NovelToon NovelToon
SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: SenandikaMaret

Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN YANG CANGGUNG

Hari Sabtu biasanya menjadi waktu di mana Kirana bisa bernapas lega. Tidak ada tumpukan manuskrip yang harus segera didata dan tidak ada rapat anggaran yayasan yang menguras kepala. Namun, pagi ini terasa berbeda. Sebuah undangan resmi dari keraton untuk peluncuran program pelestarian budaya mengharuskannya hadir sebagai perwakilan utama yayasan. Acara itu diselenggarakan di Jakarta bekerja sama dengan beberapa yayasan budaya dan perwakilan keraton dari Jawa Tengah.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Danendra bersedia mengosongkan jadwal akhir pekannya untuk pergi bersamanya. Bukan untuk acara keluarga besar, bukan untuk resepsi pernikahan kolega bisnis, melainkan sebuah acara yang murni berada di dalam dunia yang Kirana cintai.

Kirana sedang berdiri di depan cermin besar kamar mereka, merapikan letak jaritnya, ketika suara ketukan terdengar di pintu yang terbuka separuh.

"Masuk," ucap Kirana.

Danendra melangkah masuk. Laki-laki itu mengenakan kemeja batik tulis lengan panjang berwarna gelap yang membuat postur tubuhnya terlihat semakin gagah. Kirana sempat terpaku sesaat melalui pantulan cermin. Suaminya memang selalu tahu bagaimana cara berpenampilan rapi tanpa terlihat berlebihan.

Tatapannya Danendra berhenti pada kebaya modern kutubaru berwarna biru tua yang melekat di tubuh Kirana.

"Kamu pakai itu?" tanya Danendra, langkahnya berhenti beberapa langkah di belakang Kirana.

"Iya, Mas. Terlalu formal, ya?" Kirana mendadak agak ragu.

Danendra menggeleng pelan, matanya menatap lurus ke arah pantulan mata Kirana di cermin. "Tidak. Cocok."

Hanya satu kata pujian yang lugas. Namun, efeknya sanggup membuat jemari Kirana yang sedang merapikan bros di dadanya mendadak kaku. Selama satu tahun ini, Danendra memang tidak pernah bersikap pelit atau kasar, tetapi pujian tulus tentang penampilannya adalah sesuatu yang sangat langka.

"Terima kasih, Mas," jawab Kirana, berusaha mengendalikan suaranya agar tetap terdengar biasa.

Danendra hanya mengangguk kecil sebagai respons, lalu berbalik untuk mengambil kunci mobil di atas meja. Kirana menahan senyum tipis di bibirnya. Interaksi mereka memang selalu sekilas dan hemat kata, tetapi pagi ini, ada desir halus yang berbeda di dada Kirana.

Dua jam kemudian, mereka telah tiba di lokasi acara yang bertempat di sebuah hotel bergaya kolonial yang megah. Gedung pertemuan itu sudah dipenuhi oleh para tamu dari berbagai kalangan; akademisi, budayawan, pejabat daerah, hingga beberapa perwakilan keluarga keraton.

Begitu turun dari mobil, kehadiran Kirana langsung menarik perhatian beberapa koleganya.

"Bu Kirana! Wah, kami kira Ibu berhalangan hadir," sapa seorang pria paruh baya berkacamata tebal, melangkah mendekat bersama rombongannya. "Katalog naskah kuno yang Ibu rilis bulan lalu benar-benar menjadi rujukan utama penelitian kami."

Kirana menyambut sapaan itu dengan senyuman hangat dan jabat tangan yang ramah. "Sama-sama, Pak. Itu kerja keras seluruh tim yayasan."

Di sampingnya, Danendra berdiri dengan tenang. Tangannya sesekali menjabat tangan orang-orang yang mengenalnya di dunia bisnis, namun ia tetap menjaga jarak yang sopan agar tidak menginterupsi jalannya obrolan Kirana.

"Kirana." Seorang pria sepuh berpenampilan bersahaja namun berwibawa menghampiri mereka. Pak Haryo, salah satu kurator senior yang sangat disegani. "Wah, akhirnya saya bisa bertemu langsung dengan laki-laki yang berhasil memenangkan hati peneliti terbaik kami."

Kirana langsung merasa pipinya memanas. "Pak Haryo, jangan bercanda. Perkenalkan, ini Mas Danendra, suami saya."

Kedua laki-laki itu saling berjabat tangan dan bertukar sapaan formal yang santun.

"Saya sering mendengar cerita tentang dedikasi istri Anda, Pak Danendra," ujar Pak Haryo tulus. "Kirana ini aset berharga bagi dunia pelestarian budaya kita."

Danendra tidak segera mengalihkan pandangannya. Entah sejak kapan terakhir kali ia melihat Kirana sesemangat ini. Laki-laki itu menoleh ke arah Kirana yang berdiri di sampingnya yang saat ini sedang menunduk malu dengan senyum canggung. Di tempat ini, di dunianya sendiri, Kirana bukan sekadar perempuan domestik yang duduk diam di meja makan rumah mereka. Perempuan ini dihormati, didengar, dan memiliki pengaruh.

Sepanjang tiga jam acara berlangsung, Danendra memilih untuk memperhatikan Kirana dari jarak yang aman. Ia melihat bagaimana cara Kirana berbicara di depan kelompok diskusi kecil; begitu lancar, penuh percaya diri, dan matanya berbinar terang setiap kali menjelaskan tentang makna di balik guratan kain batik kuno. Kirana terlihat begitu hidup. Sangat kontras dengan sosok Kirana yang selalu menahan diri di dalam rumah besar mereka yang sepi.

"Aku baru paham kenapa ayahmu dulu sangat bersikeras menjodohkanmu dengan dia," sebuah suara familier menyentak Danendra dari lamunannya.

Danendra menoleh dan mendapati Bima sudah berdiri di sampingnya dengan segelas minuman di tangan. "Kamu datang juga?"

"Perusahaanku salah satu donatur yayasan ini, kalau kamu lupa," kekeh Bima. Matanya ikut memandang ke arah Kirana yang sedang dikerumuni beberapa mahasiswa. "Kalian terlihat serasi dari sini. Seperti pasangan yang sudah paham luar dalam."

Danendra tidak melakukan pembelaan diri. Ia hanya terus menatap Kirana yang baru saja tertawa renyah karena kelakar salah satu dosen di sana. Kalimat Bima ada benarnya, tetapi juga sekaligus salah besar. Di mata publik, mereka adalah potret keserasian yang mutlak. Namun di dalam kabin mobil dan di balik pintu kamar, mereka masih dua orang asing yang sedang meraba batasan masing-masing.

Perjalanan pulang dimulai saat matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya di ufuk barat. Mobil hitam itu melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai merayap padat oleh lampu-lampu kendaraan yang menyala satu per satu.

Keheningan yang sudah sangat mereka kenal kembali mengisi mobil. Dengung halus AC menjadi satu-satunya suara yang konstan. Namun, ada yang berbeda dengan isi kepala kedua penumpangnya.

Kirana menatap keluar jendela, mengamati bias cahaya jingga yang memudar di langit. Jemarinya bertautan di atas pangkuan. Ia ingin sekali membuka obrolan. Ia ingin menceritakan betapa leganya ia karena peluncuran program tadi berjalan sukses. Ia ingin menanyakan apakah Danendra merasa bosan selama menemaninya tadi. Namun, setiap kali kalimat itu sudah tersusun di ujung lidah, mendadak rasanya terlalu canggung untuk diucapkan.

Di kursi kemudi, Danendra sesekali melirik ke arah kiri melalui sudut matanya. Laki-laki itu juga sedang bertarung dengan isi kepalanya sendiri. Ia ingin bertanya tentang Pak Haryo, atau tentang naskah kuno yang tadi sempat Kirana sebutkan dalam diskusi. Ia ingin tahu lebih banyak tentang hal yang bisa membuat mata istrinya berbinar seindah tadi.

Mobil berhenti tepat di depan lampu lalu lintas yang berubah warna menjadi merah. Kesunyian di antara mereka terasa semakin mendesak.

Kirana menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. "Mas."

Danendra langsung menoleh, tubuhnya sedikit bergeser menghadap Kirana. "Ya?"

Kirana menelan ludah, mendadak gugup karena Danendra merespons dengan begitu cepat dan intens. "Soal... soal acara tadi. Makasih ya, sudah mau meluangkan waktu ke sana."

Danendra sempat terdiam beberapa detik sebelum menjawab. "Itu sudah semestinya, Kirana. Lagipula, acaranya tidak membosankan."

"O-ya?" Kirana menoleh, menatap suaminya dengan mata sedikit melebar. "Aku pikir kamu akan pusing mendengarkan sejarah naskah kuno."

"Tidak. Penjelasanmu tadi... cukup mudah dipahami," ucap Danendra, suaranya terdengar agak kaku, seolah ia juga sedang memaksakan diri keluar dari zona nyamannya.

Kirana tersenyum tipis, ada rasa lega yang merayap di dadanya karena obrolan mereka tidak langsung patah di kalimat pertama. "Itu karena Pak Haryo banyak membantuku menyederhanakan bahasanya."

"Kamu sudah lama bekerja dengan beliau?" tanya Danendra lagi, mencoba mempertahankan ritme percakapan.

"Hampir tiga tahun, sejak awal aku masuk yayasan—"

Tin! Tin!

Suara klakson nyaring dari kendaraan di belakang mengejutkan mereka berdua. Danendra buru-buru mendongak dan menyadari lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau sejak dua detik lalu. Ia segera menginjak pedal gas, membuat mobil kembali melaju membelah malam.

Percakapan yang baru saja merayap naik itu mendadak terputus begitu saja. Atmosfer di dalam mobil kembali senyap, namun kali ini rasanya tidak lagi hampa. Ada sisa kecanggungan yang tertinggal di udara, tetapi juga ada sesuatu yang baru saja bergeser di antara mereka.

Kirana kembali menyandarkan kepalanya ke kaca jendela mobil, menyembunyikan senyuman kecil yang terbit di bibirnya. Hari ini, ia melihat sudut lain dari ketenangan Danendra yang ternyata bisa melunak.

Danendra melirik sekilas ke arah Kirana. Perempuan itu sedang tersenyum kecil sambil memandang keluar jendela. Entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, ia merasa perjalanan pulang malam itu terlalu singkat.

1
Wawan
Satu kembang buatmu Thor 💪✍️
Wawan
Wow... Why? 😍💪✍️
SenandikaMaret: kinapa yaa kira-kiraa yuk terus pantengin kisah kirana 🤭🥰
total 1 replies
Wawan
Nah lo 😍
SenandikaMaret: hayolooo 🤣
total 1 replies
Wawan
kembang mawar buatmu Kirana ✍️
SenandikaMaret: 🌹🌹 mawar juga untukmu kak, dari kirana 🤭
total 1 replies
Wawan
🤭🤭🤭 .... ngapain aja selama ini?
SenandikaMaret: hanya kirana dan tuhan lah yang tau 🤣
total 1 replies
Wawan
Naaaah.... 🤭
SenandikaMaret: nah loh 🤭
total 1 replies
Wawan
mawar buatmu thor 💪✍️
SenandikaMaret: 🌹 makasih
total 1 replies
Wawan
Wow bahaya clue-nya sangat ✍️🤭
SenandikaMaret: bikin penasaran kan 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Kirana
SenandikaMaret: haloo salam kenal juga 😇 dan selamat berkelana di dunia kirana💫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!