Reza adalah mantan koki yang dipecat karena difitnah, tetapi ia menemukan tujuan hidup baru setelah mendapatkan Sistem Restoran Dunia Lain.
Kini ia mengelola Restoran di mana pintunya terhubung ke dimensi kultivator dan sihir, menyajikan makanan lezat yang menyelesaikan masalah para pelanggan dari berbagai dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Reza bangun lebih pagi dari biasanya.
Dia tahu hari ini akan menjadi ujian fisik yang berat untuknya.
Hari ini pintu kedainya kembali terhubung ke dunia nyata.
Video ulasan dari Dimas pasti akan membawa banyak pelanggan baru.
"Sistem, tolong siapkan bahan baku maksimal untuk menu mi ayam jamur hari ini," perintah Reza.
"Baik Host, persediaan bahan telah disesuaikan dengan kapasitas maksimal dapur," jawab Sistem.
Reza turun ke dapur dan melihat tumpukan bahan yang sangat banyak.
Ada puluhan gulungan mi kuning segar dan beberapa baskom besar berisi ayam cincang berbumbu.
Dia mulai memanaskan dua panci besar sekaligus untuk merebus kuah kaldu.
Aroma sedap langsung menyebar ke seluruh penjuru ruangan kedai.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi saat Reza berjalan ke depan.
Dia memutar kenop pintu dan membukanya lebar-lebar.
Mata Reza langsung membelalak melihat pemandangan di luar.
Gang kecil yang biasanya sepi kini dipenuhi oleh antrean puluhan orang.
Beberapa dari mereka terlihat memegang ponsel sambil melihat ke arah kedai.
Suara riuh obrolan langsung terdengar saat pintu kedai terbuka.
"Wah, tempatnya benar-benar ada di sini," seru seorang pemuda di barisan depan.
"Aku kira video Dimas itu hanya akal-akalan promosi saja."
Dimas ternyata juga berada di barisan depan antrean tersebut.
Dia melambaikan tangannya ke arah Reza dengan senyum sangat lebar.
"Selamat pagi Mas Reza," sapa Dimas setengah berteriak.
"Lihat, aku membawa banyak penonton setiaku ke sini hari ini."
Reza hanya bisa tersenyum kaku melihat lautan manusia di depannya.
Kapasitas kedainya hanya memiliki empat meja yang memuat enam belas orang sekaligus.
"Selamat pagi semuanya, selamat datang di Kedai Persimpangan," ucap Reza ramah.
"Silakan masuk bagi enam belas orang pertama, sisanya mohon mengantre di luar dulu."
Orang-orang langsung berdesakan masuk ke dalam ruangan kedai.
Mereka berebut tempat duduk di kursi kayu yang mengkilap itu.
Dimas dan tiga orang temannya berhasil mengamankan meja yang paling dekat dengan dapur.
Suasana kedai yang tenang kini berubah menjadi sangat bising.
"Mas Reza, kami pesan empat porsi mi ayam jamur spesial," kata Dimas.
"Teman-temanku ini sudah tidak sabar ingin membuktikan ucapanku di video."
"Tolong tunggu sebentar, pesanannya akan segera datang," jawab Reza sambil mencatat.
Pelanggan di meja lain juga mulai meneriakkan pesanan mereka.
"Mas, di sini pesan empat porsi juga."
"Meja pojok minta tiga porsi ya Mas, minumnya es teh manis semua."
Reza mengangguk dan segera bergegas kembali ke balik meja konternya.
Dia mengambil enam mangkuk keramik putih dan membentangkannya di atas meja.
Tangannya bergerak sangat lincah meracik bumbu dasar di setiap mangkuk.
Kecap asin, minyak wijen, dan sedikit lada putih dituangkan dengan takaran sempurna.
Dia kemudian memasukkan enam gulung mi sekaligus ke dalam saringan panci besar.
Asap panas mengepul menutupi sebagian wajah Reza yang mulai berkeringat.
"Tempatnya lumayan sempit ya, padahal antreannya panjang banget di luar," keluh seorang pelanggan wanita.
"Iya, semoga saja rasa makanannya memang pantas untuk ditunggu selama ini."
Reza mendengar keraguan itu namun dia tidak memedulikannya.
Dia tahu rasa masakannya akan berbicara lebih keras daripada kata-kata.
Hanya dalam waktu empat menit, enam mangkuk mi ayam sudah siap disajikan.
Reza menaruh nampan berisi mangkuk itu dan mengantarkannya ke meja Dimas serta meja di sebelahnya.
"Silakan, mi ayam jamur spesial," ucap Reza membagikan pesanan tersebut.
Teman-teman Dimas langsung mengambil sumpit dan mengaduk mi mereka.
Aroma gurih yang menyerbak membuat keraguan mereka langsung hilang.
"Gila, wanginya saja sudah seenak ini," kata salah satu teman Dimas.
Dia menyendok mi itu dan memasukkannya ke dalam mulut.
Matanya langsung melebar dan dia mengunyah dengan sangat cepat.
"Dimas, kau tidak berbohong, ini benar-benar mi ayam terenak yang pernah kumakan," puji temannya itu.
"Tekstur minya sangat pas dan bumbu jamurnya meresap sampai ke dalam."
Pelanggan di meja sebelah juga menunjukkan reaksi yang sama terkejutnya.
Wanita yang sebelumnya mengeluh kini makan dengan sangat lahap tanpa bersuara.
"Mas, ini ayamnya empuk banget, pakai ayam kampung ya?" tanya pelanggan pria di meja pojok.
"Kami menggunakan bahan baku segar berkualitas tinggi setiap hari, Pak," jawab Reza dari dapur.
"Silakan dinikmati pelan-pelan."
Reza tidak punya waktu untuk beristirahat sama sekali.
Begitu satu meja selesai makan, mereka langsung membayar dan digantikan oleh orang di luar.
"Mas, ini uangnya, kembaliannya ambil saja," kata seorang pelanggan sambil meletakkan selembar lima puluh ribuan.
"Besok saya pasti akan datang lagi membawa keluarga saya."
"Terima kasih banyak, silakan datang kembali," jawab Reza memasukkan uang ke laci.
Antrean di luar sepertinya tidak berkurang sama sekali.
Setiap ada orang yang keluar, selalu ada pelanggan baru yang datang memarkir motor di depan gang.
Reza terus merebus mi, meracik bumbu, dan mengantarkan pesanan tanpa henti.
Keringat membasahi seluruh wajah dan punggung kemejanya.
'Ternyata melayani puluhan pelanggan sendirian itu sangat melelahkan,' keluh Reza dalam hati.
'Di restoran Hendra dulu, setidaknya aku punya asisten pemotong sayur dan pelayan.'
Waktu terus berlalu hingga matahari mulai condong ke arah barat.
Jam dinding menunjukkan pukul tiga sore.