NovelToon NovelToon
BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Ahli Bela Diri Kuno / Balas Dendam
Popularitas:768
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"

Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.

Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: GERBANG DI BALIK BATU DINGIN

Hujan rintik-rintik membasahi pelataran Candi Borobudur saat fajar masih malu-malu menampakkan dirinya.

Kabut tebal menyelimuti lembah Kedu, membuat siluet ribuan stupa tampak seperti barisan prajurit ghaib yang sedang manembah dalam keabadian.

Di salah satu sudut pelataran bawah, seorang pria dengan jaket jin yang sudah memudar warnanya duduk santai di sebuah bangku batu. Di sampingnya terletak sebuah helm kusam dan tas ransel yang tampak berat.

SRUPTTT...

Arka menyesap kopi hitam dari botol termosnya. Di matanya, Borobudur tidak terlihat seperti tumpukan batu andesit biasa.

Melalui mata Waskita-nya, ia melihat benang-benang energi berwarna emas yang saling bertautan, membentuk jaring-jaring geometri suci yang menyatukan bumi dengan langit.

"Indah sekali, bukan?" suara lembut seorang wanita terdengar dari belakangnya.

Reyna muncul dengan mengenakan kain panjang dan kebaya harian yang ditutupi oleh jas hujan transparan. Ia tampak seperti warga lokal yang sedang melakukan ziarah pagi.

Namun, di tangannya, ia memutar-mutar tasbih kayu nagasari yang memancarkan aroma wangi, menembus dinginnya udara Magelang.

"Mereka menyebutnya monumen. Tapi bagi yang punya 'kunci', ini adalah peta Sastra Jendra Hayuningrat," ucap Arka pelan, suaranya hampir hilang ditelan desau angin.

"Kelompok 'The Architect' sudah di sini," bisik Reyna yang muncul dari balik kabut. SREK... SREK...  (Suara langkah kain panjangnya di atas batu).

"Mereka menyamar sebagai tim pemugaran UNESCO. Mereka membawa alat-alat frekuensi tinggi untuk menjebol dinding dimensi di bawah stupa induk. Mereka pikir mereka bisa melipat ruang untuk mencuri sari-sari energi Nusantara langsung ke markas mereka di Eropa."

Arka tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa begitu tua dan dingin. "Mereka pikir ruang itu hanya soal panjang dan lebar. Mereka tidak tahu kalau ruang adalah nafas Sang Pencipta yang membeku."

Di dalam lorong gelap di bawah stupa induk yang tertutup untuk umum, suasana terasa sangat mencekam. Lampu-lampu LED putih menerangi relief yang sudah berusia ribuan tahun.

Lima orang pria kulit putih dengan pakaian kerja teknis sedang sibuk di depan sebuah mesin raksasa yang mendengung rendah.

HUMMMMMMM...

"Tekanan ruang di titik ini tidak stabil," ucap Dr. Vogel, pemimpin tim tersebut.

"Jika kita berhasil membuka pintu di sini, kita bisa memindahkan benda apa pun tanpa perlu melewati pabean atau perbatasan negara. Ruang ini adalah bypass dunia."

"Tapi Doktor, sensor batiniah kita mendeteksi ada anomali," lapor asistennya. "Seseorang dengan massa energi nol sedang mendekat. Itu secara teori fisika... mustahil."

"Teruskan pengeboran frekuensi!" perintah Vogel tanpa menoleh.

Arka tidak berjalan melalui pintu penjagaan yang dijaga ketat oleh para tentara bayaran. Ia melangkah menuju sebuah dinding relief yang menggambarkan kisah pelayaran samudera.

Ia meletakkan telapak tangannya di atas pahatan batu yang dingin dan berlumut itu. “Niat ingsun... melipat jarak, menyatukan raga,” gumam Arka.

WUUUUUUUNGGG...

Seketika, tubuh Arka dan Reyna memudar, menjadi transparan seolah-olah mereka hanya bayangan di atas air, lalu...SREEEEP!

Mereka masuk menembus dinding batu padat tersebut. Inilah buah dari Segel Udara yang ia satukan dengan keteguhan Segel Bumi.

Mereka muncul di ruang bawah tanah yang lembap, tepat di belakang Dr. Vogel.

"Sains tanpa rasa hanya akan menghasilkan kehancuran, Doktor," suara Arka bergema di ruangan sempit itu, tenang namun membuat bulu kuduk semua orang di sana berdiri.

DEG!

Vogel melompat kaget. Ia berbalik dan menatap Arka dengan horor. "Bagaimana kau bisa lewat? Sensor laser kami tidak berbunyi!"

Arka berjalan mendekat, setiap langkahnya tidak mengeluarkan suara di atas lantai batu.

"Kalian mencari pintu dengan cara menghancurkan dindingnya. Aku masuk karena aku adalah bagian dari rumah ini. Matikan mesin itu, atau ruang ini sendiri yang akan memakan kalian."

"Tangkap dia!" teriak Vogel.

BZZZZZT! BZZZZZT!

Dua pengawal berpakaian tempur maju dengan tongkat listrik bertegangan tinggi. Arka tidak bergerak. Ia hanya mengangkat tangan kirinya, melakukan gerakan seperti menyapu debu di udara, sebuah gerakan yang sangat santai namun sarat dengan kekuatan Panyungsung.

SWISH!

Ruang di depan Arka mendadak melengkung seperti pantulan di cermin yang rusak. Kedua pengawal itu, yang seharusnya menghantam Arka, mendadak berbelok tanpa kendali dan saling bertabrakan hingga pingsan seketika. Mereka seolah-olah menabrak dinding tak kasat mata yang muncul tiba-tiba.

"Manipulasi ruang..." bisik Vogel, wajahnya pucat pasi. "Kau... si pemilik toko buku itu?"

"Nama saya Arka. Dan kalian terlalu berisik di bawah tanah saya," sahut Arka datar.

Tiba-tiba... NGIIIIIIIIIIIINNNGGGG!  mesin di tengah ruangan itu mengeluarkan suara mendengking yang memekakkan telinga.

Guncangan hebat terjadi. DUM! DUM! DUM!  Sebuah lubang hitam kecil mulai terbentuk, menghisap udara. SUUUUUUUTTTTT!  Vogel, dalam kepanikannya, telah memicu overload sistem.

"Rey, jaga struktur candi ini!" perintah Arka.

Reyna segera berdiri di tengah ruangan. Ia melepaskan tasbih nagasarinya yang pecah menjadi ribuan butiran cahaya hijau. "Segel Welas Asih... Penyangga Bumi!"

PRYAAARRR!

Ribuan butiran cahaya hijau meledak. VREEEUUUMMM...  Membentuk pilar panyangga ghaib. energi yang menahan langit-langit candi agar tidak runtuh akibat tarikan gravitasi lubang tersebut.

Reyna berkonsentrasi penuh, keringat dingin mengucur di dahinya. Menahan berat jutaan ton batu Borobudur adalah beban yang hampir menghancurkan sukmanya.

CRAAAAASHHH!

Arka melompat menuju pusat pusaran itu. Di sana, ia melihat sesosok entitas yang terperangkap dalam mesin, sebuah kristal dodecahedron yang berputar gila. Inilah Akasha, Penjaga Segel Keenam.

Kristal itu menjerit dalam frekuensi yang menyiksa batin. Arka tidak menyerang. Ia tidak peduli pada Vogel yang kini terseret masuk ke dalam dimensi kosong buatannya sendiri.

Arka hanya mengulurkan tangan. Di telapak tangannya, ia memadukan empat elemen yang sudah ia kuasai: Bumi, Air, Api, dan Udara.

Keempat energi itu membentuk pusaran pelindung yang sangat stabil. Arka menerobos masuk ke inti tarikan gravitasi itu. Kulitnya terasa seperti ditarik paksa, tulang-tulangnya menderu menahan tekanan. KRETEK! KRETEK!

"Aku adalah pusat dari segala elemen, Akasha!" teriak Arka. "Aku bukan pencuri! Aku adalah wadahmu! Kembalilah ke tempatmu!"

Arka meletakkan telapak tangannya di permukaan kristal itu. BOOOOOMMMM!  Seketika, getaran dahsyat menyambar tubuhnya.

Seluruh pemandangan berubah. Arka seolah melihat pembangunan Borobudur, kehancurannya oleh abu Merapi, hingga kejayaannya kembali.

“Kau... adalah poros yang kami tunggu,” suara halus terdengar di pikiran Arka. “Tetaplah rendah hati, Arka. Jika ruangmu terlalu luas, kau akan lupa di mana kakimu berpijak.”

Kristal itu memudar, lalu meluncur masuk ke dahi Arka, tepat di antara kedua matanya.

Segel Keenam: Ruang (Akasha), telah menyatu.

Seketika, lubang hitam itu tertutup. PLOP!  Mesin milik Vogel meledak hancur berkeping-keping. DUARRR!  Seluruh tim teknis pingsan, kecuali Vogel yang sudah hilang tertelan dimensi antah berantah.

Ruangan itu kembali sunyi. Reyna jatuh terduduk, nafasnya terengah-engah. Arka segera menghampirinya, menyalurkan energi Udara untuk memulihkan dadanya yang sesak.

"Terima kasih, Rey," ucap Arka lembut.

"Kau... kau berhasil, Arka," bisik Reyna. "Tapi sekarang kau terlihat... berbeda. Seperti kau ada di sini, tapi juga ada di tempat lain di saat yang sama."

Arka berdiri, menatap tangannya. Ia sekarang bisa merasakan setiap inci ruang dalam radius satu kilometer. Ia bisa merasakan semut yang merayap di stupa tertinggi, ia bisa merasakan degup jantung setiap turis yang baru datang di bawah sana.

"Ayo pergi. Motor tuaku sudah kedinginan di luar," ajak Arka.

Mereka keluar menembus dinding batu lagi, muncul di pelataran saat matahari sudah mulai menghangatkan batu-batu candi.

Para turis mulai memadati area, tidak menyadari bahwa di bawah kaki mereka baru saja terjadi pertempuran yang menyelamatkan sejarah.

Arka dan Reyna berjalan menuju parkiran. Arka memakai helm kusamnya, menaiki motor Honda CB tua miliknya yang suaranya sudah sedikit kasar. Ia menyelah motor Honda CB tuanya.

TRENG... TENG... TENG... TENG...

"Mas Arka! Barusan ada suara gluduk-gluduk di bawah tanah, denger nggak?" tanya seorang pedagang asongan.

Arka tersenyum ramah, tipe senyum yang sangat sopan dan tidak mencurigakan. "Gluduk? Mungkin ban truk di jalan raya bawah sana, Pak. Saya tadi malah ngantuk di bangku, nggak denger apa-apa."

"Oalah... iya mungkin ban truk ya. Monggo, Mas!"

VREEEEUUUMMM...

Arka memacu motornya perlahan, membonceng Reyna meninggalkan Borobudur. Di belakangnya, Jenderal Wironegoro muncul dari kerumunan, memerintahkan tim pembersihnya untuk mengamankan sisa-sisa teknologi Vogel tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

"Biarkan dia," bisik Wironegoro pada asistennya. "Dia sedang menikmati perannya sebagai manusia biasa sebelum menghadapi Segel Terakhir."

Arka melaju menuju arah Yogyakarta. Ia kini memiliki enam segel. Hanya tinggal satu lagi: Segel Waktu. Dan ia tahu, segel itu tidak ada di candi mana pun.

Segel itu ada di dalam dirinya sendiri, menunggu saat yang tepat untuk membeku di antara detak jantungnya yang paling sunyi.

Sang Satria Piningit tetap tersembunyi, seorang pengendara motor tua yang membawa rahasia alam semesta di dalam saku jaket jinnya yang lusuh.

***

Dukung perjalanan Arka dengan Like dan Komen. Update setiap hari. Terima kasih.

1
anggita
ikut like👍iklan☝aja thor.
Dedik Januari: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!