Kristella Duan tak menyangka jika pekerjaannya sebagai penulis novel erotis membawanya terjebak dalam pusaran obsesi mafia kejam Dominic Stralerr. Ketua klan mafia terbesar yang hanya bisa bergairah karena membaca novel yang dia buat.
Bagaimana Kristella di tekan untuk membuat cerita- cerita hanya untuknya, dan demi membangkitkan gairahnya yang telah mati. Hingga sebuah ide gila muncul yang Kristella kira bisa membuatnya lepas dari tekanan tersebut, namun justru membuatnya semakin terjerat dan tak bisa lepas.
"Bagaimana kalau kita praktekan saja secara langsung, Tuan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misteri
"Satu lagi yang harus anda patuhi selama tinggal disini."
Ella terdiam mendengarkan. "Jangan berkeliaran sembarangan."
"Tuan tidak suka dengan orang asing. Jadi jangan sampai kamu berpapasan dengan tuan walau itu tidak sengaja."
"Dan jaga kerahasiaan di rumah ini. Termasuk tentang tuan."
Ella mengangguk. "Ngomong- ngomong, tuan itu orang seperti apa?" Ella bertanya dengan penasaran. "Jujur saja aku tidak bisa melihat wajahnya tadi, karena suasananya gelap."
"Itu juga hal penting untuk anda ketahui." Bobby mencondongkan tubuhnya membuat Ella sedikit mengerutkan tubuhnya. Sungguh aura Bobby terlalu mengintimidasi. "Terlalu banyak tanya akan berbahaya. Karena semakin banyak yang kamu tahu, semakin cepat kamu mati."
Ella mengerjapkan matanya saat merasa ucapan tajam Bobby benar-benar menusuk telinganya.
"Mengerti?"
Ella mengangguk cepat, membuat seringaian di wajah Bobby muncul.
"Baiklah Nona Ella, selamat menikmati makan malam anda." Bobby menutup berkas yang telah di tanda tangani Ella lalu pergi menarik pintu hingga pintu kembali tertutup menyisakan keheningan di seluruh ruangan kamar.
"Jangan berkeliaran sembarangan." Ella meniru ucapan Bobby dengan bibir mencebik penuh ejekan.
"Lagipula pintunya terkunci, bagaimana aku bisa berkeliaran. Aku sudah seperti tawanan." Ella mendudukan dirinya di kursi kembali menatap makanan di meja.
"Tuan tidak suka dengan orang asing. Jadi jangan sampai kamu berpapasan dengan tuan walau itu tidak sengaja."
"Lagi pula, siapa yang membawaku kesini, tapi masih bilang tak suka orang asing." Ella menaikan sendok ke udara seolah dia hendak memukul wajah Bobby. Tentu saja dia tak berani jika pria itu masih ada di depannya.
"Dan jaga kerahasiaan di rumah ini. Termasuk tentang tuan." Satu lagi ucapan Bobby yang menurutnya menyebalkan.
"Cih! Apa mereka tidak waras?" Ella mulai menyuapkan makanan, lalu tersenyum saat merasakan makanan terasa nikmat di mulutnya.
"Setidaknya makanannya enak." Ella kembali menyuapkan makanan ke mulutnya, lagi, dan lagi hingga makanan di meja benar-benar tandas.
Ella mengusap perutnya yang terasa kenyang dan perasaan bahagia. Setelah sekian lama dia kembali merasakan makanan seenak ini.
Ella menguap saat merasa dia mulai mengantuk. Tentu saja akibat dari kekenyangan rasa kantuk bisa datang segera.
Ella melangkah pelan ke arah ranjang, membuka jaket tebalnya lalu merebahkan dirinya. Dia mulai memejam tanpa membersihkan diri atau pun sekedar menggosok gigi.
Jorok?
Biar saja.
Lagi pula dia juga tak memiliki baju ganti meski dia sebenarnya begitu ingin mandi. Tentu saja dia juga tak nyaman sebab tubuhnya tadi sempat di seret di tanah bersalju.
....
Di pagi hari Ella terbangun karena ketukan pintu, dia yang awalnya berpikir pintu terkunci dari luar mulai beranjak sebab orang di luar sana tak juga masuk dan berhenti mengetuk.
Ella menekan handle yang ternyata pintu tak terkunci dari luar, hinga pintu benar-benar terbuka dan menampilkan beberapa pelayan yang berjejer di depan pintu.
"Selamat pagi, Nona. Kami membawakan pakaian untuk anda." Ella menyingkir dari pintu dan membiarkan para pelayan masuk. Dan yang membuat Ella terkejut adalah banyaknya pakaian yang di bawa lengkap dengan sepatu dan tas.
"Ini untukku?"
"Ya, Nona. Anda bisa mengenakannya kapan saja." Para pelayan mulai sibuk mengisi lemari pakaian, lalu menata alat make up di meja rias yang tersedia.
Ella tertegun melihat pemandangan tersebut, begitu sibuknya mereka menata semua pakaian dan memasukan satu persatu tas ke dalam lemari kaca.
"Tunggu! Apa ini sungguh perlu?" ucapan Ella menghentikan semua pelayan. "Maksudku aku tidak akan lama disini. Jadi tidak perlu sebanyak itu. Beri aku empat baju saja ... eh tidak, tiga baju juga cukup."
Para pelayan saling pandang. "Maaf, Nona tapi kami hanya menjalankan perintah."
Ella tertegun saat melihat pelayan itu pergi satu persatu setelah memenuhi isi kamarnya.
Ella menatap sekitarnya lalu mengedikkan bahunya. Terserah, lagi pula dia tak meminta. Asalkan mereka tak memotongnya dari gaji yang mereka janjikan.
"Tunggu? Bagaimana kalau mereka benar-benar memotongnya dari gaji seratus jutaku?" Ella membelalakan matanya melihat berapa banyak pakaian yang tergantung juga tas dan kosmetik yang pasti sangat mahal dan bisa- bisa semua gajinya habis hanya untuk semua barang- barang ini.
Ella keluar dari kamar hendak bertanya pada pelayan, setidaknya.
Tapi saat keluar dari kamar dia justru tak menemukan siapapun.
Ella melangkah lebih jauh dan menyusuri koridor lantai dua hingga dia menemukan tangga penghubung antara latai satu dan dua.
Ella mengernyit saat melihat punggung seorang pria menuruni tangga, "Mr, D?" Dia tak yakin sebab tak bisa melihat wajahnya. Namun siapa lagi yang tinggal disana dan juga di hormati sebab saat dia lewat para pelayan menundukkan kepala dengan hormat.
"Dari belakang, terlihat tampan," gumamnya. Ella sampai berpikir keras kenapa pria sesempurna itu membutuhkan cerita erotisnya. Masih jadi misteri untuk apa pria itu membutuhkan cerita yang dia buat hingga mengancamnya jika dia menolak, bahkan rela membayar begitu banyak.
Dari belakang punggungnya nampak tegap dengan otot-otot yang memang bisa dia lihat meski tertutup jas rapi.
"Apa yang kau lakukan disini, Nona?" Ella berjengit saat mendengar suara tajam di belakangnya.
"Ehehehe ... Tuan, Bobby. Aku cuma..."
"Sudah ku bilang jangan berkeliaran sembarangan bukan? Apalagi jika sedang ada Tuan di rumah." ucapan itu penuh peringatan membuat Ella mengangguk.
"Aku ingat, maaf. Sebenarnya aku hanya ingin bertanya. Baju- baju itu apa aku harus membayarnya dengan gajiku?"
Bobby mengerutkan keningnya, menatap ke arah koridor dimana kamar Ella berada.
"Tidak, itu bentuk tanggung jawab Tuan. Dan lagi, Tuan bilang penampilanmu sangat mengganggu matanya." Bobby menyeringai saat Ella memperhatikan dirinya dari atas ke bawah.
"Memang kenapa, ini nyaman." Ella mengenakan celana jeans reguler dengan kaos oversize.
"Anda tidak mengerti kata tidak enak di lihat?"
"Nyaman itu urusan anda, tapi penampilan itu di lihat orang lain."
Ella mencebik. "Baiklah, itu saja. Lagi pula aku tidak mau nanti gajiku kalian potong." Ella hendak pergi saat suara Bobby kembali terdengar.
"Baik, Nona. Semoga anda bisa keluar dari sini hidup- hidup."
Sialan!
Ella menoleh dan menatap tajam, sementara Bobby tampak biasa saja. "Saran saya segeralah menulis dan berhenti berkeliaran."
Brengsek!
Lagi, Ella hanya bisa mengumpat dalam hati.
....
kan kamu yg ngawalin....
jadi ketagihan kan itu Dom..🤭
ada musuh atau emang sengaja diledakin sama Dom buat ngehapus jejak 🤔🤔
kamu malah bikin Ella jadi takut sama kamu..
bakal kangen dunks kak ....
aq dah vote kamu nih..
semoga retensi kamu bagus ya..