NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Gema Surat dalam Keheningan Glanzwald

Kabut pagi di Glanzwald baru saja terangkat saat seorang kurir militer dengan seragam berdebu berhenti di depan gerbang paviliun. Ia membawa sebuah amplop kecil dengan stempel resmi Jenderal Agung. Daisy, yang saat itu sedang berada di teras sambil memegang kamera Leicanya, merasakan jantungnya mencelos. Ia segera meletakkan kameranya di meja taman dan menghampiri kurir itu dengan langkah yang diatur agar tidak terlihat terlalu terburu-buru—gengsinya sebagai seorang istri bangsawan tetap harus terjaga.

Begitu amplop itu berpindah ke tangannya, Daisy masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas dan mengunci pintu. Ia duduk di kursi beludru, menghirup napas dalam-dalam sebelum merobek segel lilin merah itu.

Hanya satu baris.

"Jaga dirimu baik-baik di musim panas ini. Aku akan pulang untuk melihat bunga-bunga itu."

Daisy menatap tulisan tangan yang tajam, kaku, dan tegas itu selama beberapa menit. Tidak ada kata sayang, tidak ada ungkapan rindu yang berbunga-bunga seperti lirik lagu yang biasa ia tulis. Namun, bagi Daisy, kalimat itu terasa seperti sebuah janji suci. Matthew, pria yang seolah-olah terbuat dari baja, baru saja mengatakan bahwa ia akan pulang untuk melihat bunga-bunganya.

"Hanya itu?" Gumam Daisy, bibirnya mengerucut kecil. "Dasar pria kaku. Setidaknya tuliskan satu kata manis, Matthew."

Meskipun mulutnya mengeluh, Daisy tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya. Ia memeluk surat itu sebentar di dadanya sebelum menyimpannya di dalam kotak rahasia di bawah tumpukan naskah komiknya. Surat itu menjadi bahan bakar baru bagi rutinitasnya yang kini terasa lebih bermakna.

Hari-hari berikutnya di Eisenberg Manor dilalui Daisy dengan semangat yang berbeda. Ia kembali ke rutinitas mandirinya. Dunia luar tetap mengenalnya sebagai sang Muse yang misterius, namun di dalam kediaman Eisenberg Manor ini, ia adalah seorang wanita yang sedang mempersiapkan rumah untuk suaminya.

Pagi hari biasanya diisi dengan sesi menulis lagu. Daisy sering membawa keyboard portablenya ke dermaga kayu. Di sana, di bawah pohon ek raksasa, ia menggubah melodi yang lebih ceria. Jika sebelumnya lagu-lagunya penuh dengan melankoli perpisahan, kini nada-nadanya mulai menyelipkan harapan akan sebuah pertemuan. Ia sedang mengerjakan sebuah masterpiece baru yang ia beri judul "The General’s Summer".

"Aku ingin lagu ini terdengar seperti langkah kaki seseorang yang pulang setelah perjalanan panjang," pikirnya sambil jemarinya menari di atas tuts.

Siang harinya, Daisy menghabiskan waktu dengan hobi fotografinya. Ia mulai memotret setiap sudut Glanzwald yang menurutnya akan disukai Matthew. Ia memotret cahaya matahari yang menembus celah-celah pohon pinus, memotret permukaan sungai yang tenang saat angsa-angsa liar melintas, hingga memotret bayangannya sendiri yang tampak semakin dewasa.

Ia juga semakin rajin berkebun. Ia memesan bibit bunga langka yang hanya mekar di puncak musim panas. Daisy ingin saat Matthew menginjakkan kaki di pelataran nanti, pria itu akan disambut oleh lautan warna yang belum pernah ia lihat selama di barak militer.

"Nyonya Muda, Anda tampak sangat bersemangat belakangan ini," komentar tukang kebun saat melihat Daisy masuk ke rumah dengan tangan yang sedikit kotor terkena tanah taman.

Daisy hanya tersenyum simpul. "Aku hanya ingin Glanzwald terlihat sempurna, Paman. Bukankah Jenderal akan pulang di musim panas ketiga? Aku tidak ingin dia merasa pulang ke barak militer yang dingin."

Sore hari adalah waktunya Daisy bekerja pada naskah komik populernya. Ia sering menghabiskan waktu di perpustakaan pribadi milik Matthew. Di sana, di antara buku-buku sejarah perang yang tebal, Daisy duduk di lantai dengan tablet grafisnya. Menariknya, karakter utama pria dalam komiknya kini mulai memiliki kemiripan fisik yang mencolok dengan Matthew—tatapan matanya yang dark blue, bahunya yang bidang, dan sikapnya yang dingin namun sangat protektif.

Dunia mungkin tidak sadar bahwa karakter fiksi yang mereka cintai sebenarnya terinspirasi dari seorang Jenderal Agung yang asli.

Suatu malam, saat hujan rintik membasahi kaca jendela paviliun, Daisy duduk di tempat tidur besar yang masih terasa terlalu luas. Ia menatap sisi tempat tidur yang kosong—sisi milik Matthew.

Ia membayangkan Matthew sedang membaca suratnya di tenda yang gelap. Apakah Matthew menyimpan surat itu? Ataukah Matthew hanya membacanya sekilas lalu membuangnya karena dianggap tidak penting bagi strategi perang?

Daisy menarik bantal Matthew ke pelukannya. Aroma parfum maskulin suaminya sudah hampir hilang sepenuhnya, digantikan oleh aroma ruang yang bersih. Rasa rindu itu datang lagi, kali ini lebih tajam. Ia merasa seperti seorang gadis kecil yang menunggu hadiah ulang tahun, namun hadiah itu masih setahun lagi jaraknya.

"Kenapa kau begitu menyebalkan, Matthew?" Bisiknya pada kegelapan. "Apakah sulit bagimu untuk mengatakan bahwa kau merindukanku?"

Sifat gengsi Daisy bangkit lagi. Ia berjanji dalam hati, jika Matthew pulang nanti dan masih bersikap dingin seperti es di kutub utara, ia tidak akan menyapanya duluan. Ia akan membiarkan pria itu yang mengejarnya. Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, Daisy tahu bahwa ia hanya butuh satu pelukan dari pria itu untuk meruntuhkan seluruh pertahanannya.

Bulan-bulan berlalu. Musim dingin berganti musim semi yang hangat. Daisy mulai melakukan persiapan fisik. Ia lebih memperhatikan penampilannya. Meski ia memiliki wajah baby face yang seolah tidak menua, ia ingin terlihat sempurna saat hari kepulangan itu tiba. Rambut hitamnya kini sudah melewati pinggang, tampak sehat dan berkilau karena ia merawatnya dengan minyak bunga-bungaan dari hutan.

Ia juga mulai belajar memasak resep-resep tradisional yang dulu sering diceritakan oleh Ibu mertuanya. Helena pernah bilang bahwa Matthew diam-diam menyukai sup daging dengan rempah hutan, meskipun dia tidak pernah memuji masakan koki di rumah. Daisy ingin tangannya sendirilah yang menyiapkan hidangan itu untuknya.

Suatu sore di dermaga, Daisy duduk bersandar di pohon ek, menatap pantulan dirinya di air sungai. Ia menyadari sesuatu. Selama hampir dua tahun ini, ia tidak hanya menunggu Matthew. Ia tumbuh. Ia belajar menjadi wanita yang kuat di atas kakinya sendiri, namun tetap lembut dalam perasaannya.

Ia mengeluarkan kamera Leicanya, mengarahkan lensa ke wajahnya sendiri, dan mengambil sebuah foto selfie dengan latar belakang hutan Glanzwald yang rimbun. Foto itu terlihat begitu indah—Daisy dengan mata coklat madu yang jernih dan senyum tipis yang penuh misteri.

"Satu tahun lagi," bisiknya.

Ia tahu, di belahan dunia lain, sang Jenderal mungkin sedang bertempur demi negaranya. Tapi di sini, di Glanzwald, Daisy sedang bertempur demi sebuah masa depan yang ia harap tidak lagi kaku dan datar. Ia sedang menyiapkan sebuah babak baru, di mana sang Penulis Lagu dan sang Jenderal tidak lagi menjadi dua orang asing yang berbagi nama keluarga, melainkan dua jiwa yang akhirnya menemukan jalan pulang.

Malam itu, Daisy menutup harinya dengan menulis sebuah baris baru di buku hariannya—sebuah buku yang hanya berisi pesan-pesan untuk Matthew yang belum sempat ia kirim:

"Musim semi sudah hampir berakhir, Matthew. Bunga-bunga yang kupesan sudah mulai bertunas. Kuharap kau pulang dengan selamat, karena aku punya banyak cerita yang tidak bisa kutuliskan dalam lagu mana pun."

Daisy tertidur dengan tenang, membiarkan gema surat Matthew menemaninya dalam mimpi, di mana musim panas ketiga sudah menunggu di ambang pintu dengan segala keajaibannya.

1
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!