Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk Perangkap—3
Langkah kaki Aletha terdengar ritmis di atas lantai marmer koridor yang menuju ke arah restroom VVIP. Di area ini, kebisingan musik klasik dan denting gelas dari dalam ballroom meredup, digantikan oleh sunyi yang. Aletha masuk ke dalam area wastafel khusus wanita yang malam itu tampak kosong. Ia berdiri di depan cermin besar bernuansa emas, membuka tas kecilnya, lalu mengeluarkan sebuah lip gloss. Dengan tenang, ia memulas sedikit warna di bibirnya, menikmati detak jantungnya sendiri yang berdegup penuh kemenangan.
Ia tahu Danny terus memperhatikannya saat ia pergi tadi. Tapi ia tidak menyangka efeknya akan secepat ini.
Pintu masuk area luar wastafel—yang memisahkan koridor utama dengan pembatas wastafel umum—terdengar terbuka. Sayup-sayup terdengar langkah kaki pria yang berat, dan teratur. Langkah kaki yang membawa aura dominasi yang teramat pekat.
Aletha tidak membalikkan tubuhnya. Ia tetap menatap cermin, merapikan sehelai rambutnya dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Melalui pantulan kaca besar di depannya, ia melihat sesosok pria tinggi tegap dengan tuksedo hitam sempurna melangkah masuk ke area wastafel pria yang posisinya bersebelahan dan hanya disekat oleh pilar marmer terbuka di bagian tengah wastafel utama.
Itu Danny Atonio.
Pria itu berdiri tepat di wastafel sebelah Aletha. Danny menyalakan keran otomatis, membiarkan air dingin mengalir membasahi jemarinya, lalu mematikan keran tersebut. Gerakannya sangat tenang, namun matanya yang setajam elang kini terkunci sepenuhnya pada pantulan wajah Aletha di cermin.
Suasana di antara mereka mendadak terasa begitu intens. Jarak mereka tidak sampai satu meter. Aroma maskulin dari parfum kayu cendana dan amber milik Danny seketika menyeruak, bertabrakan dengan wangi manis nan misterius dari tubuh Aletha.
Menyadari tatapan intens itu, Aletha tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Ia menaruh kembali lip gloss-nya ke dalam tas mewah berukuran mini miliknya. Kemudian, ia menoleh sekilas ke arah Danny.
Aletha hanya menyunggingkan senyum tipis—sangat tipis dan formal—ditambah dengan sedikit anggukan kepala yang sopan, layaknya menyapa rekan bisnis biasa yang kebetulan berpapasan di tempat umum. Selesai memberikan sapaan minim itu, Aletha kembali menatap lurus ke depan, bersiap untuk melangkah pergi.
Ego Danny benar-benar terpantik melihat ketidakpedulian perempuan itu. Ia meraih selembar tisu, mengeringkan tangannya dengan perlahan tanpa melepaskan pandangannya dari Aletha.
"Kamu kuliah di sana semester berapa?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Danny. Suara baritonnya terdengar rendah, menggema di ruangan yang sunyi itu, membawa nada menginterogasi yang biasa ia gunakan di ruang rapat direksi. Danny sengaja memancing percakapan, ingin melihat apakah wanita bergaun maroon ini akan langsung gugup atau justru mulai mengeluarkan gelagat menggoda seperti wanita kebanyakan saat diberi perhatian khusus.
Aletha menghentikan gerakannya yang hendak berbalik. Ia tetap berdiri menghadap cermin, menatap pantulan dirinya sendiri. Tanpa menengok sedikit pun ke arah Danny yang berada di sebelahnya, ia menjawab dengan nada suara yang sangat tenang, datar, dan singkat.
"Semester tiga."
Hanya dua kata. Tanpa embel-embel "Kak", "Sir", atau "Mr. Danny". Nada bicaranya begitu netral, seolah-olah ia sedang menjawab pertanyaan dari seorang dosen asing yang kebetulan lewat, bukan dari pria paling berkuasa di gedung ini.
Jawaban singkat dan penolakan Aletha untuk menatapnya secara langsung membuat rahang Danny mengeras sesaat. Ada desiran aneh yang belum pernah dirasakan Danny sebelumnya—rasa penasaran yang bercampur dengan kejengkelan yang samar. Perempuan ini benar-benar tidak menganggap eksistensinya penting. Di saat seluruh orang di ballroom sana membungkuk dan mencari mukanya, mahasiswi semester tiga ini bahkan tidak sudi memalingkan wajah untuk menatap matanya.
Danny membuang tisu ke tempat sampah, lalu memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap ke arah Aletha, bersedekap dada dengan gestur intimidatif yang kentara.
"Semester tiga," Danny mengulang jawaban Aletha dengan senyum sinis yang tertahan di sudut bibirnya. "Dan kamu selalu memperlakukan orang asing seperti ini Aletha Adinata?"
Aletha menghentikan langkahnya tepat sebelum sepatunya mengayun maju. Ia menarik napas pendek, lalu perlahan memutar tubuhnya. Untuk pertama kalinya sejak mereka berada di ruangan itu, mata maroon gelap milik Aletha beradu langsung dengan sepasang mata elang Danny Atonio.
Tidak ada binar ketakutan. Tidak ada kepatuhan. Hanya ada ketenangan yang begitu pekat dan menantang.
"Terus saya harus bagaimana?" tanya Aletha, suaranya mengalun ringan, memecah ketegangan di antara mereka dengan sangat santai.
Ia menjeda kalimatnya, membiarkan keheningan koridor toilet itu memberi penekanan pada kata-kata selanjutnya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang terasa begitu berjarak.
"Kita ini orang asing, Mr. Danny—saya harus bersikap seperti apa?" Aletha melangkah satu tapak lebih dekat, menantang aura intimidasi yang sengaja Danny pancarkan sejak tadi. "Bukankah sikap saya ini sangat netral dan sopan kepada semua orang?"
Danny tidak langsung menjawab. Rahangnya mengencang, matanya menyipit memperhatikan setiap detail ekspresi di wajah mahasiswi di hadapannya ini. Kata 'semua orang' yang diucapkan Aletha telak menghantam egonya. Perempuan ini benar-benar menyamakan kedudukan seorang Danny dengan rongsokan manusia lain di luar sana.
"Netral?" Danny mendengus sinis, selangkah maju hingga jarak mereka mengikis habis udara di antara keduanya. "Ada batas tipis antara netral dan tidak sopan, Aletha. Kebanyakan orang di gedung ini akan menekuk lutut mereka hanya untuk mendapatkan satu detik perhatian dari saya. Tapi kamu? Kamu bahkan sengaja membuang muka."
Aletha justru terkekeh pelan—sebuah tawa renyah, pendek, dan terdengar sangat meremehkan bagi telinga seorang CEO yang terbiasa disembah. Ia membetulkan letak tas mini-nya di pundak dengan gerakan anggun.
"Kalau begitu, Anda sudah mendapatkan jawaban Anda, Mr. Danny," ucap Aletha, menatap lurus ke dalam manik mata pria itu tanpa berkedip. "Saya bukan 'kebanyakan orang' yang Anda maksud. Dan jika sopan santun standar saya malam ini melukai ego besar Anda... rasanya itu bukan masalah yang harus saya selesaikan—itu masalah anda sendiri."
Selesai mengucapkan kalimat tajam itu dengan nada sewajar mungkin, Aletha memberikan satu anggukan formal terakhir. Ia berbalik, membiarkan gaun maroon-nya berputar indah, lalu melangkah pergi meninggalkan Danny yang mematung di dekat wastafel.
Danny hanya diam, menatap punggung Aletha yang perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu kaca. Sisa keharuman parfum Aletha masih tertinggal di udara, seolah sengaja mengejek akal sehatnya. Di dalam kepalanya, nama Aletha Adinata kini tercetak tebal dengan tinta merah. Rasa jengkel dan ketertarikan yang berbahaya mulai bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Pria itu tersenyum tipis, sangat tipis hingga menyerupai seringai dingin.
Menarik, batin Danny, membenarkan letak jam tangan mewahnya. Mari kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan menjadi teka-teki, Aletha.