Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.
Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.
Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.
Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Kanaya menutup map berisi proposal acara dengan senyum puas. Di hadapannya, pasangan calon pengantin beserta kedua orang tua mereka tampak sama-sama lega setelah hampir dua jam berdiskusi.
Acara yang akan mereka selenggarakan bukan acara biasa. Jumlah tamunya mencapai tiga ribu orang dan akan dibagi menjadi tiga sesi, pagi, siang, dan sore. Belum lagi acara pengajian serta siraman yang diperkirakan dihadiri sekitar lima ratus tamu.
Karena itulah, sejak tadi Kanaya benar-benar fokus membahas setiap detail kebutuhan katering yang akan digunakan dalam rangkaian acara tersebut. Di hadapannya, calon pengantin beserta keluarga mereka tampak serius memperhatikan setiap penjelasan yang diberikan.
"Kalau untuk sesi pagi, kami ingin menu yang lebih ringan," ujar calon pengantin wanita sambil membuka daftar menu yang sudah disiapkan.
Kanaya mengangguk sambil mencatat beberapa poin penting di buku kerjanya.
"Baik. Nanti saya siapkan beberapa pilihan menu. Setelah dicoba, Bapak dan Ibu bisa menentukan mana yang paling sesuai dengan konsep acara."
"Kalau untuk sesi sore bagaimana, Bu?" tanya calon pengantin pria.
"Kami sarankan menu yang lebih beragam karena biasanya jumlah tamu yang datang pada sesi sore lebih banyak dibandingkan sesi lainnya," jawab Kanaya dengan ramah.
Pembicaraan berlangsung cukup lama. Mereka membahas jumlah porsi, konsep penyajian, dekorasi meja hidangan, hingga kemungkinan adanya tamu VIP yang membutuhkan pelayanan khusus. Setelah semua poin selesai dibicarakan, akhirnya kesepakatan pun tercapai.
"Kalau begitu tinggal pembayaran uang muka dan tanda tangan kontrak saja, Bu Kanaya," ujar calon pengantin pria sambil tersenyum lega.
Kanaya membalas senyuman itu. "Alhamdulillah. Semoga seluruh rangkaian acaranya nanti berjalan lancar dan sesuai harapan."
Baru saja Kanaya hendak membereskan dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja, ponselnya tiba-tiba bergetar. Kanaya spontan menoleh. Nada pesan itu berbeda.
Nada khusus yang hanya digunakan oleh Bu Cintia.
Entah mengapa, Kanaya mendadak merasa jantung berdebar tidak nyaman. Dengan cepat ia membuka pesan tersebut.
[Kanaya, cepat pulang! Ada laki-laki asing. Tapi wajahnya mirip Abi.]
Seketika tubuh Kanaya membeku. Matanya terpaku pada layar ponsel. Jari-jarinya perlahan bergetar.
Laki-laki asing yang wajahnya mirip Abi. Hanya sebuah kalimat sederhana, tetapi rasanya seperti petir yang menyambar tepat di tengah siang bolong. Tanpa bisa dicegah, satu nama langsung muncul di dalam pikirannya, Arkana.
Napas Kanaya tertahan. "Tidak. Tidak mungkin! Sudah lima tahun berlalu. Bagaimana mungkin Arkana tiba-tiba muncul sekarang?" batinnya.
Namun, semakin Kanaya berusaha menepis pikiran itu, bayangan wajah pria tersebut justru semakin jelas memenuhi kepalanya. Dia sampai lupa bernapas selama beberapa detik.
"Bu Kanaya?!" Suara salah satu klien membuatnya tersadar.
Kanaya langsung mengangkat kepala. "Oh, maaf." Ia berusaha tersenyum meskipun wajahnya sudah kehilangan warna.
Beruntung seluruh pembahasan utama telah selesai. Sisanya hanya proses administrasi yang bisa ditangani oleh tim kantor.
Kanaya segera berdiri dari kursinya. "Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu. Untuk proses kontrak dan pembayaran, nanti bagian administrasi kami akan membantu."
"Baik, Bu."
Setelah berpamitan, Kanaya keluar dari ruang pertemuan dengan langkah cepat. Begitu sampai di koridor, ia langsung mencari asistennya.
"Alia."
Wanita muda itu segera menghampiri. "Ya, Bu. Ada apa?"
"Aku harus pulang sekarang."
Alia tampak bingung. "Lho, terus pertemuan dengan pihak dinas pemerintah bagaimana, Bu?"
"Mereka tetap harus ditemui."
Kanaya menyerahkan sebuah map berisi dokumen kerja. "Kamu yang datang."
Alia langsung membelalakkan mata. "Maksudnya saya sendiri, Bu?!"
"Iya." Kanaya mengangguk.
"Tapi itu acara HUT kota, Bu."
"Aku percaya sama kamu." Kanaya menggenggam pundak Alia pelan. "Semua data dan penawarannya sudah lengkap. Tinggal dijelaskan seperti biasa."
Alia masih terlihat gugup, tetapi akhirnya mengangguk. "Baik, Bu. Saya akan coba."
Kanaya tersenyum tipis. "Terima kasih."
Setelah itu ia hampir berlari menuju area parkir. Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia berulang kali mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa laki-laki yang dimaksud Bu Cintia bukanlah Arkana.
Mungkin hanya kebetulan seseorang yang wajahnya mirip. Mungkin ia terlalu banyak berpikir dan belakangan sering memimpikan pria itu.
Namun semakin dekat mobilnya ke rumah, semakin kuat pula firasat yang tumbuh di dalam hati. Setelah bertahun-tahun, Kanaya merasakan kegelisahan yang pernah ia rasakan di masa lalu kembali datang menghantuinya.
Sementara itu, di rumah, suasana yang awalnya hangat perlahan berubah tegang. Bu Cintia dan Pak Adjie kini berdiri berhadapan dengan Arkana. Tatapan keduanya penuh kewaspadaan dan kecurigaan.
Pak Adjie melangkah maju satu langkah. "Kamu siapa?" tanyanya tegas. "Dan ada perlu apa datang ke sini?"
Arkana menarik napas panjang. Inilah momen yang selama lima tahun terakhir terus ia impikan. Momen ketika akhirnya ia bisa menemukan jejak Kanaya.
"Perkenalkan, namaku Arkana, Pak."
Bu Cintia dan Pak Adjie saling berpandangan.
"Aku datang ke sini untuk bertemu Kanaya."
"Kamu siapanya Kanaya?" tanya Bu Cintia hati-hati.
Arkana terdiam sesaat. Kali ini ia tidak ingin bersembunyi. Tidak ingin berbohong. Dan tidak ingin kehilangan kesempatan untuk kedua kalinya.
"Aku suaminya."
"Apa?!"
Pekikan keterkejutan langsung terdengar hampir bersamaan. Bu Cintia membelalakkan mata. Pak Adjie sampai membeku di tempat. Bahkan Shaka yang berdiri di dekat pintu ikut terkejut mendengar pengakuan tersebut.
Selama ini mereka hanya mengenal Kanaya sebagai seorang janda muda yang membesarkan kedua anaknya seorang diri. Mereka tahu Kanaya pernah menikah, tetapi tidak pernah membayangkan pria yang menjadi bagian dari masa lalu itu akan muncul begitu saja di depan rumah mereka.
"Jangan mengada-ada!" bentak Pak Adjie.
Wajah pria tua itu langsung memerah karena emosi. "Kamu ngaku-ngaku sebagai suami Kanaya?"
"Aku tidak bohong, Pak."
Arkana segera mengeluarkan ponselnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka galeri foto dan memperlihatkan puluhan foto yang tersimpan di sana.
Ada foto dirinya bersama Kanaya saat masih kuliah. Foto ketika mereka menikah, makan bersama, saat jalan-jalan. Foto keduanya tersenyum bahagia berdampingan. Bahkan ada beberapa foto Kanaya tanpa cadar yang jarang dilihat oleh orang lain.
Bu Cintia sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sementara Pak Adjie mengepalkan tinjunya erat-erat. Amarah perlahan memenuhi wajah keduanya.
Bukan karena mereka tidak percaya. Justru karena mereka mulai percaya. Dan semakin mereka percaya, semakin besar pula kemarahan yang muncul di dalam hati mereka.
Mereka tahu bagaimana Kanaya berjuang selama bertahun-tahun. Mereka tahu bagaimana perempuan itu menangis diam-diam ketika menjalani masa kehamilan seorang diri. Mereka tahu bagaimana Kanaya bekerja keras memajukan usaha ketringnya siang malam agar punya biaya untuk membesarkan kedua anaknya.
Lalu sekarang, pria yang menjadi bagian dari semua luka itu berdiri di depan mereka seolah tidak terjadi apa-apa. Kalau saja mereka tidak menahan diri, mungkin Arkana sudah menerima pukulan sejak tadi.
Di tengah ketegangan tersebut, suara kecil Abinaya tiba-tiba terdengar. "Om."
Semua orang langsung menoleh.
Anak laki-laki itu sedang menatap Arkana dengan wajah serius yang tidak biasa.
"Menurut Abi, Om sebaiknya pergi dari sini."
onty online mendukungmu
siapa ya yg Dateng 🤔
bunda masih sulit
anak umur 4 thn udah ngerti kata2 orang dewasa
Kemarin cemburu, sekarang romantis
hayooo siapa mentornya Ay???😃
kayanya akan ada konspirasi si kembar iniiii 😃😆😆😆😆
skin to skin Ar,itu bisa Kamu lakukan
serasa mau nangis, menjerit 😬😬😬
anak kicik cantik tepat nembaknyaa
tau bahasa cemburu 😃