Sekolah internasional terkenal dijakarta yang bernama Grand Imperial Academy, sedang disibukan dengan kedatangan siswa-siswi baru, yang sedang melakukan masa orientasi.
Anaya menjadi salah satu siswi baru di Grand Imperial Academy, ia bersekolah disana karena ada kedua abang kandungnya dan juga abang sepupunya yang bersekolah disana dan sudah menjadi siswa kelas 12 yang merupakan panitia orientasi juga.
Helga si Ketua OSIS yang tak pernah terlihat senyumannya sedikitpun menjadi icaran banyak siswi di Grand Imperial Academy.
Namun senyum Helga mulai muncul saat ia mulai tertarik dengan Anaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NLiRa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CERITA SEBENARNYA
"Ta-tapi kalau Ana masih dekat sama abg, Ana takut semua orang nyangkanya apa yang dia bilang benar" ucap Anaya.
"Ana itu gak bener, orang-orang hanya perlu tau kalau mereka bertiga abang-abang kamu" ucap Floella.
"Kata-kata kotor itu gak bisa dilempar untuk kamu Ana" ucap Floella lagi.
"Yasudah gini aja, sebaiknya kamu tidur ya, kamu istirahat" ucap Floella yang membaringkan tubuh Anaya dan menutupinya dengan selimut.
Anaya mulai memejamkan matanya dengan kondisi masih sesegukan.
("Anak semanis dan seceria kamu masih ada aja yang iri. Tenang Ana, kak Flo bakal jagain kamu terus"batin Floella yang menatap Anaya).
Floella keluar dari ruangan Anaya, semuanya sudah menunggu dia diluar ruangan.
"Gimana Flo, Ana menceritakan sesuatu padamu? " tanya Sinta dan mendapatkan anggukan dari Floella.
"Apa Flo? adek gue bilang apa? " tanya Mahesa pada Floella.
Floella menghembuskan nafas beratnya lalu ia duduk di kursi tunggu. Floella menceritakan semua yang ia dengan dari Anaya. Sinta tak kuasa menahan air matanya.
"Bagaimana anak sekolah bisa memiliki pikiran kotor seperti itu" ucap Sinta yang menangis dj pelukan suaminya.
"Besok papa akan datang ke sekolah" ucap Andreas dengan tatapan marah.
Mahesa, Farraz, dan William sedari tadi menahan amarah yang aman meledak. Meraka tau bahwa malam ini bukanlah solusi yang bisa mereka ambil.
"Hes, tahan emosi lo, jangan buat keributan di sini" ucap Farraz yang sedari tadi melihat kepalan tangan Mahesa.
"Dia buat adik kesayangan gue menjauh dari gue, dan ini gak akan mudah" ucap Mahesa yang pergi dengan amarah.
"Raz, susul dia. Biar papa dan mama yang jaga Ana" ucap Andreas.
"Baik pa" sahut Farraz yang lansung pergi.
"Wil, kamu antar Flo pulang ya, tahan emosi kamu nak" ucap Sinta yang mengusap pipi William.
"Baik ma, aku pergi dulu" ucap William
"Tante, om, Flo pamit dulu ya" ucap Floella.
"Iya nak, tolong bantu redakan emosi anak om ini ya" ucap Andreas yang memegang bahu William.
"Baik om " sahut Floella.
"Makasih sayang, kamu sudah mau membujuk Ana sampai dia mau menceritakan semuanya" ucap Sinta yang memeluk Floella.
"Jujur ini pertama kali tante merasakan hancur saat melihat putri tante seperti ini" ucap Sinta lagi.
"Flo bakal bantuin William untuk juga Ana juga tan, Flo udah anggap Ana sebagai adik Flo sendiri, jadi gak akan ada yang ganggu Ana lagi disekolah" ucap Floella.
Floella pun pamit untuk pulang dan William pun langsung mengantarkan Floella untuk kembali ke rumahnya.
Di rumah Agasthya, diruang keluarga.
"Helga apa yang terjadi dengan adik mu?, semenjak pulang sekolah dia terus murung" ucap Arunika.
"Apa ada yang membully adik mu? " tanya Devandra.
"Engga pa, tadi ada seorang siswa yang dihukum sampai pingsan, dan Helga yakin itu teman Vinka, makanya dia sedih" ucap Helga.
"Bagaimana kalian bisa menghukum murid baru sampai pingsan? " tanya Devandra.
"Bukan Helga pa, senior lain yang melakukannya dan Helga belum tau pasti kejadiannya seperti apa" ucap Helga.
"Dan Helga belum bisa bertanya pada Vinka karena saat Helga tanya, dia hanya diam dan sedih" ucap Helga lagi.
"Mungkin itu teman baru dia bang, dan mungkin dia sudah mulai menyanyangi temannya itu" ucap Arunika.
"Kalau begitu berikan dia waktu dulu" ucap Devandra.
"Dan ini alasan sekolah menyudahi kegiatan MPLS? " tanya Devandra.
"Iya pa" sahut Helga singkat dan hanya mendapatkan anggukan dari Devandra.
"Oh ya Pa, kita jadi makanan malam besok? " tanya Arunika.
"Makan malam? " tanya Helga yang kebingungan.
"Dengan sahabat lama kami, sudah lama kami tidak bertemu" ucap Devandra dan hanya mendapatkan anggukan dari Helga.
"Besok pagi papa akan tanya kembali pada dia Ma, soalnya papa besok akan ke perusahaannya" ucap Devandra pada Arunika.
"Baiklah" sahut Arunika.
Pagi itu, Mahesa, Farraz dan William masuk ke ruangan Anaya untuk berpamitan dengan adik kesayangan mereka, namun saat melihat ketiga abangnya ucapan Ellara langsung berputar kembali dk kepala Anaya.
"Selamat pagi adik kecil abang" sapa Mahesa yang berusaha biasa saja dan memegang pipi adiknya namun Anaya langsung membuang pandangannya.
"Ma, Ana ingin istirahat" ucap Anaya pelan yang membuat Mahesa kembali harus menahan amarah.
"Ana, abang kangen Ana" ucap Farraz.
"Anaya" panggil William.
"Ma, Ana mau istirahat" ucap Anaya lagi.
Sinta dan Andreas hanya bisa menghela nafas berat. Mereka juga tidak bisa memaksa Anaya.
"Ana benci abang? " tanya Mahesa yang menahan marah.
"Apa salah abang, Ana? " tanya Mahesa lagi.
"Hufhhh, oke kalau Ana gak mau melihat abang lagi, tapi Ana gak perlu keluar dari rumah sampai harus tinggal sendiri untuk menghindar dari abang" ucap Mahesa yang kemudian memejam matanya sebentar untuk meminimalisir emosi.
"Kalau Ana mau tetap keluar dari rumah, Ana tunggu abang mati baru Ana boleh keluar" ucap Mahesa yang membuat semuanya terkejut mendengarnya.
"Mahesa" tegur Andreas.
"Kenapa pa, apa gunanya Mahes hidup kalau Ana mau menjauhi Mahes. Abang benar-benar gak bisa tanpa Ana. Abang kangen jailin Ana, abang sering buat Ana nangis karena Ana lucu saat merengek, tapi bukan tangisan kemarin, itu nyakitin abang Ana" ucap Mahesa yang membuat Ana terdiam.
"Jangan karena ucapan cewek sialan itu Ana jadi benci sama abang, abang gak bisa terima ini"ucap Mahesa dengan nada tingginya.
"MAHESA, CUKUP" ucap Farraz dengan nada tinggi.
"APANYA YANG CUKUP, GUE GAK BISA ADIK KECIL GUE HARUS MENGHINDAR DARI GUE, GUE GAK BISA RAZ" balas Mahesa dengan nada tinggi.
"LO PIKIR GUE MAU?, LIHAT KONDISI ADIK" ucap Fary yang menatap tajam Mahesa.
"UDAH" ucap William dengan nada tinggi untuk menengahi keduanya.
"Lihat Ana sekarang" ucap William yang membuat keduanya melirik Ana yang sudah menundukkan kepalanya.
"Berangkat sekolah sekarang, papa gak mau kalian ribut" ucap Andreas tegas.
Mahesa tak menjawab apapun, ia langsung pergi dengan membawa emosi penuhnya.
"Ana jangan pikirkan ucapan dari abang Mahes tadi, Ana istirahat ya" ucap Farraz yang mengusap kepala adiknya dan langsung pergi.
"Pa, Ma, William berangkat dulu" ucap William.
"Ana, abang sekolah dulu" ucap William yang kemudian menyusul kedua sepupunya.
"Papa juga harus ke kantor dulu" sahut Andreas.
"Putri papa istirahat ya, jangan terlalu banyak pikiran" ucap Andreas yang mengusap lembut rambut Anaya.
"Abang-abang kamu, sayang sama kamu nak, jangan jauhi mereka hanya karena ucapan dari orang luar" ucap Andreas dengan tulus.
"Ma-maafkan Ana, Pa" ucap Anaya.
"Anak papa gak salah, istirahat sekarang, nanti kita ngobrol bersama ya" ucap Andreas yang mendapatkan anggukan dari Anaya.
"Ma, papa ke kantor dulu, nanti papa akan ke Grand Imperial Academy untuk bertemu kepala academy" ucap Andreas pada sang istri.
"Iya pa" sahut Sinta.
...****************...
...****************...
Hai udah lama author gak up cerita, so kali ini author up cerita baru yang bertemakan anak sekolah lagi. mohon dukungannya, maaf kalau banyak kata yang typo. Jangan lupa Like, Comment dan Sarannya. Jujur saran dari kalian bisa menjadi motivasi bagi author untuk baut jalan cerita. Makasih semuanya, selamat menikmati....
...****************...
...****************...