NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Pernikahan Bisu di Sangkar Emas

Pernikahan itu berlangsung lebih cepat dan lebih dingin dari yang pernah Arumi bayangkan seumur hidupnya. Tidak ada gaun pengantin putih yang menjuntai indah, tidak ada dekorasi bunga mawar yang memenuhi ruangan, dan sama sekali tidak ada senyuman bahagia dari tamu undangan.

Di sebuah ruangan tertutup di salah satu properti pribadi milik keluarga Wijaya, Arumi dan Renard mengucapkan janji suci di hadapan seorang petugas sipil, pengacara keluarga, dan asisten pribadi Renard. Hanya itu. Selama prosesi yang berlangsung tak lebih dari dua puluh menit tersebut, Renard tidak sekalipun menatap mata Arumi. Pria itu mengucapkan ikrar dengan nada datar dan cepat, seolah sedang membaca laporan keuangan tahunan perusahaannya.

Begitu tanda tangan terakhir dibubuhkan di atas buku nikah, Renard langsung berbalik dan berjalan keluar ruangan, meninggalkan Arumi yang masih mematung menatap cincin berlian dingin yang kini melingkar di jari manisnya. Cincin itu sangat indah, harganya mungkin bisa untuk membeli sebuah rumah mewah, namun bagi Arumi, benda kecil itu tak ubahnya sebuah borgol berlapis emas.

Malam harinya, sebuah mobil Maybach hitam legam membawa Arumi memasuki gerbang besi raksasa yang menjulang tinggi bak benteng pertahanan. Di balik gerbang itu, terhampar sebuah kediaman megah bergaya Eropa modern. Fasad bangunannya didominasi warna putih pualam dan abu-abu, diterangi lampu sorot dramatis yang menonjolkan kesan mewah sekaligus angkuh. Kediaman keluarga Wijaya.

Begitu pintu mobil dibukakan, Arumi melangkah turun dengan perasaan canggung. Angin malam berembus menyapu wajahnya. Di ambang pintu utama, deretan pelayan berseragam rapi sudah berdiri berbaris, menundukkan kepala mereka dalam-dalam menyambut kedatangan sang nyonya baru.

Renard yang keluar dari sisi mobil yang lain langsung melangkah masuk tanpa menoleh pada Arumi. "Ikuti aku," perintahnya singkat.

Arumi mempercepat langkahnya, setengah berlari untuk mengimbangi kaki panjang pria itu. Ia dibawa menaiki tangga melingkar yang dilapisi karpet tebal menuju lantai dua. Suasana rumah ini sangat sunyi, nyaris mencekam, kontras dengan kemegahannya.

Langkah Renard terhenti di depan sebuah pintu ganda berwarna putih gading. Ia memutar tubuhnya, menatap Arumi dari atas ke bawah. Pandangan pria itu berhenti sejenak pada sepatu pantofel hitam Arumi yang ujungnya sudah mulai mengelupas, lalu beralih ke kemeja sederhana dan kardigan rajut yang selalu dipakai gadis itu.

"Ini kamarmu," ucap Renard memecah kesunyian. "Kamarku ada di ujung lorong sebelah kanan. Ingat aturan pertama: jangan pernah masuk ke kamarku tanpa izin, dan jangan berharap aku akan mengunjungi kamarmu."

Arumi mengangguk pelan, menundukkan wajahnya. "Saya mengerti, Tuan."

"Dan satu hal lagi," nada suara Renard mendadak berubah sedikit lebih tajam. "Besok pagi, asistenku akan membawakan beberapa desainer pakaian dan penata rias ke mari. Buang semua baju-baju lusuhmu itu. Aku tidak ingin pelayan di rumah ini, atau tamu yang berkunjung, berpikir bahwa aku membiarkan istriku berpenampilan seperti seorang pengemis. Itu akan sangat menjatuhkan harga diriku."

Mendengar itu, Arumi langsung mengangkat wajahnya. Hatinya mencelos. "Tapi, Tuan, pakaian saya masih sangat layak pakai. Anda tidak perlu repot-repot membelikan saya barang mewah. Saya bisa—"

"Aku tidak menerima bantahan, Arumi!" potong Renard dingin. Ia memalingkan wajah, rahangnya mengetat. "Gunakan saja fasilitas yang kuberikan dan tutup mulutmu. Mulai sekarang, nama baik Wijaya ada di pundakmu."

Tanpa menunggu balasan Arumi, Renard berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya sendiri, meninggalkan Arumi yang berdiri termangu di depan pintu. Pria itu benar-benar arogan, pikir Arumi kesal.

Dengan helaan napas panjang, Arumi membuka pintu kamarnya. Matanya membulat sempurna. Kamar itu luar biasa luas, mungkin tiga kali lipat lebih besar dari ruang tamu rumah lamanya. Ranjang berukuran king-size dengan seprai sutra berada di tengah ruangan, menghadap ke arah jendela kaca raksasa dan balkon yang memamerkan pemandangan taman belakang.

Arumi meletakkan tas kainnya di atas sofa beludru. Ia merasa sangat lelah, baik fisik maupun mental. Perutnya mendadak berbunyi nyaring, mengingatkannya bahwa ia belum makan apa pun sejak siang karena terlalu tegang menghadapi "pernikahan" ini. Namun, ia terlalu takut untuk turun ke dapur dan meminta makanan pada pelayan asing di rumah sebesar ini.

Tok... Tok...

Ketukan lembut di pintu membuat Arumi tersentak. Saat ia membukanya, seorang pelayan wanita paruh baya berdiri di sana sambil mendorong troli makanan. Aroma sup krim hangat, steak daging sapi panggang, dan teh kamomil langsung menyeruak, membuat air liur Arumi nyaris menetes.

"Selamat malam, Nyonya. Maaf mengganggu waktu istirahat Anda," sapa pelayan itu dengan senyum keibuan. "Saya membawakan makan malam."

Arumi mengernyit bingung. "Eh? Tapi saya tidak memesan makanan apa pun. Apakah ini salah kamar?"

Pelayan itu terkekeh pelan. "Tentu saja tidak, Nyonya. Ini perintah langsung dari Tuan Muda Renard. Beliau yang menyuruh kepala koki segera memasak makanan bergizi untuk Anda."

"T-Tuan Muda yang menyuruhnya?" Arumi mengerjap tak percaya. Pria sedingin balok es itu memikirkan jadwal makannya?

Pelayan itu mengangguk, lalu berbisik dengan nada geli, "Benar, Nyonya. Tuan Muda tadi menelepon dapur dengan nada sangat galak. Beliau bilang, 'Beri wanita di kamar itu makan yang banyak. Jangan sampai dia mati kelaparan dan pingsan di rumahku, itu akan sangat merepotkan dan membuat media berpikir aku menyiksanya!' Begitu kata Tuan Muda, Nyonya."

Arumi terdiam. Ia menatap deretan makanan mewah di atas troli itu. Sudut bibirnya tanpa sadar terangkat membentuk senyuman tipis. Pria itu... menggunakan alasan gengsi dan reputasi untuk menutupi perhatiannya?

Malam semakin larut saat Arumi selesai menghabiskan makanannya. Karena tidak bisa langsung tidur, ia berjalan membuka pintu kaca menuju balkon kamarnya. Angin malam menerpa wajahnya. Taman belakang rumah itu sangat gelap dan rimbun.

Saat ia sedang menikmati kesunyian, tiba-tiba indra pendengarannya menangkap sebuah suara samar dari arah semak-semak dekat gudang tua di sudut taman.

"Meong…"

Arumi menyipitkan matanya, menajamkan pandangan menembus kegelapan malam. Di bawah temaram lampu taman yang berkedip, ia melihat siluet seorang pria berpostur jangkung sedang berjongkok di atas rerumputan basah.

Apa yang sedang dilakukan Renard Wijaya di sudut taman segelap itu pada pukul satu dini hari?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!