Tristan perlahan kembali ke kursi kebesarannya. Ia memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut, lalu memutar kursinya membelakangi Ananda, menghadap ke arah jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta. Dari pantulan kaca tersebut, ia bisa melihat bayangan sekretaris barunya yang masih berdiri tegap tanpa rasa takut.
"Apakah sebelumnya kau sudah mengecek dokumen itu?" tanya Tristan, anehnya nada suaranya kini terdengar sedikit melunak.
"Maaf, Tuan. Karena saya pikir laporan dari divisi keuangan bersifat rahasia, sebagai karyawan baru saya tidak berani untuk mengeceknya tanpa izin," jawab Ananda logis.
Tristan menghela napas pendek. "Lain kali, kau cek semua dokumen itu sebelum aku tandatangani. Aku tidak mau kejadian bodoh ini sampai terulang kembali. Kali ini kau ku maafkan..." Tristan menjeda kalimatnya, lalu membalikkan kursinya kembali untuk menatap Ananda. "Tapi, sekali lagi kau melakukan kesalahan, jangan harap kau bisa bekerja di tempat ini lagi. Bahkan, aku bisa memastikan namamu di blacklist dari perusahaan mana pun di negara ini."
Mendengar ancaman yang begitu mutlak, Ananda lagi-lagi hanya tersenyum tipis. Tristan yang menangkap ekspresi itu lewat tatapannya langsung yang kini dirundung rasa heran.
‘Wanita ini... kenapa sama sekali tidak takut dengan ancaman ku? Rupanya dia tangguh juga,’ batin Tristan, diam-diam mengagumi mental baja sekretaris barunya.
"Baik, Tuan. Terima kasih atas pengertiannya," ucap Ananda formal.
"Ya sudah. Kau keluar dan panggil Kevin ke sini!" perintah Tristan kembali ke mode dinginnya.
Ananda mengangguk patuh, lalu berbalik dan melangkah anggun keluar dari ruangan. Namun, begitu pintu jati itu terbuka, ia tersentak kecil. Ia mendapati Kevin tengah berdiri membungkuk, rupanya sedang menguping dari balik pintu sejak tadi.
"Nanda! Kau... kau..." Kevin menatap Ananda dengan mata membelalak tak percaya. "A... astaga, kok bisa Tuan Tristan bersikap melunak seperti itu padamu? Biasanya siapa pun yang masuk saat dia mengamuk langsung keluar sambil menangis!"
Ananda hanya menaikkan bahu dan kedua alisnya secara bersamaan, enggan memberikan jawaban atas rasa penasaran Kevin. "Tuan Tristan memanggil Anda di dalam, Pak," ucapnya mengingatkan.
Kevin langsung tersadar dari keterkejutannya. Dengan tubuh yang kembali tegang, ia buru-buru masuk ke dalam ruangan.
"T... Tuan... Tristan...?" Panggil Kevin gugup.
Tristan memutar kursinya, menatap Kevin dengan dingin. "Tolong sampaikan kepada pihak Divisi Keuangan agar lebih teliti lagi dalam membuat laporan. Kembalikan berkas ini dan suruh mereka memperbaikinya sekarang juga. Cepat!"
"B... baik, Tuan! Segera saya laksanakan!" Kevin dengan gerakan kilat berlutut di lantai, merapikan kertas-kertas dokumen yang berserakan dengan tangan gemetar, lalu bergegas membawanya keluar menuju divisi keuangan sebelum sang bos kembali mengamuk.
Setelah ruangan kembali sunyi, Tristan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kulitnya yang empuk. Ia memejamkan mata rapat-rapat. Pertemuannya dengan sekretaris baru bermental baja itu entah mengapa justru kembali membuka luka lama yang selama enam tahun ini menyiksanya. Bayangan si 'itik buruk rupa' kembali memenuhi benaknya.
‘Itik... kau ada di mana sekarang?’ batin Tristan merajuk penuh penyesalan. ‘Aku benar-benar merasa tersiksa dan dihantui oleh dosa-dosaku setiap malam. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah kau baik-baik saja di luar sana?’
Bersambung...