NovelToon NovelToon
Pura-Pura Jadi Cewek

Pura-Pura Jadi Cewek

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Asmara / Orisinil / Komedi / Slice of Life
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Willy Tjokro anak dari owner TV swasta nekad berubah wujud jadi perempuan. Targetnya mendekati Summer Lidya, gadis incaran sejak masa SMA yang menolaknya mentah-mentah karena phobia laki-laki.

Definisi jodoh nggak kemana, mereka ditakdirkan berkuliah di satu kampus dan jurusan yang sama. Hal yang menjadi celah bagi Willy mendekati Summer lagi.

Namun, kali ini berbeda, bukan sebagai pria, tapi bestie cewek jadi-jadian yang mengerti isi hati Summer.

Akankah penyamaran Willy berhasil?

Story by Instragram & Tiktok @penulis_rain

Cover Ilustrasi by ig @iyaa_laa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

“Matilah gue!”

Willy refleks menunduk, pura-pura membetulkan tali sepatu yang sebenarnya tidak bermasalah sama sekali. Gio di sampingnya langsung memutar mata malas.

“Lo kenapa sih tiap liat dia kayak maling celana dalem ketangkep CCTV?” bisik Gio pelan.

“Diem, anjir. Dia liat ke sini,” balas Willy setengah panic, bahkan suaranya cuma bisa didengar Gio.

Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Summer masih berdiri di koridor, tatapannya datar tapi jelas mengarah ke arah mereka. Kedua temannya sudah jalan duluan beberapa langkah, tapi dia seperti tertahan sesuatu.

Willy berusaha tetap menunduk, pura-pura sibuk. Tapi dari sudut matanya, dia bisa lihat Summer akhirnya memalingkan wajah dan melanjutkan langkahnya, menyusul teman-temannya.

Napas Willy langsung terlepas.

“Anjir… hampir kena mental gue.”

“Kenapa emang kalau dia tau lo masih suka?” tanya Gio santai.

Willy tidak langsung menjawab. Dia berdiri tegak lagi, menatap punggung Summer yang semakin menjauh. Langkahnya masih sama. Cepat, tapi tidak berisik.

“Bukan itu,” ucapnya pelan.

“Terus?”

“Kalau dia tau… gue takut semua yang gue bangun sekarang langsung hancur.”

Gio terdiam. Kali ini dia tidak bercanda.

“Lo maksud… cosplay lo jadi Willa?”

Willy mengangguk kecil.

“Dia baru mulai nyaman sama Willa, gue juga baru bisa lihat kalau dia sekarang bisa ketawa meski cuma dikit, dan baru bisa ngobrol apapun tanpa dia takut sama orang lain. Dan kalau sampai tiba-tiba dia tau gue cowok yang selama ini dia hindarin… habis. Tamat cerita yang udah gue bangun.”

Gio menghela napas panjang. Pemikiran dan keadaan Willy juga Sumer memang terbilang rumit, dan ia hanya bisa menyaksikan bagaimana Willy berusaha masuk lagi dalam hidup Sumer.

“Tapi Will, gue ngerasa kalau lo saat ini tuh beneran gila sih. Lo mau balikin semuanya jadi lebih baik lagi, tapi lo malah masuk ke hidup dia pake identitas palsu. Risiko lo gede banget, Bro. gue bahkan gak bisa bayangin, gimana nanti Sumer kalau tahu kebenarannya.”

“Gue tau kalau resikonya gede, gue juga udah bisa bayangin gimana marahnya dia dan kecewanya dia ke gue nanti.”

“Terus lo tetep mau lanjut?”

Willy mengangkat bahu.

“Gue udah terlanjur basah. Gue nggak mungkin mundur gitu aja.”

Gio kembali menghela napas dalam.

“Terserah lo kalau gitu. Tapi gue cuma mau ngingetin satu hal, lo jangan sampe karena ambisi sembuhin phobia dia, balikin kehidupan dia yang udah berubah, lo sampe lupa sama diri lo sendiri.”

Kening willy mengerut. “Apa maksud lo ngomong kayak gitu ke gue?”

Namun belum sempat Gio menjawab, Willy lebih dulu memukul bahu sohibnya itu.

“Anjir, jangan bilang kalau lo nganggap gue mulai berubah jadi cewek, dan justru ngerubah identitas gue yang di real life.”

“Gue gak ngomong. Tapi kalau lo paham, ya sukur,” kekeh Gio, lantas meninggalkan willy yang belum selesai ngomong.

“Ogah, gue masi suka cewek!”

***

Waktu berjalan dengan cepat.

Sore itu langit Depok yang sejak pagi mendung akhirnya tumpah juga. Air hujan mengguyur atap Kos Bunga Bangsa tanpa ampun. Suara rintiknya cukup keras sampai menutup suara obrolan dari kamar-kamar.

Di kamar 206, Willa duduk bersila di atas kasur. Buku Statistika terbuka di depannya, tapi pikirannya ke mana-mana.

Tok tok tok!

“Masuk aja!” teriaknya refleks, lalu langsung menutup mulut sendiri.

‘Anjir, khodam suara gue, cok.’

Dengan refleks, Willa kembali berdehem dan kembali menurunkan suaranya beberapa kali. Dengan anggun menyahuti ulang panggilan Summer dengan suaranya yang berusaha dilembutkan.

“Masuk aja, nggak dikunci.”

Tak menunggu lama, pintu terbuka dan terlihat Summer masuk kedalam kamar Willa dengan membawa dua gelas minuman hangat.

“Hai Willa. Gue bawa kopi sama teh. Lo pilih aja,” ucapnya santai, menyodorkan dua gelas ditangannya ke depan Willa.

Willa langsung mengubah ekspresi, kembali ke mode lembut.

“Wah, makasih banget, Mer. Gue lagi butuh ini, gue ambil kopi ya.”

Summer mengangguk lalu duduk di lantai, menyender ke sisi kasur. Rambutnya sedikit basah di ujung-ujungnya, mungkin kena hujan saat beli minuman.

“Rambut lo basah, lo habis mandi apa kena hujan?” tanya Willa.

“Kena hujan dikit. Tadi ke minimarket depan, jadinya basah deh,” jawab Summer sambil meniup teh hangatnya.

Beberapa detik mereka diam. Suara hujan jadi latar yang anehnya nyaman.

“Eh, Willa,” panggil Summer tiba-tiba.

“Hmm?”

“Lo percaya nggak sih… kalau tubuh kita tuh kadang lebih jujur daripada pikiran kita?”

Willa menegang sedikit.

“Maksudnya?”

Summer menarik napas pelan.

“Kayak… gue. Gue tau nggak semua cowok itu jahat. Gue ngerti logikanya. Tapi tiap ada cowok deket, badan gue langsung bereaksi duluan. Deg-degan, sesek, pengen menjauh.”

Willa tidak langsung menjawab. Tangannya mengusap gelas kopi pelan.

“Kayak yang lo cerita waktu itu?” tanyanya hati-hati.

Summer terdiam sebentar, lalu mengangguk.

“Iya.”

“Emang lo kenapa lagi, Mer?”

“Gue liat Willy tadi siang, terus gue tanpa sadar jadi takut gitu.”

Deg.

Jantung Willa hampir lompat keluar.

“Takut perkara lo yang nggak suka terlalu deket sama laki-laki?”

“Iya,” jawab Summer singkat.

“Dia… tadi nggak ngapa-ngapain, sih. Bahkan dia malah berhenti jalan, ngasih gue lewat dulu. Tapi tetap aja badan gue langsung kaku.”

Willa menunduk, menatap permukaan kopi.

“Menurut lo kenapa ya?” lanjut Summer.

Willa mengangkat bahu pelan.

“Mungkin… karena badan lo lagi berusaha lindungin lo, atau lo ada sesuatu yang justru bikin lo takut sama dia.”

“Gue nggak takut dia. Reaksi gue berlebihan kalau tentang lawan jenis.”

“Terus kalau bukan takut, lo kenapa? Orang normal atau gak ada apa-apa, gak mungkin kayak gitu, Mer.”

Summer tidak langsung menjawab.

Dia diam. Lama. Tatapannya kosong, menatap uap tipis dari gelas teh yang perlahan memudar.

“Gue nggak tau ada apa sama gue. Juga gue bingung sejak kapan. Yang gue tau, cuma gue ngerasa laki-laki nyeremin. Apalagi yang bukan saudara gue, atau yang lumayan asing. Kayaknya gue trauma sama laki-laki.”

“Trauma? Kenapa? Lo pernah diapain?”

Summer menggeleng, “itu dia… entahlah. Tiap gue coba inget alasannya, kepala gue selalu sakit.”

“ Ya kayak yang gue bilang tadi. Itu bisa aja reaksi tubuh lo yang berusaha buat ngelindungin diri lo sendiri, supaya lo ngerasa aman. Kali aja, lo juga nganggap Willy sama kaya laki lain yang pernah bikin lo trauma, makanya itu lo jadi takut sama semua lawan jenis.” Willa menimpali dengan suara khas kalalawar Cibaduyut. Ia lalu menatap lekat Summer, memperhatikan reaksinya dengan seksama.

Summer tidak langsung menjawab. Dia memeluk lututnya sendiri, dan memilih diam, sebelum akhirnya ia kembali menajwab ucapan Willa.

“Masalahnya… gue sendiri nggak inget pernah kenapa-kenapa sama laki-laki. Gue juga ngga tau kenapa gue jaga jarak sama dia,” gumamnya pelan.

Hening.

Suara hujan semakin jelas terdengar, menambah suasana dingin didalam kamar Willa.

Willa tersenyum tipis, menepuk bahu Summer pelan dan berusaha menguatkan Summer.

“Lo nggak harus buru-buru ngerti semuanya, Mer,” ucap Willa pelan.

“Kenapa?”

“Karena kalau dipaksa, malah bisa bikin makin kacau. Kalau emang lo nggak terlalu inget, yaudah. Gak usah dipaksa, nanti juga tau sendiri kan?”

Summer mengangguk pelan.

“Lo ternyata cukup ngerti apa yang gue rasain. Makanya gue nyaman ngobrol sama lo. Makasih ya, Willa.”

Willa hanya tersenyum kecil menanggapi kalimat barusan.

“Kenapa lo nyaman sama gue?” Tanya Willa antusias.

“Lo nggak maksa gue buat cerita yang nggak bisa gue ceritain meski penasaran, lo juga gak maksa gue buat berubah.”

Willa tidak menjawab. Hanya mengangguk pelan. Di dalam hati, ada sesuatu yang terasa aneh. Dia merasa senang karena Summer nyaman dengan keberadaaanya, tapi juga merasa berat.

‘Ini satu-satunya cara, Mer. Semoga lo bisa selalu nyaman sama gue.’ Batinnya berbisik sambil mengembang senyum ke arah pujaan hatinya.

1
SANG
Lucu, lucu habis💪👍
hyungnimsoo
udahh Mer jgn jutek2 lg🤭
Fitri Pujianti
Ini mba Summer ga ada kpikiran balas dendam sma bapak kah tor
Yerim Naira
Duh mana bapaknya! udah bkin anak gadisnya trauma😒
Nurani Putri
😒 Untung ngga tinggal lg sma bapaknya
Sandriyanah
😒😒 bokapnya ngeselin bgt
SuryaNingsih
Hmm sedih bgt pasti jd summer, wajar aja dy jd tkt sma laki
Rosalina Ayyaee
Kayanya sumber ketakutan Summer dy anak broken home ya
Rain: Iyapp
total 1 replies
Wulandarry
alasan dia trauma krn bokapnya toh yg kdrt😒
ainnuriyati
Ya ampun galak bgt bapaknya Summer😒 ngeselin pantes aj mbak summernya trauma ama laki
Hardy Greez
Dia itu ada trauma krn ortunya
Hardy Greez
bisa ktawa lepas cuma dgn si willy eh willa
hyungnimsoo
iya Summer trbukq nya sma Willa ya🤣
Fitri Pujianti
hmm berkaitan sma,apa ya😒 kluarga?
Yerim Naira
Haduhh smg cpt ilang traumanya summer ya
Nurani Putri
Kasian ya hidupnya mba summer ini prnuh cobaan bgt udh ma tmen nya jadi2an
SuryaNingsih
Ini pasti si Summer tu ada trauma gitu brkaitan dgn masalalu
Rosalina Ayyaee
setakut kah itu, ksian jdnya liat summer ini
Wulandarry
Ini Summer tu cuma pendiem tp krn muka nya jutek jd pada salah arti ya?🤣
ainnuriyati
knapa ya😒 apa dy prnah di pukul wktu petir?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!