Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?
Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.
"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya
Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 05
Langit yang tadinya mendung kelabu akhirnya menangis deras. Hujan turun dengan sangat lebat, seolah alam pun ikut merasakan kekesalan dan kekecewaan yang sedang melanda hati Dilan Wijaya Kusuma. Sejak tadi sore, saat melihat Aletta tertawa lepas, begitu bahagia dan antusias saat bertemu dengan Jonathan, ada rasa cemburu yang menjalar di dada cowok itu.
Rasa cemburu itu bukan main besarnya. Melihat Aletta yang begitu perhatian, begitu ramah, dan begitu senang dengan orang lain membuat Dilan merasa seperti orang asing. Padahal selama ini, dialah yang selalu ada, dialah yang selalu melindunginya, dan dialah yang paling tahu segalanya tentang Aletta.
"Kenapa sih semuanya harus kaya gini..." gumam Dilan pelan, tangannya mencengkeram stang motornya kuat-kuat.
Tanpa pamit, tanpa bilang ke Aletta, Ruby, apalagi Tamara, Dilan langsung menyalakan mesin motornya dan pergi meninggalkan tempat itu. Dia tidak pulang ke rumahnya, tidak juga ke rumah teman temannya. Dia ingin menghilang. Dia ingin sendiri. Dia ingin Aletta merasakan bagaimana rasanya kehilangan dan khawatir, sama seperti apa yang dia rasakan sekarang.
Sepanjang jalan, air hujan membasahi tubuhnya, tapi dinginnya air hujan sama sekali tidak bisa mendinginkan emosi yang membara di dadanya. Handphone-nya dimatikan total. Dia tidak mau diganggu. Dia tidak mau dengar alasan apa pun dari siapa pun. Seharian penuh dia menghilang, membuat semua orang bingung dan cemas.
Di kamar Ruby, suasana terasa sangat mencekam dan suram. Hujan di luar semakin deras memukul genteng, menambah kesan sunyi yang menyakitkan.
Tamara duduk memeluk lututnya di sudut kamar, bersandar pada dinding yang dingin. Bahunya terlihat bergetar hebat. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi, mengalir deras membasahi pipi tirusnya.
"Kenapa sih harus begini..." isak Tamara pelan, suaranya terdengar sangat pilu.
"Dilan... loh makin jauh dari gue. Padahal gue ada di sini Lan, gue ada di samping loh terus. Tapi kenapa mata loh gak pernah bisa liat gue? Kenapa pandangan loh selalu tertuju sama Aletta?"
Ruby yang duduk di sebelahnya hanya bisa mengelus punggung sahabatnya itu dengan perasaan sedih. Dia tahu betapa beratnya perasaan Tamara. Mencintai seseorang yang hatinya sudah pasti milik orang lain itu sakit sekali rasanya.
"Tam... jangan nangis terus dong. Nanti loh sakit lagi," coba Ruby menenangkan.
"Gue capek Rub... gue capek banget pura-pura kuat," sahut Tamara dengan suara serak.
"Gue liat Dilan marah, Dilan cemburu, Dilan pergi... semua itu karena Aletta. Sedangkan gue? Gue cuma bisa liat dari jauh. Gue nggak berhak marah, nggak berhak cemburu, karena posisi gue apa? Cuma temen biasa doang. Sekarang dia hilang, gue takut Ruby... gue takut banget kalau dia kenapa-napa."
Tamara semakin keras menangis, melepaskan semua rasa frustasinya, rasa cemburu, dan rasa sedih yang sudah dia pendam terlalu lama. Hati kecilnya berharap, mungkin kali ini Dilan akan menoleh padanya, tapi harapan itu kembali hancur berkeping-keping saat menyadari bahwa di hati Dilan, tidak ada ruang untuknya selain sebagai teman.
Tiba-tiba, suara dering handphone Aletta memecah keheningan. Aletta yang sejak tadi duduk diam dengan perasaan bersalah senang luar biasa, segera mengambil handphone-nya.
Nama BUNDA DILAN terpampang jelas di layar. Jantung Aletta seakan berhenti berdetak sejenak. Dia tahu pasti terjadi sesuatu dengan Dilan.
Karena sejak pertemuannya dengan Meldi dia tidak menemukan sosok Dilan lagi "letta kenapa loh sampai lupa sih sama Dilan" Ucap Aletta merutuki dirinya sendiri dan merasa bersalah
"Halo... Assalamu’alaikum Bun," jawab Aletta dengan suara gemetar.
"Waalaikumsalam. Al... kamu tahu di mana Dilan nggak? Seharian dia nggak pulang-pulang. handphone-nya juga nggak bisa dihubungi sama sekali. Bunda khawatir banget letta, di luar hujan deras begini. Takut dia kenapa-napa di jalan, atau dia marah sama sesuatu?" suara Bunda terdengar sangat cemas dan sedikit bergetar menahan tangis.
Aletta menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "I-iya Bun... Aletta juga lagi cari info kok. Tenang ya Bun, Aletta janji bakal cari Dilan. Aletta tahu harus cari di mana."
"Tolong ya letta... Bunda yakin cuma kamu yang tahu tempat persembunyian dia. Cari dia ya letta, bawa dia pulang. Bunda takut..."
"Iya Bun, insyaallah Aletta bawa dia pulang. Aletta tutup dulu ya Bun."
Aletta menutup sambungan telepon itu, lalu menatap kosong ke depan. Dadanya sesak sekali. Rasa bersalah itu menggunung. Dia tahu, Dilan pergi seperti ini karena dia. Karena Meldi. Karena cemburu.
"Ada apa Al? Bunda Dilan nelpon ya?" tanya Ruby panik.
"Dilan... Dilan nggak pulang-pulang Bun khawatir banget," jawab Aletta dengan wajah pucat pasi.
Mendengar itu, Tamara yang baru saja berhenti menangis langsung melompat berdiri. Wajahnya berubah pucat seperti mayat hidup.
"Apa?! Dilan nggak pulang?! Ya Allah... Ya Allah gimana ini hujan deras banget!" teriak Tamara histeris. Air matanya kembali mengalir deras, kali ini bukan karena cemburu tapi karena rasa takut yang luar biasa.
"Gue ikut cari! Gue harus cari dia!" seru Tamara sambil meraih jaketnya dengan tangan gemetar.
"Tam, hujan deras banget loh mau ke mana?" cegah Ruby.
"Gue nggak peduli! Gue harus nemuin Dilan! Apa kalau dia kenapa-napa gimana?! Gue nggak bisa kalau harus kehilangan dia!" teriak Tamara histeris, rasa cintanya yang besar membuatnya tidak bisa diam saja.
Mereka akhirnya keluar. Tamara ikut mencari bersama yang lain, matanya terus mengedar mencari sosok motor kesayangan Dilan di tengah derasnya hujan. Dia berdoa dalam hati, memohon agar Dilan tidak apa-apa, meskipun dia tahu kemungkinan besar Dilan ada di dekat Aletta, bukan di dekatnya.
Aletta berlari kecil, payung yang dia pegang hampir terbang terbawa angin. Dia tidak peduli lagi bajunya sudah basah terkena percikan air hujan. Kakinya melangkah pasti menuju satu tempat. Tempat rahasia yang hanya dia dan Dilan yang tahu.
Taman belakang kompleks perumahan tua itu. Di sana, berdiri kokoh sebuah rumah pohon besar yang menjadi saksi bisu pertemanan mereka sejak kecil.
Dari kejauhan, di bawah naungan atap rumah pohon yang sedikit bocor, Aletta melihat sebuah sosok tubuh tegap sedang duduk bersandar di dinding kayu.
"Dilan..." panggil Aletta pelan, suaranya tercekat di tenggorokan.
Cowok itu tidak menoleh. Dia hanya menatap kosong ke kejauhan, membiarkan dirinya basah kuyup diterpa hujan. Rambutnya basah menempel di dahi, bajunya pun sudah lembap, tapi dia seolah tidak merasakan dingin sama sekali. Pikirannya penuh dengan bayangan Aletta tertawa bersama orang lain.
Aletta segera memanjat naik dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang melihat kondisi Dilan yang seperti itu.
"Dilan... loh gila ya?!" omel Aletta tapi suaranya bergetar menahan tangis. "Hujan-hujanan begini loh duduk di sini?! Loh mau sakit ha?! Loh tahu kan Bunda khawatir setengah mati nyariin loh?! Semua orang juga panik! Tamara sampe nangis-nangis nyariin loh!"
Dilan tetap diam. Tidak ada jawaban. Hening. Hanya suara hujan yang terdengar sangat menyedihkan.
"Gue tahu loh marah..." lanjut Aletta pelan, air matanya akhirnya jatuh, bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya. "Loh marah karena gue ketemu Jonathan kan? Loh cemburu ya? Iya gue tahu salah gue... tapi tolong dong Dilan jangan gini caranya. Jangan nyiksa diri loh begini, dan jangan nyiksa gue juga dengan menghilang gitu aja."
Perlahan, Dilan menolehkan kepalanya. Matanya merah, tampak sangat lelah, kecewa, dan terluka. Tatapannya tajam namun penuh kesedihan.
"Loh datang ke sini karena disuruh Bunda, atau karena loh emang peduli sama gue?" tanya Dilan pelan, tapi setiap katanya seakan menembus jantung Aletta.
"Gue peduli Dilan! Gue peduli!" jawab Aletta menangis lebih keras.
"Tapi gue juga bingung! Gue bingung harus gimana! Gue takut nyakitin Tamara, gue takut menghancurkan persahabatan kita! Gue takut kalau perasaan gue ini salah! Tapi gue juga nggak bisa bohong sama diri gue sendiri kalau gue..."
Aletta berhenti bicara, dadanya sesak sekali. Dia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Di bawah derasnya hujan, di rumah pohon tua itu, terukir sebuah cerita cinta yang rumit. Dilan yang kecewa namun mencinta, Aletta yang bimbang antara logika dan hati, serta Tamara yang jauh di sana sedang menunggu dengan air mata, berharap ada sedikit saja kasih sayang yang tersisa untuknya.
"Dilan..." panggil Aletta lagi, kali ini lebih lembut. Dia meraih tangan cowok itu yang terasa dingin. "Pulang yuk... Please..."
Dilan menghela napas panjang, menatap wajah Aletta yang basah dan menangis. Hatinya yang keras akhirnya luluh melihat gadis itu menangis karena dirinya.
"Gue cuma mau loh ngerti Al..." bisik Dilan pelan. "Gue nggak mau bagi-bagi perhatian loh sama orang lain. Karena buat gue... loh itu segalanya.
~back to continuous~