NovelToon NovelToon
Tasbih Sangker

Tasbih Sangker

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Horor / Bad Boy
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Divya bharti

Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan di Balai Desa

Langkah kaki keenam orang itu bergema di atas lantai semen balai desa yang bersih. Suasana canggung yang sempat merayap akibat tatapan heran para staf administrasi mendadak terpecah ketika sebuah pintu kayu jati di ujung ruangan terbuka dengan bunyi derit yang berat.

Dari dalam ruangan tersebut, muncullah seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan rambut yang sudah memutih di bagian pelipis. Ia mengenakan kemeja batik bermotif sulur daun yang rapi, dipadukan dengan celana kain hitam. Gurat-gurat di wajahnya menyiratkan kedewasaan, ketegasan, sekaligus kebijaksanaan seorang pemimpin yang telah lama mengayomi warga. Pria itu adalah Pak kades, kepala pemimpin tertinggi di Desa Beringin Sakti.

Pak Kades menghentikan langkahnya sejenak saat matanya menangkap siluet kelima anak muda kota yang berdiri di samping Anisa. Pandangannya sempat tertahan cukup lama pada Zenix melihat rambut cokelat keperakannya yang mencolok, anting hitam di telinga kirinya, serta jaket denim hitam yang robek di bagian lengan. Ia kemudian beralih menatap Jovanka dengan jaket kulit hitamnya, Deandra dengan jaket baseball navy cream, serta Susan dan Sasti yang tampak masih menyembunyikan sisa trauma di balik punggung pasangan mereka.

"Alhamdulillah, Anisa. Siapa para tamu yang kamu bawa ini?" tanya Pak Kades, suaranya berat namun terdengar sangat mengayomi. Beliau melangkah mendekat, mengisyaratkan dengan lambaian tangan agar rombongan itu menuju ke area meja tamu berkursi kayu panjang yang terletak di tengah balai desa. "Mari, silakan duduk semuanya."

Setelah semuanya mengambil posisi duduk dengan sopan di mana Zenix kembali mengambil posisi duduk paling depan berdampingan dengan Anisa Pak Kades duduk di kursi tunggal utama, menatap mereka dengan penuh rasa ingin tahu.

Anisa menangkupkan kedua tangannya ke depan dada dengan santun. "Begini, Pak Kades. Mereka ini adalah mahasiswa dari kota yang sedang liburan. Tapi, mereka mengalami musibah di perjalanan dan tersesat hingga sampai ke pondok saya semalam. Karena mereka tidak tahu arah jalan pulang dan tidak ada sinyal, saya mengantar mereka kemari untuk meminta bantuan dan petunjuk dari Bapak."

Mendengar kata 'tersesat hingga sampai ke pondok', sepasang mata Pak Kades langsung menyipit tajam. Aura kebijaksanaannya seketika berubah menjadi ketegangan yang serius. Sebagai kepala desa yang paham betul seluruh jengkal wilayahnya, ia tahu persis letak pondok Anisa. Satu-satunya cara manusia bisa berdiri di depan teras pondok bambu itu dari arah luar hanyalah dengan berjalan membelah inti perut Hutan Sangker.

"Kalian... tersesat melewati Hutan Sangker?" tanya Pak Kades dengan nada suara yang merendah, seolah tidak ingin pembicaraan ini didengar terlalu jelas oleh staf balai desa lainnya. "Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa kalian berjalan menembus hutan itu pada malam hari dan sampai di pondok Anisa dalam keadaan bernyawa?"

Mendengar pertanyaan yang menuntut kepastian itu, Deandra melirik ke arah Zenix sejenak. Sebelum berangkat tadi, dalam perjalanan pendek menembus tepian hutan, Zenix sempat berbisik kepada mereka semua untuk menyembunyikan perihal keberadaan 'roh putih bercahaya' yang menuntun mereka. Zenix yang berinsting tajam tahu bahwa menceritakan hal gaib atau hal sakral secara blak-blakan kepada orang asing bahkan kepada kepala desa sekalipun bisa memicu kegemparan atau ketidakpercayaan yang mempersulit posisi mereka.

Zenix memajukan tubuhnya sedikit, memutar cincin peraknya dengan gerakan tenang seolah tidak ada beban di pundaknya. "Kami tidak tahu pasti bagaimana kami bisa selamat, Pak," bohong Zenix dengan wajah dinginnya yang datar, membuat ekspresinya sulit dibaca. "Mobil kami dihadang bandit di jalan raya perbatasan luar. Kami pingsan setelah dipukuli, dan saat kami semua terbangun, kami sudah berada di tengah-tengah hutan yang sangat gelap dan menakutkan itu."

Yuan dengan cepat menyambung penjelasan Dylan menggunakan kemampuan bicaranya yang terstruktur. "Benar, Pak Kades. Kami hanya berjalan lurus mengikuti insting dalam kegelapan. Suasananya memang sangat aneh dan mengerikan, penuh dengan kabut dan suara-suara yang membuat kami ketakutan setengah mati. Kami mengira kami akan mati di sana. Tapi, mungkin kami berlima sedang berada dalam keberuntungan yang luar biasa. Kami melihat ada pancaran cahaya lampu minyak dari kejauhan, dan setelah kami dekati, ternyata itu adalah pondok milik Anisa. Kami benar-benar murni beruntung bisa lolos dari kegelapan hutan itu tanpa arah yang jelas."

Pak Kades terdiam lama setelah mendengar cerita tersebut. Matanya menatap tajam ke arah mata Zenix, lalu beralih ke Deandra dan Jovanka, berusaha mencari kebohongan. Namun, ketiga cowok itu berhasil memasang ekspresi lelah dan bingung yang sangat natural akibat sisa kejadian semalam.

Pak Kades mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan raut wajah takjub. "Keberuntungan... ya, hanya keajaiban dan keberuntungan besar dari Yang Maha Kuasa yang bisa membuat anak-anak muda kota seperti kalian keluar dari Hutan Sangker tanpa terluka parah. Jalur itu adalah jalur kematian bagi siapa pun yang tidak paham pantangannya. Kalian benar-benar seperti memiliki sembilan nyawa."

Beliau kemudian menatap mereka dengan pandangan yang lebih melunak. "Lalu, bantuan apa yang kalian harapkan dari desa kami yang terpencil ini?"

Jovanka yang sejak tadi memeluk bahu Sasti akhirnya angkat bicara. "Kami hanya ingin pulang ke kota, Pak Kades. Kami butuh kendaraan. Apakah di desa ini ada persewaan mobil, atau mungkin ada warga yang memiliki sepeda motor yang bisa kami sewa untuk mengantar kami sampai ke jalan raya utama atau terminal kota terdekat? Kami akan membayar biayanya sesuai tarif."

Mendengar permintaan Jovanka, wajah Pak Kades kembali berubah menjadi serba salah. Beliau mengusap dagunya yang ditumbuhi janggut tipis keputihan, lalu mengembuskan napas dengan gurat penyesalan.

"Kalau masalah kendaraan untuk mengantar kalian sekarang... sepertinya itu tidak mungkin ada, Nak," jawab Pak Kades pelan, membuat Susan dan Sasti seketika membelalakkan mata mereka karena cemas.

"Maksud Bapak tidak ada?" tanya Susan dengan suara yang mulai bergetar kembali, jemarinya mencengkeram erat lengan jaket baseball navy cream milik Deandra.

"Desa Beringin Sakti ini adalah desa yang sangat tradisional dan terisolasi, Nak," jelas Pak Kades dengan sabar. "Warga di desa kami tidak ada satu pun yang memiliki sepeda motor, apalagi mobil pribadi. Angkutan utama warga di sini jika ingin berpindah tempat atau mengangkut hasil panen jarak dekat hanyalah menggunakan sepeda kayuh. Kami semua bergerak menggunakan tenaga kaki sendiri di desa ini."

"Lalu, tidak ada akses kendaraan sama sekali dari luar yang masuk kemari, Pak?" tanya Deandra, mencoba mencari alternatif lain berdasarkan logika transportasinya.

"Ada. Di desa ini hanya ada satu-satunya mobil angkutan umum jenis bak terbuka yang biasa digunakan untuk membawa warga dan barang-barang logistik menuju ke kota," kata Pak Kades. "Akan tetapi... mobil angkutan itu saat ini sedang berada di kota. Tadi pagi-pagi sekali, bahkan sebelum matahari terbit sepenuhnya, mobil itu sudah berangkat membawa hasil bumi warga untuk dijual di pasar kota."

"Kapan mobil itu akan kembali ke desa ini, Pak?" tanya Zenix, matanya yang tajam menatap lurus ke arah Pak Kades. Anting hitam di telinganya tampak berkilau pelan di bawah pencahayaan balai desa.

"Mobil itu baru akan kembali ke desa ini besok sore, atau paling cepat besok siang," jawab Pak Kades dengan tegas. "Sebab, perjalanan dari desa ini menuju kota memakan waktu berjam-jam melewati jalanan berbatu yang rusak parah di luar wilayah hutan. Sopirnya biasanya akan menginap satu malam di kota untuk beristirahat sebelum menempuh perjalanan pulang kemari."

Jawaban dari Pak Kades itu bagaikan petir di siang bolong bagi Sasti dan Susan. Itu berarti mereka terpaksa harus bertahan hidup di wilayah tepi Hutan Sangker ini setidaknya selama satu malam lagi. Rasa cemas kembali membayangi pikiran mereka, mengingat peringatan ketat Anisa mengenai jam malam hutan terkutuk itu.

Anisa yang melihat gurat kepanikan di wajah para tamunya segera mengelus pundak Sasti dengan lembut. "Tenang, Mbak Sasti, Mbak Susan. Selama kalian berada di wilayah desa atau di pondok saya, kalian akan tetap aman."

Anisa kemudian menoleh kepada Pak Kades. "Kalau begitu, Pak, apakah boleh mereka berlima untuk sementara waktu tinggal dan menumpang beristirahat di pondok saya lagi sampai mobil angkutan itu datang besok? Saya akan menjaga mereka."

Pak Kades mengangguk setuju dengan cepat. "Tentu saja, Anisa. Malah itu adalah pilihan terbaik. Pondok kakekmu adalah tempat yang paling aman karena batas sucinya yang kuat. Saya juga akan meminta petugas desa untuk memastikan kebutuhan logistik dan makanan kalian berlima terpenuhi selama menunggu di sana."

Pak Kades kemudian berdiri dari kursinya, memberikan isyarat bahwa pembicaraan resmi telah selesai, namun tatapannya kembali tertuju pada jam dinding besar di balai desa yang menunjukkan pukul delapan pagi.

"Ingat pesan saya satu hal ini, anak-anak muda," ujar Pak Kades dengan nada penuh penekanan yang tidak boleh dibantah. "Anisa pasti sudah memberi tahu kalian tentang aturan Hutan Sangker. Kalian boleh berjalan-jalan di sekitar desa atau menemani Anisa hari ini. Tapi, begitu waktu sudah mulai bergeser sore dan mendekati maghrib, kalian semua harus sudah berada di dalam pondok bambu Anisa. Jangan sesekali berada di jalan setapak atau di dekat batas hutan saat matahari tenggelam jika kalian masih ingin melihat mobil angkutan itu datang besok pagi."

Kelima mahasiswa itu mengangguk dengan serentak, meresapi setiap kata peringatan dari kepala desa dengan kesadaran penuh bahwa mereka sedang berada di wilayah di mana mistis dan realitas berjalan beriringan.

1
Harto Ninis
namanya sering tertukar thor, semangat 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!