Tahun 1989, desa Suka tani belum tersentuh yang nama teknologi canggih tidak seperti di kotanya. Desa itu mengandalkan alat tradisional khasnya sendiri.
Lampu lentera minyak tanah atau obor minyak tanah menjadi alat utama penerangan rumah, berpergian malam hari. bisa juga di gunakan sebagai penerangan kegiatan pribadi.
Tidak ada namanya motor dan mobil mewah . Delman dan sepeda ontel menjadi opsi alat transportasi. Itu pun hanya di miliki oleh orang kaya saja, orang sederhana tidak memiliki. Mereka mengandalkan kakinya.
Tidak ada ponsel canggih, hanya ada ponsel jadul harus memasuki wilayah terdapat sinyal agar bisa di gunakan menghubungi seorang. Namun ponsel tidak berguna di desa itu. Di mana tidak terdapat listrik.
Tidak ada namanya SMS, maupun pesan teks seperti WA. Orang mengirim pesan lewat surat tertulis di kirim lepat kantor pos maupun lewat temannya hanya sekedar berpesan pada kekasih.
Sebagian besar penduduk asli desa suka tani menekuni sebagai petani, dan nelayan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amatir author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
belajar bersama
Asep dan lainnya akan sampai di tempat tujuan.
"Hantu..
Seru Abdul.
Dia berlari masuk kedalam mushola dengan senyuman di bibir mungilnya.
"Ah... Hantu!!"
Teriak Della ketakutan, membuat lampu lentera di tangannya berguncang hebat hebat.
"ini..
Tegun Asep menahan lentera itu agar tidak jatuh dan terjadi hal buruk.
Della memeluk tubuh Asep di sampingnya.
"Hais.. dasar teman jail." Guman Asep menggelengkan kepalanya sambil terus menahan lampu lentera milik Della.
"Sudah, jangan takut. dia hanya mengerjai kita saja." Ucap Asep mencoba melepaskan pelukannya sambil menahan lampu lentera di pegangan tangan Della.
"ha ha ..
"maaf membuat keringat dingin mu keluar. di campur gula rasanya enak di minum." ucap Abdul dengan nada bercanda.
"Apalagi di minum saat di gurun pasir, sungguh luar biasa!" Timpal tambahnya.
"Kamu..
"Kamu sangat jahat!" Ucap kesal Della melangkah masuk kedalam mushola di terangi lampu lentera petroma. Dia menaruh lampu lenteranya dekat lampu lentera mushola. Dan duduk di bersila di bangku ngajinya dengan wajah kesal.
"Kamu ini.. jangan seperti itu. Itu tidak baik. Hampir saja lampu lenteranya terbakar." Tegur Asep.
"He he... Maaf. Aku tidak akan lagi melaksanakannya." Jawabnya tertawa canggung.
"Sudah, kamu masuk duluan. Sebentar lagi akan mulai! Aku ambil wudhu dulu, whudu ku batal tadi karena mu."
Asep melangkah pergi mengambil whudu,dan kembali menaruh obor di tempat di tentukan, dan melangkah masuk kedalam.
Abdul juga sama, dia mengikuti dari belakang. Mereka duduk di bangku mereka sendiri.
"Della, aku minta maaf padamu. Mohon di maafkan, aku berjanji, tidak lagi melakukannya." Ucap Abdul.
Della hanya diam tidak menjawab dengan wajah kesalnya.
"Della, maafkan dia. Orang baik harus memaafkan orang meminta maaf padamu. Aku yakin Abdul tidak akan melakukannya lagi." Ucap Asep ikut membujuk.
Della mengalihkan pandangan kearah Asep sesaat. Namun tidak berkata apa pun. Hanya mengangguk kepalanya saja, sebagai jawabannya.
"Terimakasih Della, aku tidak lagi melaksanakannya." Ucap Abdul merasa senang mendapat pengampunan dari Della.
Tak lama yang lainnya datang dengan membawa obor dan lampu lentera. Begitu juga dengan ustad, guru ngaji.
Lantunan ayat suci terdengar di bawah sinar lentera dinding dan obor. Terdengar kompak dan seirama. terdengar merdu membuat hati menjadi tentram dan damai.
Berselang beberapa menit, mereka selesai. Mengambil lentera mereka, pergi bersamaan untuk pulang.
"terimakasih atas pengampunan mu, Della." Ucap Abdul sambil melangkah membawa obor nya.
"iya, ini terakhir kalinya." Jawab Della datar.
Pandangan di alihkan pada Asep di sampingnya.
"Iya sep, besok mulai ujian semester kedua. Boleh tidak aku belajar bersama dengan mu. Di rumah mu malam ini?" Ucapnya.
"HM..
"Itu boleh, tapi kamu harus izin dulu pada orang tua mu. Aku takut nya orang tua mu marah padaku." Jawab Asep membalas tatapannya sambil berjalan.
"itu kabar bagus, baiklah aku meminta izin dulu pada ibu dan ayah. Pasti mereka mengizinkan ku ." Jawabnya terlihat senang.
Namun di belakangnya terlihat ada anak perempuan terlihat tidak suka. Dia tidak lain Selly.
"Sok pintar. anak perempuan itu lagi kegatelan sekali. Apa hebatnya anak miskin itu." Guman di hatinya terlihat muram.
Di depan rumah Asep terlihat ada sepasang orang sedang mengobrol serius. Di belakang mereka ada beberapa orang sebagai saksi bahwa mereka tidak melanggar peraturan desa.
Sepasang orang itu tidak lain Bu asri dan pak juragan Harto. Pak Harto mengurungkan niatnya untuk membahas besok hari.
"tapi Bu asri, ada masalah yang terjadi. Putriku mengajukan syarat, anak mu tidak boleh tinggal bersama kita." Ucap pak juragan Harto terlihat gelisah.
"wajar saja, mungkin nona Selly ada alasan tertentu." ucap orang di belakang.
"Huh..
Bu asri menghela nafas pasrah.
"benar katamu, hubungan kita terlihat tidak lancar. Sebaik pak juragan urungkan niatmu memperistri ku."
"Aku tidak tega meninggalkannya anakku sendirian disini rumah." Ucapnya.
"Hais..
"kalian tenang saja , masalah itu masih ada jalannya. Sebaiknya Bu asri tanyakan saja dulu pada anak ibu. Pak juragan cobalah membujuk putri bapak." Ucap orang di belakangnya.
"Iya Bu asri, aku yakin anakmu akan mengerti, tidak keberatan di tinggalkan. Lagi pula Rumah kalian sangat dekat. Bu asri dengan mudah memantaunya dari jauh. Dan cobalah membujuk nona Selly agar menerima anakmu." Timpal lainnya.
Dia pak Kardi pengawas kerjanya.
"HM..
"Aku akan mencobanya, semoga anak ku tidak keberatan." Ucap Bu asri.
"Ini membuat ku sedikit tenang, maaf membuat mu harus berkorban. Aku janji setelah kita sah menikah, aku berjanji menyayangi anakmu seperti anaku sendiri." Ucap pak juragan Harto.
"Semoga berjalan dengan lancar, semoga kabar baik segera terjadi." ucap pak Kardi.
"Ya sudah, kami pulang. Aku tunggu kabar baikmu."
Pak juragan Harto beranjak berdiri, begitu juga dengan Bu asri.
"wassalamu'alaikum.."
Pak juragan Harto dan lainnya melangkah pergi.
"Walikumsalam.."
jawab Bu asri.
"Huh..
Bu asri menghela nafas panjang,lalu masuk kedalam rumah. Namun terhenti sebentar masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikum... Bu " ucap Asep mematikan obor nya, letakkan di samping rumah setelah api di pastikan padam.
"Walikumsalam..
"Kamu sudah pulang!" Jawabnya menyambut dengan baik anaknya.
"Iya Bu."
Asep mengecup punggung tangan ibunya, mereka melangkah masuk sambil menutup pintunya.
Mereka duduk di ruang tamu, Bu asri menceritakan semua rencana pernikahannya dengan pak juragan Harto secara mendadak.
"Hm...
"Jika ibu bahagia dengan pak juragan Harto, nikah saja. Asep rela tinggal disini sendirian."
"Pak juragan Harto orang baik, suka menolong. Dia pantas menjadi ayah sambung Asep, dan suami ibu yang cantik dan hebat." Ucapnya tidak ada raut wajah sedihnya di tinggal, bahkan bibir kecilnya terlukis senyuman bahagia.
Baginya seperti nona Selly yang membutuhkan pelukan keluarga lengkap,ada ibu dan ayah. Masalah kehidupan sendiri, dia bisa hidup tanpa ibunya, tidak lagi tinggal satu rumah.
"Kamu yakin nak, kamu tidak keberatan?" Ibunya memastikan.
"Iya Bu, Asep yakin. Lagi pula rumah calon ayah Asep dekat lima langkah sampai." Jawabnya meyakinkan ibunya dengan keputusan dan restu untuk ibunya.
"Nak, terimakasih. Ibu janji akan mengunjungi mu setiap hari jika ada waktu. Ibu janji membuat adikmu nona Selly agar bisa mengakui mu sebagai kakak. nantinya Kita tinggal bersama dengan keluarga utuh." Ucap Bu asri.
Dia memeluk dengan erat anaknya, terlihat butiran air mata keluar dan jatuh ke bawah. Air mata bahagia sekaligus air mata sedihnya.
"Sudah Bu, Asep sudah besar. Jangan terlalu memeluk ku lama. Di tangisi lagi." Ucapnya.
Bu asri melepaskan pelukannya, menatap anaknya dengan lekat.
"Besar apanya, kamu baru 12 tahun. Masih butuh pelukan ibu." Ucap Bu asri sambil menghapus air matanya.
"Asep sudah besar, sebentar lagi umur Asep masuk 13+ bukan anak kecil lagi." Jawabnya.
"Kamu ini, itu belum dewasa. Itu memasuki tahap remaja muda. Dewasa umur nya 18+." Ucap Bu asri.
"He he..
"Tetap saja Asep sudah merasa malu, terus di peluk seperti itu." Ucapnya.
Tak lama Abdul dan Della datang membawa tas sekolah masa 1980-an. Dan juga anak perempuan mengikuti dari belakang. Dia tidak lain Selly.
Mereka ikut untuk belajar bersama membahas materi ulangan terakhir besok. Mata pelajaran matamatika dan ilmu pengetahuan alam (IPA).
Mereka di sambut dengan baik oleh Bu asri, nona Selly terlihat cuek pada Asep. Namun terhadap Bu asri terlihat akrab dan damai.
"Sudah jangan di ambil perasaan. mungkin nona Selly masih malu dengan mu. Berlahan saja." Ucap Bu asri pada Asep.
Beranjak berdiri menatap anaknya dan mengalihkan pandangan ke semua anak yang ada.
"Kalian belajar dengan baik agar nilai kalian bagus. Bibi ke dapur menyiapkan cemilan dan minuman." Ucapnya.
"Terimakasih Bi." Jawab semuanya.
Bu asri beranjak pergi kedapur, Della dan nona Selly menyala kan lampu petroma milik mereka masing masing, taruh tengah di tempat.
"Menjauh dariku, pindah tempat. " Ucap Selly.
"Baiklah." Jawab Asep.
Dia berpindah tempat, duduk di antara Della dan Abdul.
Della dan Abdul hanya diam saja, dia tahu ada hal istimewa yang tidak boleh mereka ikut campur.
Mereka belajar dengan santai Asep sebagai pembina. jika temannya menayangkan materi pelajaran yang belum sepenuhnya mengerti.
Selly hanya menggelengkan kepalanya mengamati, dan terlihat cuek. Padahal telinganya terbuka lebar menerima penjelasan dari Asep mengenai materi tentang rumus volume bangun ruang tabung.
"Maaf sep, ada lagi satu yang tidak aku pahami. Soal materi ini!" ucap Della.