"Jangan nona,kami takut tuan akan memarahi kami."ucap pria itu yang memohon pada Nonanya untuk tidak pergi.
"Sudahlah, biarkan aku pergi sekarang.Lebih baik kalian diam saja."jawab wanita itu dengan nada marah.
Wanita itu langsung pergi dengan membawa sepeda motor jadulnya menuju lokasi tempat tinggal sementara dirinya.
Dibalik semua itu ternyata dia sedang menutupi identitasnya dan mencoba berbaur dengan orang lain , apalagi dibalik dia melakukan itu ada maksud tertentu tentang misi yang sedang dia lakukan untuk mencari informasi penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArsyaNendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
"Belum ada pergerakan dari mereka,apalagi keadaan di rumah itu terlihat sepi.Tapi sesuai informasi yang kami dapatkan,jika dapat di pastikan orang yang ada didalam itu terlibat dalam penyerangan itu." ucap Milano yang sudah mengecek.
"Aku ingin melihat wajah mereka," ucap Nina yang langsung tersenyum sinis tak sabar melihat wajah mereka.
Milano langsung terdiam melihat ekspresi lain dari Nonanya."Aku yakin mereka akan habis di tangan Nona." batin Milano yang tahu betul bagaimana sifat Nonanya.
"Awasi betul pergerakan mereka,jika memang semua informasi sudah terkumpul kita akan mengepung mereka dan menghabisi mereka satu-persatu,setelah itu giliran orang yang menyuruh mereka kita habisi juga." Nina diliputi rasa dendam yang diam-diam sudah mendarah daging setelah apa yang menimpa Mamanya dan adiknya.
Nina pun akhirnya pergi dan melanjutkan perjalanan menuju tempat kerjanya.Seperti biasa Nina berkerja sebagai pelayan dan merasa begitu lelah.
Nina pergi menemui Manager di restoran itu,reaksi pria itu langsung kaget hingga berdiri dari tempat duduknya.
"Nona." pria itu benar-benar kaget melihat Nina yang sudah masuk diruangan itu.
Nina langsung duduk sembari menatap tajam manager itu.
"Apa benar beberapa hari yang lalu,ada Nyonya Bagaskara sengaja makan di sini dan membuat onar?" pertanyaan itu langsung membuat keringat dingin manager itu.
"Darimana Nona tahu." batin manager itu yang tidak pernah membicarakan hal itu.
"I-iya Nona." jawab Pak manager yang mulai gugup harus menjelaskan bagaimana.
"Dan kamu lebih memilih karyawan kita kamu pecat dan memihak wanita gila itu." Pak Manager itu semakin ketakutan.
"Lalu apa yang harus saya lakukan,pembeli adalah raja tidak mung-." belum selesai bicara Nina berdiri menatap tajam kearahnya.
"Sepertinya kamu sudah bosan hidup, lebih mendukung orang bersalah dan mengorbankan seseorang untuk mengakui kesalahan yang tidak pernah mereka lakukan." Nina benar-benar emosi,hingga Pak Manager itu langsung berlutut mengakui kesalahannya.
"Maafkan saya Nona,saya takut jika Nyonya Bagaskara marah pada saya.Saya pun terpaksa memecat karyawan itu." Nina terdiam menatap tajam kearah pria itu.
"Jika begitu kamu lebih memilih untuk mati." ucap Nina semakin membuat Pak Manager semakin itu ketakutan.
"Ampun Nona,ampuni saya." Pak Manager itu memohon.
"Jika saja kejadian itu aku lihat secara langsung,aku yakin kamu tak akan bisa pulang dan kepulanganmu hanya tinggal nama." Nina mulai kesal dengan apa yang pria itu lakukan.
"Ampun Nona, saya mengakui itu kesalahan saya." Pak Manager itu semakin ketakutan apalagi ia berurusan dengan orang yang berkuasa di tempat itu.
"Jika kamu masih berbuat kesalahan lagi, lihat saja apa yang aku lakukan padamu." Pak Manager semakin ketakutan jika ancaman itu benar adanya.
"Baik Nona." jawab Pak Manager yang semakin keringat dingin menghadapi Nonanya.
Setelah Nina memarahi Managernya,Ia kembali mengerjakan pekerjaannya.Berbeda dengan Manager yang masih ketakutan jika memang benar dirinya akan di habisi langsung.
"Habislah aku,mulai sekarang aku harus lebih berhati-hati lagi." Pak Manager keringat dingin hingga membanjiri dahinya.
Sore hari
Akhirnya waktu pekerjaan Nina selesai juga ,kini tinggal waktunya Nina untuk pulang.Sebelum pulang Nina mampir mencari minuman Coffee,pandangan Nina tertuju pada sebuah Cafe yang ada di ujung jalan.
Nina memesan Coffe di Cafe itu,ia pun harus bersabar menunggu.Tanpa Nina ketahui,ada seseorang pria yang sedang mengawasinya.
"Hey ngapain dari tadi bengong terus." ucap Yogi yang di mana mereka duduk santai menikmati Coffee.
"Tidak apa-apa,hanya kaget saja." jawab Andra yang melihat langsung kehadiran sosok yang ia kenali.
"Kaget kenapa?" tanya Doni yang ketiganya berada di tempat itu.
"Aku lihat wanita itu lagi." Andra melirik kearah sosok wanita yang sedang berdiri menunggu pesanan.
"Wanita yang berjaket hitam itu?" tanya Doni pada Andra.
"Iya wanita itu." jawab Andra dengan sedikit anggukkan kepala.
Mereka melirik kearah itu yang spontan membuat Yogi kaget,"Sebentar, bukannya wanita yang kost didepan kita." Yogi masih mengingat wajah wanita itu yang selalu memakai kacamata.
"Apa kamu yakin?"
"Yakinlah,jika masalah wanita aku nomor satu, tidak mungkin salah." Yogi yakin dengan apa yang dia tebak.
"Aku pun seperti itu juga,merasa jika dia wanita didepan kost kita." jawab Andra yang merasa hal itu.
"Apa kalian saling kenal?"tanya Yogi pada Andra.
"Sebenarnya kami tidak saling mengenal, tapi aku yang merasa bersalah disaat aku tidak sengaja menjatuhkan barang belanjaan dia. Dan dia nampak seperti marah padaku walaupun aku sudah meminta maaf."ucap Andra yang merasa bersalah karena keteledoran tidak terlalu berhati-hati.
"Oh begitu, Aku kira kalian berdua ada hubungan spesial."jawab Doni yang baru memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"Jangan berpikiran aneh, aku pun belum terlalu mengenal siapa wanita itu. Nama pun aku belum tahu."Andra menjawab dengan santai.
"Kalau memang kalian belum saling berkenalan ya kenalan dong, memangnya kamu belum move on dari Nita."mendengar nama wanita itu disebut, terlihat reaksi antara berubah menjadi ekspresi kesal.
"Sudahlah, jangan membicarakan hal yang tidak penting. Biarkan semua menjadi kenangan, tak ada salahnya juga kamu mengenal wanita.Itu semua hakmu untuk mendapatkan bahagia." ucap Doni yang langsung ditanggapi oleh Andra dengan ekspresi terdiam.
Andra tak bisa menjawab apapun dan dia hanya bisa terdiam sembari menghirup ke arah wanita itu,"Jika kamu memang butuh bantuan kami pun bisa membantumu, agar kamu bisa mendekati wanita yang di sampingmu itu."
"Jangan banyak bicara, lebih baik habiskan minuman kalian."ucap Andra yang sedikit kesal.
Tiba-tiba saja pundak Andra ditepuk pelan Yogi,"Jangan begitu bro,kita tulus bantu kamu." jawab Yogi yang tahu betul siapa Andra.
Andra hanya terdiam tak terlalu menanggapi hal itu dengan serius,apalagi dirinya bisa kenal dengan wanita itu yang memang sengaja ia tak sengaja menabrak saat di waktu mereka bertemu di mini market.
Nina diam-diam merasa ada seseorang yang terus mengawasi dirinya,hingga ia bersikap normal seakan-akan tidak melihat sesuatu yang aneh .
Nina akhirnya pergi dari tempat itu,sampai di kost ia Nina bergegas membersihkan diri setelah itu ia duduk didepan laptop membaca beberapa email dari asistennya.
"Sepertinya Lukas adalah orang yang tepat untuk aku berikan pekerjaan ini.Sangat menguntungkan jika transaksi itu berhasil." gumam Nina yang pada akhirnya semua pekerjaan yang selama ini dia kerjakan ia pasrahkan pada Lukas untuk ia kelola, walaupun dibelakang ada Nina yang terus mengawasi pergerakan transaksi itu.