Gerald—mantan tentara pasukan elit dari dunia modern—mengakhiri hidupnya setelah kehilangan tujuan hidup.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun di tubuh seorang prajurit rendahan di tengah medan perang dunia asing yang dipenuhi pedang, darah, dan kerajaan yang saling membunuh.
Tanpa sihir.
Tanpa kekuatan dewa.
Hanya perang.
Di saat umat manusia sibuk saling menghancurkan, bencana muncul dari bawah tanah.
Orc.
Ribuan monster brutal menyerbu benua dan memaksa seluruh kerajaan manusia bersatu demi bertahan hidup.
Di tengah kekacauan itu, Gerald mulai membangun pasukannya sendiri.
Bukan ksatria.
Bukan bangsawan.
Melainkan orang-orang buangan: pengemis, bandit, budak, pecandu alkohol, dan tentara gagal.
Pasukan sampah yang kemudian dikenal sebagai—
The 10th Battalion
Pasukan paling kacau.
Paling brutal.
Dan paling ditakuti di medan perang.
Dari unit buangan menjadi legenda perang umat manusia, Gerald akan membuktikan bahwa monster terb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan di Desa Rusak
“ORC!!”
Jeritan itu langsung membuat seluruh desa kacau.
Para pengungsi panik. Anak-anak menangis. Dan beberapa orang langsung lari tanpa arah.
Tiga orc berjalan di antara rumah-rumah rusak sambil menggeram kasar.
Mata merah mereka menyapu desa seperti binatang lapar yang baru menemukan mangsa.
“GRAAAHHH!!”
Salah satu orc menghantam pintu rumah dengan kapaknya.
DUARR!!
Kayu langsung hancur berkeping-keping.
“ANJIR MASUK DESA!” Elias panik sambil mundur beberapa langkah.
Gerald langsung mencabut pedangnya.
“Tenang.”
“Hah?! TENANG GIMANA?!”
“Tiga orc bukan masalah.”
“ITU KALIMAT ORANG GILA!”
Namun Gerald memang serius.
Kalau dibanding ribuan orc di Bern… tiga monster ini masih bisa ditangani.
Masalah sebenarnya justru—
Orang-orang di desa belum siap bertarung.
“Varn!”
“Siap.”
“Bawa pengungsi ke tengah desa!”
“Dimengerti!”
“Doran!”
Pria besar itu menyeringai sambil memutar kapak besarnya.
“Akhirnya olahraga pagi.”
“…Aku takut sama orang ini,” gumam Elias.
Gerald lalu menoleh ke kelompok pengungsi bersenjata di luar desa tadi.
Mereka masih berdiri membeku melihat monster-monster itu.
Wajah mereka pucat.
Beberapa bahkan gemetar.
Karena berbeda dari Gerald dan kelompoknya…
Mereka belum pernah melihat orc secara langsung.
Anak muda kurus yang jadi pemimpin mereka menelan ludah.
“Itu… monster?”
“Kalau bukan monster masa kambing,” jawab Boris.
“INI BUKAN WAKTUNYA BERCANDA!”
Salah satu orc tiba-tiba meraung lalu berlari ke arah gerbang desa.
DUUM! DUUM!
Tanah sampai bergetar karena langkahnya.
“DATANG!!”
Beberapa pengungsi langsung kabur.
Namun Gerald bergerak lebih dulu.
WHUSSH!!
CLANG!!
Pedangnya menahan kapak batu orc.
Tangannya sedikit mati rasa.
Masih kuat seperti biasa.
Namun kali ini Gerald sudah jauh lebih siap dibanding pertama kali bertemu monster itu.
“Elias!”
“Hah?!”
“Kaki!”
“Oh!”
Elias langsung menusukkan tombaknya ke lutut orc.
CRASSHH!!
Monster itu meraung kesakitan.
Doran langsung tertawa keras.
“HAHAHAHA BAGUS!”
BRAKK!!
Kapaknya menghantam kepala orc sampai monster itu jatuh berlutut.
Gerald langsung mengakhiri.
CRASSHH!!
Pedangnya memotong leher orc dengan satu tebasan cepat.
Tubuh monster itu roboh ke tanah.
Darah hitam mengalir di jalan desa.
Keheningan sesaat memenuhi area itu.
Kelompok pengungsi di luar desa melongo tidak percaya.
“Cepat banget…” gumam salah satu dari mereka.
Namun dua orc lain langsung menyerbu bersamaan.
“WOI YANG SATU KE SINI!” teriak Boris.
DUARR!!
Salah satu rumah langsung hancur ditabrak orc.
Elias nyaris terkena puing kayu.
“ANJIR!”
Doran maju sambil menyeringai brutal.
“Yang besar buatku.”
“Jangan mati,” jawab Gerald.
“Aku terlalu tampan buat mati.”
“WAJAHMU KAYAK TEMBOK RETAK!”
Doran tertawa keras lalu langsung menabrak salah satu orc.
BRAKK!!
Tubuh besar manusia dan monster itu sama-sama mundur.
Tanah retak sedikit.
“KUAT JUGA!”
Orc itu meraung lalu mencoba menghantam Doran dengan tinjunya.
Namun Doran justru tertawa makin keras.
“HAHAHAHA!” “LAGI!”
“…Mereka cocok,” gumam Elias takut.
Sementara itu Gerald menghadapi orc terakhir.
Monster itu lebih kecil. Namun lebih cepat.
Kapaknya berayun brutal ke arah kepala Gerald.
WHUSSH!!
Gerald menghindar tipis.
Lalu—
DUAKK!!
Sikunya menghantam rahang monster.
Orc itu sempoyongan.
Namun belum jatuh.
Cepat.
Gerald menyipitkan mata.
Orc ini berbeda.
Dan tiba-tiba—
WHUSSH!!
Sebuah pisau kecil meluncur dari samping dan menancap di mata orc.
CRASSHH!!
Monster itu meraung brutal.
Gerald langsung menoleh.
Anak muda kurus dari kelompok luar tadi berdiri sambil terengah.
Tangannya gemetar.
“A-Aku kena?”
Gerald tidak membuang kesempatan.
CRASSHH!!
Pedangnya menusuk tenggorokan orc.
Monster terakhir akhirnya roboh.
Hening.
Semua orang diam beberapa detik.
Lalu—
“MENANG!!”
Beberapa pengungsi langsung bersorak lega.
Elias jatuh duduk sambil ngos-ngosan.
“Kapan hidup gue jadi begini…”
Boris malah jongkok di dekat bangkai orc sambil serius.
“Kayaknya kalau dibumbuin bisa enak.”
“BERHENTI MAU MAKAN ORC!”
Doran tertawa sampai hampir jatuh.
Sementara itu…
Anak muda kurus tadi memperhatikan Gerald diam-diam.
Tatapannya berubah.
Bukan takut lagi.
Namun kagum.
Karena untuk pertama kalinya sejak dunia berubah…
Ia melihat manusia yang bisa melawan monster tanpa panik.
Lalu anak muda itu berkata pelan:
“…Kami mau ikut kalian.”
Gerald menatapnya.
“Kenapa?”
Anak muda itu melihat bangkai orc di tanah.
Lalu mengepalkan tangannya.
“…Karena kalau sendirian, kami pasti mati.”
Dan hari itu…
The 10th Battalion mulai bertambah besar.