NovelToon NovelToon
KISAH CINTA DAN DUSTA DI JALAN

KISAH CINTA DAN DUSTA DI JALAN

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: Caesarius A Enda

- Hamid: Sopir travel, usia 38 tahun, sudah beristri dan punya dua anak, terlihat ramah dan sopan tapi pandai menyembunyikan sifat aslinya.

- Nova: Guru SD, usia 28 tahun, cantik, bertubuh mungil, sudah bersuami tapi rumah tangganya terasa hambar.

- Ain: Guru SMP, usia 30 tahun, wajah biasa saja, giginya agak tonggos, belum menikah, pendiam dan mudah percaya orang, sangat membutuhkan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: AWAL YANG TERLIHAT TENANG

Setelah semua peristiwa besar itu berlalu, hidup Ain dan Nova terasa begitu damai dan tenang. Rian tumbuh semakin besar, menjadi anak yang cerdas, sopan, dan sangat menyayangi ibunya. Ain kini tidak hanya dihormati sebagai kepala sekolah, tapi juga dianggap sebagai ibu bagi banyak murid dan orang di sekitarnya. Namu baiknya menyebar luas, sampai ke desa-desa tetangga.

Nova juga hidup bahagia. Rumah tangganya kini menjadi teladan. Suaminya Pak Budi semakin mencintainya, anak-anaknya tumbuh menjadi remaja yang baik dan berprestasi. Tidak ada lagi kecurigaan, tidak ada lagi kata-kata tajam. Semua luka lama seakan sudah tertutup rapat, tinggal kenangan yang menjadi pelajaran berharga.

Namun, siapa sangka bahwa masa lalu yang sudah dianggap hilang dan selesai, ternyata masih menyimpan banyak rahasia yang belum terungkap sepenuhnya. Rahasia yang perlahan akan muncul kembali dan mengguncang kedamaian yang sudah mereka bangun dengan susah payah.

Suatu hari, Ain mendapatkan surat yang dikirim dari luar kota. Amplopnya sudah agak kusam, tidak ada nama pengirimnya. Ia penasaran, lalu membukanya dengan hati-hati. Isinya hanya tulisan pendek:

"Kamu pikir semua sudah selesai? Kamu pikir kamu bisa hidup bahagia setelah menghancurkan hidup orang lain? Tunggu saja, semua yang kamu tanam, akan kamu petik sendiri."

Tangan Ain gemetar hebat, kertas itu hampir terlepas dari tangannya. Ia melihat ke sekeliling, merasa ada mata yang mengawasi dirinya. Jantungnya berdebar kencang, rasa takut yang sudah lama hilang kini kembali merayap masuk ke dalam hatinya.

"Siapa yang mengirim ini? Apa maksudnya?" gumamnya pelan. Ia mencoba berpikir siapa yang mungkin punya dendam padanya, tapi tidak ada satu orang pun yang terlintas di pikirannya. Semua orang sudah tahu ia berubah menjadi wanita yang sangat baik, semua orang sudah memaafkannya. Atau... mungkin ada orang yang belum memaafkan, orang yang selama ini bersembunyi diam-diam.

Sejak hari itu, Ain merasa hidupnya tidak lagi tenang. Ia sering merasa ada orang yang mengikutinya ke mana-mana. Saat pergi ke sekolah, saat pulang, saat berbelanja di pasar, ia selalu melihat sosok bayangan yang sama, tapi setiap kali ia menoleh, tidak ada siapa-siapa.

Ia mencoba menceritakan hal ini pada Nova. Awalnya Nova menganggap Ain hanya terlalu lelah atau terlalu banyak pikiran.

"Ain, kamu jangan terlalu khawatir begitu. Itu cuma perasaanmu saja, tidak ada apa-apa. Semua orang sayang sama kamu, tidak ada yang mau menyakiti kamu," kata Nova menenangkan.

"Tidak Nov, aku yakin sekali. Aku benar-benar melihat ada orang yang selalu mengawasiku. Dan surat itu... tulisannya penuh kebencian, aku takut ada hal buruk yang akan terjadi," jawab Ain dengan wajah pucat.

Melihat Ain yang benar-benar ketakutan, Nova mulai ikut merasa khawatir. Mereka memutuskan untuk lebih berhati-hati, tidak bepergian sendirian, dan selalu memberitahu ke mana mereka pergi.

Namun hal-hal aneh terus terjadi. Barang-barang milik Ain sering hilang dan muncul kembali di tempat yang tidak terduga. Pintu rumahnya sering terbuka sendiri padahal sudah dikunci rapat. Di halaman rumah sering ditemukan bunga kering yang sudah layu, atau batu bertuliskan kata-kata yang menakutkan.

Rian yang melihat ibunya sering gelisah dan takut, bertanya dengan polos: "Ibu, kenapa akhir-akhir ini Ibu sering kelihatan takut? Ada orang jahat yang mau ganggu kita ya?"

Ain memeluk anaknya erat-erat, matanya berkaca-kaca. "Tidak nak, tidak ada apa-apa. Ibu cuma lagi sedikit capek saja. Jangan pikirkan apa-apa ya, kita aman-aman saja." Tapi di dalam hatinya, Ain semakin takut. Ia tidak mau hal buruk terjadi pada anaknya, anak yang baru saja ia temukan dan sangat ia sayangi.

Ia mulai berpikir keras, siapa yang mungkin melakukan semua ini. Apakah mantan istri Hamid? Tidak, wanita itu sangat baik dan selalu berterima kasih pada Ain. Apakah keluarga Hamid yang lain? Atau mungkin wanita lain yang juga pernah menjadi korban Hamid, sama seperti dirinya dan Nova?

Suatu sore yang hujan deras, saat Ain sedang pulang dari sekolah, seorang wanita berdiri di tengah jalan menghadang mobilnya. Wanita itu berpakaian sederhana, wajahnya penuh bekas luka dan kesedihan, matanya tajam penuh kebencian. Ain terpaksa berhenti.

Wanita itu langsung masuk ke dalam mobil tanpa diminta, duduk di sebelah Ain.

"Kamu Ain ya? Wanita kesayangan Hamid dulu?" tanya wanita itu dengan suara dingin dan parau.

Ain menatapnya kaget, jantungnya berdebar kencang. "Iya, saya sendiri. Ibu siapa? Apa keperluan Ibu menemui saya?"

"Aku Sari," jawab wanita itu pelan tapi penuh amarah. "Wanita yang paling dulu dicintai Hamid, sebelum dia kenal kamu dan Nova. Aku yang sudah menemaninya saat dia masih miskin, tidak punya apa-apa. Aku yang sudah berikan seluruh hidupku, hartaku, keluargaku demi dia. Tapi apa balasannya? Dia meninggalkanku begitu saja demi kalian wanita-wanita cantik yang baru dia kenal!"

Air mata Sari mengalir deras, tapi tatapannya tetap tajam menusuk.

"Aku hamil anaknya dulu, tapi dia tidak mau tanggung jawab. Dia bilang aku jelek, aku tidak menarik lagi, dia bilang dia sudah dapat wanita yang lebih baik dariku. Aku sakit hati sampai gila, aku hampir bunuh diri. Keluargaku malu, mengusirku dari rumah, semua orang menjauhiku. Aku hidup sebatang kara, menderita bertahun-tahun lamanya, sementara dia hidup enak bersenang-senang dengan kalian berdua!"

Ain terdiam kaku, air matanya mengalir tanpa sadar. Ia tidak tahu sama sekali kalau Hamid punya korban lain sebelum mereka. Ia tidak tahu ada wanita yang menderita lebih parah dari dirinya.

"Bu Sari... saya minta maaf... saya benar-benar tidak tahu semua ini. Kami juga korban, kami juga dibohongi sama Hamid. Kami baru tahu dia sudah punya istri dan anak saat semuanya sudah terlambat," kata Ain dengan suara gemetar.

"KORBAN?!" teriak Sari marah, "Kalian bilang korban? Kalian masih bisa hidup baik-baik, masih bisa dapat pekerjaan, masih bisa dihormati orang, masih bisa punya keluarga dan anak! Tapi aku? Aku hancur total, hidupku habis, aku tidak punya apa-apa! Semua karena kalian mengambil dia dariku! Kalian penyebab semua kesengsaraanku!"

"Saya tidak bermaksud begitu Bu... kami tidak tahu kalau ada Ibu. Kalau kami tahu, kami tidak akan pernah mau berhubungan sama dia," jawab Ain mencoba menjelaskan.

"Aku tidak percaya kata-katamu! Kalian sama saja dengan dia, kalian sama-sama jahat, sama-sama perusak hidup orang lain! Aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia sementara aku menderita begini! Aku akan buat kalian merasakan apa yang aku rasakan, aku akan buat kalian menangis darah sama seperti aku!" ancam Sari lalu turun dari mobil dan pergi menghilang di balik hujan.

Ain terdiam lama di dalam mobil, tubuhnya lemas dingin. Sekarang ia tahu siapa yang mengirim surat-surat itu, siapa yang selalu mengawasi dan menakut-nakutinya. Tapi masalahnya baru saja dimulai. Sari tidak akan berhenti begitu saja, ia sudah menaruh dendam yang sangat dalam, dendam yang sudah tertimbun bertahun-tahun dan sekarang meledak dengan dahsyat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!