Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 DI TERAS RUMAH
Keesokan paginya, Abdul sudah berdiri di sudut Pasar, sebuah pasar loak yang terkenal menyediakan berbagai mesin bekas dengan harga miring. Di depannya, seorang pria paruh baya berkaos pudar sedang membersihkan permukaan sebuah mesin jahit hitam klasik yang terlihat masih kokoh.
"Ini dinamonya masih baru, Mas. Kakinya juga sengaja saya ganti besi cor supaya stabil kalau dipakai buat bahan tebal seperti levis," ujar si penjual sambil menginjak pedal kayuh untuk mendemonstrasikan kelancaran putaran roda mesin.
Abdul memperhatikan gerakan jarum yang naik turun dengan presisi. Sebagai lulusan SMK jurusan tata busana, ia tahu mesin ini adalah tipe pekerja keras yang andal. "Kalau saya ambil sama mesin obras kecilnya yang hijau itu, totalnya jadi berapa, Bang?"
Si penjual melirik mesin obras di sudut tokonya sejenak, lalu mengetuk-ngetuk kalkulator besar di mejanya. "Mesin jahit satu paket meja, ditambah mesin obras kecil... saya kasih harga pas satu juta delapan ratus ribu rupiah, Mas. Itu sudah termasuk ongkos antar pakai bak terbuka sampai depan gang rumah."
Abdul mengangguk setuju. Angka itu sangat masuk akal. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet yang kini berisi beberapa lembar uang seratus ribuan baru yang sengaja ia ambil dari ATM minimarket subuh tadi sebelum pasar ramai. Ia menyerahkan delapan belas lembar uang merah kepada si penjual.
"Alamatnya di mana, Mas?" tanya si penjual sambil menulis nota pembayaran.
"Gang Seng, nomor 4B, dekat pos ronda depan," jawab Abdul singkat. "Tolong diusahakan sampai sebelum jam sebelas siang ya, Bang."
***
Sesuai kesepakatan, sebuah mobil bak terbuka tua tiba di mulut Gang Seng tepat pukul sepuluh lebih tiga puluh menit. Suara deru mesin mobil yang berisik seketika menarik perhatian warga yang sedang berada di luar rumah.
Abdul yang sudah menunggu di depan gang langsung mengarahkan mobil tersebut untuk mundur perlahan, mendekati teras rumah kontrakannya. Kang Toto yang baru saja selesai merapikan sisa dagangan sayurnya di pos ronda langsung menoleh dengan mata menyipit. Dari kejauhan, tampak pula kain gorden rumah Bu RT bergeser sedikit, menandakan ada sepasang mata yang sedang mengintai dengan saksama.
"Bantu angkat ke teras sini ya, Bang," ujar Abdul kepada sopir dan kenek bak terbuka.
Meja kayu tebal beserta mesin jahit besi hitam itu diturunkan dengan hati-hati, diletakkan tepat di sudut teras kontrakan nomor 4B yang sempit. Menyusul di sebelahnya, sebuah mesin obras kecil berwarna hijau tua lengkap dengan dudukan benangnya.
Ibu Yanti keluar dari dalam rumah membawa selembar kain lap basah. Wajahnya terlihat sangat bersemangat saat mulai membersihkan debu-debu tipis yang menempel pada badan mesin jahit bekas tersebut.
"Nah, kalau begini kan rapi, Dul. Alhamdulillah ya, mesinnya kelihatan masih bagus banget," ujar ibunya senang, merasa lega karena kini anaknya benar-benar memulai usaha nyata dan tidak hanya berdiam diri di dalam kamar.
"Iya, Bu. Sebentar lagi tukang cetak spanduk di depan jalan raya juga mengantarkan pesanan Abdul," sahut Abdul sambil menyerahkan uang tip dua puluh ribu rupiah kepada sopir bak terbuka sebelum mobil itu bergerak pergi meninggalkan gang.
Tidak butuh waktu lama, seorang pemuda dengan motor matik berhenti di depan teras. Ia menyerahkan sebuah gulungan plastik panjang kepada Abdul. Ketika gulungan itu dibuka, sebuah spanduk kain berwarna kuning terang dengan tulisan merah tebal terbentang, "Menerima Permak Levis, Potong Celana, Pasang Kancing & Jahit Pakaian - Kilat & Rapi".
Abdul mengambil beberapa paku dan palu, lalu memasang spanduk itu di tiang kayu penyangga atap teras rumahnya. Spanduk itu sengaja dipasang dengan posisi yang agak tinggi agar siapa saja yang berjalan melewati Gang Seng bisa langsung membacanya dengan jelas.
"Wah, si Abdul mau buka konveksi toh?" sebuah suara berat tiba-tiba menginterupsi dari arah depan pagar.
Abdul menoleh dan mendapati Pak Jono, suami dari Bu Jono yang kemarin ikut menggosip di tukang sayur, sedang berdiri sambil memegang cangkul kecil.
"Eh, Pak Jono. Bukan konveksi besar, Pak, cuma terima permak kecil-kecilan saja buat isi waktu luang," jawab Abdul dengan nada serendah mungkin, mencoba membangun citra pemuda pekerja keras yang mandiri.
"Bagus itu, Dul. Daripada luntang-lantung gak jelas setelah PHK. Kebetulan celana kerja saya ada yang robek di bagian selangkangan, nanti sore saya antar ke sini ya. Jangan mahal-mahal ongkosnya," ujar Pak Jono sambil terkekeh.
"Siap, Pak. Datang saja, nanti saya kerjakan langsung," sahut Abdul tersenyum.
Di dalam hatinya, Abdul bernapas lega. Tameng pertamanya bekerja dengan sangat baik. Fokus warga gang kini mulai bergeser dari isu babi ngepet menjadi isu usaha baru. Alibi ini akan menjadi alasan yang sangat sempurna bagi dirinya setiap kali ia perlu keluar masuk membawa uang tunai atau barang-barang keperluan Bapak.
***
Siang itu, Abdul duduk di kursi kayu depan mesin jahitnya. Ia mencoba mengoperasikan mesin tersebut, menjahit beberapa potong kain perca sisa untuk melemaskan otot-otot jarinya yang sudah agak kaku sejak keluar dari pabrik garmen. Bunyi putaran roda mesin jahit yang khas berirama konstan, memecah keheningan siang di Gang Seng.
Rasa lelah fisik karena harus bolak-balik ke pasar loak sejak pagi mulai terasa di pundaknya. Terlebih lagi, udara siang di Bekasi kembali terasa sangat menyengat. Abdul menghentikan kayuhan pedalnya, menyeka keringat di dahinya, lalu memutuskan masuk ke dalam rumah untuk memeriksa kondisi bapaknya.
Di kamar belakang, Pak Rohman tampak tidur dengan sangat pulas. Efek obat pengencer darah dosis tinggi yang rutin diminumnya membuat tubuh tua itu mendapatkan istrahat yang benar-benar berkualitas yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Dul, makan siang dulu. Itu Ibu sudah goreng tempe sama buat sayur asam," panggil ibunya dari arah dapur.
"Iya, Bu. Abdul mau rebahan sebentar di kamar depan, gerah banget. Nanti habis zuhur baru Abdul makan," jawab Abdul sambil melangkah masuk ke kamarnya sendiri.
Kondisi pikiran Abdul saat ini sudah jauh lebih tenang dibandingkan kemarin. Utang iuran kebersihan sudah lunas, mulut Bu RT sudah berhasil dibungkam sementara, obat Bapak aman untuk beberapa minggu ke depan, dan sebuah usaha jahit resmi sudah berdiri di teras rumahnya sebagai alibi pelindung.
Rasa cemas diciduk polisi karena dianggap menggunakan uang gaib perlahan-lamen menguap dari kepalanya.
Abdul merebahkan tubuh kurusnya di atas kasur lantai. Rasa aman dan damai yang mengalir di dalam dadanya membuat gelombang otaknya perlahan turun ke fase yang sangat rileks.
Tanpa ada tekanan, tanpa ada paksaan, dan tanpa ada ketakutan, Abdul memejamkan matanya. Dalam hitungan menit, pemuda itu langsung tertidur dengan sangat nyenyak, memasuki fase Deep Sleep yang sempurna.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam saku celananya, handphone jadul berlayar retak itu kembali mendeteksi perubahan kondisi biologis tubuhnya.
Layar ponsel tersebut tidak memancarkan SMS masuk, melainkan menampilkan baris demi baris sistem kalkulasi yang berjalan dengan kecepatan tinggi di balik sistem operasi buramnya.
[User Condition: Deep Sleep Mode Detected]
[Brainwave State: Delta Waves (100% Quality, Zero Stress)]
[System Update: Sinkronisasi Transaksi Global Selesai. Pembekuan Akun Pasca-Aktivasi Dicabut.]
[Calculation: Durasi tidur berkualitas tinggi sedang berjalan. Nilai konversi waktu rebahan: Aktif.]
Teks itu terus berjalan dalam keheningan kamar, sementara Abdul mendengkur halus, sama sekali tidak tahu bahwa tameng jahit yang baru saja ia dirikan di teras depan akan segera berhadapan dengan gelombang ujian baru dari sistem yang terus melipatgandakan isi rekeningnya.